Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 8 - Ujian (bagian 2)



"Baiklah sekarang waktunya No 2 vs No 3, (Tim III vs Tim IV) silahkan masuk ke arena dan berdiri di sisi masing-masing," kata Pak Nathan.


"Wahh ... sekarang lawan kita perempuannya ada 3 orang dan laki-lakinya hanya 1," ucap Ruri tersenyum.


"Dasar mesum!" ucap Clarissa.


"Bu-bukan begitu," kata Ruri.


"Jadi, bagaimana kita mengalahkan mereka, ada yang punya ide?" tanya Dhafin.


"Entahlah, tapi aku sudah sering sekali mengalahkan salah satu dari mereka, tapi tidak pernah melawan mereka sekaligus," kata Clarissa.


"Bagaimana kalau aku melawan ketiga perempuan itu?" tawar Ruri.


"Heh? Apa yang ingin kamu lakukan kepada mereka bertiga?" tanya Clarissa dengan pandangan curiga.


"Tentu saja bertarung, memangnya apa yang ada dipikiranmu?" kata Ruri sambil menghela nafas.


"Baiklah, jadi kami bertiga yang melawan seorang laki-laki itu? Tapi, apa kamu sanggup melawan ketiga perempuan Itu Ruri?" tanya Dhafin.


"Tenang saja, aku juga sekalian ingin mencoba sesuatu," kata Ruri yang membuat mereka bertiga menjauh.


"Ada apa?" tanya Ruri heran.


"Percobaan mu selalu mengerikan, baiklah kami percayakan ketiga perempuan itu padamu," ucap Clarissa.


"Baiklah siap, Mulai," ucap Pak Nathan.


"Fire Ball...!!!" ucap Ruri sambil menembakkan bola api mengarah ke satu laki-laki itu namun ia hanya menahannya dengan Fire Ball pula.


"Sepertinya memecah mereka menjadi 3&1 itu tidak mudah," ucap Ruri tersenyum.


"Klo soal memecahkan mereka, serahkan saja pada kami, ayo Dhafin," kata Clarissa dan Dhafin yang mulai berlari.


"Fire Ball...!!!" ucap Dhafin yang menembakkan bola api besar mengarah ke tengah tengah Tim IV namun hal itu membuat mereka menjadi berpecah menjadi dua kekiri dan dua kekanan.


Dengan segera Dhafin melempar Clarissa dengan sihir angin mengarah ke sebelah kiri yang terdapat seorang laki-laki dan perempuan.


Melihat Clarissa yang bergerak cepat mengarah ke mereka berdua, laki-laki dan perempuan itu tidak tinggal diam dan langsung menyerang.


"Lightning Strike...!!!" ucap mereka berdua berbarengan.


"Naila tolong," kata Dhafin yang masih berada dekat dengan Naila.


"Iya aku tahu, Protector...!!!" kata Naila yang mengarahkan tangannya ke Clarissa.


Dengan cepat dua buah sambaran listrik dari Tim IV mengarah ke Clarissa dan...


"Duuuaaarr...!!!" sebuah ledakan tepat di Clarissa.


Sesaat setelah ledakan itu, lemparan sihir angin dari Dhafin masih melaju dan dengan cepat Clarissa melesat menuju laki-laki itu dan memukulnya menggunakan satu tangan.


Seketika laki-laki itu terlempar jauh sampai mengenai dinding arena dan Clarissa yang berhenti tepat di samping perempuan itu langsung segera mendorongnya menggunakan sihir angin mengarah ke kanan lalu berteriak.


"Naila sekarang...!!!" kata Clarissa.


"Iya, Water sources, Water wall...!!!" kata Naila yang mengeluarkan air dengan jumlah banyak dan memisahkan arena menjadi dua bagian.


"Ruri, mungkin dengan air ku saja tidak cukup, mungkin kau bisa membekukannya untuk membuatnya lebih kuat," kata Naila yang berada disisi kiri kepada Ruri yang disisi kanan.


"Wahh kalian hebat, baiklah," ucap Ruri sambil menyentuh air itu dan mengatakan.


"Freeze...!!!" kata Ruri dan seketika dinding air yang tinggi itu menjadi sebuah dinding es.


