Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 32 - Naga Merah (bagian 2)



“I-itu, Naga Merah!” kata Anariel sambil menunjuk kearah seekor makhluk terbang tepat di balik gunung.


“Be-besar sekali ... “ kata Gary dengan mata terbelalak.


Hujan mulai menetes satu per satu seakan seperti mengiringi kebesaran dari makhluk terbang itu.


“Apa dia melihat ke arah kita?” tanya Ruri tanpa menoleh.


“Kurasa begitu,” ucap Gary.


“Apa lebih baik kita melarikan diri saja selagi sempat?” tanya Ruri.


“Sebaiknya jangan, dekat sini ada desa tadi, jika kita melarikan diri kemungkinan besar naga itu akan menyerang desa tadi,” ucap Anariel


“Lalu kita harus apa? Melawannya tidak akan ada gunanya, tapi ... “ ucap Gary kemudian terdiam sambil melirik ke arah Ruri.


Merasa dirinya diperhatikan, Ruri langsung berkata.


“Kaila, apa kita berdua cukup?” tanya Ruri kepada Kaila.


“Mungkin saja, tapi aku tidak yakin, karena aku sendiri belum pernah melawan naga,” jelas Kaila.


“Baiklah aku mengerti. Anariel dan Gary, kalian kembalilah ke kota,” ucap Ruri.


“Apa maksudmu, apa kau pikir bisa mengalahkan seekor naga dengan mudah?” ucap Gary kesal.


“Tidak, bukannya aku ingin menunjukkan sesuatu atau semacamnya, hanya saja aku tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian.”


“Jadi maksudmu kami hanya akan jadi hambatan?” tanya Anariel.


“Maaf bukan berarti aku menyinggung, tapi benar apa yang kau katakan, jadi tolong mengertilah,” ucap Ruri lagi yang membuat Ana menganggukkan kepalanya.


“Tapi aku tidak bisa saja diam melihat-“ ucap Gary yang terpotong.


“Tidak Gary, terima saja, ini diluar kemampuan kita,” ucap Ana.


“Ta-tapi ... “


“Gary, percayalah padanya!” ucap Anariel lagi.


Gary menghela nafas lalu berkata.


“Baiklah, aku percayakan pada kalian.”


"Ohh iya dan satu hal lagi, jika seandainya terjadi apa-apa sebaiknya kalian kesini lagi besok saat pagi hari, apa bisa?"


"Baiklah aku mengerti."


Beberapa saat kemudian Anariel dan Gary pun segera bergegas pergi dari tempat itu. Akan tetapi hal itu menarik perhatian naga dan membuat naga itu menyemburkan bola api besar tepat mengarah ke Anariel dan Gary.


“Tidak akan kubiarkan,” ucap Ruri pelan sambil menebas bola api itu menggunakan pedang es nya.


Karena terkejut akan ledakan dari bola api tadi, Ana dan Gary sempat berhenti dan menoleh, namun Ruri langsung berkata.


“Apapun yang terjadi jangan berhenti, tetaplah berlari dan jangan menoleh, selama kalian masih dalam jangkauan naga ini, aku akan melindungi kalian, jadi kumohon cepatlah!” ucap Ruri.


Setelah berkata itu, Ana dan Gary menganggukkan kepalanya lalu segera pergi.


“Awas Ruri!” ucap Kaila yang melihat naga itu menggerakkan ekor panjangnya untuk menghempaskan Ruri.


Karena ucapan Kaila, Ruri menyempatkan membuat protectornya untuk mencegah terkenanya luka fatal, walaupun begitu hal ini tidak dapat ditahan dan Ruri cukup jauh terhempas ke udara dan kembali terbang menggunakan sihirnya.


“Tenaganya besar sekali, protectorku sampai hancur dibuatnya,” kata Ruri sambil tersenyum.


