Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 48 - Awal dari sebuah Akhir?



Ruri menatap tajam lubang putih itu yang semakin lama kian membesar.


Setelah berhenti membesar, kemudian munculah sesosok pria bersayap hitam.


“Tak kusangka. Kau bisa mengalahkannya sendirian, bahkan melepas segel iblis juga, siapa kau sebenarnya?” ucap pria itu sambil mendarat di sebuah tanah yang menjulang.


“Aku cuman manusia biasa, hanya saja aku memiliki keistimewaan sedikit,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Apa itu?”


“Rahasia.“


“Cihh ... “


“Tapi akan kuberi tahu satu hal.”


“Apa?”


“Kau belum cukup kuat untuk mengalahkanku, apa kau benar-benar raja iblis?” tanya Ruri serius.


“Hah? Apa kau sadar mengatakan itu?” kata Hoursy yang hampir tertawa.


Ruri tersenyum dan bergerak sangat cepat langsung berdiri ke belakang pria itu.


“Sudah jawab saja pertanyaanku,” bisik Ruri dari belakang.


Hoursy yang baru saja menyadari keberadaan Ruri setelah pria itu berbisik kepadanya langsung diam terpaku ditempat. Keringat dingin pun mulai menyelimuti tubuhnya dan mulai menjawab pertanyaan pria itu.


“Benar, aku salah satu raja iblis, memangnya kenapa?!” kata Hoursy langsung berbalik dan mengayunkan tinjunya.


Ruri menundukkan kepalanya untuk menghindar.


“Aku hanya menyuruhmu menjawab pertanyaanku!” ucap Ruri pelan sambil menendang tubuh iblis itu sampai terhempas sangat jauh, berkali-kali tubuh pria itu menembus tanah yang menjulang keatas di dimensi itu. Andai tidak ada tanah tanah itu, mungkin Hoursy membutuhkan waktu lama untuk berhenti dari hempasan tersebut.


Ruri dengan cepat langsung berada di hadapan pria itu kembali.


“Siapa kau sebenarnya?” kata Hoursy sambil membersihkan darah yang keluar dari mulutnya karena tendangan tadi.


“Sudah kubilang aku hanya manusia biasa, apa kau masih belum puas dengan jawabanku? Sudahlah jawab saja pertanyaanku selanjutnya. Tadi kau bilang kalau ‘kau salah satu raja iblis', pertanyaanku adalah ... Sebenarnya ada berapa jumlah raja iblis itu?” ucap Ruri.


“Jadi ini yang kau maksudkan manusia tak normal. Dasar, kau telah mendidik manusia dewa, one!” gumam Hoursy kesal.


“Kau mendengarkanku tidak?” ucap Ruri kesal.


“Raja iblis itu berjumlah 6, masing-masing memiliki tingkatan tertentu sesuai kekuatan yang dimilikinya,” jelasnya pelan.


“Aku raja iblis tingkat Five, anggap saja aku yang terlemah dari semua raja iblis lainnya, walaupun aku lebih kuat dari six tapi itu tak berarti apa-apa bagiku.”


“Siapa yang nomer 1 itu?” tanya Ruri lagi.


“Aku tak bisa memberitahumu tentang itu.”


“Begitu rupanya, baiklah terima kasih atas informasinya. Tapi kau tetap akan mati juga, karena kau telah bermain-main denganku dan orang disekitarku,” kata Ruri sambil mencekik pria itu dengan tangan kirinya dan kemudian mengangkatnya keatas.


“Apa ada kata-kata terakhir? Ahh iya aku lupa, kau itu iblis, mungkin aku tak perlu menanyakan itu,” kata Ruri sambil menusuk dada bagian kiri pria itu dengan tangannya sampai menembus ke punggung.


“K-kau ... “ ucap Hoursy yang menahan rasa sakitnya. Ia sadar bahwa jantung miliknya sudah berada di genggaman Ruri.


“Selamat tinggal,” kata Ruri sambil tersenyum dan langsung menggenggam sampai hancur jantung pria itu.


Ruri pun melepaskan cekikkannya dan membiarkan pria itu terbaring.


“ ... Bu-bukanlah ... Ma ... nusia ... ” ucap Hoursy hampir tak terdengar kemudian mulai tak sadarkan diri.


“Ohh iya, Clarissa dimana?” kata Ruri sambil menoleh dan mencari-cari dimana wanita itu.


