Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 53 - Sejarah & Rencana Menemui Keempat Raja Iblis



“Ruri kau hebat sekali tadi, bagaimana cara kau melakukannya?” ucap Clarissa sambil membawa minuman.


“Terima kasih, itu bukan apa-apa, kalau soal permainan itu, dari dulu aku sudah terbiasa memainkannya.”


“Tapi aku tak pernah melihatmu bermain.”


“Tentu saja, karena aku tak pernah bermain disini.”


“Disini lagi?” pikir Clarissa.


“Ruri, entah ini akan mengganggumu atau tidak, tapi aku ingin bertanya satu hal padamu.”


“Tanyakan saja.”


“Dari mana kamu berasal?”


" .... "


Ruri terdiam saat Clarissa melontarkan pertanyaan itu, karena ia tidak tau bagaimana cara menjelaskannya kepada wanita itu.


“Kalau kau tidak bisa menjawabnya tidak apa, aku tak memaksamu bicara, hanya saja ... Aku merasa, seperti harus segera mengetahuinya, agar tidak terjadi sesuatu yang akan kusesali nantinya. Maksudku ini tidak ada kaitannya dengan dirimu ... “


Ruri tersenyum kemudian menggenggam tangan Clarissa.


“Aku akan menceritakannya nanti malam, tak apa kan?”


“Baiklah.”


“Hei ayolah! Kita disini berlibur bukan untuk bermesra-mesraan,” ucap Naila yang membuat kedua orang itu terkejut.


“Naila! Bikin kaget saja ... “


“Ayo Clarissa kita berenang!” ajaknya.


“Iya.”


“Jadi bagaimana cara kau menjelaskannya?” tanya Pak Nathan dari belakang


“Entahlah ... Dan berhentilah menguping pembicaraan kami!” ucap Ruri sambil tersenyum kecut.


“Hehe, ayo bagaimana kita memainkan permainan selanjutnya?”


“Kau bukannya ingin menghancurkan kami ya?”


“Kalau itu, aku akan melakukannya nanti, setelah mengetahui semua bakatmu selain voli.”


“Dasar iblis aneh.”


Setelah itu mereka pun menghabiskan waktu itu untuk bersenang-senang, hingga tak terasa matahari sudah berada di ujung cakrawala. Mereka langsung kembali ke penginapan dan berniat pulang esok hari.


21:52 PM.


“Heh? Clarissa kau mau kemana?” tanya Vina saat melihat Clarissa hendak keluar kamar.


“Aku ingin ke kamar mandi sebentar.”


Wanita itu langsung meninggalkan penginapan itu dan pergi ke pantai. Ia terus berjalan menyusuri pantai mencari seseorang. Setelah melihat seseorang yang dicarinya tengah berbaring menatap langit malam, Clarissa pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


“Sudah lama?”


“Lama banget sampai aku hampir tertidur disini,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Ihh Ruri! Setidaknya jawab ‘baru sampai' gitu.”


“Aku kan hanya mencoba jujur.”


“Dasar ... Jadi, tentang pertanyaan tadi siang ... “ kata Clarissa terpotong.


“Sebelum itu, Clarissa pernahkah kamu melihat ini ... “ ucap Ruri kemudian berdiri dan mengacungkan jarinya ke atas.


Terlihat sesuatu menyala dari ujung jari Ruri dan langsung melesat cepat ke atas.


*Cwiiiit ...


*Duaaaarrr ...


Cahaya itu bergerak ke atas dan meledak dengan menghasilkan campuran warna kuning dan hijau.


“Indah sekali ... “ Clarissa terpukau melihatnya.


Ruri pun kembali duduk dan berkata.


“Dari tempatku, itu disebut kembang api.”


“Kembang api? Aku baru pertama kali melihatnya.“


“Tentu saja, karena disini memang belum ada.”


“Disini?”


“Iya, jika kau bertanya aku berasal dari mana. Aku hanya bisa menjawab bahwa aku berasal dari negri yang jauh, dimana kembang api seperti tadi selalu menerangi langit malam setiap tahunnya.”


“Benarkah? Dimana itu? Aku ingin pergi kesana!”


