
21:14 PM.
"Dimana ini?" ucap Clarissa yang melihat daerah sekitarnya.
"Akhirnya kau bangun juga," ucap seseorang yang duduk di jendela terbuka.
Clarissa terkejut dan melihat sumber suara itu.
"Ahh ternyata kau, Ruri, dimana ini? UKS?" tanya Clarissa yang masih kebingungan.
"Iya, memangnya kamu lupa dengan ujian tadi siang?" kata Ruri.
"Ujian? Ahh iya kau benar," ucap Clarissa sambil tersenyum setelah mengingatnya.
"Kamu terlalu memaksakan diri Clarissa, apa yang membuatmu melakukan hal itu?" tanya Ruri.
"Entahlah," ucapnya yang masih tersenyum.
"Aku bertanya dengan sungguh-sungguh," ucap Ruri dengan nada yang berubah.
"Ma-maaf, aku hanya ingin membuat diriku sedikit berguna buat kalian dan karena aku juga ingin terus bertambah kuat," ucap Clarissa pelan.
Ruri terkejut dan menatap keluar jendela.
"Kalau kamu ingin berguna, lain kali jangan melakukan hal bodoh seperti tadi, kamu bukannya tidak berguna, akan tetapi, kamu hanya memikirkan ego mu sendiri, dan hal seperti itu hanya akan membuat kami khawatir," ucap Ruri.
"Ma-maaf," kata Clarissa sambil menundukkan kepalanya.
"Untung saja yang kita hadapi hanya manusia, bagaimana kalau yang kita hadapi itu adalah iblis?" ucap Ruri yang masih menatap suasana luar sekolah.
Clarissa hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku Clarissa karena berkata seperti ini, aku hanya teringat akan kematian adikku," ucap Ruri pelan.
"Ahh tidak, ini memang salahku karena memaksakan diri, dan juga aku minta maaf telah membuatmu mengingatkan tentang adikmu," kata Clarissa sambil menatap Ruri.
"Tidak apa," kata Ruri.
"Clarissa," ucap Ruri lagi.
"Hmm?" kata Clarissa menatap Ruri.
"Lain kali, khawatirkanlah dirimu sendiri, ya? Karena aku selalu menghawatirkanmu" ucap Ruri menatap Clarissa dengan tersenyum.
Seketika Clarissa terkejut dan langsung menundukkan kepalanya.
"Hei Clarissa ada apa denganmu? Apakah kepalamu sakit?" tanya Ruri yang mendekati Clarissa.
"A-aku tidak apa-apa," ucap Clarissa merasa gugup.
"Hei ada apa? Mukamu memerah? Apa kamu demam?" tanya Ruri lagi sambil memegang dahi Clarissa.
"H-huh?!!" ucap Clarissa terkejut karena tiba-tiba Ruri menyentuh keningnya.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Clarissa.
"Mukamu memerah, jadi kupikir kamu terkena demam, tapi kamu tidak panas," ucap Ruri sambil merasakan suhu tubuh Clarissa menggunakan tangannya.
"Bo-bodoh, ini semua karenamu," ucap Clarissa sambil kembali berbaring dengan memalingkan pandangannya dari Ruri.
"Apa salahku? " gumam Ruri tersenyum karena tidak mengerti.
Setelah beberapa saat kemudian, Clarissa pun bertanya.
"Jadi, bagaimana ujiannya?" tanya Clarissa.
"Kita menang," ucap Ruri sambil tersenyum.
"H-hah? Menang?" tanya Clarissa tidak percaya.
"Hmm hmm," ucap Ruri sambil menganggukkan kepala.
"Biar ku tebak, kau melawan Garfiel sendirian?" tanya Clarissa dengan tatapan curiga.
"Ahh ti-tidak, Naila dan Dhafin juga membantuku kok," ucap Ruri pelan hampir tidak terdengar.
"Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang?" sambung Ruri.
"Hmm sepertinya aku sudah tidak apa-apa," jawab Clarissa.
"Begitukah? Hmm ohh iya apa kamu lapar?" ucap Ruri.
"Ahh kau benar, aku belum makan malam, dan mungkin sekarang kantin sudah tutup, jadi terpaksa aku harus membeli makanan diluar," ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah mempersiapkannya untukmu, tunggu sebentar ya," ucap Ruri sambil berlalu pergi.