“Ternyata aku pergi terlalu jauh hahah,” ucap Ruri sambil tertawa sedikit.


Saat sudah menemukan Clarissa, Ruri pun menggendong wanita itu kemudian berkata.


“Bagaimana caranya keluar dari sini? Sepertinya aku harus mempelajarinya sekarang juga,” kata Ruri kemudian mulai memejamkan mata dan membayangkan sebuah tempat di pulau gunung api itu dan membuat lubang yang berfungsi sebagai gerbang pembatas antara 2 tempat yang berlainan itu.


“Berhasil!” kata Ruri saat membuka matanya dan langsung berjalan masuk melalui lubang itu.


“Yahh dengan ini aku sudah bisa menggunakan teleport,” kata Ruri sambil menutup kembali lubang itu.


Namun tiba-tiba saja tubuh Ruri menjadi panas, dadanya terasa sesak, berkali-kali Ruri menahannya dengan nafas yang naik turun. Namun, karena merasa dirinya tak kuat lagi, ia langsung menurunkan wanita yang di gendongnya itu, kemudian mulai jatuh tersungkur.


“A-apa yang terjadi? Pa-padahal mana ku masih banyak, tapi kenapa ... “ ucap Ruri terhenti.


“Ahh iya. Aku lupa ... Black Curse. Karma apa yang akan kudapat kira-kira ya ... “ kata Ruri yang sesaat kemudian langsung tak sadarkan diri.


Sementara itu di dimensi sebelumnya, jasad Hoursy Loungjer dihampiri oleh seorang pria.


“Memalukan sekali, setelah kau berkata padaku ‘jangan mengganggu pertarunganku' kau pikir bisa menang melawannya? Padahal aku sudah berbaik hati untuk menawarkan bantuan,” kata pria itu sambil tersenyum.


“Keras kepala membuatmu mati konyol, Hoursy. Andai saja kau mau mendengarkanku, mungkin Ruri sudah mati sekarang. Tapi aku sudah menduga hal ini akan terjadi sihh ... Kekeras kepalaanmu, dan Ruri yang mengalahkanmu, itu semua sudah dalam perhitunganku,” kata pria itu yang kemudian membakar jasad iblis itu.


“Sampai jumpa lagi, Hoursy,” ucap Nathan sambil pergi menggunakan lubang dimensi.


1 jam kemudian ...


“Ruri ... “ ucap Clarissa yang mulai membuka matanya.


Ia terdiam sejenak dan mengingat kejadian tadi. Setelah ingat ia pun panik dan langsung beranjak bangun untuk mencari seseorang.


Namun, ia pun mengurungkan niatnya setelah melihat sesosok pria di sampingnya yang terbaring tak sadarkan diri.


“Ruri, hey ... bangunlah ... “ kata Clarissa yang mencoba menyadarkan pria itu, namun tak kunjung bangun.


“Sebentar, apa yang sudah terjadi?” Seingatku Ruri meminta bantuanku untuk melawan ... Tapi dimana iblis itu? Dan juga kenapa kita sudah ada di luar? Apa Ruri berhasil mengalahkan iblis itu sendiri?” pikir Clarissa yang kebingungan.


“Jika Ruri berhasil mengalahkan iblis itu ... A-apa sekarang ini dia dalam masa Black Curse?!” ucap Clarissa yang mulai panik.


“Heh? Lukanya terbuka lagi?” ucap Clarissa terkejut melihat es di tubuh pria itu sudah mencair.


Dengan cepat Clarissa merobek pakaiannya dan melilitkannya di tubuh pria itu.


“Dengan begini seharusnya bisa menahannya untuk sementara.”


“Selanjutnya aku harus apa? Aku tidak bisa sihir penyembuhan, dan tidak mungkin ada seseorang di pulau ini,” kata Clarissa yang menoleh kesana kemari.


“Ruri ... Bangunlah! Kumohon ... “ kata Clarissa kemudian mengecek detak jantung pria itu yang semakin lama kian melemah.


Karena panik Clarissa pun berteriak.


“Siapapun ... Tolonglah ... !!!”


“Siapapun ... !!! Adakah seseorang?”


“Siapapun ... aku mohon ... selamatkanlah Ruri ... “ ucap Clarissa yang lelah berteriak kemudian mulai menitikkan air mata.


Tak lama kemudian, tiba-tiba saja harapan Clarissa yang mustahil itu terwujud.


*Sepertinya aku mendengar suara seseorang dari sekitar sini ...


