
Masih di markas black gold.
Albert merenung, kejadian ini seolah mengingatkan nya pada peristiwa tragis lima belas tahun yang lalu yang mana membuatnya kembali ke masa itu.
Bayangan bayangan kenangannya bersama gadis itu kini ia hanyut terbawa bayangan itu dalam alam bawah sadar nya.
Flash back on*
Satu orang remaja dan satu orang gadis yang masih terbilang sangat kecil, bermain kucing kucingan di sekitar taman. Mereka tidak menyadari ada orang diam diam yang menguntitnya.
Karena Albert pun saat itu tengah berusia enam belas tahun, ia tidak menyadari karena sedang lengah tertawa dan berbincang bincang menghabiskan waktu dengan gadis kecil itu.
“Albert, jika aku besar aku akan menikah denganmu, ” seru gadis kecil itu dengan genit mengerlingkan satu matanya.
Albert terkekeh, ia mengusap lembut pucuk kepala gadis kecil itu yang bernama Maren.
“Kau belajarlah dulu, jangan memikirkan itu. Karena aku yang akan menikahi mu saat kau dewasa nanti.” Gumamnya dengan lembut.
“Apa kau berkata benar, Albert?” tanya nya dengan polos memperlihatkan wajah yang cute nya.
“Albert, Albert!Kakak. Aku bilang kakak, aku kan lebih tua darimu!” gerutu nya dengan mengerucutkan bibirnya yang cute.
“Sudah sudah, kau jangan merajuk begitu. Apa kau mau lolipop?” tanya nya dengan mengeluarkan permen itu dengan wajah riangnya membujuk seorang Albert.
Albert berbinar binar, namun saat gadis itu mengeluarkan permennya, bukan lolipop namanya kalau berukuran kecil. Itu permen kiss. Albert menggeleng gelengkan kepalanya karena kelakuan polos Maren.
“Itu bukan lolipop Maren, itu permen kiss!” tegas nya dengan sabar.
Maren kemudian mengedip ngedipkan kedua matanya polos, ia masih tidak bisa membedakan mana lolipop dan mana permen kiss. Tapi menurut Albert, membedakan kedua permen itu sangat gampang. Lihatlah jelas perbedaan nya.
“Oh ya ya permen kiss aku lupa Albert” seru nya dengan terkekeh tanpa dosa.
Kemudian saat itu ia hendak mengerjai Albert supaya bisa mengejar nya mendapatkan permen kiss.
Mereka berlari lari karena sungguh susah menangkap seorang Maren, karena wanita itu sungguh licin dan licik.
Hingga tidak sadar mereka telah melewati taman dan kearah jalan. Dan tiba tiba,
Cuittttttttt....
Dari arah depan dengan kecepatan yang sangat tinggi orang yang memakai mobil truk pengangkut bebatuan itu menabrak seorang Maren.
Hal yang tidak pernah terfikir oleh nya dan ia hendak menangkap Maren, namun itu sangat telat. Maren telah tergeletak dengan tubuh bersimbah darah.
“Marennnnn!!!!” teriaknya menggema di seluruh jalanan itu hingga banyak orang yang berkumpul melihat apa yang terjadi.
Bayangan saat dirinya gagal dan menyalahkan dirinya sendiri hingga Maren seperti itu dan kehilangan orang terkasihnya saat itu.
Flashback off*
Bayangan itu terngiang ngiang di otaknya saat saat kebersamaannya dengan Maren, gadis kecil yang selalu membuatnya riang, gembira. Memberikan warna di hari harinya yang kusut dan penuh dengan hinaan.
Namun ia tidak bisa menyalahkan takdir, takdir yang seolah tidak memihak kepadanya untuk bersatu dengan gadis kecil itu.
Hingga wanita itu menyadarkannya dari bayangan bayangan yang menyakitkan itu.
“Katakan siapa yang membunuh putriku Albert!” tanya nya dengan lirih, hingga tidak kuat langsung pingsan.
“Rek, kau bereskan wanita ini. Dan diamkan hingga ia tenang.” Gumamnya memberi perintah pada Reki.
“Baik Bos” gumam nya dengan patuh.
Dan menopang dengan mudah tubuh wanita paruh baya yang terkulai lemas di lantai itu.
“Bos, jika ia sadar bagaimana?” tanya nya dengan membalikkan kembali tubuhnya.
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Seperti yang tertulis di perjanjian itu. Dan jika sesuai dengan rencana ku pilihannya, maka bebaskan. Aku akan kembali ke mansion” gumamnya dengan dingin dan datar.
Setelah melakukannya, Albert melenggangkan kakinya keluar dari tempat itu dengan masih dalam penyamaran. Ia takut anak buah dari Frought menganggu nya sebelum ia meluncurkan pilihan pada Mole.
'Aku harus cepat cepat. Sudah dua hari aku tidak menginjakkan kaki ku di Mansion. Karena terlalu banyak urusan' batinnya menghela nafasnya kasar.
___________☁️☁️☁️___________
Mansion Louis.
Brukk.
Wanita itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size nya dengan lelah. Dan dengan posisi kaki yang diangkat nya ke atas tembok, kemudian tangannya direntangkan, ia menutup matanya.
Bayangan Albert yang yang selalu melewatinya, membuatnya kehilangan fokus untuk istirahat.
'Ya tuhan, kenapa tidak di dunia nyata atau di dunia bayangan makhluk itu selalu menggangguku. Oh ya?Kenapa dia belum pulang sampai saat ini ya?' batinnya menggumam namun matanya masih menutup.
“Ternyata kau sudah tidur.” Gumam seorang lelaki yang mirip dengan haluannya tiba tiba mengusap wajahnya dengan lembut.
'Tuh kan, tidak di dunia bayangan, sekarang di dunia nyata benar benar ada' batinnya kesal.
bersambung....
Jangan lupa like dan comment ya🤗