
Sudah beberapa hari ini memang, tengah kedatangan orangtua dari Albert. Ya, mereka tinggal bersama Albert di kediaman Istana Albert yang sengaja membangun rumah ini untuk istrinya kelak.
Suasana antara Friska dengan orangtua Albert masih canggung.
Mereka kini sarapan bersama.
Tek Tek Tek
Hanya suara dentingan garpu dan sendok yang terdengar di meja makan. Namun ada salah satu dari empat orang yang membuka obrolannya.
“Enak sekali yang membuatkan breakfast pagi ini” gumam Ines yang tak lain adalah ibu kandung Albert Leonard sembari mengunyah makanannya.
“Tentu saja Mam, ini menantu Mami yang bikin ” Sahut Albert dengan melirik sedikit ke arah Friska.
Friska yang memang jarang dipuji seperti itu, mukanya memerah seperti tomat keriting.
“Kamu sangat pintar sekali Nak. Sudah cantik, baik bisa masak juga. Plus untuk kamu menantu Mami” Seru sang Mommy dengan menyerukan jempolnya terhadap Friska.
“Friska baru bela..jar Tante..” ujar Friska gelagapan karena masih canggung.
“Ish tidak boleh berbicara itu lagi. Cukup panggil Mami ya sama seperti Albert” seru Ines yang menggenggam lengan Friska dengan lembut.
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka kini melanjutkan aktivitas masing masing. Albert yang memang banyak urusan di kantor dan markasnya, berpamitan kepada semua orang termasuk istrinya.
“Sayang, aku ke kantor dulu ya.. cup” seru Albert lembut dengan mengecup pelan kening Friska dengan lembut.
Friska hanya menganggukkan kepalanya dan mengantarkan Albert ke depan, hingga ia melambaikan tangannya.
“Hati hati Albert!” teriak nya dengan melambaikan tangan ke arah mobil Albert yang tengah melaju jauh.
Friska masuk ke rumahnya, kemudian berpapasan dengan mertuanya yang tengah tersenyum ke arahnya.
“Nak, Mami ingin berbicara sama kamu sebentar, boleh?” tanya Ines kepada Friska dengan lembut.
“Tentu saja Tan.. em Mami” Sahut Friska terbata bata yang masih canggung memang.
“Baiklah, Mami tunggu di taman belakang ya.”
Friska menganggukkan kepalanya, lalu ia juga mengikuti arah pembicaraan yaitu ke taman belakang. Oh ya, Rumah Albert memang jauh lebih mewah 5 kali lipat dari Mansion Louis.
Wanita itu duduk karena melihat mertuanya duduk.
“A.. ada apa Mami ingin berbicara denganku?” tanya Friska menatap Ines dengan penasaran.
“Ya, Mami ingin membahas Albert.” Sahut Ines tanpa melihat ke arah Friska namun masih lurus ke depan.
“Albert sebenarnya orang yang sangat periang dan sangat baik hati ” ujar Ines.
Wanita itu tampak mendengarkan apa yang dijelaskan wanita paruh baya tersebut karena masih penasaran apa yang selanjutnya yang ingin dibicarakan.
“Kamu tahu Fris, dulu kami miskin. Tidak ada yang membantu kami saat itu dan mereka bahkan menghina kami” Lanjut sang mertua menatap Friska dengan serius.
“Lalu?” tanya Friska.
“Dulu Albert masih sangat senang bermain di usia remaja nya, karena wanita itu sangat periang. Dia yang selalu menguatkan Albert untuk bangkit” Lanjut nya dengan jujur tanpa menutup nutupi.
“Ya, karena wanita itulah Albert bisa seperti ini. Dia bisa memiliki segalanya bahkan dunia. Motivasi nya sangat besar hingga Albert meninggalkan masa remajanya bermain main demi membangun masa depan.” Lanjut sang Mami Ines yang kemudian menatap lurus ke depan.
“Dia saat itu selalu periang dan membanggakan gadis kecilnya yang akan dinikahi nya di masa depan.” Lanjut Mami Ines.
'Pantas saja Albert seperti itu padaku. Ternyata dia masih mencintai gadis kecil ini. Seberapa kuat dan cantik sih pengaruhnya?' batin Friska yang penasaran dan bertanya tanya.
“Kamu tahu kenapa Albert terkenal dingin dan kejam terhadap orang orang yang mengusiknya? Dan oh ya .. Mami tau dulu kalian tidak saling mencintai seperti ini yakan?” tanya Sang Mami Ines.
Friska hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak ingin terlalu banyak bicara dengan Mami Ines karena takut salah bicara.
“Dia seperti itu karena gadis kecil penguatnya itu telah meninggalkan nya dan tewas tertabrak truk. Dan saat itu Albert sangat hancur. Dia sangat kehilangan, bahkan Ibu dari orang dicintainya menyalahkannya akibat semua ini”seru sang Mami Ines dengan serius.
“Albert yang saat itu sangat terpukul, ditambah ia disalahkan amat amat ia menyesali perbuatannya dan menyalahkan dirinya sendiri atas yang menimpa nya semua ini” ucap Mami Ines seraya menatap manik Friska dengan serius.
“Tidak mudah Albert bangkit, Mami selalu memberikan semangat hidup untuknya. Agak susah saat itu membujuknya dan dia mempunyai ambisi diluar kepala Mami”
“Dia ingin sukses, mempunyai apapun yang ia mau hingga tidak ada orang yang bisa merendahkannya. Dan itu semua motivasi dan inspirasi yang ia inginkan saat gadis kecil itu yang memberinya saran” Lanjut nya.
Wanita paruh baya itu kemudian menggenggam lengan Friska, ia tidak ingin dengan ucapannya Friska sakit hati.
“Maafkan Mami yang jujur kepadanya kepadamu. Mungkin kamu masih sakit hati, tapi jangan salah sangka. Kini Albert sangat mencintaimu, terlihat dari matanya. Jadi Mami mohon, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan kami saat kami sedang berada di atas ataupun dibawah” Pinta Mami Ines dengan menggenggam erat lengan Friska dan menatap nya dengan serius.
Friska menganggukkan kepalanya dan menyahut perkataan Mami Ines.
“Pasti. Friska tidak akan pernah meninggalkan Albert ” Sahut Friska dengan tulus.
Wanita paruh baya itu langsung menghamburkan pelukannya terhadap Friska.
Kau memang masih mencintainya
Kau tidak pernah melihatku.
Kau hanya melihat masa lalu
Dan tidak dengan masa depanmu,
Masa depan yang akan menawarkan
Dengan pasti dan jelas kebahagiaan,
Ketentraman.
Bukan masa lalu yang selalu
Menghantui mu dan terjebak didalam nya.
(Sukabumi, Alnda)
POV Friska Putri Louis.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE NYA DAN COMMENT YA ✨