
Pria itu tengah terdiam menatap lurus ke depan. Ia ragu apakah ia harus mengembalikan Mole pada Frought.
“Aku tidak tahu dimana Mole.” Sahut Albert tegas dibalik telfonnya.
“Kau jangan berbohong kepadaku Tuan Albert!Aku tau kau pasti sudah menyembunyikan Mole. Karena anak buahku sudah memastikannya. Jika tidak maka kau lihat apa yang aku lakukan,” ancam pria itu dengan marah karena Albert masih saja mengelak dengan pertanyaan nya.
Albert mengulum senyumnya tipis, ia tau apa yang harus ia lakukan saat ini.
Kebetulan, Reki ternyata sedang berada disana. Tepatnya di perusahaan Leo Corptions.Karena sekarang pun Albert telah sampai di perusahaannya.
“Rek, kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Gumam nya dengan menyunggingkan seringai liciknya.
Reki yang terbingung dengan ucapannya Bosnya, ia lebih memilih diam mengerutkan keningnya. Tanpa berani bertanya, karena ia takut Bos nya mengatai nya bodoh.
“Kau mengerti kan maksudku Rek?” tanya Albert hendak memastikan kepada Reki yang terdiam tanpa menyahut perkataannya.
“Saya tidak mengerti apa yang Anda maksudkan Bos. Karena Bos sendiri pun belum menjelaskannya, ” gumam Reki berkata jujur, dan itulah memang sebuah fakta.
'Ish tidak Asisten tidak mafia!Semua nya pada bodoh semua!' batinnya merutuki mereka menatap tajam Reki yang hendak menunduk ketakutan.
“Gini Rek, kau bawa Mole kemanapun sejauh mungkin. Dan di daerah pedalaman yang sangat jauh dari manusia. Aku tidak ingin Frought kembali menghasut Mole untuk berbuat jahat lagi, karena aku takut istriku yang akan menjadi sasarannya, ” gumam Albert panjang lebar.
“Baik Bos, saya akan segera laksanakan. Secepatnya akan memindahkan Mole” Sahut Reki dengan patuh dan mantap.
“Aku ingin kau membawa Mole malam ini juga, aku tidak ingin kecolongan karena anak buahmu yang isinya pada bodoh” gumam Albert santai tanpa melihat ekspresi menderita dari bawahannya yang satu itu.
'Bagaimana bisa, aku belum mencari tahu tempatnya bahkan persiapannya belum ku persiapkan. Dasar Tuan kejam!Bisa bisanya menyuruh dengan menggampangkan!' batin nya merutuki pria dihadapannya yang tengah tersenyum menatap handphone nya.
Namun melihat Bos nya tersenyum, bagaikan ia melihat asap yang berwarna pink. Sangat aneh sekali dan tidak mungkin menurutnya. Namun sedetik kemudian ia menyunggingkan senyumnya ikut bahagia melihat Bos nya yang jarang sekali tersenyum itu.
'Memang nya senyuman tampan Bos hanya untuk orang tertentu saja. Buktinya, selama ini dia tidak pernah tersenyum pada siapapun'
Senyuman itu pudar saat ia melihat Bosnya yang menatap nya dengan tajam dan tatapan yang mematikan.
“Kenapa kau masih disana?!! Apa kau gila dengan senyuman jelek mu itu!” hardik Albert dengan pedas tanpa saringan terlebih dulu membuat Reki menjadi sebal sendiri dan bercampur dengan takut. Lalu ia pun berbungkuk dan langsung melenggangkan kakinya keluar dari ruangan.
“Kamu bahkan lebih cantik dari sekian wanita yang cantik,” gumamnya pada dirinya sendiri dan mengusap lembut benda pipih yang tengah dipegang nya tersebut.
_____________🌒🌒🌒_____________
Friska melihat ke arah handphone nya yang tengah panik dan langsung berlari menaiki taxi. Sampai ia tidak menghiraukan semua orang apalagi sahabatnya yang memanggilnya.
“Pak, cepat antar ke taman xxx,” ujar Friska kepada sopir taksi tersebut.
Sang supir hanya menganggukkan kepalanya, dan langsung mengemudikan kendaraannya.
***
Telah sampai pada tempat yang ditujunya, Friska berlari lari dengan panik dan cepat. Ia tidak ingin terjadi apa apa terhadap seseorang yang sangat berarti bagi hidupnya.
Ia melihat ke arah sekeliling dan ternyata bukan ibunya yang terlihat diikat, tapi pemandangan yang menurutnya sangat takjub. Taman itu dihiasi oleh lilin yang sudah tersusun rapi dengan dibalut dengan dekorasi dekorasi cantik membentuk bentuk hati besar.
Tidak terlalu peduli dengan semua itu, Friska berteriak kencang.
“Siapapun yang menyembunyikan Mommy ku!Akan ku bunuh! Cepat katakan dimana Mommy ku!” teriak Friska dengan dipenuhi amarah diwajahnya.
Merasa tidak ada yang menyahut dan kini ada orang tiba tiba menutup mata Friska, Friska menggebuk orang yang mencoba menutupi matanya karena memang ia sedang di amarah yang sangat tinggi.
Melihat orang orang yang ia kenal tersenyum ke arahnya, seperti Branden, Caren, Vera, Mommy yang tengah bernyanyi dan tersenyum. Disusul oleh sosok pria yang amat dikenalnya, pria itu memangku sebuah kue yang sangat cantik.
Friska yang marah, panik, kesal dan bahagia haru bercampur ia tidak bisa berkata kata. Ia hanya menangis tersedu-sedu karena sangat amat terharu dengan semua ini.
“Happy birthday My girl” seru sang Mommy memeluk putrinya yang tengah menangis.
Disusul oleh yang lain, kemudian giliran Albert yang menghampiri nya. Hendak ingin mengungkapkan sesuatu untuknya.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya 🌹