
Mood Friska belakangan ini memang buruk, karena memang sudah beberapa hari ini Albert menghubungi nya tidak sesering sewaktu ia pergi. Tapi sekarang justru semakin kesini Albert semakin susah untuk dihubungi. Friska kesal sungguh sangat kesal.
“Hiksss, kenapa sih tuh pria gemblung ga ngabarin aku hari ini!!” gerutu nya mengamuk melampiaskan pada bantal mati yang tidak merespon apapun.
tenonet .. tenonet ...
Terlihat dari sana suaminya menelfon. Baru saja ia mengamuk kini senyum cerah terbit di wajahnya, namun Friska harus mengambil langkah agar Albert segera sadar dan cepat cepat pulang ke rumah.
Friska dengan wajah masamnya mengangkat panggilan tersebut dan terlihat Vidio call.
“Haduhh... muka mu kenapa itu?” tanya Albert dengan suara baritonnya yang membuat Friska lebih bersemangat namun pura pura marah.
“Gapapa!” juteknya dengan sedikit membentak.
“Gapapa, tapi suaranya kaya orang yang lagi kedatangan tamu, apa kau sedang ada tamu merah Fris?” tanya Albert yang memang tidak peka.
“Jangan banyak tanya. Kapan pulang?!!” tanya balik Friska dengan to the point.
“Mungkin besok, kalau aku bisa menyelesaikan cepat cepat pekerjaan ku sekarang, masih banyak yang harus ku urus.” Sahut Albert dengan serius.
“Hmmm” jawab Friska dengan lucu nya.
“Kamu kangen ya cueeeee.... kata Dilan jangan rindu nanti ga kuat lagi nahannya” ledek Albert dengan wajah kemenangannya.
“Ish apaan sih! Mana ada rindu orang cuma nanya doang coba..” seru Friska dengan mengerucutkan bibirnya.
“Ututuuuu... iya sayang nanti besok aku pulang, tapi jangan diharap harap ya takut nya ga sesuai ekspektasi dan aku ga janji ya. Tapi aku janji kamu adalah tempat paling nyaman, rumah ku satu satunya tempatku pulang” ujar. Albert dibalik telfonnya dengan wajah seriusnya.
Deggg!
Ini pertama kalinya Friska dipanggil seperti itu oleh Albert, apakah mungkin Albert sudah membuka hatinya untuknya atau tidak. Ya, Friska tidak ingin ekspektasi berlebihan karena ia peduli jika Albert mencintai nya atau tidak. Yang terpenting Friska berusaha untuk menjadi pakar cinta seorang pria kaku itu.
“Heyy!! kenapa kau melamun?! Dengar ucapanku tidak” gumam Albert dibalik telfonnya membuyarkan lamunan Friska.
“Oh..i.iya... semangat ya jangan lupa makan yang banyak love you Tuan Albert ❤️” Sahut Friska dengan wajah lembut dan teduhnya membuat Albert meleleh.
“Siap ayangg, kamu juga ya jangan lupa bahagia. Aku tutup telfonnya dulu ya. Cium jauh dulu🤗” Gumam Albert dengan wajah cool dan kaku nya namun terdengar romantisme.
Friska menunduk malu, ia bahkan baru kali ini melihat sisi lain kebucinan seorang Albert. Betapa meleleh hatinya bertebaran bunga bunga.
“Ishh apaan sih! Nah mwahhhhhh” seru Friska dengan memonyongkan bibirnya membentuk sebuah ciuman.
“Bwahahaha terimakasih sayang... mwuahhh too” Sahut Albert dengan wajah riangnya.
Albert menutup telfonnya, karena memang ia harus menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat karena sudah tidak sabar untuk pulang melihat wajah teduh istrinya yang bisa melepaskan penatnya itu.
Sedangkan Friska, tidak tergambarkan betapa bahagia nya ia hari ini karena pria nya ditunggu tunggu nya itu akhirnya mengabari nya bahkan bisa membuatnya kembali tidak marah lagi pada Albert walaupun sedikit tidak peka, tapi tak apa ia kini sudah mendapatkan wajah riangnya kembali.
Hendak melangkahkan kakinya keluar dengan menari nari, Friska ditatap aneh oleh para pelayan dan juga di Mbo.
“Nanannanahuhuhananana” teriak Friska dengan bahagia dan menari nari menuruni tangga.
Hingga tiba di meja makan, Mami Ines menggeleng gelengkan kepalanya heran sambil meletakkan breakfast untuk Friska.
“Kalau bahagia bagi bagi dong” seru Mami Ines menatap Friska dengan meledek.
Friska sadar, kelakuannya tadi justru menjadi pusat perhatian dan juga ucapan Mami Ines lagi sekarang.
Wanita gesrek itu menghamburkan pelukannya terhadap Mami Ines yang tengah terbengong heran.
“Yes Mam, aku bahagiiiia sekali besok Albert pulangg, Mami juga pasti bahagia kan besok putra tampan Mami satu satunya itu pulang” seru Friska melepaskan pelukannya dan menatap Mami Ines dengan senyuman cerah diwajahnya.
“Wahhh, affa iya?” tanya sang Mami dengan antusias dan bertepuk tangan.
Friska menganggukkan kepalanya dan ia sudah duduk mengambil sarapannya makannya terlihat' gembul.
“Berarti besok kita harus makan makan ya, Mami harus siapin makanan kesukaan Albert. Kau mau membantu Mami tidak sayang?” tanya Mami Ines dengan lembut namun sedikit aneh melihat Friska makan dengan gembul.
“ Pasti lah Mam, Fris juga ingin Albert suka dengan masakan Fris dan Mami nanti” Sahut Friska dengan banyak makanan penuh di mulutnya.
“Pelan pelan kalau makan, jangan dulu bicara takut keselek” ujar Mami Ines mengingatkan.
Wanita yang terkena ceramahan itu kini meneguk minumnya seperti orang yang tidak minum beberapa bulan sangat sangat gesrek.
bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya teman teman readers tersayang 🌹