
Sejak saat itu Albert dan Friska layaknya pasangan romantis. Mereka saling mengerti satu sama lain dan kini pasangan itu tengah menikmati makanannya melihat pasangan yang tengah menikmati akadnya.
Pasangan itu terlihat bahagia. Albert tersenyum kecut, seharusnya ia bisa membuat Friska berada disana berbahagia seperti itu.
Hari hari Albert dan Friska kini ditemani kedua orangtua Albert.
Albert menggenggam lengan Friska dengan lembut. Friska yang dilakukan seperti itu ia sungguh bahagia dan melebarkan senyumnya.
“Maaf” gumam Albert dengan sendu.
“Untuk?” tanya Friska bingung sembari menautkan kedua alisnya penasaran.
“Kau tidak bisa seperti kakakmu. Ini kesalahan aku. Kita akan mengadakan resepsi pernikahan mewah nanti, aku janji” gumamnya menatap wanita cantik yang duduk bersebalahan dengan Albert.
“It's oke. Kau tidak perlu merasa bersalah padaku, aku tidak apa apa. Dan tidak perlu terburu buru aku juga belum siap sebentar lagi hari kelulusanku ” ujar Friska sembari mengusap lembut lengan Albert yang menggenggam tangannya.
'Maaf, maafkan aku.
Aku sungguh miris
Tidak mengetahui isi hatiku
Aku juga tidak bisa
Memusnahkan dia
Yang sudah lama bersemayam
Didalam hatiku
Sekali lagi, maaf kan suamimu'
Setelah melihat keadaan telah sepi, mereka kemudian menyalami sang pengantin. Dan Friska langsung menghamburkan pelukan sedih ke arah Branden.
“Kakak, kau tidak akan menjadi manusia jengkel lagi. Kau sudah punya istri” gumam Friska dengan cemberut dan hendak melepaskan pelukannya dari sang kakak.
Albert yang melihat itu ia menggeleng gelengkan kepalanya, sudah biasa dan tidak aneh lagi melihat kemanjaan Friska terhadap kakaknya. Mungkin jika Albert hangat dan terbuka padanya mungkin ia hanya akan manja kepada Albert.
Branden yang memang tidak pernah bosan gemas terhadap adiknya, ia memencet ujung hidung Friska. Sungguh lucu, di acara pernikahan ini seharusnya Friska sudah bersikap dewasa.
“Kau jangan menangis. Seperti berpisah beda gunung saja. Kakak tidak akan pernah membiarkan adik kesayangan kakak ini menangis. Apalagi oleh suaminya” ia menilik ke arah Albert yang sedang disindir oleh Branden.
“Sialan kau Bran!Aku tidak mungkin menyakiti hati istriku. Iya kan sayang?” ujar nya sembari merangkul Friska.
Friska hanya menganggukkan kepalanya. Ia sungguh tidak tahu harus berbicara seperti apa.
Namun belum sempat terhuyung, Albert menahannya dan kini mereka bertatap saling mengagumi satu sama lain.
'Aku memang belum memiliki hatimu Tuan Albert, tapi aku bisa.memiliki ragamu' ujarnya.
'Matanya. Aku tidak bisa berpaling dari matanya. Aku arghhhh!cepat atau lebih cepat aku memang sangat terpesona oleh matanya dan semua tentangnya. Namun otakku menolak itu semua.' batinnya merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasa.
Dan jika Albert ingin mengungkapkan perasaan nya yang sebenarnya, otak nya selalu menolak itu semua hingga ia juga bingung dengan dirinya sendiri.
Lama mereka saling menatap dengan pikiran masing masing, suara mix mengangetkan mereka.
“Waw, disana ternyata Tuan Albert Leonard sedang bersama Friska Putri Louis. Sungguh sangat mengejutkan, apakah kalian sepasang kekasih?Aduh .. sangat romantis sekali ya.” Ucap sang pembawa acara yang melihat keromantisan mereka.
Sejenak sorotan itu menimbulkan beberapa wartawan ke arah mereka dan meminta penjelasan.
Albert dan Friska yang diserang tiba tiba, mereka entah kenapa diam membisu. Saling melemparkan masalah ini ke diri mereka masing masing.
“Tuan Albert, Nona Friska. Apakah kalian sudah lama menjalin hubungan?” tanya salah satu wartawan.
Albert dan Friska saling menatap, mereka entah menjawab apa tidak tahu.
“Sudah lama menjalin hubungan, akan segera menikah!” ucap mereka berdua bersamaan dan salah ucap.
Wartawan yang sedang kebingungan memilih jawaban yang benar yang mana, ia kemudian memastikan sekali lagi.
“Yang benar yang mana?” tanya wartawan itu kebingungan.
“Maksudnya, ya kami akan segera menikah!” tegas mereka berdua bersamaan.
“Wah, kalian memang pasti berjodoh dan sangat romantis ya. Nanti kalau Tuan dan Nona menikah jangan lupa undang kami ya” ucap salah satu dari mereka.
Albert hanya menganggukkan kepalanya dan masih sama, masih dingin dan tertutup.Ia hanya tidak ingin reputasi nya buruk jika ia bermulut pedas di kondisi saat ini.
'Ckck, wartawan bodoh dan kepo. Tentu saja aku tidak akan mengundang kalian, aku hanya ingin mengundang jurnalis yang bisa diandalkan dan bukan seperti kalian yang kepo dan selalu menebarkan sensasi berita buruk tentang ku' batin Albert merutuki wartawan yang hendak heboh itu menjilat namanya dan kekuasaannya.
______________🌨️🌨️🌨️_______________
Wajah pria itu berubah menjadi menyunggingkan senyum liciknya. Ia kini tidak usah capek capek berbuat kesini kesitu. Satu kali saja ia berhasil memancing kelemahan pria itu, maka dua dua nya ia dapat, pikirnya.
“Aku akan membawa Mole ku. Lihat saja Albert!Kau hanya anak bau kencur yang masih menggunakan popok” rutuk pria paruh baya itu menyunggingkan senyum liciknya.
Bersambung....
JANGAN lupa like dan comment ya 🌹