Clarissa pun menyerka air matanya dan melirik ke arah sumber suara itu.


Terlihat olehnya, dua orang pria dan seorang wanita.


Tanpa berpikir panjang, Clarissa langsung berlari ke arah ketiga orang itu sambil berkata.


“Mary ... “


Saat ketiga orang itu menyadari bahwa ada seorang wanita yang menghampiri mereka, dengan sigap ketiga orang itu langsung mengeluarkan senjata mereka dan bersiap untuk menyerang.


“Berhenti disitu kau iblis!” kata Roy yang mengacungkan pedangnya.


"Heh?" Clarissa terdiam dan berhenti melangkahkan kakinya.


“Apa aku masih menjadi setengah iblis?” gumam Clarissa sambil melihat kebelakang, dan tampak olehnya sayap hitam masih melekat di tubuhnya.


“Apa yang iblis lakukan di tempat ini?” tanya Freed.


“Tu-tunggu ... aku tidak berniat menyakiti kalian,” kata Clarissa sambil maju sedikit.


“Berhenti! Aku memperingatkanmu! Maju sedikit lagi aku akan langsung memenggal kepalamu,” kata Roy yang sudah bersiap kapan saja untuk mengayunkan pedangnya.


Clarissa pun terdiam, ia bingung apa yang harus dikatakannya agar mereka mau mendengarkannya.


“Hei iblis apa yang kau lakukan ditempat ini?!” kata Freed mengulangi pertanyaannya.


“Freed, mungkin Ruri datang kesini untuk melawannya. Karena aku tak melihat Ruri dimana pun, apa mungkin iblis ini sudah mengalahkannya?” ucap Roy kepada Freed.


“Mungkin saja, tapi aku tidak terlalu yakin kalau Ruri yang berhasil mengalahkan siluman itu bisa dikalahkan iblis secepat ini.”


“Hei iblis, dimana pria berambut perak itu? Kau melihatnya bukan?”


“Apa yang kau lakukan padanya?”


“Dimana Ruri?”


“Hei apa kau dengar?!”


“Dimana Ruri?”


“Kalau kau tak memberitahu juga aku akan langsung membunuhmu!”


“Cepat beritahu kami!”


“TOLONG DENGARKAN AKU DULU?!” teriak Clarissa yang air matanya kembali meleleh.


Seketika kedua laki-laki itu terdiam.


“Kalian boleh membunuhku, menyiksaku, tapi tolong ... selamatkanlah Ruri. Nyawanya dalam bahaya,“ kata Clarissa yang mulai terduduk di tanah dan menangis tersedu-sedu.


Mary yang melihat itu seperti menduga sesuatu dan bertanya.


“Hei ... Apa kau Kaila?”


Clarissa menganggukkan kepalanya.


Semuanya pun terkejut.


“Mary tolong. Selamatkan Ruri ... “ kata Clarissa lirih.


“A-apa yang terjadi? Dimana Ruri? Dan juga perutmu terluka!”


“Jangan pedulikan aku, ini tidak ada apa-apanya, Ruri lah yang harus kita khawatirkan,” kata Clarissa sambil menyerka air matanya dan mulai berlari mengantarkan ketiga orang itu ke tempat Ruri.


“Ini ... “


“Kaila, apa Ruri pingsan karena membiarkan darahnya terus keluar dari tubuhnya?” tanya Mary.


“Sepertinya tidak, sebelumnya Ruri menahan lukanya dengan es, namun saat aku terbangun, es nya mulai mencair. Kemungkinan besar Ruri pingsan karena Black Curse,” kata Clarissa yang dilanjutkan terkejutnya ketiga orang itu.


“Black Curse?!”


“Apa kalian tahu sesuatu tentang itu? Aku hanya tahu kalau seseorang akan terkena kutukan setelah membunuh seorang iblis yang biasa disebut sebagai Black Curse.”


“Seperti namanya, kutukan itu bukan kutukan biasa. Hampir tidak ada yang berhasil selamat setelah terkena kutukan itu,” kata Mary.


“Be-berarti Ruri ... “ ucap Clarissa yang pikirannya mulai kacau.


“Tenanglah Kaila, bukan berarti Ruri akan mati karena itu.”


“Ta-tapi ... “


“Kalau begitu apa kau bisa lakukan sesuatu?”


“Mungkin bisa. Ta-tapi ... mungkin tak sepenuhnya luka ini akan sembuh.”


