
17:32 PM.
“Kaila, sepertinya di sana ada kastil tua,” ucap Ruri sambil melirik kearah hutan yang terlihat diantara banyak pepohonan itu ada 4 tower yang menjulang keatas.
“Kau mau memeriksanya?” tebak Kaila.
“Tidak apa-apa kan?” ucap Ruri bertanya balik dengan senyuman.
“Huuhh ... Baiklah aku hanya ikut saja,” ucap Kaila.
Ruri dan Kaila pun pergi menuju tempat tersebut.
Sesampainya disana Ruri pun terkejut karena yang dikiranya terdapat sebuah kastil namun disana hanya terdapat 4 buah tower yang mengelilingi sebuah lubang dengan ukuran besar dan dalam.
“Kaila, apa kau mau melihat kedalam?” tanya Ruri karena rasa penasarannya.
“Tapi ini sudah hampir malam lohh ... Kenapa tidak besok saja?” ucap Kaila yang melihat matahari sudah hampir tenggelam di barat sana.
“Aku tahu, tapi kalau besok itu akan terkesan membuang-buang waktu,” kata Ruri sambil berpikir.
“Justru kita yang datang kesini adalah buang-buang waktu?!” gumam Kaila sambil tersenyum kecut.
“Apa kau mau ikut? Kalau kau mau, kau boleh menunggu disini,” ucap Ruri lagi.
“Ba-baiklah aku ikut saja,” jawab Kaila pasrah.
“Tapi sebelum kita pergi ... “ ucap Ruri sambil terbang tepat di atas lubang besar itu, Kaila pun mengikutinya.
“Apa yang ingin kau lakulan?” tanya Kaila melihat Ruri di sampingnya membuat bola api kecil lalu melemparnya ke arah lubang itu.
“Aku hanya ingin tahu seberapa dalam lubang ini,” kata Ruri sambil melempar bola apinya dan tiba-tiba saja saat bola api itu memasuki lubang itu, bola api nya seketika langsung meledak seperti menyentuh sesuatu.
Kaila dan Ruri pun terkejut melihat itu.
“Apa lubang itu memiliki protector? Tapi tak terlihat sama sekali,” kata Ruri.
“Ruri lihat itu!” kata Kaila sambil menunjuk kearah tangga yang mengarah ke dalam lubang.
“Ayo masuk!” ucap Ruri sambil terbang mendekati tangga itu.
“Ehh tu-tunggu ... “
“Hei Kaila, Kira-kira lubang ini memiliki berapa lantai?” ucap Ruri melihat banyak tangga yang melingkar kebawah lalu memasuki ke dinding lubang itu begitupun seterusnya.
“Entahlah ... Aku tidak bisa memprediksinya karena tidak bisa menjatuhkan sesuatu kedalam lubang ini,” kata Kaila.
“Kalau bola api tidak bisa memasukinya berarti kita juga ... “ ucap Kaila sambil berpikir.
“Kau salah Kaila, aku bisa memasukinya kalau melaui tangga ini,” ucap Ruri yang sudah berjalan menuruni tangga.
“H-hei tunggu aku!”
Mereka berdua pun menyusuri tangga dan memasuki gua yang terdapat di dinding lubang itu.
Beberapa menit kemudian ...
“Kukira ada barang menarik atau semacamnya, ternyata tidak ada apa-apa di dalamnya, cuman hanya ada monster ... “ gerutu Ruri.
[[Ahh ... Iya maaf, sedikit penjelasan, sebenarnya hewan dalam cerita ini memiliki 3 kategori, hewan normal, monster, dan siluman. Hewan normal seperti pada hewan umumnya; kalau monster merupakan hewan yang tidak normal seperti minotaur, naga, ogre dan lain sebagainya; Sedangkan siluman adalah hewan normal / tidak normal yang berevolusi melalui stealth crystal yang ditanamkan oleh iblis melalui sihir khusus agar dapat dikendalikan sesuka hati.]]
“Kan sudah kubilang, untung saja aku menghancurkan semua pintunya. Kalau tidak, bisa semalaman kita berada di tempat yang tak jelas ini,” ucap Kaila.
“Tapi aku ingin mencoba puzzle di setiap pintunya,” kata Ruri sambil mencibir.
“Sudahlah tidak usah memikirkannya, ayo cepat pergi ke kota sebelum seluruh penginapan penuh!” ucap Kaila sambil berjalan.
“Ba-baiklah ... “
...****************...
“Maaf tuan, kamar yang tersisa hanya tinggal satu, baru saja dipesan oleh orang itu,” katanya sambil menunjuk kearah seseorang yang tengah menaiki anak tangga.
“Ahh payah kita kurang cepat!” ucap Ruri frustasi.
“Kau pikir ini salah siapa?” ucap Kaila yang berada di sampingnya.
“Iya iya maaf, aku tahu itu.”