“Itu mustahil,” jawab Ruri cepat.


“Kenapa?”


“Clarissa, aku bukanlah dari dunia ini.”


“A-apa maksudmu?”


“Seperti yang kubilang, aku bukanlah dari dunia ini, alasan kenapa aku bisa ada disini karena di duniaku aku telah mati dan tiba-tiba saja aku sudah berada di hutan itu.”


Mendengar itu Clarissa terkejut sambil berdiri.


“Jadi, saat aku menemukanmu di hutan waktu itu ... “


“Benar, aku baru saja tiba di dunia ini," ucap Ruri yang ikut berdiri.


Clarissa terdiam sejenak kemudian kembali berkata.


“Jika kau dari dunia lain, apakah kau akan kembali kesana? Mungkin pertanyaanku ini aneh, tentu saja semua orang ingin kembali ke dunia indah bagaikan mimpi yang ada banyak kembang api seperti itu,” ucap Clarissa pelan.


“Kalau kau memang ingin kembali, aku akan membantu sebisaku, agar bisa membuatmu kembali ke dunia mimpi itu.”


Mendengar semua itu Ruri terkejut dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ... "


“Aku hanya tak ingin kebahagiaanmu terhenti hanya karena tinggal di dunia ini bersamaku. Jadi jangan ... "


“Cukup Clarissa!” ucap Ruri agak keras yang membuat wanita itu berhenti bicara.


“Dengar, aku hanya ingin kau tahu. Disana itu tak seindah seperti yang kau bayangkan. Jangankan seperti mimpi indah, itu lebih tepatnya seperti mimpi buruk bagiku.”


“Tapi bukankah disana itu ... “


“Clarissa dengar, justru hidup disini bersamamu lah yang indah bagaikan mimpi, aku sangat bersyukur bisa hidup di dunia yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan aku juga bersyukur karena bisa dipertemukan dengan wanita baik sepertimu.”


Mendengar perkataan Ruri itu, tak terasa cairan bening mulai turun dari mata lentik Clarissa.


“Jika aku diberi permintaan, aku hanya akan meminta satu, hidup disini bersamamu, tidak lebih,” ucap Ruri sambil menempelkan kepalanya ke dahi wanita itu


Clarissa tersenyum dan air mata keluar lebih banyak dari sebelumnya, dengan suara sedikit tertahan ia pun berkata.


“Ruri, terima kasih ... Aku sangat bahagia,” ucap Clarissa pelan hampir tak terdengar.


Dan tak terasa pula kedua bibir menyatu menghangatkan suasana dinginnya malam yang mencengkam itu.


Angin laut terus menerus menghembus daratan berpasir itu yang membuat malam semakin dingin, sesekali ombak besar datang menerpa pepasiran mengenai kaki kedua orang itu akan tetapi hal itu tak dapat menghentikan mereka.


Hingga setelah beberapa saat kemudian mereka berdua pun kembali duduk.


“Ruri, tentang tujuanmu itu, kenapa kita harus kembali? Bukankah kamu mau ingin mencari 5 raja iblis yang tersisa?”


“Ahh iya, aku belum cerita ya?”


“Hmm.”


“Ingat jangan bilang hal ini pada siapapun!”


“I-iya, tapi memangnya ada apa?”


“Ini tentang Pak Nathan ... Dia juga raja iblis, bahkan yang terkuat.”


“Hah? Pak Nathan ... Tapi kenapa dia ... “


“Dia punya berbagai alasan untuk itu.”


“Begitu rupanya, jadi bagaimana rencanamu kedepannya?”


“Untuk sementara kita bersikap seperti biasa dulu, karena saat ini Pak Nathan bukanlah teman ataupun musuh kita.”


“Ternyata rumit juga ya ... Baiklah aku mengerti.”


“Huuhh ... Aku kira akan sulit menjelaskannya padamu.”


“Memangnya kenapa?”


“Karena aku mengira kau akan sulit mempercayainya.”


“Padahal aku percaya padamu, kenapa kau begitu ragu padaku?”


“Sudah ayo kembali!”


“Iya.”