Seketika semua terkejut melihat itu, termasuk seluruh Tim IV yang melihat Tim III melakukan itu dengan singkat.


"Baiklah akan kita apakan orang ini sampai dia mau menyerah?" kata Dhafin dan Clarissa sambil mendekati laki-laki yang baru bangun itu.


"Sepertinya aku akan tereliminasi duluan," ucap laki-laki itu sambil tersenyum melihat ke arah dinding es yang dibaliknya terdapat Ruri dan teman se-tim nya.


Disisi lain Ruri dengan ketiga perempuan itu diam dan tidak melakukan apa-apa.


"Jadi, apa yang kamu rencanakan, Ruri?" tanya perempuan yang berada di tengah.


"Ahh bukan apa-apa," ucap Ruri.


"Aku tahu kau kuat, tapi apakah bisa kau mengalahkan kami semua?" kata perempuan disampingnya.


"Sebenarnya ada sihir baru yang terpikirkan olehku, jadi aku akan menjadikan kalian uji cobanya," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Ini bukan latihan Ruri, melainkan ujian," kata perempuan tadi sambil tersenyum.


"Heh begitukah, baiklah mari kita mulai saja," ucap Ruri.


"Baiklah kami akan membuatmu menyesal telah berani-beraninya melawan kami bertiga sendirian, ayo!" kata perempuan yang ditengah sambil berlari.


Dengan cepat Ruri mengangkat tangan kanannya keatas dan mengumpulkan sihir elemen api dan memusatkannya dalam satu titik.


Ketiga perempuan itu terkejut melihat Ruri melakukan itu, lalu dengan segera mereka berhenti berlari.


Ruri yang masih mengumpulkan sihir apinya tiba-tiba teringat sesuatu dan menghilangkan sihirnya.


"Lebih baik aku tidak melakukannya sekarang," gumam Ruri.


"Ada apa Ruri? Apa kau hanya membuat kami takut saja, supaya kami menyerah?" kata salah satu perempuan itu.


"Ahh tidak, aku hanya lupa bagaimana cara melakukannya," kata Ruri sambil tersenyum.


"Baiklah aku akan menyelesaikannya sekarang juga," kata Ruri lagi sambil membuat tongkat es nya dalam sekejap, lalu melempar kearah mereka dan menembaknya dengan sihir api.


Seketika kabut tebal menyelimuti ketiga perempuan itu.


"Semuanya lari dari asap ini sesegera mungkin!" ucap salah satu perempuan itu dari dalam kabut.


"Tidak akan aku biarkan, speed up movement. Active," kata Ruri sambil melesat cepat masuk kedalam kumpulan kabut itu.


"Hah? "


*bruuukk...


"Tidak!!! "


*bruuukk...


*bruuukk...


Setelah kabut itu memudar terlihat Ruri tengah terduduk dan di sekitarnya terdapat 3 perempuan yang berbaring dan tidak sadarkan diri.


"Baiklah duel antara 2 vs 3 selesai," kata Pak Nathan.


"Wahh hebat kau Ruri," ucap Dhafin dari atas dinding es bersama Clarissa dan Naila yang dari tadi menonton.


"Sihir apa yang kau gunakan?" ucap Dhafin lagi sambil turun dan menghampiri Ruri.


"Sebenarnya itu bukan sihir," ucap Ruri sambil tersenyum.


"H-hah? B-bukan sihir?" tanya Clarissa terkejut dan mukanya memerah.


"I-iya memangnya kenapa?" tanya Ruri curiga kepada Clarissa yang mulai mendekatinya.


*Duuuuggg...


"Kenapa kau memukul kepalaku?" tanya Ruri sambil memegang kepalanya.


"Kau, kau pasti melakukan hal bejat kepada mereka...!!!" ucap Clarissa yang wajahnya memerah.


"H-hah? Kenapa kau berpikir begitu?" ucap Ruri tidak mengerti.


"Tentu saja, lalu bagaimana kau menjelaskan hal tadi?" kata Clarissa lagi.