Karena naga itu masih terfokus kepada Ruri, Kaila pun diam diam mencoba menyerang punggung naga itu dengan sihir anginnya dari belakang, harap harap bisa membuat luka, akan tetapi hal itu hanya membuat goresan saja.


“Apa kulit naga memang sekeras ini?” ucap Kaila tidak percaya.


Karena merasa ada yang menyerangnya, naga itu pun menoleh ke arah Kaila dan menyemburkan beberapa bola api, dengan cepat Kaila terbang kesana kemari untuk menghindarinya dan pergi mendekati Ruri.


“Ruri, apa kau ada rencana?”


“Entahlah ... pertama kita harus cari kelemahannya dulu, apa kau tahu sesuatu tentang naga?” kata Ruri.


“Kalau aku tahu, aku mungkin sudah membunuhnya sejak awal,” kata Kaila sambil menghindar bersama Ruri karena naga itu masih menyemburkan api ke arah mereka.


“Sepertinya naga ini tidak memberi waktu untuk berbicara sebentar,” kata Kaila lagi.


“Tentu saja, lebih baik kita serang secara acak, jika ada bagian yang mudah terluka mungkin saja itu kelemahannya,” kata Ruri sambil terbang tinggi jauh ke atas sambil membuat ratusan pedang es yang melayang di udara.


Dengan cepat Ruri mengarahkan semua pedang es itu ke seluruh tubuh bagian atas naga dari kepala sampai ekor. Namun, semua pedang itu hancur saat menyentuh kulit naga yang teramat keras.


“Kalau dari atas tidak bisa, akan kah kulit bagian bawahnya bisa terluka?” kata Kaila sambil kembali turun ke daratan untuk menyerang naga yang masih melayang di udara itu menggunakan sihir anginnya lagi.


“Wind Slash...!!!” kata Kaila sambil mengayunkan tangannya berkali-kali.


Saat tebasan angin itu mengenai kulit naga itu tiba-tiba saja Kaila terkejut lalu berkata.


“Ruri, bagian kulit bawahnya tidak terlalu keras, tepatnya di perut!” seru Kaila dengan suara keras karena ia melihat sihir anginnya dapat melukai hingga mengeluarkan darah.


Setelah berkata seperti itu Kaila bergegas pergi dari tempat ia berdiri karena naga itu kembali menyemburkan bola api ke arahnya dan naga itu pun turun dan menginjakkan kakinya di tanah.


“Kalau dia tidak terbang, bagaimana cara kita menyerang perutnya yang di bawah?” tanya Ruri.


“Entahlah ... Sebentar, apa yang ingin di lakukan naga itu?” ucap Kaila melihat naga itu menyemburkan api ke bagian bawah tubuhnya.


“Apa dia mengira kau masih ada di bawah sana?” tebak Ruri.


“Tidak, bukan itu, pendarahannya ... Terhenti!” kata Kaila yang melihat darah naga itu tidak menetes lagi.


“Apa itu berarti dia siluman?” ucap Ruri.


“Tidak, kalau siluman, saat aku melukainya mungkin akan segera sembuh, akan tetapi darahnya berhenti menetes sejak ia menyemburkan api ke bagian bawahnya, kenapa bisa begitu?” ucap Kaila tidak mengerti.


“Aku paham," ucap Ruri singkat.


“Apa yang kau tau?”


“Kita sekarang ini sedang berhadapan dengan naga yang memiliki kecerdasan dalam hal tertentu.”


“Kenapa kau bisa bilang begitu?” tanya Kaila lagi.


“Jelas sudah saat kau melihat darahnya berhenti menetes saat ia melakukan hal tadi. Jadi intinya dia bukan mengira kau ada di sana seperti yang aku bilang tadi, melainkan naga itu ingin menghentikan pendarahan di perutnya menggunakan api agar lukanya cepat mengering, alasan kenapa naga itu tidak takut kalau kulitnya akan terbakar saat menyemburkan api ke tubuhnya, karena dia tahu tubuhnya sudah tahan akan api,” jelas Ruri.