Setelah itu mereka pun kembali, Clarissa pun bertingkah biasa saat di hadapan Pak Nathan sama seperti yang dibilang Ruri. Dan keesokan harinya merekan pun kembali ke penginapan Vina.


“Akhirnya bisa kembali ... Baiklah, aku pulang duluan ya,” ucap Pak Nathan yang hendak pergi namun langkahnya terhenti.


“Pak Nathan, aku ingin berbicara sebentar denganmu, bolehkan?”


“Baiklah.”


“Ruri ... ” ucap Clarissa khawatir.


“Tenang saja, aku hanya akan berbicara dengannya sebentar, nanti akan kujelaskan.”


“Baiklah, cepat kembali ya.”


“Iya.”


“Jadi, apa yang kali ini ingin kau bicarakan?” tanya Pak Nathan saat yang lain sudah pergi.


“aku ingin tahu tentang sejarah dunia ini, apa kau tahu sesuatu?”


“Pertanyaanmu menarik sekali, sejarah kah? Baiklah, dari mana aku mulai ya ... Ahh iya, apa kau tahu seberapa besar ‘bumi' yang kita injak ini?”


“Sama seperti bumi kita?”


“Aku dulu juga berpikir begitu, tapi kenyataan bukan ... Besar ‘bumi' ini 31.800 kali lebih besar dari bumi kita.”


Ruri terkejut lalu berkata.


“Bu-bukan kah itu sebesar ... “


“Benar, besarnya setara dengan seratus kali lipatnya planet jupiter. Lalu bumi ini 70% manusia yang menguasainya dari seluruh planet ini, sedangkan sisanya dikuasai oleh iblis.”


"Lalu bagaimana dengan elf, dwarf dan lainnya?"


"Tentu saja, mereka masuk di 70% itu."


“Karena para iblis populasinya semakin lama kian membesar, iblis pun berdiskusi dengan manusia dan hasilnya tolakan keras dari umat manusia. Jadi iblis pun mengambil tindakan dengan langsung menyerang manusia.”


“Tunggu, bukankah iblis menyerang manusia karena mereka ingin memakan manusia?” potong Ruri dengan pertanyaan.


“Tidak, itu tidak benar, kami para iblis juga memakan makanan seperti manusia, memangnya kau tidak ingat aku memakan apa ... Jika kau masih tidak percaya contohnya Clarissa, jika memang benar iblis memakan manusia, mungkin saja sekarang ini Clarissa sudah mati oleh Five ... “


“Iya juga yaa ... Five tidak memakannya, bahkan menjadikannya sebagai manusia setengah iblis. Jadi alasan kenapa iblis menyerang karena ... “


“Iya, iblis menegakkan keadilan dengan cara begitu, walaupun memang caranya salah karena dahulu para iblis sudah meminta baik-baik pada manusia akan tetapi manusia tak terima dengan hal itu. Jadinya yaa seperti sekarang ... “


“Kenapa dewa tak melakukan apapun?”


Nathan tersenyum lebar mendengar itu.


“Justru dewa lah yang melakukan ini semua.”


“Apa maksudmu?”


“Kau akan segera mengetahuinya.”


“Lalu kau bilang, kau tidak berpihak pada siapapun, apa maksudnya?”


“Iya untuk saat ini ... Tapi jika aku terlalu lama tak menjalankan tugasku sebagai iblis dalam kurun waktu tertentu, aku akan mati tanpa reinkarnasi kembali ... Jadi, sampai saat itu tiba, hentikan aku Ruri Narendra."


“Tapi ... Bisakah aku melakukannya.”


“Tentu saja, karena kau adalah muridku ... “ kata Pak Nathan sambil tersenyum.


Ruri pun ikut tersenyum.


"Sok banget, bisa-bisanya masih berkata seperti layaknya seorang guru."


"Hehe."


“Ohh iya aku ingin memberitahumu satu hal, kau sudah menguasai sihir dimensi milik Five?”


“Iya.”


“Jadi kau tahu apa artinya?”


“Tidak.”


“Kau ini terlalu bodoh atau bagaimana?!” ucap Pak Nathan sambil tersenyum kecut.


“Bapak sendiri bicara tak jelas begitu, mana bisa aku memahaminya?!”