“Kenapa? Apa kau kekurangan mana? Gunakan saja punyaku, jika ada konsekuensi atau semacamnya gunakan saja nyawaku, aku bersedia melakukan apapun, asal Ruri bisa kembali.”


“Bu-bukan itu. Aku tidak terlalu mahir dalam sihir penyembuhan, karena aku hanya fokus belajar sihir serangan,” kata Mary memelankan suaranya.


“Ta-tapi ... setidaknya kau masih bisa bukan?”


“Iya.”


“Tidak apa, itu lebih baik dari pada tidak.”


“Aku hanya bisa menutup luka bagian luarnya saja, bagian dalamnya masih sama seperti ini,” kata Mary sambil mengarahkan tangannya ke perut Ruri dan seketika bersinar. Sesaat kemudian kulit pria itu pun mulai menutup kembali dan darahnya juga berhenti mengalir.


“Terima kasih, Mary.”


“Tidak apa, lagi juga ini sudah menjadi kewajibanku untuk menolong teman.”


“Jadi, sisanya tinggal Ruri yang berjuang untuk menentukan ia akan terus hidup atau cukup sampai disini saja ya?” ucap Freed.


“Kau benar ... tapi, untuk lebih amannya kita bergegas kembali ke kota saja dan mencari penyihir yang dapat menyembuhkan luka dalamnya menggunakan sihir penyembuhan tingkat lanjut,” saran Mary.


“Baiklah ayo kita langsung kembali saja!” Ajak Roy.


Mereka pun bergegas kembali ke kapal dan pergi meninggalkan pulau itu.


“Kaila sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Mary saat keadaan sudah kembali tenang.


“Hmm ... dari mana aku harus memulai ya ... “ ucap Clarissa yang membuat ketiga orang itu saling bertatapan.


“Sebenarnya namaku bukanlah Kaila melainkan Clarissa, inilah wujud asliku, bukan wujud Kaila yang sebelumnya. Aku sejak dulu sudah berteman baik dengan Ruri, dan sebenarnya aku pun manusia biasa sama seperti kalian saat ini. Karena keadaan tertentu, aku tanpa sadar sudah dibawa raja iblis dan jadilah aku manusia setengah setengah seperti saat ini. Itulah awal mula terjadinya semua ini,” jelas Clarissa.


“Jadi Ruri langsung pergi mencarimu?” tanya Roy.


“Iya benar.”


“Lalu kenapa kau pergi bersamanya dan tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Ruri kalau kau sudah kembali?” tanya Freed.


“Aku menemui Ruri lagi karena saat itu aku sedang dalam misi mengawasinya, jika aku tak melakukannya aku akan hangus terbakar.”


“Jadi kau menyembunyikan identitasmu menjadi Kaila agar kau bisa mengawasinya tanpa ketahuan oleh Ruri?”


“Iya benar, tapi ... itu percuma, Ruri sudah mengetahui kalau itu aku, namun dia menutup mulut dan tetap mencari diriku agar bisa menyelamatkanku dari belenggu raja iblis.”


“Tapi Kaila ... maksudku Clarissa. Aku baru menyadarinya tadi. Hawa iblismu sudah tidak terasa lagi, aku merasa kau seperti manusia seutuhnya,” kata Mary.


“Hah? Benarkah? Ta-tapi kenapa aku masih bisa mengeluarkan sayap ini?” kata Clarissa sambil mengeluarkan sepasang sayap hitamnya.


“I-iya yaa ... aku juga heran ... tapi benar, aku tak merasakan hawa iblis lagi dari dalam tubuhmu.”


“Sudah lupakan saja tentangku ini, yang penting Ruri bisa sembuh dan kembali ... “ kata Clarissa terpotong karena Ruri tiba-tiba saja terbatuk dua kali akan tetapi masih tak sadarkan diri.


“A-apa yang terjadi?!” kata Clarissa panik melihat keadaan Ruri.


Nafas Ruri naik turun, wajah menjadi pucat pasi, seakan seperti mempertaruhkan nyawa melarikan diri dari serangan hewan buas dengan menggunakan tubuh yang sudah mati rasa karena kelelahan.


“Ini tidak ada hubungannya dengan luka yang dimilikinya ... jadi kita tak bisa berbuat apapun kalau menyangkut kutukan itu,” kata Mary yang memelankan suaranya.


Clarissa yang mendengar perkataan Mary langsung menatap pria itu.


“Ruri kumohon ... bangunlah ... !!!”