"Jadi begini, tadi aku hanya mempercepat diriku lalu berlari kearah belakang mereka, namun, karena semuanya tidak bisa diam aku langsung memegangnya dan... tiba-tiba saja mereka berteriak kyaahh... begitu saja lalu aku..." ucap Ruri yang belum selesai menjelaskan namun...


"Bagian apa yang kau pegang itu dasar mesum...!!!" ucap Clarissa sambil memukul Ruri dengan tangan kanannya yang dilapisi dengan sihir angin seperti yang dilakukan sebelumnya oleh laki-laki di Tim IV, hal itu membuat Ruri terhempas jauh menuju ujung arena.


"La-lalu aku memukul bagian punggungnya, dan ju-juga aku hanya memegang pundaknya," ucap Ruri yang sudah berbaring di lantai.


"Dasar kalian ini," ucap Pak Nathan.


"Untuk duel terakhir diadakan nanti, satu jam lagi, baiklah kalian boleh istirahat!" kata Pak Nathan.


"Pak kalau soal peringkatnya ditentukan sesuai apa? Apa sesuai pertama kali kalah atau bagaimana?" tanya salah seorang murid.


"Ahh iya aku belum membahasnya, peringkat akan berdasarkan bagaimana kalian bertarung, jadi bagi yang kalah pertama kali jangan khawatir, itu semua tergantung pertarungan kalian tadi, baiklah sampai jumpa," ucap Pak Nathan sambil pergi dengan menekan tombol yang berada di jamnya.


"Ayo Ruri kita beristirahat sejenak," ucap Dhafin kepada Ruri sambil mengulurkan tangannya.


"Iya, mungkin aku butuh istirahat," kata Ruri sambil memegangi perutnya.


Kamar ...


"Hmm Tim I itu kalau tidak salah terdiri dari Ranking 1,4,5,dan 7 jadi tidak heran kalau dia di tempatkan di posisi dengan 2 kali duel saja," kata Dhafin.


"Hah? Ohh iya, Clarissa kamu itu ranking berapa?" tanya Ruri.


"Memangnya aku belum memberitahumu?" tanya Clarissa.


"Iya, kalau tidak salah kau waktu itu hanya mengatakan rankingmu diatas Dhafin," jawab Ruri sambil mengingat-ingat.


"Sepertinya kamu benar, aku ini ranking 2 di kelas," ucapnya sambil tersenyum dan mengacungkan dua jarinya.


"Heh? Jauh sekali ama Dhafin," kata Ruri sambil melirik kearah Dhafin


"Tenang saja, suatu saat aku pasti akan melampaui Kakak," kata Dhafin dengan percaya diri.


"Kalau Clarissa ranking 2 berarti jika dilihat dari segi kemampuan, kita akan kalah terhadap Tim I, karena Clarissa saja bilang sendiri bahwa dia belum pernah mengalahkan Garfiel, dan Dhafin sendiri berada dibawah peringkat 4 dan 5 yang juga terdapat di Tim I," kata Ruri sambil berfikir.


"Jadi?" tanya Dhafin dan Clarissa berbarengan.


"Kemungkinan kita menang tidak mencapai 50% kalau tidak dengan strategi yang serius, lagi juga menurutku 4000 poin juga sudah banyak," kata Ruri sambil tersenyum.


"Mungkin kau benar Ruri, tapi kita harus menang," kata Dhafin dengan semangat.


*Ckreeeek...


Seseorang membuka pintu kamar lalu masuk.


"Ahh kukira siapa, ternyata kau Naila," ucap Clarissa.


"Apa itu?" tanya Dhafin heran melihat Naila membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat gelas.


"Ini teh, lebih baik kita harus menenangkan diri kita sebelum melaksanakan ujian lagi," ucapnya sambil tersenyum.


"Wahh kebetulan sekali aku agak sedikit kelelahan," ucap Dhafin.


"Halah kamu hanya menembakkan api saja bilang lelah," ucap Clarissa dengan nada mengejek.


"Hei tapi tidak semudah itu ya, dari pada kakak hanya mengayunkan tangan saja," kata Dhafin.


"Seperti ini?" kata Clarissa sambil memukul kepala Dhafin.


"Hei apa apaan itu? Sakit tahu!" kata Dhafin kesal.


"Aku hanya bertanya," jawab Clarissa cepat.