“Begitu rupanya, jadi bisa dibilang akan sia-sia jika kita menyerang bagian perutnya?”


“Tidak, bukannya sia sia, hanya saja itu akan membutuhkan banyak waktu dan kita tidak tahu antara naga itu yang tumbang atau kita yang akan kehabisan mana duluan,” jelas Ruri.


“Jadi mau bagaimana? Melarikan diri?” ucap Kaila.


“Kita sudah terlanjur melakukannya, lebih baik kita mencari kelemahan yang lain seperti ... “ kata Ruri tidak melanjutkan perkataannya.


“Ada apa?”


“Apa naga itu bisa menyemburkan api ke punggungnya?” ucap Ruri sambil menghindar bersama Kaila karena naga itu kembali menyerang.


“Kalau dilihat-lihat sepertinya sulit atau hampir bisa dibilang mustahil, tapi kenapa kau bertanya tentang itu?”


“Kaila, tarik perhatian naga itu sebisa mungkin, ada hal yang ingin kucoba!” seru Ruri sambil terbang jauh ke langit dan tidak menjawab pertanyaan Kaila.


“Baiklah,” kata Kaila sambil menyerang dan menghindari naga itu hanya untuk menarik perhatiannya seperti yang dikatakan Ruri.


“Kulit bagian punggungnya memang sangat keras, sampai-sampai pedang es ku tak dapat menembusnya, akan tetapi hasilnya tidak akan tahu jika aku memperkuatnya lagi dengan sihir penguat dan meningkatkan kecepatannya,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Apa yang kau lakukan Ruri?” ucap Kaila pelan yang melihat Ruri diatas sana membuat sebuah pedang es, akan tetapi sedikit lebih besar dari biasanya.


“Ini harus aku buat lebih padat lagi,” gumam Ruri lalu setelah sekiranya cukup, dengan sekuat tenaga Ruri melempar pedang itu mengarah ke punggung naga itu.


Sebilah pedang es menembus kulit keras naga itu dan tertancap.


“Berhasil!” seru Ruri.


“Hah? Ruri berhasil menembusnya?” ucap Kaila tak percaya.


Akan tetapi tiba-tiba saja ...


*Aarrrggghhh ...


Raungan naga itu sebentar, lalu menoleh ke arah Ruri dan membuka sayapnya besar besar.


“Apa naga itu akan menyerang Ruri? Tapi kalau terbang seperti biasa, kenapa dia masih menunggu dan tidak langsung bergerak?” pikir Kaila.


Saat Kaila memerhatikan naga itu, terlihat jelas olehnya, lingkaran sihir yang muncul dibawah kedua sayapnya.


“Ruri awas!” seru Kaila.


Seketika saja naga itu mengepakkan sayapnya dan terbang dengan sangat cepat ke arah Ruri.


Ruri terkejut setelah ia menyadari naga itu sudah berada di hadapannya. Belum sempat menjauh, naga itu mengayunkan ekornya tepat dari atas ke kepala Ruri.


Ruri menyempatkan diri membuat protector untuk melindungi dirinya seperti sebelumnya.


Melihat protector itu hancur dan tubuh Ruri yang terhempas ke tanah dengan sangat keras, Kaila hanya terdiam tak berdaya dengan mata terbuka lebar.


Tak berhenti di situ, naga itu menembakkan berkali-kali bola api besar tepat dimana Ruri terhempas.


“RURI!” Teriak Kaila dengan histeris sambil berlari mendekati Ruri yang berniat untuk menahan serangan naga itu.


Akan tetapi tak lama kemudian serangan naga itu berhenti, tapi Kaila tetap berlari mendekati Ruri yang terbaring tak berdaya.


“Kaila, ja-jangan mendekatiku! Larilah! Aku baik-baik saja!” ucap Ruri tiba-tiba dengan suara lirih karena ia menyadari suara langkah kaki Kaila.


