
Kini, meja makan di Mansion Louis bertambah menjadi satu. Sudah seperti menantu saja sekarang Caren terlihat melayani Branden.
“Kau mau apa?”tanya Caren.
“Apa saja, jika yang mengambilkan nya adalah calon istriku, maka akan berlipat-lipat kali enak.” Sahut Branden dengan melebarkan senyumnya, membuat Caren berpipi Seperti tomato.
tenggg!
Mereka semua melihat ke arah suara itu.. Dan ternyata Friska lah yang membuat kekacauan itu dengan memukul sendok pada piring hingga berbunyi sangat keras.
Ditatap tajam oleh Branden, Mommy dan Albert ia hanya cengengesan tidak jelas. Wajahnya dengan ekspresi tanpa dosa.
“Hehe kalian kenapa menatap ku seperti ingin memakan ku hidup hidup?” tanya Friska tanpa dosa sambil menyuapkan beef ke dalam mulutnya.
Sedetik kemudian, mereka kompak menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan tanpa dosa yang dilakukan Friska.
“Ish dasar aneh!!” gerutu Friska pelan namun masih terdengar di telinga mereka.
“Kau yang aneh!” gumam Albert dengan sedikit membentak.
“Memangnya aku kenapa?!!” tanya nya pada Albert.
“Kau menyentong piring dengan suara kencang?Apakah itu tidak aneh disaat mereka sedang makan?” ujar Albert.
“Em, itu aku hanya iri saja pada kak Branden yang pacaran di meja makan dengan Caren. Sedangkan kau tidak romantis, ” seru Friska dengan mengerucutkan bibirnya.
'Aduh... aku sih jadi salah ucap begini.. niat ingin memarahi kak Branden tidak boleh berbicara di meja makan apalagi pacaran, ini malah iri yang ada di otakku' batinnya merutuki kesalahannya.
Tanpa aba aba, Albert mencium Friska di tempat makan hingga mereka membulatkan matanya. Apalagi Caren, ia menutup matanya melihat pemandangan yang langka itu. Caren tidak tahu menahu siapa pria yang tengah mencium Friska.
Menikmati sampai dalam dengan penuh hasrat, mereka melakukannya sepuluh menit. Friska masih diam tidak bergeming dengan serangan tiba tiba begitu, karena ia tidak ahli dalam hal seperti itu.
“Sudah lah, bila kau ingin bikin anak dikamar sajalah“ seru Mommy kesal.
Bagaimana tidak kesal, perbuatan itu dilakukan dihadapan matanya sendiri, sungguh putrinya itu tidak ada akhlak, pikirnya.
Membuat jiwa masa tua nya kembali meronta ronta ingin merasakan lagi surga dunia itu.
“Cepat buka semua kejutan untukmu dariku” gumam Albert.
“What?!! Untuk apa sekarang?Kupikir bukan itu kau mengajakku ke kamar” seru Friska kesal, tanpa sadar ia telah memancing keperkasaan sang Albert.
“Jadi kau ingin diapakan oleh ku?” tanya Albert dengan menyeringai tipis.
Menghampiri Friska dan terus mendekati Friska, hingga Friska tiba tiba gugup memundurkan badannya saat Albert terus saja maju mendekati nya. Tentu saja ia merasa gugup.
“Apa kau masih ingin menikmati ciuman tadi ataukah ingin lebih dari ini?” gumam Albert menyeringai licik dan Dimata Friska Albert sangat seram.
“A.. aku hanya.. hanya salah bicara. Ya, sa...lah bi..ca..ra.. Albert” seru Friska terbata bata mendorong tubuh Albert untuk menjauh dari tubuhnya.
“Hahaha kau sangat lucu. Otakmu sangat mesum sekali. Aku tidak akan melakukannya karena kau masih dibangku kuliah dan tidak ingin kau merasa terkekang jika mengandung benihku” gumam Albert terbahak bahak dengan kelucuan Friska.
Mendengar jawaban Albert, sontak ia merasa kesal dan diberi harapan palsu, namun kini ia dihempaskan dengan harapan itu. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia tidak apa apa jika mengandung benih Albert karena dia pun akan senang hati menjaga dan mencintai nya.
Friska mengerucutkan bibirnya kesal, ia kemudian menarik selimut agar wajahnya tidak terlihat kesal agar ia tidak dikatai Omes,apalagi oleh seorang lelaki. Mau dikemanakan harga dirinya, pikirnya.
“Fris... hey?!! Kau belum membuka kejutan dariku!” teriak Albert dengan mengguncang guncangkan tubuh Friska dibalik selimut tebalnya.
Friska tetap tidak bergeming, biar saja Albert menyadari kelakuan nya, pikirnya. Namun Friska salah, Albert bukanlah lelaki yang peka dan bukanlah seorang yang biasa membujuk wanita seperti pria lainnya.
“Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku susah payah membelikan semua kejutan untukmu namun kau tidak mau dan tidak suka. Aku akan berikan saja pada Mommy dan panti jompo ” giliran Albert yang kesal karena perintahnya tidak dihiraukan. Padahal dia sangat susah payah melakukan semua ini, pikirnya.
Mendengar suara Albert yang terlihat kesal, sontak ia lebih memilih mengalah dan membuka selimutnya. Mendongak melihat apakah ucapan Albert masih berlaku atau tidak.
“Em, masih berlaku tidak Albert?” tanya Friska dengan hati hati saat Albert akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Sontak Albert membalikkan badannya, ia antusias jika kejutannya dibuka langsung oleh Friska. Karena pada dasarnya itu hanya untuk Friska.
“Berlaku, Ayo kita ke sana” ajak Albert antusias dengan menunjuk ruangan dimana kejutan nya disimpan untuk Friska.
bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya 🌹