
"Clarissa ... Ruri ... Sebelah sini!" ucap Vina saat melihat kedua orang itu.
"Apa kami terlambat?"
"Tidak, hanya saja sudah mau mulai, ngomong-ngomong siapa mereka?"
"Mereka temanku, sudah tak usah dipikirkan, ayo langsung masuk saja!" kata Ruri sambil tersenyum.
"Ya."
Walaupun awalnya pernikahan itu berniat dibatalkan karena banyak kejadian aneh, akan tetapi mereka mengurungkan niatnya yang ingin membatalkan setelah Dhafin berbicara dengan Ruri pada saat itu.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sampai-sampai hari sudah senja dengan langit cerah yang berwarna ke oranyean.
"Naila, apa ayahmu masih ada disini?"
"Ya begitulah, dia duduk disana, memangnya kenapa?"
"Aku hanya ingin berbicara sedikit, jadi tolong bantu aku ya agar tak terjadi keributan."
"H-hah?"
Ruri pun langsung melirik ke arah yang lainnya.
Keempat Raja iblis itu langsung mengeluarkan sayapnya dan terbang bersama Ruri ke tempat yang agak tinggi, hal ini hanya bertunjuan agar semua orang yang ada disana dapat melihatnya.
"I-iblis ... !!!"
Walaupun Naila juga terkejut, ia pun tetap melakukan yang disuruh Ruri.
"Tenanglah semuanya!"
"Naila apa maksudmu? Cepat pergi dari sana! Kenapa bisa ada iblis disini? Semuanya cepat bungkam mereka!" ucap ayahnya Naila yang langsung berdiri dengan seluruh penjaga serta Magicalist yang ada disana.
"Jangan!"
Teriak wanita itu yang membuat semua orang terdiam karena ragu untuk menyerang atau mendengarkan ucapan Naila.
"Apa maksudmu Naila?" tanya Ayahnya.
"Ayah tunggu, Ruri adalah temanku, dia hanya ingin membicarakan sesuatu. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang ingin dibicarakannya, jadi tunggulah sebentar dan dengarkan ucapannya ... "
"Baiklah kalau begitu, cepatlah bicara kalian para iblis!" ucap ayahnya Naila yang tidak lain adalah raja di kota Zeastic.
"Terima kasih sebelumnya untuk Naila dan kalian semua yang mau mendengarkan, langsung saja ke intinya. Mereka yang di sampingku ini bukan iblis biasa, mereka adalah Raja Iblis."
Semua orang kembali ricuh.
"Ra-raja Iblis? Apa mau kalian?!"
"Kami hanya ingin meminta perdamaian antara Manusia-Iblis."
Semua orang terkejut. Dan saling berpandangan satu sama lain.
"Jangan berbicara yang tidak-tidak. Apa tujuan kalian yang sebenarnya?!"
"Benarkan? Apa kubilang ... Manusia itu makhluk bodoh yang sulit untuk mengerti," ucap Olivia sambil tersenyum kepada Ruri.
"H-hah?" ucap sang Raja tersenyum jengkel mendengar perkataan wanita itu.
"Hei Pak tua, dengar! Kami para Iblis tidak pernah asal berbicara, karena memang inilah kemauan kami," kata Olivia sambil membuang muka.
"Jika memang benar begitu, perdamaian yang seperti apa yang kalian mau?"
Ruri pun menjelaskannya kepada mereka.
"Bagaimana?"
"Tapi bukankah itu sulit? Karena iblis itu ... " Ucap sang Raja pelan.
"Ahh kau berlebihan Pak tua, asal kau tahu saja, kami melakukan itu karena ada sebabnya," ucap Olivia sambil tersenyum kemudian menepuk punggung Raja.
Semua orang terkejut dan menjauh sedikit.
"Se-sejak kapan kau berpindah tempat?"
"Baru saja, sudahlah kalian tak perlu takut, kami kesini benar-benar ingin berdamai kok, kalau tidak kau sudah mati sejak tadi pak tua," ucap Olivia sambil tersenyum.
Melihat wanita itu tersenyum, Raja pun menghela nafas dan mulai menenangkan diri, karena ia tahu senyumannya itu bukanlah senyuman orang bermuka dua.
"Kalau memang begitu, ayo bicarakan ini lebih lanjut! Aku ingin memastikan dulu."
"Heh? Kau masih belum percaya? Raja macam apa kau ini, tidak sepertiku yang cerdas ini," tanya Olivia.
"Aku hanya memastikan?!" ucap Raja sambil tersenyum jengkel.
Setelah beberapa menit mereka berdiskusi, hasilnya Raja mau menerima perjanjian perdamaian itu dengan syarat yang sudah ditentukan oleh Ruri.