Sedangkan Ruri dan Naila hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua yang sudah mirip seperti adik dan kakak.


"Baiklah, aku akan bertanya lagi tentang kemampuan kalian masing-masing, Clarissa seperti yang kamu bilang, semuanya bisa menggunakan sihir api, angin, petir, air, tanah dan lain-lain akan tetapi kita hanya bisa menggunakan sihir dengan sangat kuat menggunakan salah satu sihir yang kita senangi atau kita anggap saja sebagai bakat kita dengan sihir itu," kata Ruri.


"Iya benar," kata Clarissa.


"Seperti Clarissa dengan sihir elemen angin, Dhafin dengan sihir elemen api, dan Naila dengan sihir pelindung & penyembuhan," kata Ruri lagi.


"Hei Ruri boleh aku bertanya," sela Dhafin.


"Apa?"


"Sihir elemen apa yang kau senangi?" tanya Dhafin.


"Aku?" tanya Ruri sambil berfikir.


"Aku menyukai semuanya," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Pantas saja seluruh sihirmu hebat hebat," ucap Dhafin dengan muka datar.


"Ahh sudah jangan hiraukan hal itu," ucap Ruri sambil tertawa kecil.


"Bagaimana cara kami tidak menghiraukan kemampuanmu itu," ucap mereka berbarengan dengan mimik curiga.


"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan Ruri?" ucap Dhafin.


"Ohh iya, aku akan menjelaskan strateginya dan menanyakan apa kalian setuju dengan rencanaku ini, walaupun mungkin ini tidak menjamin bahwa kita akan menang sihh," ucap Ruri.


"Jadi, apa strateginya?" tanya Naila.


"Begini, pertama Clarissa akan..." kata Ruri mulai menjelaskan rencananya.


...****************...


Arena ...


"Baiklah ujian terakhir antara 1.4 vs 2.3 akan segera dimulai, tim yang akan berduel harap bersiap di posisinya masing-masing," kata Pak Nathan.


"Bersiap, mulai!" ucap Pak Nathan.


Duel pun dimulai namun dari kedua tim belum ada yang melakukan penyerangan bahkan pergerakan.


"Ada apa? Kalian tidak mau menyerang?" tanya Garfiel.


"Entahlahh," kata Ruri singkat.


"Baiklah akan kumulai duluan," ucap Garfiel sambil memulainya dengan menyambarkan Lightning Strike dan disusul oleh majunya seluruh Tim I kecuali Garfiel yang masih diam ditempat.


"Clarissa sesuai rencana, kau urus Garfiel," kata Ruri sambil membuat tongkat es nya.


"Aku, Naila,dan Dhafin akan mengurus ketiganya dan dengan segera kami akan datang membantumu," sambung Ruri.


"Iya aku tau," kata Dhafin melakukan sihir anginnya dan melempar Clarissa menuju Garfiel.


"Baiklah aku akan mengurus dia," kata Dhafin sambil menembakkan bola api dan mendekati ke orang itu yang ternyata Ranking 5.


"Aku harap kau bisa menang Dhafin," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Naila mohon bantuannya," ucap Ruri dan Naila hanya menganggukan kepalanya.


Seketika Ruri mengangkat Naila ke atas arena menggunakan sihir anginnya untuk mengawasi sekaligus melindungi semua kawannya menggunakan protector.


"Heh? Kamu mau melawan kami sendirian Ruri?" tanya seorang laki-laki dari Tim I sambil mengayunkan pedang angin yang samar-samar terlihat.


Melihat itu Ruri pun menahannya menggunakan tongkat es nya.


"Kami?" ucap Ruri sambil melihat kebawah.


Terlihat bayangan seseorang perempuan sedang mengayunkan pedang api dari belakang Ruri.


Ruri tersenyum lalu menurunkan badannya dan segera memutarkan tubuhnya untuk menendang kaki seseorang yang berada di belakang dan di depannya dengan sekali putaran.


Seketika laki-laki dan perempuan itu terjatuh tergeletak di lantai, Ruri pun berdiri dan membuat tongkat es lagi.


