Become Your Love Expert

Become Your Love Expert
Cemburu



Kedua orang yang berbeda kelamin itu tengah tertawa. Membicarakan hal yang tidak penting menurut mereka. Namun Marvel tidak menyadari bahwa Asisten nya telah menunggu lama dari dalam mobil.


Tenonet.. tenonet..


“Hallo Tuan Muda, Anda dimana?” tanya David yang memang sudah kesal.


“Aku masih di taman apa kau punya mata?” tanya balik Marvel dengan ketus. Pria ini telah menganggu acaranya dengan Friska.


“Oh ya Tuan. Maafkan saya yang mengganggu ” gumam seseorang dibalik telfon nya itu.


Pria itu hanya menutup telfonnya dengan kasar, tidak peduli apa yang diucapkan David. Yang penting, ia kini hanya ingin lebih lama membuat Friska disisinya dan tertawa.


****


'Apa Friska sudah pulang ya?Aku harus melihat cctv dulu' batinnya sembari melihat ke arah laptop nya dan disana tidak terlihat istrinya sama sekali.


Memutar terus Vidio nya, supaya ia ada kesalahan, namun Albert tetap cemas karena Friska' nya belum pulang.


Melihat Asistennya yang kebetulan akan masuk, sudah disambut perintah oleh Albert.


“Ben, kau sudah mengirimkan pengawal yang diam diam mengikuti istriku kan?” tanya Albert dengan penuh penasaran.


“Sudah Tuan. Apa ada masalah?” tanya Ben balik karena melihat Tuannya yang tengah gusar, gelisah.


Sebentar, aku ingin menelfon pengawal ku.


Tenonet.. tenonet ..


“Hallo, apa kau sudah mengikuti istriku?” tanya Albert dibalik telfonnya dengan nada tegasnya.


“......”


Mendengar jawaban yang diajukan pengawalnya, Albert dengan kasar membanting handphone keluaran terbaru limited edition nya, ia langsung terburu buru bergegas ke lokasi Friska saat ini.


Ben yang melihat Tuannya panik, ia mengekori Albert.


“Tuan, Anda kenapa?Ada apa dengan Nona?” tanya Ben.


“Sudah kau diam. Lajukan kendaraan dengan cepat!” bentak Albert yang memang sudah dikuasai amarah yang tinggi.


Sekitar sepuluh menit mereka sampai, karena jaraknya lumayan dekat.


Melihat wanita nya dari arah kejauhan tengah tertawa dengan seorang lelaki dewasa, sontak Albert dengan berlari dan dipenuhi amarah menggebuk pria itu.


Bughh!


Albert tidak segan segan memukul pria itu sampai meringis. Hingga membuat Marvel tidak diam saja. Langsung ia memukul kembali Albert. Kedua nya tengah beradu jotos saling menampakan kekuatan masing masing. Tentu saja Albert yang tidak pernah kalah kini menemukan lawan pas nya.


“Hentikannn!!!” teriak Friska dengan tegas dan membuat mereka menjadi perhatian sekitar.


Seolah tidak mendengar, Albert yang sudah dipenuhi amarah di ubun ubunnya tidak peduli apa yang diucapkan Friska.


“Aku bilang hentikan Albert!” seru Friska lagi dengan menatap tajam Albert.


“Kenapa kau membela bajingan ini?” tanya Albert yang memandang murka Friska membela pria yang sudah terkapar lemah di tanah.


“Aku tidak membelanya, dan tidak seharusnya kau bertengkar di tempat umum seperti ini. Reputasi mu bisa jatuh karena memukul seorang pria duluan!” elak Friska yang memang kenyataannya seperti itu. Ia tidak ingin reputasi seorang Albert hancur.


“Kau ikut denganku!” dengan suara baritonnya yang tegas, Albert menarik lengan Friska dengan paksa.


“Hentikan Albert! Kau tidak lihat temanku kesakitan begitu? Kau sangat tega Albert!” gerutu Friska yang sudah berkaca-kaca memikirkan nasib temannya yang baru ia temui tadi yang bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak.


Mendengar gumaman Friska yang seperti membela pria itu, sontak Albert menatap Friska dengan tajam.


“Kau membelanya?” Tanya Albert dengan suara berat nya.


“Ya, karena dia temanku. Aku takut dia kenapa kenapa dan tidak ada yang menolong nya disana ” Seru Friska dengan cemasnya.


“Kau tidak boleh mengkhawatirkan nya!” bentak Albert yang tengah menatap Friska.


“Mengapa?Dia teman ku” elak Friska.


Tidak menyadari bahwa pria yang ada dihadapannya sedang diambang amarah tinggi, Friska'semakin memantik api kemarahan seorang Albert Leonard.


“Nona, jangan terlalu banyak berbicara saat Tuan marah. ” Gumam Ben yang mengingatkan.


Friska hanya diam menatap wajah Albert dengan raut wajah yang tidak puas karena Albert tidak menjawab pertanyaan nya.


Kediaman Albert Leonard.


“Sudah sampai Nona,Tu..” belum sampai melanjutkan ucapannya, ia melihat ke arah belakang yang sudah kosong.


“Dasar suami istri aneh” gumam Ben pada dirinya sendiri menggeleng gelengkan kepalanya.


Sementara itu, Albert menarik lengan Friska dan menghempaskan tubuh Friska dengan kasar ke dalam ranjang.


Friska yang melihat sorot mata berbeda dari Albert, entah mengapa ia merasa takut apa yang dilakukan Albert padanya. Setahunya Albert adalah orang yang sangat dingin saat berdua dengannya, namun kadang juga hangat tergantung sikapnya.


Perlahan Albert membuka baju nya dengan kasar, otak nya sudah tidak sadar karena sudah dikuasai oleh hatinya. Tidak sadar melihat Friska tengah ketakutan.


bersambung...


Jangan lupa like dan comment ya 🌹