
Empat tahun kemudian.
Sudah tujuh tahun ini, Bento belum bisa membuka hatinya untuk Frinka. Namun Frinka, tetap berusaha untuk menjadi bagian dalam hati Bento. Frinka sudah ingin mengajukan buku pernikahan palsu, namun itu gagal karena dirinya dan Bento berada di pulau yang sangat asing, jarang orang masuk hanya wisatawan saja yang bisa, jadi sangat susah untuk mencari tempat untuk membuat buku nikah palsu.
“Kau mau kemana Mas?” tanya Frinka hendak menggapai lengan Bento.
Dan sudah selama inilah, Bento ingin menyembuhkan sendiri ingatannya namun nihil, ia tidak bisa mengingat sesuatu apapun. Dan dengan menghindari Frinka agar tidak melukai hatinya, Bento ingin berbisnis lebih banyak dan hendak ingin membuat perubahan di pulau terpencil itu agar makmur dan bisa lebih modern.
“Mas mau mencari penghasilan, kau bilang kau butuh uang untuk membeli baju baru kan?” tanya Bento.
Frinka diam, memang itu cita citanya, namun ia lebih ingin Bento lebih mencurahkan kasih sayang dan hatinya untuknya.
Melihat Frinka yang tidak bergeming, Bento tidak menghiraukan dan lanjut untuk pergi ke ladang memenuhi kebutuhan hidup mereka.
___________☁️☁️☁️☁️☁️☁️
Sudah tujuh tahun ini Friska berharap dengan ketidakpastian, ia terus berharap Albert kembali menemuinya dan masih hidup. Namun itu hanya angan angan nya saja, Friska harus secepatnya melupakan Albert agar ia tidak terus terusan terpuruk dengan masa lalu dan membuat Arka sedih.
Arka sudah menginjak usia tujuh tahun, bocah kecil itu tumbuh dengan wajah tampan, hidung mancung dan tinggi badan yang menurun dari sang Daddy.
Hari ini, Bocah kecil kesayangan Friska itu akan camp ke pulau terpencil yang memang masih ada di negara mereka. Namun Friska tidak bisa mendampingi, karena ia harus mengurus urusan kantor yang menumpuk.
“Mommy ga bisa ikut ya?” tanya Arka dengan wajah sedihnya.
“Iya sayang.. maafin Mommy ya? Nanti Mommy janji deh mau temenin Ar kalau ada camp lain kali. Hari ini sama bibi pengasuh aja ya...” ucap Friska dengan lembut dan mengusap pipi sang putra.
“Tapi Ar pengennya sama Mommy gimana?” dengan wajah sedihnya Ar tidak mau mengalah dan kekeh pada pendiriannya.
“Ar sayang... Mommy harus cari uang dulu sayang.. kalo Mommy ga kerja Ar ga bisa makan sama ikut camp dong.. Nanti Ar kelaparan gimana? Ngerti ya Sayang.. Ar kan anak pinter nya Mommy” ujar Friska membujuk Arka yang memang keras kepala.
Friska memang tidak mengizinkan Arka untuk ikut, tapi bocah itu keras kepala karena ingin menjelajahi dunia katanya bosan dikurung melulu. Jadi, Friska tidak ingin anaknya itu sedih.
Dan Friska juga sudah menyiapkan banyak bodyguard untuk keselamatan putra pewaris kerajaan bisnis Leonard dan Louis itu.
,“Baiklah.. Mommy ku tersayang nya Ar.... Ar pergi sama bibi pengasuh aja.” ucap Bocah itu dengan terpaksa.
“Anak Mommy memang paling tampan, paling pinter sedunia sini sayang.... mwuahhh mwuahhh Mommy janji lain kali akan mendampingi kamu” ucap Friska dengan sendu dan sayang.
Akan berpisah dengan putra kesayangannya selama tiga hari, Friska pasti merasa rindu terhadap semua hal tentang Arka. Hanya Arka lah yang sekarang menjadi penyemangat hidupnya, kekuatan nya dalam menjalani kehidupan. Segala lelah yang ia alami hilang setelah melihat senyuman malaikat kecilnya.
Keesokan paginya.
“Mommy Ar berangkat yaa..Mommy jangan lupa makan terus yang banyak biar sehat biar Ar ga sedih terus” seraya memeluk Mommy nya.
“Pastinya sayang.... hati hati ya jangan berpisah sama rombongan karena pulau itu sangat berbahaya kalau Ar sendiri berpisah.” Ucap Friska menasihati.
Perasaan Friska yang memang sudah tidak enak dari semalam memikirkan putra semata wayangnya. Ia tidak ingin Arka ikut tapi Friska juga tidak ingin membuatnya sedih, jadi Friska hanya bisa mengawasi lewat pengawal.
Arka hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti, ia segera berangkat dengan Friska dan diantar langsung hingga sekolah.
Saat mereka tiba di sekolah, Friska' hendak mencium kening dan menghujani ciuman di seluruh wajah Arka karena sayang. Karena sedih, ia tidak bisa mendampingi Arka dan juga ragu sebenarnya memberikan kepercayaan itu terhadap orang lain.
Karena tidak ada yang bisa memahami Arka selain dirinya. Semakin tumbuh, Arka semakin cuek dan sombong persis seperti Albert dewasa.
“Hati hati sayangg.. ingat pesan MOMMYY” teriak Friska.
Melihat punggung anaknya yang semakin jauh, Friska terlihat sendu. Ini perpisahan tiga hari mereka..
☘️
“Bento, sepertinya ada yang akan memasuki pulau ini” ucap pak Otoy yang memberi makan ayam.
“Siapa?” tanya Bento.
“Anak anak dari kota kata kepala Desa yang akan wisata ke pulau kita”