
Dari pagi saat bangun Friska terus merajuk, tidak ingin keluar sama sekali dan makan sama sekali. Karena Albert tidak sama sekali mengajaknya walaupun telah mengirimi pesan singkat padanya.
“Dasar pria gemblung! Aku ingin ikut saja tidak boleh. Bagaimana jika dia selingkuh coba apalagi sama gadis desa disana kayanya lebih menggoda!” gerutu Friska bersungut sungut memikirkan apa yang seharusnya ia tidak fikirkan karena melaju pada overthinking.
“Haishh! Aku harus bagaimana nih?!! Apa aku susul aja ya dia kesana. Tapi kalau mami Ines marah padaku gimana coba?” gerutu Friska lagi sembari berjalan mondar mandir kesini kesitu.
Bukannya Friska posesif atau apa, tapi memang rasanya kalau ia tidur tanpa suaminya ia akan merasa kesepian bahkan tidak bida tidur sama sekali. Karena ia juga merasa aneh kenapa mood nya belakangan ini naik turun seperti Roall Coaster. Ia juga bingung kenapa ia bisa seposesif ini pada Albert. Apa mungkin cinta yang terlalu dalam membuatnya berubah dan gila.
Friska tidak tahu ia harus membuat keputusan apa, ia terus memukul mukul bantal dan hendak menangis karena overthinking nya berlebihan pada suaminya, padahal Albert hanya bekerja dan ia tahu itu.
Namun Friska malah berfikiran melalang buana kemana mana hingga ia tidak bisa berfikir jernih dan melakukan aktivitas.
tenonet.. tenonet...
Terlihat dilayar handphone nya sang Mommy menelfon nya. Apakah ia harus angkat atau tidak? karena jika ia mengangkat ia akan ketahuan menangis dan membuat Mommy Cinta menangis.Namun jika ia tidak mengangkat maka sama saja, membuat Mommy nya semakin khawatir dan menghampiri nya kesini.
“Ya halo Mom, ” Sahut Friska dibalik telfonnya.
“Kau kenapa sayang? Apa kau sakit suaramu serak dan butut sekali seperti bebek” gumam Mommy nya diiringi gurauan namun dari suaranya ia hafal masih terdengar suara khawatir dari sang Mommy.
“ Gapapa Mom, Friska mungkin kelelahan dan Friska harus banyak istirahat ” Sahut Friska.
“Haishh benarkan naluri hati Mommy tidak pernah salah. Tunggu Mommy ya Mommy akan kesana kau harus sehat” seru sang Mommy dan terdengar semakin khawatir.
' Tuh kan, apa yang ku bilang, Mommy pasti akan kesini dan khawatir padaku' batinnya seraya menghela nafas kasarnya.
Mau tidak mau jika Mommy nya sudah berkehendak, ia terpaksa pasrah ya walaupun ia harus terima jika ia memang masih putri kecil satu satunya sang Mommy walaupun ia sudah bersuami.
***
Terlihat si Mbok dengan wajah takut takutnya karena ia tidak berhasil menyuruh Friska turun, ia mungkin sudah siap akan Omelan Nyonya Ines.
“Bagaimana Mbok? Apa dia mau turun?” tanya nya menggebu gebu pada si Mbo yang sudah tertunduk takut.
Mommy Ines menggeleng gelengkan kepalanya, ia mungkin sudah faham kelakuan Friska karena memang ia sudah lama tinggal dengan menantunya itu. Maka ia harus turun tangan sekarang, jika dibiarkan maka menantu nya itu akan sakit.
tak tak tak
Wanita paruh baya itu menaiki tangga, dan ia terlihat gusar karena menantunya itu masih keras kepala seperti dulu.
“Friska sayang, kenapa kau kunci pintunya? Mommy jadi tidak bisa masuk kan?” seru Mommy Ines dengan nada masih lembut.
“Astoge, bener kan aku bilang.. dua wanita menyebalkan itu pasti akan mengomeli ku dan dengan seribu cara mereka akan memasuki kamarku” gerutu Friska dengan sebal.
“Friska sayang, atau Mommy suruh pak Moy mendobrak pintunya ya!” teriak wanita paruh baya itu lagi dengan suara yang terdengar pasrah karena beberapa kali ia menggedor tidak ada sahutan atau pun kode agar pintunya bisa terbuka.
“Jangan Mom!! Pintunya mahal nanti kekayaan anak Mommy terkuras hanya demi membeli sebuah pintu yang rusak!!” sahut Friska dengan sebal dan berteriak pada wanita paruh baya yang rewel itu.
“ No problem, tidak apa asalkan menantu Mommy tidak sakit ataupun kekayaan Albert terkuras, hanya demi membeli sebuah pintu ajaib!” balasnya dengan tak kalah berteriak.
Friska menutup kedua kupingnya, karena telinga nya sudah rebing mendengar Mommy mertuanya jika sudah berteriak bak suara burung yang mencari anaknya itu. Maka ia dengan lemas dan pasrah membuka pintunya.
“ Ada apa?” tanya Friska dengan wajah sebal nya dan membuka pintu.
Wanita paruh baya itu memeluk Friska dengan sayang, karena memang ia sangat menyayangi menantu satu satunya itu yang ia sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri.
“Akhirnya kamu buka pintunya juga sayang... Kau kenapa? Kenapa tidak turun?” tanya nya dengan cemas.
“Gapapa, aku sedang ga mood turun. Mommy jangan khawatir padaku' ya.” Seru Friska dengan nada melemah.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya teman teman readers tersayang 🌹