
~***Happy Reading***~
Hari ini, hari dimana pulangnya seorang Branden Louis. Pria itu tengah senang karena diantarkan dua orang bidadari kesayangan nya. Sang Mommy dan Caren.
“Aku mau nanya sesuatu Caren” gumamnya dengan menatap ke arah Caren.
“Nanya apa?” tanya nya dengan datar.
“Kau mukanya jangan seperti jalan raya diaspal begitu dong” ujar Branden yang kesal setiap melihat raut wajah Caren yang datar datar saja.
“Wajahku memang begini. Jika kau tidak suka maka copot kan saja matamu” seru Caren yang masih memegangi lengan Branden.
“Ya, maksud ku kau harus bersikap manis lah sedikit pada calon suamimu” ujarnya dengan pede mengedipkan sebelah matanya.
Caren membabuk lengan Branden dengan malu malu bercampur kesal, namun dengan raut wajah yang masih datar.
“Auwww!! Babukan mu sangat membuat ku terasa seperti jatuh dari langit ke tanah” gumam Branden meringis dan lebay.
“Gak usah lebay, aku tau kau sudah sembuh kan?” Sahut nya dengan kesal.
“Hey tunggu aku Caren” teriaknya karena Caren melenggangkan pergi duluan ke mobil.
Tidak menggubris perkataan Branden, Caren langsung masuk begitu saja dengan raut wajah yang kesal.
“Muka mu kenapa seperti itu Sayang?” tanya Mommy Branden dengan menaikkan sedikit alisnya.
'Aku tidak sadar, ternyata aku duduk bersebalahan dengan Tante' batinnya merutuki kesalahan nya karena kini berhadapan dengan Mommy orang yang membuatnya selalu kesal.
“Hehe tidak apa apa Tan, aku hanya kesal tadi sebelum kesini ada curut Badag yang membuatku kesal” Sahut nya dengan santai.
“Curut?Memang nya kelakuan apa yang membuatmu kesal Sayang?” tanya Mommy dengan mengerutkan keningnya.
“Membuatku darah tinggi” Sahutnya santai.
“Ohh..” Mommy hanya meng oh saja karena ia tidak ingin terlalu dalam kepo.
Pria itu segera melenggangkan kakinya ke dalam mobil, dan terus berceloteh.
“Caren Sayang, masa kau duduk di belakang dengan Mommy sih, aku masa yang jadi sopir nya?” tanya nya dengan cemberut.
Tidak menjawab, Caren hanya langsung turun dan masuk lagi ke dalam mobil, namun kini berada di depan dengan Branden.
“Caren aku mau bertanya padamu tentang yang tadi”
“Bertanya apa Branden?” Sahur Caren dan langsung menatap Branden.
Branden yang merasa ditatap seperti itu oleh seorang wanita, tentu saja ia merasa tergagap dan sangat deg-degan.
“Siapa bilang aku tidak kuliah?Aku kuliah ko dan sekarang sudah selesai. Jika kau tidak percaya tanya saja Friska, adikmu ” Sahutnya dengan santai.
“Wah, berarti aku yang kegeeran dong ya?” Gumamnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sudah, cepat cepat lajukan Mobilnya. Pacaran nya nanti saja karena Mommy ingin segera melihat putri Mommy” timpal Mommy nya dari belakang.
____________☔☔☔_________________
Friska tercengang, kaget dan lemas melihat ke arah belakang mobil.
“Kenapa bisa seperti ini Albert..” ujar Friska dengan raut wajah yang sangat datar.
“Aku hanya ingin memberi kejutan padamu. Apa kau tidak suka?” tanya nya dengan mengerutkan keningnya.
Masalahnya, wanita nya ternyata datar datar saja. Padahal ia menyiapkan semua ini seorang diri tanpa bertanya pada siapapun.
“Bukannya tidak suka. Kau lihat banyak begini memangnya aku Buto ijo yang akan memakan semuanya!” ujar Friska dengan kesal.
“Memangnya apa yang salah. Ini kan semua tulus dari hatiku untukmu, semuanya” Sahutnya dengan kesal.
Friska tertegun, ia tidak menyangka Albert melakukan semua ini demi untuknya. Namun ia kesal, kenapa barangnya banyak sekali. Bahkan, ia bingung harus memakan apa dulu.
Dengan berani, Friska memegang lengan Albert karena melihat raut wajah Albert yang terlihat begitu kesal.
“Bukan begitu Albert, aku hanya bingung sekali harus menerima ataupun makan yang mana dulu.” Seru Friska dengan lembut.
“Jika kau bingung aku bisa menyerahkan semua ini pada panti jompo yang membutuhkan jika kau tidak suka.” Gumamnya dengan raut wajah yang kesal.
“Ish bukannya begitu Albert!Aku hanya...” berusaha menjelaskan, namun dihentikan begitu saja karena Albert tiba tiba mencium bibirnya.
Friska hanya diam, ia bingung dengan Albert karena tiba tiba mencium nya tanpa izin. Bukannya menolak, Friska hanya diam tidak bergeming. Karena ia begitu menikmatinya, bukan tanpa sebab karena pria yang dicintainya tiba tiba bersikap manis. Ada angin apa, pikirnya.
Seolah sadar dari kenikmatan sesaat itu, Friska mendorong Albert perlahan.
“Apa kau menolak ku?” tanya Albert dengan masih menatap Friska.
“A.. aku .. aku hanya tidak ingin kehilangan First kiss pertama ku. Dan kau mencium ku tanpa izin.. ” gumam nya dengan gugup.
“Apa cinta itu penting? Dan mencium itu memang harus izin dulu?” tanya nya menatap dalam manik Friska namun dengan dingin.
bersambung...
Jangan lupa like dan Comment ya 🌹