
Pria dengan wajah yang manis tentunya tampan. Hidung mancung disertai lesung Pipit yang menjadi nilai plusnya.
Pria itu baru saja turun dari bandara dengan menutupi kedua matanya menggunakan kacamata hitam. Membuat wanita mana saja meleleh jika eksperesi nya seperti itu, apalagi tersenyum. Lebih meleleh lagi.
Dengan gaya cool nya, mengitari bandara yang terlihat banyak wanita disana menatap kagum ke arahnya. Pria itu memang sudah terbiasa jika mereka terpesona terhadap nya.
“Kau sudah menyiapkan semuanya Dav?” tanya pria yang menjadi sorotan itu tanpa melihat ke arah Asisten nya.
“Beres Tuan, Anda hanya tinggal mengelola saja” Sahut Asistennya yang bernama David itu.
Mereka mengendarai mobil, tidak sengaja ia melihat ke arah jendela melihat seorang wanita yang tengah tersenyum, kemudian sedetik kemudian merenggut terlihat dari wajahnya. Wanita itu menarik perhatiannya.
“Stop Dav!” pinta pria itu yang bernama Marvel, kepada Asistennya. David.
Terlihat bingung dan sedikit aneh, David hanya menuruti saja apa yang diperintahkan Tuannya.
Terlihat Marvel turun dari mobilnya hanya ingin mengenal lebih wanita yang menarik perhatiannya itu.
Semakin menghampiri wanita itu, Marvel duduk di kursi yang sama dengan wanita itu. Terlihat wanita itu tersedia sedu menangis tanpa menghiraukan pria yang ada disampingnya.
“Mau coklat?” tawar Marvel dengan tersenyum kearah wanita itu dengan mengeluarkan susu, bukannya coklat.
Wanita yang tengah menangis itu terlihat melirik ke arah pria itu.Dan mengelap sedikit ingusnya.
“Aku bukan anak kecil! Kau sungguh aneh itu bukan Coklat!” gerutu nya dengan lucu menghentikan tangis nya malah menatap pria itu dengan sebal karena berani membohongi nya.
“Setidaknya coklat ini bisa membuat mu lebih tenang, jika coklat yang asli tidak membuat mu tenang dan bahagia.” Gumam Marvel yang mencoba mengibur wanita itu.
Ia melirik ke arah pria itu seolah dia tahu kehidupannya yang dialami nya saat ini.
“Kau tahu tentang kehidupan ku?” tanya wanita itu menyipit.
“Entah, aku hanya menebak nya kan?Apa memang seperti itu?Dan apakah aku terlihat seperti seorang peramal?” tanya pria itu beruntun untun dengan mengedikkan bahunya dan menatap lebih dekat wanita itu.
Tanpa menjawab si pria itu, wanita itu terlihat memalingkan wajahnya entah apa yang harus ia jawab. Masa iya dia harus jujur terhadap pria yang belum dikenalnya, pikirnya.
“Ini ambillah, dan namaku Marvel” gumam pria itu menyerahkan susu itu kepada wanita itu dan terlihat mengulurkan tangan.
Menatap ragu terhadap pemberian pria, apalagi belum dikenal. Ia antara ragu atau tidak.
Menimang nimang, akhirnya wanita itu mengambil susu coklat itu dan menerima uluran tangan pria yang bernama Marvel.
Marvel melebarkan senyumnya, karena wanita itu bisa langsung beradaptasi dengannya meskipun tidak saling mengenal.
“Kita berteman ya. Kau bisa menghubungi aku kapanpun apa yang kau mau. Aku akan dengan senang hati menemui mu jika kau membutuhkanku” gumam Marvel lembut dengan tersenyum tulus dan memperlihatkan lesung pipitnya.
“Oke, apa asal mu dari Germany?” tanya Friska dengan polos.
Pria yang bernama Marvel itu terlihat gemas dan mengacak acak rambut Friska dengan melebarkan senyum manisnya.
“Tentu saja. Aku kuliah di luar negri baru pulang dan langsung disuruh untuk mengurus perusahaan Dad ku” Sahut Marvel dengan raut wajah yang terlihat murung.
Friska mengedip ngedip kan matanya dengan lucu, kenapa raut wajah Marvel berubah, pikirnya..
“Kau kenapa terlihat murung?” tanya Friska dengan penasaran.
“Aku, tentu saja aku masih ingin bermain main, Fris” Sahut nya yang memperlihatkan wajah murung nya kearah Friska.
“Oh, jadi aku tahu. Kau masih ingin bermain main dan belum ingin memegang kendali perusahaan Dad mu?” tebak Friska dengan lolos begitu saja.
“Yes, kau benar. Em, begitulah.” Gumam nya singkat.
Karena tersadar bahwa pria itu terus saja curhat kepadanya, maka ia memukul mukul lengan pria itu dengan kedua tangannya.
“Kau kenapa Fris, tadi baik sekarang memukulku dan terus menangis?” tanya Marvel dengan merasa bingung.
“Hiks.. hiks.. kau seharusnya jangan memotong perkataan ku. Dan aku yang ingin curhat kepadamu, bukan kau!” tunjuk nya dengan masih menangis.
Marvel bingung dengan wanita bunglon yang ada dihadapannya, ia kemudian mencari cara agar Friska menghentikan tangisannya.
“Em, aku mengerti. Maafkan aku, kau boleh dengan senang hati curhat kepadaku dan dengan nilai plusnya bisa menjadikan punggung ku sebagai sandaranmu, bagaimana?” Ucap Marvel dengan memberikan penawaran dan mengedipkan matanya dengan genit.
Friska melirik ke arah pria itu, namun sedetik kemudian ia menangis lagi.
“Aku.. aku tidak bisa melepaskan rasa cintaku. Malah bertambah banyak setiap harinya, sedang kan orang yang ku cintai begitu. Dia masih terikat dengan masa lalunya. Aku baru tau itu... Hiks” seru Friska dengan tersedu-sedu dan terlihat berucap jujur di mata Marvel.
'Ternyata cintamu bertepuk sebelah tangan. Dengan senang hati aku akan mengejar mu' batinnya merasa tertarik dan tertantang dengan wanita yang ada disampingnya ini.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya 🌹