"Ahh sepertinya cukup sampai disini," ucap Ruri sambil mengacungkan kedua tongkat es nya mengarah ke laki-laki dan perempuan itu.


"Tidak," ucap mereka dengan tersenyum sambil menembakkan bola api dan panah listrik kearah Ruri.


*Teessst ...


*buuummm ...


Suara panah listrik dan bola api yang membentur sebuah protector.


"Ahh... kalian pikir Naila diatas sana melakukan apa?" ucap Ruri sambil tersenyum dan membenturkan kedua tongkat es nya ke lantai.


Dalam sekejap sekujur tubuh laki-laki dan perempuan itu terjebak dalam perangkap es.


"Ahh begitu rupanya, kami pikir jika kami melakukannya dengan cepat, Naila tidak akan sempat untuk membuat protector," kata perempuan itu.


"Itu dulu, kalau sekarang dia mungkin sudah berkembang, jadi, kalian mau menyerah?" ucap Ruri.


"Kalau sudah terperangkap seperti ini apa boleh buat, lagi pula tidak mungkin aku membuat sihir menggunakan kepalaku," ucap laki-laki itu sambil tertawa kecil.


Kedua jam laki-laki dan perempuan itupun bertuliskan 'Eliminated ' dan tubuh mereka akan segera di pindahkan ke sisi penonton.


"Ruri berhati-hati lahh melawan Garfiel, dia itu kuat," ucap laki-laki itu sebelum tubuhnya dipindahkan.


"Hmm iya, aku tau" ucap Ruri sambil melihat ke arah Clarissa, namun...


Terlihat Garfiel menembakkan 7 buah panah listrik mengarah ke tubuh Clarissa, dengan cepat Clarissa menahannya menggunakan Wind Slash akan tetapi yang hancur hanya 2 buah dan sisanya mengenai tubuh Clarissa.


"CLARISSA...!!!" teriak Ruri melihat Clarissa mulai tumbang.


Dengan cepat Ruri mengaktifkan sihir percepatan, untuk segera melesat cepat dan memukul Garfiel menggunakan tongkat es nya.


Akan tetapi Garfiel hanya menahannya menggunakan pedang listriknya yang ia buat dalam sekejap dan sedikit terhempas kebelakang dengan keadaan masih berdiri.


"Naila cepat sembuhkan Clarissa!" kata Ruri.


"Ahh tidak usah, lagi juga aku sudah kehabisan mana, jadi jangan sia-siakan mana mu Naila, gunakanlah sihir penyembuhan untuk kalian bertiga saja," ucap Clarissa pelan dan segera tidak sadarkan diri.


Jam tangan Clarissa pun bertuliskan 'Eliminated ' dan Clarissa pun dipindahkan ke sisi penonton.


"Aku mengerti," ucap Ruri.


"Naila, bantu saja Dhafin, aku disini tidak apa-apa," ucap Ruri kepada Naila yang baru saja turun.


"Kau yakin?" tanya Naila.


"Iya, mungkin Dhafin lebih membutuhkan bantuan dari pada aku," ucap Ruri.


"B-baiklah," kata Naila sambil berlalu pergi membantu Dhafin.


"Heh? Akhirnya kita bisa bertemu, Ruri," ucap Garfiel tersenyum.


"Iya, aku juga menantikannya, hebat juga kau bisa mengalahkan Clarissa dengan cepat," kata Ruri ikut tersenyum.


"Ahh kau juga heba, bisa mengalahkan kedua temanku dalam sekejap," ucap Garfiel.


"Baiklah bagaimana kalau kita mulai saja?" tanya Ruri sambil mengubah bentuk tongkat es nya menjadi sebuah pedang.


"Iya aku pikir juga begitu," jawab Garfiel sambil mengacungkan pedang listriknya.


"speed up movement, active," ucap Ruri dan Garfiel berbarengan dan langsung melesat cepat sambil mengayunkan masing-masing pedang mereka.


*Teeeesss ...


*Taaaanngg ...


*Taaaanngg ...


Berkali-kali mereka melesat cepat dan saling menyerang menggunakan pedangnya.


"Fire ball...!!!" ucap Ruri sambil menembakkan beberapa bola api mengarah langsung ke Garfiel.


*Buuumm ... Buumm ...


