
Berhati hari mereka mencari keberadaan Arka, namun nihil tidak ada jejak sedikitpun tentang Arka. Para bodyguard hanya mengeluh karena takut terdengar ke telinga sang Nyonya dan mereka diamuk gara gara kecerobohan mereka. Ya wajarnya seperti itu.
“Bagaimana ini Bos? Tuan Muda kecil masih belum ketemu. Gimana kalau Nyonya muda tahu? Bisa habis kita?” tanya salah satu bodyguard dengan memberanikan diri berucap seperti itu kepada ketua bodyguard itu sembari memperlihatkan wajah gelisah nya.
“Dasar bodoh!! Jangan mengeluh seperti itu ayo kita cepat cari Tuan Muda sampai dapat!! Kamu juga bibi pengasuh bisa sampai ceroboh menjaga satu bocah kecil saja!” ujar Petruk ketua bodyguard.
“Aku tidak tahu kalau Tuan kecil itu kabur sewaktu aku ke toilet dulu” ucap bibi pengasuh mengelak.
“Sudah Tuan, Nona mari kita sama sama temukan Arka saya juga sebagai kepala sekolah sangat cemas. Jangan saling menyalahkan, ini salah kita semua karena tidak terlalu memperhatikan Arka” ucap kepala sekolah menengahi.
“Cemas kenapa? Ada apa memangnya dengan Ar?” tanya seorang wanita dari arah belakang yang suaranya dikenali oleh para bodyguard dan bibi pengasuh.
Degg!!
'Aduhh, Nyonya kesini lagi pasti habis nih kita!' batin salah satu bodyguard yang mengutruk di dalam hatinya.
'Pasti ada api lagi yang akan menyerang diriku' batin salah satu bodyguard lainnya.
Saat Friska berbicara seperti itu tidak ada yang menjawab, seolah mereka sibuk dengan pikirannya masing masing karena tahu siapa sosok Friska yang dihadapan mereka. Dan tentu saja semua murid bertanya tanya ada apa gerangan dengan putri kerajaan Louis yang menanyakan perihal Arka.
“Jawab aku! Kenapa kalian cemas terhadap Ar anakku, apa terjadi sesuatu padanya?!!” bentak Friska meninggikan suaranya karena semua orang membisu.
“Emm itu Nyonya kenapa Nyonya bisa ada disini? bukannya Nyonya sedang bekerja hehe” ucap salah satu bodyguard yang berna Paul sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Saya sedang tidak bercanda!! Kenapa kalian diam saja apa kalian bisu ha?!! Dimana putra ku!” bentak Friska dengan marah.
“Putra anda hilang Nyonya” ucap Petruk dengan lugas tanpa basa basi.
“What?!! Apa pendengaran ku bermasalah atau kau berbicara salah?!!” tanya Friska dengan amarah yang sudah ada diubun ubun.
“Be.. benar Nyonya.. saya yang salah karena saya ke toilet. Seharusnya saya tidak membiarkan Tuan kecil sendiri” ucap bibi pengasuh dengan nada takut takut.
“Aku tidak butuh jawabanmu!! Cepat segera temukan putraku! Kalau tidak kalian akan menerima akibatnya!” ucap Friska dengan tegas tanpa mendengar bantahan.
Setelah berucap seperti itu Friska kembali ke mobil, jika mereka tidak becus mencari putranya maka ia akan turun tangan sendiri.
Tidak ada seorang ibu pun yang tidak bersedih ketika anak nya hilang karena kecerobohan orang orang yang bekerja dengannya. Sungguh, Friska sangat menyesal lebih mementingkan pekerjaan padahal masih bisa dihandle oleh Asisten nya.
_________☘️
Sedangkan pelaku yang sedang dicari, ia dengan asyik asyik nya bersantai memakai kacamata milik Bento yang kebesaran di matanya bersantai di dekat sawah dengan suara jangkrik yang menemani bersantai nya dan suara Bangkong yang terasa syahdu dipendengaran nya.
“Ar... kau tidak makan?!” tegur Bento.
“Tidak lah paman, Ar masih kenyang” Sahut Arka tanpa melihat kearah Bento.
“Memangnya kapan kau makan?”
“Kemarin” sahut Arka dengan singkat, padat dan jelas.
“Ya Ampunn!! Memangnya kau makan berapa karung kemarin sampai sekarang masih kenyang?!!” ucap Bento dengan memijat pelipisnya yang pusing mendengar jawaban butut yang terucap dari mulut sang bocah.
“Delapan” Jawab Arka dengan sekenanya yang memang tidak ingin diganggu bersantai.
“Arka!! Kau yang benar menjawab paman! Kapan terakhir kali kau makan sampai kau kenyang seperti ini!” tegas Bento mengeluarkan sisi kepemimpinan nya.
“Ada apa sih ini ribut ribut” timpal Frinka yang sudah pusing mendengar pertengkaran dua orang pria yang berbeda umur itu.
“Jawab Arka!!” teriak Bento dengan tegas tanpa menghiraukan ucapan Frinka.
“Ish paman jangan berisik ya... Ar lagi damai nih mendengar suara yang syahdu di telinga Ar.. oh ya Ar belum lapar nanti kalau lapar nanti Ar bisa makan sendiri kok.. paman tenang saja” ucap Arka sembari menangkup pria dewasa yang terlihat melembut saat Arka memperlakukannya seperti itu.
Tidak jadi memarahi Arka, Bento memalingkan wajahnya karena tidak kuasa melihat perlakuan menggemaskan Arka dimatanya. Seolah anugrah tersendiri dan ia juga tidak munafik menginginkan sebuah anak namun masih tidak percaya dengan Frinka. Jadi Bento berusaha menutup hatinya sebelum ia benar benar yakin.
“Ar sayang ....” teriak Friska dari arah kejauhan.
Deg.
Seolah Bento mengenali suara ini dan sangat merindukan pemilik suara itu.