“Baiklah, pesan saja kamar yang tersisa, tidak usah ambil pusing,” kata Kaila.
“Ta-tapi ... “ ucap Ruri.
“Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi ... Dan juga, kau itu kan pa-pacarku ... Jadi menurutku itu tidak apa-apa,” kata Kaila sambil memalingkan pandangannya.
“I-iya sihh ... Ta-tapi ... “
“Kalau begitu, satu kamarnya Pak,” ucap Kaila sambil mengambil kunci kamarnya dari orang yang menjaga penginapan itu.
“Ka-kaila?! Kau mendengarkanku tidak?” ucap Ruri terkejut.
“Sudahlah, ayo pergi jangan bicara lagi,” kata Kaila sambil menarik tangan Ruri.
Kamar.
Sesampainya di kamar, Ruri dan Kaila langsung bersalin secara bergantian, setelah selesai Kaila langsung merebahkan dirinya di ranjang.
Ruri berjalan menuju jendela dan menarik sebuah kursi. Melihat itu, Kaila bangkit kembali lalu berkata.
“Ada apa Ruri? Kau tidak tidur? Jangan bilang kau tidak ingin seranjang denganku?” gerutu Kaila.
“Aku hanya belum ingin tidur, itu saja. Dan soal itu tidak usah khawatir aku akan tidur di sampingmu,” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Heh? Ja-jadi kau sekarang sudah berani menyerang?!” ucap Kaila terkejut dengan perubahan Ruri.
“Bu-bukan begitu?!”
Ruri menghela nafas lalu menatap langit malam dari balik kaca bening di depannya.
“Sudah 5 tahun berlalu, tapi aku belum juga menemukanmu, Clarissa ... “ ucap Ruri pelan.
Mendengar kata-kata Ruri, Kaila berjalan mendekati pria itu lalu merangkulnya dari belakang.
“Tenanglah Ruri, aku yakin suatu saat kau pasti menemukannya.”
“Terima kasih Kaila, dan maaf karena selama ini kau hanya mengikutiku untuk tujuan yang tak jelas,” ucap Ruri sambil menundukkan kepalanya.
Kaila tersenyum sebentar lalu berkata.
“Apa yang kau bicarakan? Aku menemanimu karena ini adalah keinginanku. Memang, awalnya aku menemanimu hanya sekedar menjalankan tugas atasan, tapi sekarang aku ingin menemanimu dan melindungimu sebagai rekan seperjalanan sekaligus ... Kekasihmu.”
“Terima kasih, Kaila.”
“Kau masih belum ingin tidur?” tanya Kaila.
“Belum.”
“ .... “
“Kau benar, magicalist mungkin hanya terdapat di kota tertentu saja,” kata Kaila.
“Tapi entah kenapa aku sangat bersyukur karena hal itu, aku takut kalau kejadian tadi siang akan terjadi lagi,” ucap Ruri sambil menundukkan kepalanya.
Kaila terdiam sebentar lalu berkata.
“Tenang saja Ruri, kau tidak perlu memikirkanku sejauh itu. Kau cukup fokus saja pada tujuanmu saat ini. Jika aku menjadi penghambat perjalananmu lagi, aku mohon, tinggalkan saja aku, aku tak mau menjadi penghambatmu,” ucap Kaila pelan sambil menundukkan kepalanya juga.
Ruri langsung bangkit lalu menatap Kaila.
“Tidak Kaila, aku akan membantumu jika hal seperti tadi terulang kembali. Lagi pula aku sudah berjanji pada Dhafin dan diriku sendiri, sesulit apapun yang akan terjadi kedepannya ... Aku akan tetap melindungimu!” kata Ruri sambil memeluk seseorang di hadapannya.
“Ru-Ruri ... “ ucap Kaila terkejut.
“Terima kasih ... “ sambung Kaila sambil menggenggam erat tubuh pria itu.
“Oleh karena itu ... “ ucap Ruri sambil melepaskan pelukannya.
“A-apa?”
“Aku akan merubah rencanaku, kita akan langsung pergi mencari iblis itu,” ucap Ruri yang membuat Kaila terkejut.
“A-apa maksudmu iblis itu?”
“Bagaimana menjelaskannya ke Kaila yaa ... “ gumam Ruri sambil berpikir sejenak.
“Begini ... apa kau masih ingat tentang cerita petapa kehidupan itu?” tanya Ruri.
“I-iya ... memangnya kenapa?”
“Petapa itu pernah berkata ‘Aku yakin, kau pasti bisa membawanya kembali, walaupun raja iblis sekalipun yang akan melawanmu.’ Apa kau masih ingat?” tanya Ruri lagi mengingatkan.
“Iya aku ingat, memangnya ada apa dengan hal itu?” tanya Kaila tak mengerti.
“Aku berpikir bahwa Clarissa berada di bawah naungan raja iblis,” jawab Ruri singkat yang membuat Kaila terkejut kembali.