“Aku tidak bisa diam saja,” kata Kaila yang masih berlari tanpa mendengarkan perkataan Ruri.


“Na-naga ituu ... “ kata Ruri terpotong karena ia mulai batuk batuk yang mengeluarkan darah, hal ini diakibatkan hempasan tadi.


“BELUM BERHENTI MENYERANG!” kata Ruri yang mulai terduduk lalu berteriak sebisa mungkin.


Mendengar itu, Kaila langsung menatap langit dimana tempat naga itu melayang. Alangkah terkejutnya Kaila setelah melihat naga itu sedang mengumpulkan api di ujung mulutnya seperti membentuk sebuah bola dengan ukuran kira kira berdiameter 5 meter.


Sontak Kaila langsung menyerang menggunakan sihir anginnya.


“Wind Slash...!!!” kata Kaila sambil mengayunkan tangannya ke arah api besar itu.


Angin yang samar samar terlihat bergerak cepat menuju naga itu, tidak lebih tepatnya ke arah bola api raksasa itu, dan hal mengejutkan pun kembali terjadi, naga itu mengepakkan sayapnya kemudian angin kencang yang dihasilkan dari sayap itu membuat sihir angin milik Kaila lenyap.


“Aku lupa, kalau naga itu bisa menggunakan sihir angin juga,” ucap Kaila pelan sambil menatap naga itu dengan tubuh yang mulai gemetar.


“Maafkan aku Ruri, karena sampai akhir aku belum memberi tahu apa-apa tentang siapa diriku ini,” gumam Kaila yang mulai jatuh terduduk pasrah dan memejamkan mata karena melihat naga itu sudah melontarkan bola api raksasa itu.


Seketika saja ...


“Dasar bodoh, sudah kubilang jangan mendekat, untung saja aku masih sempat,” ucap Ruri.


Mendengar suara Ruri, Kaila dengan cepat membuka matanya dan terlihat Ruri sibuk membuatkan protector untuk dirinya.


“RURI?!” LINDUNGI SAJA DIRIMU SENDIRI?! JANGAN PIKIRKAN AKU!" Teriak Kaila.


Ruri hanya menggelengkan kepalanya.


"Maaf aku tidak bisa melakukan itu, aku juga memiliki kewajiban untuk melindungimu," ucap Ruri sambil tersenyum.


"H-hah?" ucap Kaila terkejut.


Ruri berbalik badan lalu mengarahkan tangannya ke bola api raksasa itu.


"RURI...!!!" Teriak Kaila histeris melihat bola api itu sudah berada di depan mata.


*Duuuumm ... Duuuaaarrr ...!!!


Ledakan besar pun terjadi, hal ini membuat Kaila dan tubuh Ruri terhempas jauh ke belakang.


Walaupun hujan rintik rintik akan tetapi debu yang dihasilkan dari ledakan itu banyak bertebaran di udara, akan tetapi karena hujan, tak lama kemudian debu itu menghilang dan naga itupun turun kembali turun ke daratan.


Kaila yang beberapa saat sempat tak sadarkan diri, akhirnya bangun kembali dan langsung menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu.


Setelah menemukan apa yang di carinya, Kaila langsung merangkak perlahan mendekatinya.


Naga itu hanya diam tidak menyerang karena melihat lawannya sudah tidak berdaya.


“Ruri ... Ruri ... “ ucapnya setelah sampai di depan orang yang tergeletak dan tak sadarkan diri.


“Ruri ... Hei ... “ ucap Kaila dengan nada lirih yang semakin lama semakin mengecil dan tak terasa air mata sudah membasahi pipinya.


“Ruri ... Jika kau dengar aku tolong jawablah ... ” kata Kaila sambil menggoyang goyangkan sedikit tubuh Ruri dengan perlahan.