“Iblis yang kau kalahkan, kekuatannya akan terdaftar jelas di benakmu, jadi kau bisa melakukannya dengan bebas.”


“Aku tak paham.”


“Hadehh ... Kalau sudah begini ... Ruri, coba kau lakukan sihir memanipulasi waktu yang dimiliki oleh two. Terserah kau ingin memperlambat atau mempercepat waktu disekitar.


“Memanipulasi waktu kah? Aku baru terpikirkan akan itu! Baiklah akan coba kulakukan! Ehh tunggu, bukankah itu sama saja dengan sihir percepatan? Kalau itu aku sudah bisa.”


“Beda, sihir percepatan hanya menambah kecepatan gerak tubuhmu, sedangkan mempercepat waktu yaa seperti namanya ... “


“Baiklah akan kucoba ... “ ucap Ruri kemudian membayangkannya.


Beberapa saat kemudian tiba-tiba mata Ruri terbelalak dan tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa.


“A-apa yang terjadi? Ma-mana ku terkuras habis ... “


“Begitulah sistem dunia ini, apa kau sudah mengerti?”


“Iya ... Kenapa kau membantuku?”


“Entahlahh ... Sudah ya aku kembali duluan.”


Ruri hanya diam mematung di tempat ia berdiri, memikirkan tentang semua yang dibilang Pak Nathan.


“Ternyata aku memang belum tau apa-apa.”


...****************...


Sesampainya Ruri di penginapan, terlihat Clarissa, Naila dan Dhafin tengah berbincang-bincang yang kemudian mereka terdiam sebentar saat melihat Ruri datang.


“Ruri ada apa? Mukamu pucat begitu ... Apa yang orang itu lakukan?!”


“Tenanglah Clarissa, aku hanya kehabisan mana karena kesalahanku sendiri.”


“Kau melakukan kesalahan? Nggak biasanya kau begitu, ya sudah, ayo langsung istirahat saja!” kata Clarissa sambil mendorong tubuh laki-laki itu.


“I-iya ... “


“Sudah seperti suami istri saja ... “ kata Naila sambil tersenyum.


“Kau benar, lalu kita kapan?”


“Di-diam ahh ... “


Saat Ruri merebahkan diri di ranjangnya, Clarissa pun kembali mengingatkan.


“Ingat! Jangan bangun sebelum kau pulih sepenuhnya ... “


“Iya iya ... “


Clarissa yang hendak beranjak dari sana untuk kembali ke teman-temannya pun langsung menghentikan langkahnya karena mendengar permintaan dari laki-laki berambut putih keperak-perakan itu.


“Clarissa, bisakah kau menunggu sebentar, aku ingin membahas sesuatu.”


“Jadi, ada apa?” ucap Clarissa sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Ruri.


“Aku ingin menemui keempat iblis lainnya.”


“Aku tahu itu.”


“Tapi bukan untuk membunuh mereka, melainkan berdiskusi dengan mereka.”


“H-hah apa yang kau pikirkan Ruri? Tunggu ... Kau berkata begini pasti karena ada alasannya bukan?”


“Iya, aku mendengar sejarah dunia ini dari Pak Nathan entah benar atau tidak, makanya aku ingin bertemu dengan mereka dan menanyakannya langsung.”


“Bisa kau ceritakan hal itu?”


Ruri mengangguk pelan kemudian mulai menceritakannya.


“Tapi mereka telah membunuh kedua orang tuaku ... “ kata Clarissa mereka pelan.


“Aku tahu itu, tapi ini demi kehidupan yang damai untuk kedepannya, aku tak mau ada korban lagi,” ucap Ruri yang juga memelankan suaranya.


“Kalau kau berkata begitu. Baiklah, aku akan mendukungmu,” ucap Clarissa sambil tersenyum.


“Maaf kalau permintaanku ini mencagah untuk membalaskan dendamu.”


“Tak apa, aku yakin orang tuaku akan senang jika mendengar calon suamiku berkata seperti itu.”


Ruri hanya bisa tersenyum.


“Kau berlebihan ... Terima kasih ya ... “


“Iya, apapun untukmu.”