“H-hah? Kenapa kau bisa berpikir sampai ke sana? Bukankah yang dikatakan petapa itu hanya perumpamaan saja?” ucap Kaila sambil tersenyum karena kebingungan dengan jalan pikir Ruri.
“Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi sekarang aku merasa itu bukanlah perumpamaan saja, akan tetapi mungkin saja itu petunjuk kedua yang diberikan petapa itu selain petunjuk ‘berada di arah Barat',” ucap Ruri sambil tersenyum.
Kaila terkejut lalu kembali tersenyum.
“Baiklah, kemana pun kau pergi, aku akan terus mengikutimu.”
“Terima kasih Kaila, itu sangat membantuku, baiklah ayo tidur ... “ ucap Ruri.
“I-iya ... “
“Apa kau mau melakukan itu sekarang?” ucap Ruri sambil tersenyum kearah Kaila saat sudah terduduk di ranjang.
“Me-melakukan i-itu ...?! Bukankah itu terlalu mendadak?” ucap Kaila sambil mengalihkan pandangannya.
“Heeh ... ? Setelah kau bersikeras menyuruhku tidur bersamamu, ternyata hanya sebatas itu saja ... “ goda Ruri sambil tersenyum.
Mendengar itu Kaila sedikit geram, lalu dengan mukanya yang sudah memerah itu langsung berkata.
“Ba-baiklah ... kau boleh melakukan sesukamu?!” ucap Kaila agak keras.
Ruri terkejut lalu berkata.
“Sssttt ... Bisakah kau mengatakan itu pelan-pelan, aku pun bakal malu kalau kau berkata sekeras itu,” Kata Ruri yang mukanya sedikit memerah.
“Habisnya ... “ gerutu Kaila sambil memalingkan pandangannya lalu berkata lagi.
“Tapi kalau kau mau melakukannya sekarang, a-aku tidak keberatan ... “ ucap Kaila pelan.
“H-heh?! Ternyata kau benar-benar menanggapi dengan serius atas candaanku tadi?!” ucap Ruri terkejut.
“Ber-bercanda ... ?!” ucap Kaila pelan lalu terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Tentu saja, kita bahkan belum menikah kau tahu,” jelas Ruri yang sudah bercucuran keringat dingin.
Ruri terdiam sebentar menatap seseorang yang berpaling darinya itu lalu berkata.
“A-anuu ... Kaila? Kau baik-baik saja?”
Kaila perlahan berbalik badan akan tetapi mulutnya tak bisa diam mengatakan sesuatu yang sama berulang kali, kata yang diucapkan adalah ...
“Setelah aku menjawabnya, kau bilang itu hanya bercanda ... “
Dengan mukanya yang masih memerah Kaila langsung menatap Ruri.
“DASAR BODOH?!” ucap Kaila sambil memukul Ruri sampai terhempas jauh ke ujung kamar.
Setelah berkata seperti itu, Kaila kembali ke ranjang lalu menarik selimut dan tidur dalam sekejap.
“Sepertinya aku mengatakan sesuatu yang tidak bagus ... Aduduh ... Sakit juga pukulannya, pantas saja Dhafin sampai pingsan“ ucap Ruri pelan sambil tersenyum.
05:41 AM.
*Aaaarrghhhh ...
Suara raungan beberapa monster.
*Ahhhh ...
*Cepat mengungsi bagi yang tidak bisa bertarung!
*Jangan sampai mereka semua memasuki kota!
“Ada apa sihh ... Pagi-pagi begini ramai sekali!” ucap Kaila yang terbangun dari tidurnya.
“Palingan di luar ada siluman atau semacamnya ... “ ucap Ruri kemudian kembali tidur.
“Meski begitu ... Suaranya tak habis-habis!” ucap Kaila kesal lalu berjalan menuju jendela dan melihat keluar.
“H-heh? Monster? Dan juga banyak sekali, hei Ruri lihatlah!” ucap Kaila sedikit terkejut.
“Hmm 5 menit lagi ... “ ucap Ruri sambil menarik selimut lalu kembali tidur.
Melihat Ruri yang tak mendengarkannya, Kaila langsung mendekati Ruri dan mendorongnya.
*Wooaahhh ... Brruuuuuk ...
“Aduduhhh ... Apa yang kau lakukan, Kaila?”
“Lihatlah kemari!” ucap Kaila sambil menarik lengan Ruri menuju jendela.
Sambil menggosokkan matanya, perlahan Ruri mulai melihat apa yang terjadi di luar sana.
“Monster? Ogre? Terus kenapa?” tanya Ruri yang matanya masih setengah terbuka.
“Lihat lagi dasar bodoh!” ucap Kaila kesal sambil membuka mata Ruri lebar lebar.
“Heh? Apa yang terjadi?!” ucap Ruri yang terbelalak melihat banyak monster mendekat menuju kota.