Setelah berkata-kata seperti itu wajah Ruri semakin pucat dan nafasnya mulai terhenti.


"Ruri jangan bercanda ... ini tidak lucu tahu ... "


"Hei ... "


“RURI?!” teriak Clarissa histeris kemudian langsung mengecek detak jantung pria itu.


*Deeegg ... Deeegg ...


“Masih ada. Tapi ini ... lemah sekali!” gumam Clarissa terkejut.


“Clarissa, apa yang ingin kau lakukan? Kita tak boleh campur tangan, ini bukan tentang lukanya melainkan ini adalah kutukan itu sendiri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita melakukan sesuatu melibihi dari sekedar menghilangkan luka-lukanya,” kata Mary yang melihat Clarissa langsung duduk bersimpuh di samping tubuh pria itu.


“Walaupun begitu, apa aku akan terus berdiam diri melihat Ruri mati begitu saja?! Setidaknya aku ingin melakukan sesuatu untuknya, meski nyawaku adalah bayarannya!” kata Clarissa keras sambil menghentakkan kedua tangannya di dada pria itu beberapa kali kemudian memberikan nafas buatan.


“Maaf Ruri, hanya ini yang mampu aku lakukan,” gumam Clarissa yang memberikan nafas buatan melalui mulut pria itu.


Sedangkan ketiga orang itu tak berani berkata-kata lagi, hanya diam melihat wanita itu melakukan sesuatu kepada Ruri.


“Kumohon Ruri ... bernafas lahh ... jangan berakhir seperti ini ... kau kuat bukan?!“ ucap Clarissa lirih yang pipinya sudah dibanjiri air mata.


Sudah berkali-kali Clarissa melakukan hentakkan di dada dan memberikan nafas buatan kepada Ruri, namun masih belum juga ada respon darinya.


Tak lama kemudian ...


*Deeegg ... *Deeegg ... * ....


Karena merasa ada sesuatu yang aneh, Clarissa langsung menempelkan telinganya di dada pria itu untuk memeriksa detak jantungnya. Setelah ia sadar bahwa jantung pria itu sudah tidak ada lagi, ia pun terkejut, tubuhnya melemas, wajahnya mulai pucat pasi, ia merasa sangat putus asa dan terdiam di dada bidang pria itu.


“Kenapa Ruri ... ?" kata Clarissa lirih.


"Aku tak pernah menginginkan ini ... “


“Tapi kenapa ... ? Kenapa kau tetap melakukannya?"


"Apa kau tahu, kalau kau melakukan ini akan membuatku sedih?"


"Tapi kenapa ... kenapa kau tetap melakukannya?"


"KENAPA?!” ucap Clarissa dengan nada tinggi.


“KENAPA KAU SELALU MEMERHATIKAN ORANG LAIN?! APA KAU TAK PERNAH MEMERHATIKAN DIRIMU SENDIRI?!”


“KALAU BEGINI MALAH AKU YANG TIDAK AKAN PERNAH TENANG! APA KAU SENANG MEMBUAT ORANG LAIN KHAWATIR?!” Teriak Clarissa kepada pria yang tak sadarkan diri itu kemudian berhenti sejenak.


“Ruri bangunlah ... “


“Jika kau tak bangun juga, mungkin lebih baik aku mati saja ... “ kata Clarissa lirih.


“Clarissa tenangkan dirimu, kau jangan memikirkan yang tidak tidak!” kata Mary sambil mendekati wanita itu yang sudah lemas tak berdaya di atas tubuh seorang pria. Kemudian duduk di sampingnya.


“Mary ... maaf, aku tadi berteriak padamu, pikiranku terlalu kacau tadi.”


Mary membantu Clarissa bangun dari tubuh pria itu kemudian mendekapnya.


“Tidak apa, aku mengerti perasaanmu. Jadi sekarang dinginkanlah kepalamu, jangan berkata yang membuat Ruri sedih. Aku tahu kau pasti kesal karena Ruri mengorbankan dirinya demi menyelamatkanmu, tapi kau tak boleh menanggapi apa yang sudah Ruri lakukan dengan cara seperti itu, bukankah nanti pengorbanannya jadi sia sia kalau kau mati konyol dengan bunuh diri seperti yang kau katakan tadi?”


“Ta-tapi ... “ kata Clarissa sambil menahan air matanya yang sudah meluap kembali.


“Sudah, jangan ditahan ... keluarkan saja semua kesedihanmu.”