"H-heh? T-tunggu?"
Beberapa menit kemudian Ruri pun kembali bersama Dhafin dan Naila.
"Ahh akhirnya kamu bangun juga Kak," kata Dhafin setelah masuk.
"Tentu saja, aku juga tidak ingin membuang-buang waktu ku untuk berbaring disini terus," kata Clarissa.
"Ini," kata Ruri sambil memberikan sebungkus makanan.
"Kau membelinya?" tanya Clarissa.
"Tidak, itu dari kantin," jawab Ruri.
"K-kau membungkusnya?" tanya Clarissa tersenyum aneh.
"Iya, memangnya aneh kah?" tanya Ruri.
"Tidak, hanya saja belum ada yang pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya," ucap Clarissa tersenyum.
"Ahh pantas saja kalian merasa heran tadi," ucap Ruri sambil melirik ke arah Dhafin dan Naila.
"Bagaimana kalau kita kembali ke kamar saja? Aku tidak enak berada disini terus," kata Clarissa.
"Tapi kamu kan baru saja bangun?" ucap Naila kepada Clarissa.
"Aku sudah tidak apa-apa kok," ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Ingat, jangan paksakan dirimu, Clarissa," ucap Ruri kembali tersenyum.
"A-aku tahu," kata Clarissa sambil memalingkan pandangannya.
Melihat itu Naila pun langsung berkata.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita kembali ke kamar!" ajak Naila.
Kamar ...
"Hei Dhafin, apa kamu masih bangun?" kata Ruri saat yang lain sedang tidur.
"Iya, ada apa?" tanyanya.
"Aku ingin bertanya sesuatu." kata Ruri.
"Tentang apa?" ucap Dhafin singkat.
"Sekolah ini." jawab Ruri pula dengan singkat.
"Ada apa dengan sekolah ini?" tanya Dhafin.
"Begini, pertama, aku heran dengan jam ini, kenapa benda secanggih ini bisa ada di sekolah saja? Di kota sepertinya tidak ada satupun yang menjual benda seperti ini," kata Ruri sambil mengangkat tangannya lalu melihat jamnya.
"Akhirnya kamu juga curiga tentang itu," kata Dhafin sambil tersenyum.
"Iya, bukan hanya jamnya saja, tapi seluruh fasilitas sekolah ini juga, berlainan sekali dengan suasana kota," kata Ruri heran sambil mengingat kelasnya yang seperti sekolahan abad 26, sedangkan di kota seperti abad 12.
"Ehh sebentar, kamu bilang juga? Berarti kamu juga merasa begitu Fin?" tanya Ruri.
"Tentu saja, bahkan seluruh murid juga penasaran, tentang jam ini yang dapat memindahkan seseorang hanya dengan sekedipan mata untuk pergi ke dimensi lain," kata Dhafin.
"Kau sudah tau sesuatu?" tanya Ruri lagi.
"Tentu saja tidak," ucap Clarissa tiba-tiba.
"Clarissa?! Kau masih bangun?" tanya Ruri terkejut.
"Tentu saja, bagaimana aku bisa tidur jika kalian berdua masih sibuk berbicara, aku yakin Naila juga belum tidur," ucap Clarissa.
"Ahh aku ketahuan ya, hahah," kata Naila sambil tertawa kecil.
"Heh?! Naila juga?!" ucap Ruri terkejut mendengar suara Naila juga.
"Hmm iya," ucap Naila.
"Ruri, tentang keingintahuanmu itu lebih baik menyerah saja, karena hal itu dirahasiakan oleh pihak sekolah," jelas Clarissa.
"Kalian pernah menanyakannya?" tanya Ruri.
"Iya, sering kali kami menanyakannya, akan tetapi semua guru mengatakan bahwa hal itu dirahasiakan karena alasan tertentu yang tidak bisa dijelaskan," kata Naila.
"Hmm alasan yang tak bisa dijelaskan yaa..? " gumam Ruri.
"Mungkin alasannya agar seluruh dunia tidak mengetahuinya, tapi bagaimana kalau ada anak murid sekolah ini yang memberi tahukan perkara ini kepada orang-orang?" tanya Ruri lagi.
"Kalau itu, sepertinya ingatan mereka akan diambil atau dihapus," kata Dhafin.
