
Setelah melakukan hal yang luar biasa terus menerus hingga beberapa jam pada malam hari, kini Albert tidur dengan terlihat lelah. Sedangkan Friska, ya wanita itu sama lelahnya, namun kini ia telah terbangun karena terlihat cahaya mentari sudah menembus jendela miliknya.
“Huappp! Badanku rasanya remuk sekali. Ah aku harus segera menyegarkan badanku dan berjemur dibawah sinar matahari ” seru Friska dengan nada khas orang bangun tidur, Agak serak serak gitu.
Ia melirik ke arah suaminya, ternyata kejadian semalam masih terus menari nari di dalam otaknya, bayangan nya.Apalagi saat Albert berkata bahwa ia mencintai nya, Uhh rasanya Friska serasa mimpi ataukah ini mimpi, pikirnya.
Friska terus senyum pada dirinya sendiri, hingga ia hendak melenggangkan kakinya untuk membersihkan diri dulu.Kemudian ia akan berjemur dan memasak untuk suaminya.
***
Seperti biasa, kini Friska dan Albert menjalani aktivitas nya masing masing. Kedua insan itu tengah saling melemparkan senyum, seperti baru pacaran saja. Mommy Ines hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia bahagia melihat Tuan Kejam dan angkuh itu tersenyum. Sungguh diluar nalar, pikirnya.
“Gak ada yang ketinggalan kan kalian?” tanya Mommy Ines menatap Friska dan Albert bergantian.
Friska hendak mengecek apa persiapan nya untuk berangkat ngampus, sudah terlihat beres ia menatap Mommy Ines dengan tersenyum.
“Sudah Mom, Friska sudah tidak ada yang ketinggalan. Entah kalau Albert” seru Friska dan melirik ke arah Albert.
“Tentu saja aku bukan pelupa, makanya aku gak akan pernah ketinggalan suatu apapun ” Timpal Albert.
Mommy Ines dan Friska hanya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti dan memanglah Albert bukan seorang pelupa.
University of Oxford.
Saat Friska hendak masuk kelas nya, ia melirik ke atas sedikit ternyata ada jebakan, pikirnya. Ada ada saja orang yang selalu menjebak Friska dengan cara murahan seperti ini. Ia menyunggingkan senyum liciknya.
“Hahhh... Lihat saja apa yang aku lakukan para L****e!” gumam nya dengan menahan amarah nya.
Friska heran, jika ia berada disini ada saja orang yang selalu mencari gara gara dengannya. Padahal orang itu sudah berkali kali dikalahkan olehnya, namun tetap ia selalu mencari kesalahan lagi dan lagi. Friska yakin firasat nya benar, ini semua pasti ulah Kindow dan Serra.
“Hahaha rasain kau Frought! Rasakan tulang pisang mu patah! hahahaha” teriak Friska menggema hingga di kelasnya riuh dan terjadilah para mahasiswa dan Mahasiswi untuk keluar ruangan. Tentu saja yang pertama keluar adalah target, hingga ia termakan dengan jebakannya sendiri.
Ya, yang keluar tepat Serra dan Kindow. Kedua orang itu terburu-buru keluar bersamaan hingga saat di pintu keluar-masuk.
Brukkk
Kotoran seperti kotoran domba dan kucing, mendarat di wajah kedua orang itu. Tercium baunyq sudah, kini semua orang menertawakan mereka. Dan mereka menjadi pusat tertawaan hingga Friska sendiri kini merasa puas.
Serra dan Kindow melirik ke arah Friska, ternyata tidak ada Frought pun sama sekali disana. Ini hanya akal bulusnya saja, hingga ia bodoh dan terjebak dengan jebakannya sendiri. Sungguh miris kwkwkw.
Serra menatap Friska dengan tajam, Friska ditatap tajam seperti itu bukannya merasa takut, ia ingin tertawa terbahak-bahak namun takut kena laknat. Ia hanya tersenyum santai saja tanpa wajah tanpa dosanya.
'Awas kau macan tutul, aku akan membalas mu! aku tidak akan merasa puas jika aku telah kalah lagi darimu!' batin Serra menatap Friska dengan tatapan masih tajam.
'Memangnya enak senjata makan tuan! makanya kalau bermain main denganku itu harus dipikir pikir dulu! Memangnya aku bodoh apa!' batin Friska merasa puas.
Kini mereka telah berada dikelas karena dihentikan oleh Dosen. Tingkah mereka memang diawasi, terutama Friska. Albert menyuruh orang-orang kampus untuk mengawasi Friska dan menjaganya dari hal hal buruk yang tidak diinginkan terjadi.
Di kelas itu terlihat muka dua orang yang kusut, sedangkan Friska raut wajahnya tidak dapat diartikan, karena Friska memang jutek dan datar. Jika ada orang yang memuji nya pun, menurutnya itu hanya ingin bisa dekat dengannya.
“Perhatikan! Jika disini berbuat kecurangan satu kali lagi, maka siapapun orang nya akan langsung di keluarkan oleh pihak kampus! Mau dari latar apapun dan siapapun jika membuat keributan besar lagi seperti tadi, maka akan dikeluarkan tanpa ampun!” gumam Dosen itu dengan tegas dan menatap tajam kedua orang yang berwajah masam itu, siapa lagi kalau bukan Kindow dan Serra.
Serra dan Kindow yang ditatap seperti itu, hanya melirik satu sama lain dengan wajah penuh tanda tanya. Apakah semua rencananya itu ketahuan, pikirnya.
bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya teman teman readers tersayang 🌹