"Kalau begitu, yang mulia, bersediakah yang mulia untuk membantu kami menyebarkan perjanjian perdamaian ini ke negri negri tetangga? Karena memang kami baru saja memulai perjanjian ini disini saja."
"Begitukah? Baiklah aku akan membantu sebisa mungkin, supaya dunia ini bisa menjadi lebih baik kedepannya."
"Terima kasih."
Setelah perjanjian perdamaian itu diterapkan di kota Zeastic, keesokan harinya Ruri memulai kembali perjalanannya ke dunia luar, namun kali ini ia pergi bersama keempat Raja Iblis.
Satu persatu negri mulai menyetujui perjanjian itu, mungkin ada beberapa negri yang sulit menerima, sampai-sampai peperangan hampir meletus, akan tetapi Ruri tetap berhasil meyakinkan sehingga hal itu tak terjadi. Dan dengan bantuan ayahnya Naila, pekerjaan Ruri menjadi lebih ringan karena setiap negri yang sudah menyetujuinya mulai saling menyebarkan satu sama lain.
Hingga pada suatu saat, Clarissa berjalan sendiri di atas dinding tebal yang mengelilingi kota Zeastic, ia terus berjalan menatap sebentar kota yang kini sudah berubah drastis, kemudian ia berhenti dan menatap hutan diluar kota sejauh mata memandang.
"Sudah dua tahun lamanya ya ... Ruri," ucap Clarissa pelan.
Flashback on.
"Kau mau aku menunggu? Kamu tidak mengajakku?"
"Aku ingin sekali mengajakmu, tapi ... Aku ingin kau tetap aman disini bersama yang lainnya, jadi sampai aku kembali jangan kemana-mana ya?"
"Begitu ya ... "
"Tidak apa kan?"
"Iya, aku mengerti. Cepat kembali ya?"
"Ya, aku akan segera kembali."
Flashback off.
"Kakak? Apa yang kau lakukan diatas sini?" ucap Dhafin yang membuyarkan lamunan Clarissa.
"Dhafin? Bikin kaget saja ... Kau tahu sendiri, sudah dua tahun sejak Ruri pergi."
"Kau benar, tapi sejak kepergiannya itu. Dunia yang kita tinggali ini sudah seperti mimpi saja," kata Dhafin sambil melirik ke dalam kota banyak manusia dan iblis berlalu-lalang melakukan kegitan bersama.
"Iya benar ... "
"Sayang, apa yang kau lakukan di atas sini?" ucap seorang wanita sambil melompat ke atas dengan seorang anak di gendongannya.
"Ehh ternyata ada kau Clarissa ... Apa yang kau lakukan disini?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu karena sekarang aku tidak ada pekerjaan lagi," ucap Clarissa sambil tersenyum lalu menundukkan kepalanya.
Seketika Naila dan Dhafin terkejut lalu langsung tersenyum.
"Jangan murung begitu dong, aku yakin Ruri akan segera kembali," ucap Naila.
"Iya, aku harap juga begitu," ucap Clarissa pelan.
"Kalau itu harapanmu, aku akan mengabulkannya," ucap seorang pria yang langsung memeluk erat wanita itu dari belakang.
Clarissa terkejut sebentar kemudian tersenyum, tak terasa air mata wanita itu langsung meleleh ke pipinya.
"Selamat datang kembali, Ruri," ucap Dhafin dan Naila berbarengan.
"Iya, aku kembali, terima kasih."
"Sayang, ayo!" ajak Naila.
"Iya."
"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Clarissa saat Naila dan Dhafin pergi.
"Belum semuanya sihh ... "
"Be-belum?" Clarissa terkejut kemudian berbalik menatap pria itu.
"Iya, aku belum mengerjakan satu hal ... "
"Apa itu?"
"Ini ... " ucap Ruri sambil mengambil sebuah kotak kecil dari balik sakunya dan membukanya.
Terlihat sebuah cincin berlian kecil tertancap di dalam kotak itu.
"Dasar kau ini ... " ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Mau coba pakai?"
"Ya," kata Clarissa pelan sambil menyodorkan tangan kirinya.
"Bagaimana? Pas?"
Clarissa mengangguk pelan.
"Iya ... Terima kasih, dan selamat datang kembali," ucap Clarissa sambil memeluk pria di hadapannya itu.
"Ya, aku pulang."
...****************...
Penginapan.
"Heh? Bulan depan Kau sudah mau menikah?" ucap Vina terkejut.
"Begitulah, doakan ya semoga semuanya berjalan lancar," ucap Clarissa sambil berlalu pergi.
"Iya, semangat!"