"Sepertinya bahaya," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Tentu saja, bukan rahasia kalau semuanya mengetahuinya," kata Dhafin.
"Ada apa?" tanya Dhafin.
"Ahh tidak, bukan apa-apa," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Mencurigakan..." ucap mereka bertiga.
"K-kenapa?" tanya Ruri yang masih tersenyum.
"Jangan bilang kamu ingin bersikeras mengetahuinya?" tanya Dhafin.
"Entahlah..., selamat malam," kata Ruri sambil menarik selimut dan memejamkan matanya.
"Heh?" kata mereka bertiga.
"Yah... kalau itu Ruri mungkin saja dia bisa mengetahuinya," kata Dhafin sambil tersenyum.
"Mungkin saja," ucap Clarissa.
"Selamat malam."
...****************...
07:00 AM.
"Baiklah, ini adalah peringkat dari semua tim, jadi selamat atas poin yang kalian peroleh," kata Pak Nathan sambil memegang papan yang terdapat tulisan Tim I - Tim VII beserta angka poin yang di peroleh setiap timnya.
"Sulit di percaya Tim III berhasil menang melawan Tim I."
"Iya terutama Ruri yang paling mengejutkan."
"Wahh kita peringkat 4."
"Ahh ternyata benar, tim kita yang paling payah dalam bertarung, sampai sampai mendapat peringkat terakhir."
"Kita akan berhasil suatu saat nanti."
Seketika suasana kelas itu menjadi ramai oleh ucapan seluruh murid Lower Class.
"Baiklah semuanya harap tenang, poinnya akan dibagikan sekarang," ucap Pak Nathan sambil menyentuh layar papan itu.
Sesaat kemudian, seluruh jam tangan di kelas itu pun bersinar dan menambahkan poin seluruh murid-murid.
"Waaahhh...!!!"
Teriak seluruh murid-murid yang di lanjutkan obrolan.
"Hei ranking mu naik?"
"Tidak."
"Ahh ranking ku turun derastis."
"Ranking ku hanya naik 1."
"Enak sekali ranking mu naik, punyaku turun."
Ucap murid-murid yang membuat suasana kelas kembali riuh.
"Ranking ku naik!" ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Hei jangan bangga dulu, aku juga naik," kata Dhafin disebelahnya.
"Wahh ranking punya ku turun yah?" kata Garfiel sambil melihat jam miliknya.
"Ranking ku masih tetap di no 3," kata Ruri sambil tersenyum.
"Tidak apa itu sudah sangat bagus," ucap Naila yang duduk disebelahnya.
"Ahh mungkin kau benar, ohh iya, Naila, bagaimana dengan ranking mu?" ucap Ruri.
"Ranking ku naik, akan tetapi... masih jauh di bawah kalian," kata Naila sambil menunjukkan data muridnya.
"12? Naila, sebelum kamu mengikuti ujian ini, kamu ranking berapa?" tanya Ruri.
"D-dua puluh," kata Naila sambil menundukkan kepalanya.
"Ada apa, Naila?" tanya Ruri.
"Ma-maaf," kata Naila tiba-tiba.
"Untuk apa? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun," ucap Ruri.
"Ranking 20 kayak aku ini, sepertinya memang tidak pantas berada satu tim denganmu, Dhafin ataupun Clarissa," Ucap Naila.
"Mengapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Ruri.
"Tidak, hanya saja aku merasa seperti memanfaatkan kekuatan kalian bertiga, aku tidak pandai bertarung di garis depan, dan juga karena aku ini lemah makanya aku selalu ditempatkan diposisi aman," kata Naila dengan suara pelan.
"Kamu salah Naila, justru keberadaanmu lah yang membuat kita bisa memenangkan ujian ini, dan juga kamu ini tidak lemah, aku yakin akan hal itu," ucap Ruri yang membuat Naila kembali mengangkatkan kepalanya.
"Ta-tapi, banyak orang-orang diluar sana yang berkata rangking 20 sepertiku ini tidak layak setim denganmu," ucap Naila pelan.
Ruri menghela nafas dan tersenyum.
"Tidak usah kamu perdulikan apa kata orang-orang, mereka yang mengatakan itu hanya iri dengan dirimu, lagi pula kita kan sudah menjadi teman sejak pertama kali bertemu, jadi tidak usah merasa tidak pantas hanya karena perkataan seseorang yang membuatmu merasa seperti itu," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Apa aku bisa?" tanya Naila.