Setelah ucapan Mary itu, Clarissa pun tak kuat membendung air matanya, dan pecah lahh tangisannya, pipi yang sudah mengering itu kembali basah karena teraliri air mata.


Suara hening di tengah lautan itu seakan riuh karena suara tangisan seorang wanita, Mary hanya diam sambil mendekap wanita itu dan membiarkannya menuang segala kesedihan di dadanya.


Namun di tengah tangisan itu, tiba-tiba saja hal yang diluar dugaan pun kembali terjadi.


*Uhuuuk ... *Uhuuuk ...


Suara orang terbatuk, sumber suaranya yang tak lain dari seorang pria berambut perak yang tergeletak di lantai kapal.


“Ru-Ruri?” kata Clarissa yang berhenti menangis kemudian menatap pria itu.


Clarissa langsung bergegas mengecek kembali keadaan Ruri.


Pria itu kembali bernafas dan jantungnya kembali berdetak, walaupun masih lemah, namun hal itu membuat Clarissa agak tenang kembali.


"Ruri ... apa kau mendengarku?" ucap Clarissa yang melihat pria itu menyeritkan kening.


“Clarissa, izinkan aku memeriksanya sebentar,” kata Mary yang kemudian di respon dengan anggukan kepala wanita itu.


Mary pun memerhatikan Ruri sebentar kemudian meletakkan tangannya di tubuhnya.


“Apa yang kau lakukan?”


“Aku hanya membantu mempercepat pemulihan tubuhnya, dengan begitu nafasnya menjadi tidak berat dan detak jantungnya kembali normal.”


“Sepertinya ini sudah cukup,” kata Mary setelah selesai.


“Cla-rissa ... dimana kau?” kata Ruri pelan akan tetapi matanya masih tertutup.


Semuanya terkejut melihat Ruri yang dapat selamat dari kutukan itu.


Clarissa dengan cepat menggenggam tangan pria itu.


“Aku disini. Aku baik-baik saja, kau tak perlu mengkhawatirkanku, justru dirimu lah yang harus kau khawatirkan dasar bodoh,” kata Clarissa sambil tersenyum.


“Ma-af ... aku membuatmu menangis lagi ... aku benar-benar pria yang buruk,” kata Ruri yang sudah membuka matanya.


Clarissa menggelengkan kepalanya sebentar.


“Kalau kau bicara lagi akan kupukul kau,” kata Clarissa yang masih tersenyum.


Ruri tersenyum kecil kemudian kembali memejamkan matanya.


“Di-dia ... benar-benar kembali,” kata Roy.


“Terima kasih banyak, Mary,” kata Clarissa kepada wanita yang di sampingnya.


“Ahh ... tidak, aku tak melakukan apapun, ini berkat usahamu sendiri. Andai kau tak melakukan hal tadi mungkin Ruri sudah mati, karena perbuatanmu itulah yang berpengaruh besar terhadap tubuhnya."


“Syukurlah kalau begitu, tapi tetap saja kau sudah menolong kami. Bagaimana cara kami harus berterimakasih?”


“Tidak usah repot repot, aku juga tak banyak membantu kok.”


“Tidak, katakan saja keinginan kalian. Aku akan melakukan sebisaku sebagai terima kasihku ini.”


“Kalau kau bilang begitu ... “ ucap Mary sambil menatap kedua rekannya sebentar.


“Bagaimana kalau kau traktir kami minum saat Ruri sudah pulih?” ucap Mary sambil tersenyum.


“Ta-tapi ... kalian bisa mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari itu.”


“Tidak, itu sudah cukup, asalkan kau berjanji tidak akan kabur lagi sebelum mentraktir kami.”


“Mary benar, aku tak akan segan memesan banyak hal, jadi bersiaplah mengeluarkan cukup banyak uang, Cla ... siapa tadi namamu?” kata Roy sambil tersenyum.


“Dasar orang bodoh sempat-sempatnya bercanda di saat seperti ini, tapi aku juga setuju untuk itu,” sambung Freed.


"Hei aku tidak bercanda?! Karena yang baru kuingat hanya Kaila saja."


"Baiklah terserah kau saja."


“Kalian ... “ kata Clarissa sambil menatap ketiga orang itu.


"Bagaimana? Apa kau bisa berjanji pada kami untuk memenuhi permintaan tadi?" ucap Mary.


“Baiklah, aku janji,” ucap Clarissa sambil tersenyum.