"Akhirnya Kakak kembali tersenyum lagi," ucap Dhafin saat melihat wanita itu berjalan dengan senyuman yang terpancar di bibir manisnya.
"Begitulah, Clarissa hanya membutuhkan Ruri, tidak lebih, sama sepertiku dulu."
"H-hah? Kau juga menyukai Ruri?" tanya Dhafin tidak percaya.
"I-iya tapi itukan dulu."
"Sudahlah aku tak mau dengar, cepat belikan anakmu makan sebelum dia bangun, aku ingin membelikan hadiah untuk Clarissa," kata Naila sambil berlalu pergi.
"Seenaknya saja merubah topik dan langsung pergi ... " ucap Dhafin sambil tersenyum kecut.
"Sepertinya aku juga jadi ingin mempunyai pasangan," ucap Vina.
"Cepatlah ... Sebelum kau tua dan tidak ada yang mau denganmu."
*Duuuuuggh ...
Satu pukulan keras mendarat di kepala laki-laki itu.
"Maaf tanganku kelepasan, hehe. Ohh iya jagain penginapan ini sebentar ya, aku mau keluar juga, dahh ... " ucap Vina yang kemudian langsung meninggalkan Dhafin begitu saja.
"Woi ... Seenaknya saja, aku ingin pergi membeli makanan tahu!"
Kabar tentang pernikahan Ruri dan Clarissa menyebar luas dengan cepat, seperti angin yang berhembus karena memang Ruri adalah sesosok yang berpengaruh besar pada dunia.
Tak terasa waktu terus bergerak sampai pada akhirnya hari pernikahan mereka pun tiba.
Ruri berjalan lurus di atas karpet merah yang menuju ke sebuah tempat, saat masuk terlihat banyak orang di sisi kanan dan kirinya.
"Ruri ... " ucap dari banyak orang yang menyapanya.
Ruri hanya tersenyum sebagai balasannya.
"Rian, Luna, Pak Angga? Mereka datang ... Padahal aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan mereka."
"Anariel dan Gary juga datang ... Entah kenapa aku bisa membayangkannya saat Gary dipaksa ikut," gumam Ruri sambil tersenyum.
"Roy, Freed, Mary dan wanita setan itu ternyata juga datang yaa ... "
Ruri terus berjalan dan berhenti setelah sampai di depan, yakni di samping pria yang memakai jas hitam.
"Kok agak canggung ya ... " pikir Ruri.
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka dan tampak seorang wanita molek berpakaian khas pengantin mulai berjalan masuk.
Setelah sampai di depan pria memakai jas hitam itu mulai berkata.
"Dengan begini aku-"
"Tunggu ... " potong Ruri.
"A-ada apa?"
"Clarissa, mungkin ini agak mendadak, tapi apa kau benar-benar menerima diriku yang sekarang? Karena kau tahu bukan, aku sudah bukan lagi ... " ucap Ruri terpotong karena Clarissa langsung menggeleng.
"Aku tidak peduli ... Selama itu dirimu aku tak peduli, kau juga mengatakan hal yang sama saat aku jadi manusia setengah iblis, begitu pun denganku, perasaan ini tak akan tergantikan hanya karena masalah sepele, selama itu masih dirimu aku tak peduli."
Mendengar jawaban wanita di hadapannya itu, Ruri tersenyum lebar.
"Terima kasih."
Akhirnya pernikahan mereka berlangsung tanpa masalah, mulai saat itu pula mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih walaupun memang ras mereka seketika berubah akan tetapi hal itu tak sedikitpun menggoyahkan cinta diantara mereka.
Masih dihari yang sama, saat matahari telah terbenam sepenuhnya orang-orang tak henti-hentinya berdatangan ke kota Zeastic. Kebanyakan dari mereka hanya ingin menemui Ruri & Clarissa.
"Guru, selamat ya atas pernikahan Kakak," ucap Hiro saat bertemu sepasang kekasih itu.
"Gu-guru?" ucap Clarissa pelan sambil tersenyum dan melirik ke arah Ruri.
"Padahal aku tak pernah mengangkatnya sebagai murid," ucap Ruri pelan sambil tersenyum.
"Iya, terima kasih. Bagaimana perkembanganmu?"
"Masih tidak jauh ... Tapi aku akan terus berusaha!"
"Ya, semangat ya!"
"Pasti!"
"Tuan Alex? Orang tua Hiro masih ... ?"
"Begitulah, makanya mereka hanya menitipkan pesan ini untukmu, selamat ya atas pernikahanmu!"
"Begitu ya, iya terima kasih."
"Kak Ruri ... " ucap seorang gadis dari kejauhan.
"Sepertinya aku kenal suara ini," ucap Ruri kepada Clarissa.
"Iya Cisa, dia juga datang."