Garfiel menebasnya dengan pedangnya dan melompat tinggi dan menembakkan beberapa bola api.


Ruri hanya berlari menghindarinya dan kembali menyerang menggunakan Wind Slash.


"Kalau terus berlanjut seperti ini, sampai kapan pun tidak akan selesai, apa aku pakai itu saja? " pikir Ruri yang membuatnya sedikit lengah.


"Ada apa denganmu? Apakah kamu melamun?" ucap Garfiel sambil menembakkan bola api tepat mengenai tubuh Ruri dan terhempas kebelakang.


Ruri pun terjatuh dengan tergeletak menatap langit.


"Sepertinya memang harus aku lakukan sekarang," ucap Ruri mencoba bangkit sambil tersenyum.


"Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau baru saja ingin serius?" tanya Garfiel.


"Iya tentu saja," ucap Ruri yang mulai berlari menuju Garfiel sambil kembali membuat tongkat es nya dalam sekejap.


"Heh? Kau kembali menggunakan tongkat? Baiklah," ucap Garfiel sambil mengayunkan pedangnya.


*Taaaaanng ...


*Taaaaanng ...


*Teeeesss ...


Suara pedang saling beradu dan bergesekan.


"Dari jarak sedekat ini seharusnya kamu tidak bisa menghindar," ucap Ruri sambil membuat jarum es ditangan kirinya dan mengarahkannya langsung ke Garfiel yang berada tepat didepannya.


Dengan sigap Garfiel mendorong tongkat Ruri dengan kuat dan melompat mundur untuk menghindari jarum es itu.


"Sepertinya kau sudah mulai serius," ucap Garfiel sambil kembali berlari menuju Ruri.


"Tentu saja," ucap Ruri sambil melempar tongkat es nya ke arah Garfiel yang masih berlari kearahnya.


Garfiel hanya menundukkan kepalanya agar tongkat es Ruri tidak mengenai kepalanya.


Melihat Garfiel yang semakin lama semakin dekat Ruri pun mengayunkan tangannya untuk menggunakan Wind Slash dalam jangkauan luas.


Dengan cepat Garfiel menghindarinya dengan melompat tinggi keatas.


Ruri pun tersenyum, lalu menembakkan bola api dengan ukuran agak besar keatas mengarah Garfiel.


Garfiel dengan cepat menghindari bola api itu dan menindas Ruri dari atas.


Ruri pun tergeletak di lantai setelah tendangan kuat dari Garfiel mengenainya.


"Menyerahlah, Ruri!" ucap Garfiel sambil mengacungkan pedang listriknya mengarah ke Ruri yang masih terbaring.


Ruri tersenyum sambil mengatakan.


"Kau sudah kalah Garfiel," ucap Ruri.


"Apa yang kau bicarakan? Kau yang sedang terdesak Ruri, bahkan temanmu belum selesai mengurus rekanku," kata Garfiel tersenyum sambil melirik ke 3 orang yang masih sibuk bertarung.


"Lihatlah keatas," ucap Ruri.


Setelah melihat keatas seketika semuanya terkejut melihat langit-langit mulai menggelap karena di penuhi awan hitam dan sesekali petir mulai menyambar.


"A-apa yang kau lakukan?" tanya Garfiel terkejut.


"Bukan apa-apa," ucap Ruri yang masih tersenyum.


"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, akan tetapi jika kau tidak menyerah sekarang, kau akan kubuat tidak sadarkan diri," ucap Garfiel sambil mengacungkan pedangnya.


"Baiklah," ucap Ruri sambil mengangkat pelan kedua tangannya akan tetapi dengan cepat Ruri mengarahkan kedua tangannya ke langit.


Garfiel terkejut lalu mengatakan.


"Ternyata kau memang tidak berniat untuk menyerah," ucap Garfiel yang langsung mengayunkan pedangnya dengan cepat.


"Sudah terlambat," gumam Ruri lalu mengatakan.


"Thunderstorm...!!!" kata Ruri sambil menggenggam kedua tangannya.


Melihat itu, Garfiel langsung melihat ke arah langit dan langsung menggunakan sihir pertahanan, Protector.