"Tentu saja, kalau kamu berpikir bahwa dirimu tidak pantas, ingatlah bahwa kamu sering membantu dan menyelamatkanku saat ujian kemarin, ingatlah kamu juga sering membantu mereka, lalu ingatlah kamu itu sering melerai kakak beradik itu, dan ingatlah bahwa dirimu itu adalah Avelina Naila, apa alasan itu tidak cukup untuk membuatmu merasa pantas di Tim III?" kata Ruri yang membuat Naila terkejut.
"Dan juga, setelah ini aku ingin meminta bantuanmu, apa boleh?" sambung Ruri.
"Hmm i-iya baiklah," ucap Naila gugup.
"Tidak usah tegang begitu, santai saja seperti biasa, ya," pinta Ruri sambil tersenyum.
"B-baiklah," ucap Naila yang masih gugup dan pipinya mulai memerah.
"Baiklah kita mulai pelajarannya," ucap Pak Nathan sambil membuka buku.
Beberapa jam kemudian...
*Krrriiiiiing...
Suara bel sekolah yang mulai berdering.
"Baiklah pelajarannya cukup sampai disini, sampai jumpa," kata Pak Nathan sambil berlalu meninggalkan kelas.
"Hei Ruri kamu tidak makan siang?" tanya Naila melihat Ruri langsung pergi.
"Ahh kamu duluan saja sama Dhafin dan Clarissa, aku ada urusan sebentar, nanti aku menyusul," ucap Ruri sambil berlari pergi keluar kelas.
"Ruri mau pergi kemana?" tanya Dhafin.
"Aku nggak tau, dia bilang ada urusan," jawab Naila.
"Yaudah kita duluan aja ke kantin, lagi juga Ruri bilang nanti dia akan menyusul," kata Clarissa.
"Hmm iya."
...****************...
"Pak Nathan" ucap seseorang yang membuat Pak Nathan memberhentikan langkah kakinya.
"Ahh Ruri, ada perlu apa?" tanya Pak Nathan.
"Ada waktu sebentar Pak?" tanya Ruri.
"Ohh aku tahu, lebih baik kita bicarakan diatap saja," kata Pak Nathan sambil kembali berjalan.
"Hah?" kata Ruri terkejut lalu mengikutinya dari belakang.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" ucap Pak Nathan setelah sampai di atap sekolah.
"Tadi bilangnya udah tau, bagaimana sihh ..." gertak Ruri dalam hati sambil tersenyum.
"Hmm begini, aku ingin tahu tentang sekolah ini," ucap Ruri.
"Heh ... sudah kuduga, jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Apa di dunia ini, teknologinya memang seperti ini? Kulihat di kota fasilitasnya tidak semaju di sekolah ini," tanya Ruri dengan nada serius.
"Dunia ini? Hmm ... Sepertinya ini akan menjadi hal yang menarik," tanya Pak Nathan sambil tersenyum.
"Apa maksud bapak?" tanya Ruri tidak mengerti.
"Bukan apa-apa," jawab Pak Nathan dengan cepat.
"Jadi, siapa orang yang membuat teknologi semacam ini disini?" tanya Ruri.
"Tadinya aku ingin menjawabnya dengan kebohongan atau lebih tepatnya merahasiakan, tapi setelah mendengar pertanyaanmu yang sebelumnya, aku akan mengatakannya dengan jujur, tapi ingat, rahasiakan hal ini dari siapapun!" kata Pak Nathan dengan nada yang mulai berubah.
Ruri hanya diam dan menelan ludah dengan keringat dingin yang menyelimuti tubuhnya.
"Ada seseorang disekolah ini yang juga berasal dari ... Ahh tidak. Mungkin bisa dibilang dari duniamu yang sebelumnya," ucap Pak Nathan sambil tersenyum.
"H-hah?!!" ucap Ruri terkejut.
"Dia adalah orang yang membuat semua fasilitas di sekolah ini menjadi seperti itu dengan bantuan sihir dan guru-guru di sekolah ini," jelas Pak Nathan.
"Siapa orang itu?" tanya Ruri cepat.
"Dia adalah ... Nathan Julian."