Saat sudah terlihat dari balik kerumunan orang-orang barulah gadis itu berkata lagi.
"Kak Ruri, Kak Clarissa ... Selamat atas pernikahan Kakak."
"Iya terima kasih ya."
"Walaupun kau sudah agak besaran, tapi entah kenapa Kak Ruri masih gemas denganmu," ucap Ruri sambil menarik pipi gadis di hadapannya.
"Aaww ... Sakit."
"Anita, seharusnya kau tak perlu memaksakan diri datang jauh-jauh kesini," ucap Clarissa melihat seorang wanita yang baru datang.
"Mau bagaimana lagi, ini permintaan Cisa, saat mendengar kabar kalau kau dan Ruri ingin menikah, Cisa langsung menuntut ingin pergi," kata wanita itu sambil tersenyum.
"Begitu ya, terima kasih ya."
"Kebetulan Cisa datang saat malam hari, ada sesuatu yang ingin Kakak tunjukkan, mau lihat?" ucap Ruri kepada gadis itu.
"Apa?"
"Coba perhatikan langitnya!" ucap Ruri sambil menaikkan tangannya ke atas.
*Cwiiiit ...
*Duaaaarrr ...
Sebuah kembang api melesat cepat dan meledak dengan menghasilkan warna hijau terang.
Semua orang terkejut dan langsung terfokus pada ledakan dari kembang api itu.
"Wahh indah!" Ucap Cisa.
"Bukan hanya itu kok," kata Ruri yang kemudian langsung menyentikkan jarinya dan seketika kembang api melesat dari beberapa tempat di kota Zeastic yang membuat langit malam itu menjadi penuh warna.
"Wooooaaahh ... Apa ini?"
"Banyak sekali!"
"Indah juga."
Ucap orang-orang dari seluruh kota yang masih menatap kembang api yang masih meledak disana sini.
"Bagaimana Kakak melakukannya?"
"Ada dehh."
Malam meriah dan dipenuhi senyuman orang-orang itu adalah menjadi awal baru untuk kehidupan Ruri dan Clarissa kedepannya.
...****************...
Tak terasa 3 tahun pun berlalu ...
"Sudah lama sekali aku tidak kesini," ucap Ruri saat berjalan bersama Clarissa di hutan bagian Barat.
"Memangnya untuk apa kau tiba-tiba ingin kesini?" tanya Clarissa yang masih sibuk bermain-main dengan anaknya.
"Entahlah, aku hanya teringat saja," ucap Ruri melihat sebuah tempat pertama kali ia terbangun di dunia ini.
Entah karena apa tiba-tiba saja bayi mereka menangis.
"Ada apa Kaila? Ibu ada disini cup cup ... " ucap Clarissa sambil mencoba menenangkan.
"Sepertinya Kaila kecil kita juga merasakannya," kata Ruri sambil tersenyum.
"Me-merasakan apa?" tanya Clarissa tak mengerti.
"Tunggu disini, aku akan segera kembali," ucap Ruri sambil berlalu pergi.
"Siapapun tolong aku!" ucap seorang anak laki-laki histeris karena dikejar seekor beruang hitam.
Namun seketika saja ...
*Duuuug ...
Beruang itu terhempas ke pepohonan dan diam tak bergerak.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ruri.
"Kau sendiri siapa?" tanya anak itu yang mulai waspada juga ke Ruri
"Aku? Aku adalah iblis," ucap Ruri sambil tersenyum kemudian mengeluarkan sayap hitamnya.
"I-iblis?!" ucapnya ketakutan dan hendak berlari kembali, tapi hal itu tak jadi dilakukannya karena Ruri langsung menenangkannya.
"Tenanglah, aku kesini hanya ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Selamat datang di dunia barumu!"
"Kau tahu aku baru datang dari dunia lain?" Tanyanya curiga.
"Sebenarnya aku hanya menebak saja hehe, sudahlah ayo aku antar kau ke kota."
"Tunggu, kau iblis ... Apa kau berencana ingin memakanku atau ... "
Ruri tertawa sedikit kemudian berkata.
"Tenang saja, kau tidak akan bernasib buruk begitu. Justru sebaliknya, kau hanya akan hidup senang di dunia ini."
"Apa maksudmu? Dan siapa kau sebenarnya?"
"Bukan apa-apa kok, jika kau bertanya ... Namaku adalah Ruri Narendra. Ayo cepatlah, istriku sudah menunggu! Kau lapar bukan?"
"Ahh i-iya ... "
"Lihatlah Dewa, sedikit demi sedikit aku sudah menggagalkan rencana busukmu ! Aku tak akan membiarkan kau berbuat seenaknya! Camkan itu !"
...Tamat....