Sambaran petir dari langit pun mulai menyambar protector milik Garfiel namun detik demi detik protector itu retak dan Ruri pun berteriak.


"Naila...!!!" teriak Ruri.


Naila menoleh dan secepat mungkin Naila menarik lengan Dhafin lalu membaca sebuah mantra sihir.


"Berakhir sudah," ucap Ruri sambil menepuk tangannya dan seketika saja...


*Duuuuaaarr.....!!!


*Buuumm ... Fuuussshh ...


Sebuah ledakan besar yang di lanjutkan oleh angin kencang meluap luap di arena itu.


Terlihat seluruh protector yang berada di dinding arena aktif untuk menahan ledakan dan kencangnya angin dari penonton.


Seluruh penonton dibuat terkejut oleh pertarungan antara kedua tim itu lebih tepatnya antara Garfiel dan Ruri.


Di arena itu nampak 3 orang yang dikelilingi protector berwarna merah mencoba berdiri.


"Kau, kau berhasil, Ruri," ucap Naila sambil tersenyum melihat Ruri dari kejauhan.


Ruri pun bangkit dan melihat keadaan Garfiel.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Ruri sambil mencoba membangunkan Garfiel.


"Ahh tentu saja, kau pikir aku ini lemah? Aku sendiri juga sudah tau bahwa kau adalah orang sesungguhnya yang terkuat di Lower Class," ucap Garfiel sambil mengelap darah yang keluar dari mulutnya.


"Terima kasih Garfiel, tapi kau ini berlebihan, ayo, lebih baik kita ke UKS," ucap Ruri.


"Tunggu dulu, duel ini belum selesai, memang, temanku sudah pingsan karena tekanan angin tadi, tapi aku masih sadarkan diri," ucapnya.


"Apa? Kau mau bertarung lagi?" tanya Ruri terkejut.


"Kalau aku bertarung lagi, mungkin aku akan mati, dasar bodoh," ucap Garfiel sambil tersenyum.


"Jadi?"


"Aku, Garfiel, menyatakan bahwa aku menyerah dari duel ini!" ucap Garfiel tiba-tiba.


Seketika jam tangan ketiga orang itu pun bertuliskan 'WIN' yang berarti usai sudah duel itu.


"WOOOAAAHHH....!!!" Teriak para penonton.


"Dasar, kamu masih saja memikirkan duel ini, sekali-kali pikirkan lahh dirimu sendiri," ucap Ruri tersenyum sambil membantu Garfiel berdiri.


"Sudah kubilang aku tidak apa-apa," ucap Garfiel sambil tersenyum dengan tubuh yang masih gemetar.


"Baiklah ujian hari ini kunyatakan selesai, untuk peringkat akan diberitahukan besok, jadi...," ucap Pak Nathan berhenti lalu memejamkan mata dan memegang kepalanya seperti orang menelfon.


Terlihat Pak Nathan terkejut dan segera mengatakan.


"Baiklah selamat beristirahat!" sambung Pak Nathan dan langsung pergi.


"Ada apa dengan Pak Nathan ? " gumam Ruri.


"Ruri kau tidak apa-apa?" tanya Dhafin yang tengah berlari bersama Naila mendekati Ruri.


"Iya aku tidak apa-apa," kata Ruri sambil tersenyum.


"Ahh Garfiel apa kau baik-baik saja?" tanya kedua rekan tim Garfiel yang baru turun dari arena.


"Tentu saja, aku baik-baik saja," ucap Garfiel sambil tersenyum.


"Ini aku serahkan Garfiel pada kalian berdua, soalnya ada seseorang juga yang ingin ku bawa ke sekolah," ucap Ruri sambil menyerahkan Garfiel kepada kedua rekannya.


"Iya kami paham, baiklah kami duluan ya," ucap perempuan itu sambil menekan jamnya.


"Ayo kita juga bantu Clarissa," ucap Ruri.


"Hmm," ucap mereka berdua menganggukkan kepala.


...****************...


"Jadi kota tetangga sedang diserang?" tanya Pak Nathan.


"Itu benar, jadi kita harus bersiap bertarung kapanpun!" ucap Kepala Sekolah.


"Baik!" ucap semua guru serempak.