“Dasar bodoh ... Kau selalu saja seperti itu, sekali-kali pikirkanlah dirimu sendiri!” ucap Kaila dengan keras yang tangisannya mulai terisak.


“Maafkan aku. Ini semua salahku, kalau saja sejak awal aku memberitahukan wujudku yang sebenarnya mungkin hal ini tidak akan terjadi," ucap Kaila lagi dengan suara lirih.


“Alasan aku tidak memberitahumu, aku hanya takut ... Aku takut kalau kau akan membenciku karena ... “ ucap Kaila yang tak melanjutkan perkataannya dan mulai larut dalam tangisannya sambil menggenggam erat tangan kanan Ruri.


Setelah beberapa saat menangis, Kaila menyerka air matanya dan bangkit.


“Aku tidak akan menyianyiakan nyawa yang telah kau lindungi ini, Ruri,” ucap Kaila sambil mengepalkan tangannya dan menatap tajam naga itu dengan matanya yang berubah menjadi merah.


Tiba-tiba saja sepasang sayap hitam muncul dari balik punggungnya dan melesat cepat menuju naga itu dan memukulnya kuat kuat sampai terhempas sedikit kebelakang.


Baru sempat berhenti dari hempasan pukulan tadi, Kaila dengan cepat menggunakan sayapnya untuk bergerak cepat menuju naga itu dan kembali memukulnya seperti tadi, begitu terus menerus tak berhenti sedikitpun.


“Aku tidak akan mengampunimu! Wind Slash, mode Fiery Wind demon sword,” ucap Kaila sambil membuat pedang yang terbuat dari sihir angin wind slash dan melapisinya dengan api merah darah.


Naga itu menembakkan berkali-kali bola api ke Kaila akan tetapi hal itu dengan mudah di tebas oleh Kaila.


Kaila terbang dengan cepat menuju bagian perut naga itu dan menebas beberapa bagian dari naga itu, dan menjauh sedikit.


Terlihat bekas goresan berupa api merah darah melekat pada tubuh naga itu, meski kulitnya tahan akan api, akan tetapi naga itu mencoba memadamkan api di tubuhnya karena panas api itu yang sangat menusuk, berkali-kali naga itu memberontak namun tetap api itu tak kunjung padam.


“Percuma kau menggunakan sihir angin sekalipun, api itu tidak akan padam,” ucap Kaila.


Karena tidak bisa padam, naga itupun mencoba menahan dari panasnya api itu dan mengumpulkan bola api di ujung mulutnya seperti yang dilakukan sebelumnya.


“Saatnya untuk mengakhirinya,” ucap Kaila pelan sambil memegang erat pedangnya dan terbang dengan cepat menuju bola api yang belum sempat dilontarkan oleh naga itu.


Kaila menembus bola api itu, kemudian melesat masuk kedalam mulut naga dan menembus leher bagian belakang.


Darah segar dari leher naga itu mulai berkeluaran dari tempat keluarnya Kaila.


“Dengan begini tamatlah sudah,” ucap Kaila sambil mengarahkan tangannya ke naga itu.


Seketika saja ...


*Duuuumm ... Duuuumm ... Duuuaaarrr ...


Setiap bekas goresan dari pedang itu menghasilkan ledakan yang sangat besar.


Kaila pun turun kembali ke tanah dan menyempatkan untuk melihat tubuh naga itu yang sudah tidak bergerak lagi. Setelah puas melihat naga itu, Kaila berjalan gontai ke tempat terbaringnya laki-laki berambut putih keperak perakan.


“Apa dia menahan ledakan itu dengan tangan kirinya?” ucap Kaila yang baru menyadari luka bakarnya hanya berada di tangan kirinya.


“Ternyata aku memang tidak berubah, selalu saja dilindungi seperti ini,” setelah berkata-kata begitu, tiba-tiba saja tubuhnya merasakan sakit yang teramat sangat, lalu karena ia tak sanggup menahannya, Kaila pun jatuh dan tak sadarkan diri.