
“Waw.. banyak sekali Albert, ” seru Friska dengan berpura pura bahagia agar ia tidak terkena semprotan kesal seorang Albert Leonard.
Albert berbinar binar, ia juga merasa senang jika Friska senang seperti ini dengan hasil kejutannya. Karena ia juga tidak sia sia melakukan itu semua.
“Huum, kau boleh memakan semuanya.” Gumam Albert dengan melebarkan senyumnya santai.
'What?! Dia gila apa menyuruh aku memakan semua ini. Masa aku menjadi mister coklat' batinnya kesal terhadap Albert yang kelewatan polos dalam hal tentang wanita.
“Baiklah, aku akan habiskan semuanya. Asal dengan satu syarat, ” seru Friska dengan menyipit.
“Apa itu?” tanya Albert dengan menautkan sedikit alisnya.
“Kau harus mencium tembok selama seratus kali bagaimana?” seru Friska dengan seringai tipisnya.
Albert membulatkan matanya, masa ia disuruh seperti itu demi seorang Friska. Dan mencium tembok seperti zombie curut saja, pikirnya. Harga diri seorang mafia terkenal kejam sedunia dan di dunia bisnis masa hanya menurut dengan satu saja permintaan Friska, pikirnya.
“Bagaimana?” tanya Friska sekali lagi dengan menaikkan sedikit alisnya.
“Tentu saja tidak! Aku tidak mau melakukan hal konyol seperti itu. Dan jika disuruh menciummu, aku akan dengan senang hati menurutinya” gumam Albert dengan dingin dan datar.
“Kau lebih gila! Dasar lelaki payah kau Albert!Mencium tembok saja tidak mau! Jika itu mau mu, maka aku tidak akan menerima semua kejutan darimu!” gerutu nya kesal dengan menghentak hentakkan kakinya ke lantai membuat gempa bumi saja.
Albert terdiam sejenak, jika seperti itu maka ia sia sia menyiapkan semua ini demi Friska. Ya, Albert mempunyai jalan lain yang menurutnya ampuh.
“Fris, kau jangan marah begitu dong... Baiklah, aku akan menerima tantangan itu namun harus diganti ya please...” gumam Albert dengan ekspresi yang masih datar dan dingin namun terkesan memelas.
“Kau jangan me nego Albert! Kan aku yang akan memutuskan!” seru Friska yang masih kesal.
“Kalau mencium tembok itu kan pahit ya? bagaimana kalau aku cium domba tetangga saja, ” gumam Albert meluncurkan idenya yang menurutnya tidak terlalu memalukan.
Dengan terdiam sejenak, ia menimang nimang permintaan Albert apakah merugikan dirinya atau tidak, pikirnya.
'Bwhahaha kau Albert!Itu lebih memalukan! Kau memang sangat aneh! Baiklah, aku akan menerima permintaan mu itu. Lihat saja..' batin Friska bergumam dan menyeringai licik.
“Bagaimana?” tanya Albert sekali lagi memastikan.
“Baiklah, tapi kau harus.mencium domba dengan dua ratus kali karena kau yang memutuskan sendiri?” tanya nya.
“Baiklah, terserah kau saja.” Sahut nya pasrah.
“Deal!” seru Friska dengan mengulurkan tangannya.
“Dealll!” gumam Albert mantap.
***
Kini, Friska diluar rumah dan tentu saja izin dulu terhadap Mak Ijot, sang pemilik domba.
Albert mau tidak mau menjatuhkan harga dirinya, namun ia tidak ingin orang lain melihatnya dengan hal konyol itu.Apa kata dunia jika mereka melihat ini, pikirnya.
Friska membawa Pluit, seperti akan balap saja. Ia hanya menghitung dengan Pluit agar Albert tidak licik.
“Sudah siap Tuan Albert?!!” teriak nya dari arah yang lumayan jauh.
Albert dengan meringis, melihat ia hanya seorang diri di ditengah tengah domba galing yang kini bersuara kencang.
Mbeee mbee..
Gumam domba domba galing itu ke arah Albert.Seolah mengajaknya berkenalan.
'Bagaimana aku bisa bertahan dengan domba galing yang seperti nya jatuh cinta kepadaku' ia sangat geli sekali ditengah tengah domba.
Namun apa daya, Albert harus menyelesaikan tantangan nya agar tidak dibilang payah oleh Friska.
Namun Friska, kini ia tengah tertawa terbahak-bahak melihat suaminya digumul seorang domba galing yang sepertinya sangat suka didekatnya.
“Ready Albert?!!” teriaknya sekali lagi melihat Albert yang sepertinya tengah geli.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya saja, pertanda ia sudah siap.
Tiuttttt
“Baiklah, satu, dua, tiga....” teriak Friska menghitung dengan licik dan Albert tengah terpaksa mencium para domba itu yang menyambutnya.
Friska dengan entengnya tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terasa sakit karena kelelahan tertawa. Ia juga tengah mem Vidio dirinya dengan Albert disana.
Setelah selesai, pria itu merenggutkan wajahnya karena jijik dengan semua itu yang menghancurkan harga dirinya demi sebuah wanita dan tantangan.
Masih dengan tertawa meledek, Friska dengan santai nya terus meledek Albert yang tengah merenggut kesal.
“Diam! Tawa mu bau jukut!” sentak nya dengan tajam dan terlihat sangat kesal sekali.
Friska yang dikatai seperti itu tentu saja tidak terima, menciumi wangi mulutnya dan meng hah hah ke dalam tangannya.
'Tidak bau!' batinnya bingung dan melihat Albert yang ternyata sudah tidak ada disana.
“Hey Tuan Albert!! Kau ternyata berbohong dan mengerjai ku ya!” teriaknya dan menjadi pusat perhatian tetangga yang bernama Mak Ijot yang tengah bingung tersebut.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya 🌹