Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 17 - Checkmate



"Waahhh! Ternyata tempat ini benar-benar ada," kata Ruri.


"Memangnya kau belum pernah lihat pemandian seperti ini?" tanya Dhafin.


"Hmmm ... sepertinya belum pernah," jawab Ruri sambil berpikir.


"Kalau melihat di televisi atau internet aku sihh sering melihatnya," gumam Ruri sambil tersenyum.


"Pasti karena kau selalu diam di rumah terus," ucap Luna sambil melirik kearah Ruri.


"Ahh ... itu tidak benar, Ruri malah sering keluyuran, sampai-sampai kami lelah untuk mencarinya," kata Naila sambil tersenyum.


Ruri hanya tertawa kecil sambil bergumam.


"Yang dikatakan Luna benar?! Aku dulu selalu diam di rumah, tapi, aku disini sering keluyuran karena ingin merubah sedikit diriku di dunia yang baru ini."


"Ayo kita masuk!" ajak Pak Angga.


"Hmmm."


...****************...


"Ternyata tempat ini sangat hebat," ucap Dhafin sambil menyandarkan diri di tepi kolam.


"Kau benar Dhafin, aku saja, baru kali ini merasakannya," ucap Ruri disampingnya.


"Tentu saja, walaupun desa ini tidak sehebat di kota, akan tetapi fasilitas desa ini juga tidak mau kalah," ucap Pak Angga yang baru datang lalu merendamkan diri.


Ruri pun terkejut melihat Pak Angga memakai kalung yang sangat mirip dengan kalung yang ia temuinya di jalan.


Ruri bangkit berniat bertanya kepada Pak Angga namun ia mengurungkan niatnya.


"Ehh sebentar, bagaimana kalau kalung itu memang banyak yang menjual di pasar?" pikir Ruri.


Saat Pak Angga menatap Ruri ia pun terheran-heran karena melihat Ruri diam termenung seperti memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Ruri?" tanya Pak Angga.


"Ahh ti-tidak," ucap Ruri pelan.


"Hmm? Ada apa? Kalau ingin bertanya sesuatu, tanyakan saja, siapa tahu aku bisa bantu," kata Pak Angga.


"Ini tentang kalung yang bapak pakai itu. Apa di desa ini banyak yang mengenakannya?" ucap Ruri sambil menunjuk ke arah benda yang mengelilingi leher Pak Angga.


"Ohh kalung ini. Tidak, yang mempunyai kalung ini hanya keluargaku saja," jelasnya.


Ruri terkejut lalu kembali bertanya.


"Keluarga? Berarti ... " ucap Ruri yang belum menyelesaikan ucapannya.


"Iya, yang mempunyai ini hanya aku, istriku dan anak-anakku," jelas Pak Angga.


"Pak, berarti ... Luna dan Rian juga memakai kalung itu?" tanya Ruri.


"Iya tentu saja."


"Ruri, memangnya ada apa dengan kalung itu?" tanya Dhafin tidak mengerti.


"Itu adalah salah satu benda yang memperkuat keyakinanku terhadap seseorang yang telah aku curigai sejak awal," jelas Ruri.


"A-apa maksudmu Ruri? Ja-jangan bilang kau melihat salah satu dari pencuri itu memakai kalung ini," ucap Pak Angga dengan terkejut.


"Ahh tidak, aku tidak melihat orang itu mengenakannya, hanya saja benda itu jatuh saat orang bertopeng itu terjatuh," ucap Ruri.


"Jika benar begitu, berarti belum tentu juga kalau salah satu pelakunya adalah keluarga Pak Angga sendiri," ucap Dhafin yang membuat Ruri berpikir.


Ruri terkejut lalu bertanya.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Ruri cepat.


"Karena hal itu bisa menjadi dua kemungkinan, kalung itu dicuri oleh salah satu dari para perampok itu, kemudian tanpa sengaja benda itu terjatuh saat membawanya, dan kemungkinan satunya lagi adalah memang benar dia memakainya karena benda itu memang miliknya, yang seperti kau pikirkan, Ruri," ucap Dhafin yang membuat Ruri dan Pak Angga terkejut.


"Iya juga yaa ... yang dibilang Dhafin sepertinya ada benarnya, ahh sial ... aku tidak pernah memikirkan sampai kesana, kalau benar salah satu kalungnya hilang lalu dicuri para pencuri itu, kan kemungkinan itu bisa saja terjadi, dasar payah!" gumam Ruri kesal.


Sebaliknya Pak Angga khawatirkan tentang anaknya.


"Apa benar, salah satu pelaku itu adalah anakku sendiri? Tapi kenapa?" gumam Pak Angga.


"Sudah sudah, lebih baik kita memikirkan ini nanti saja," ucap Dhafin.


"Hmm iya kau benar, seharusnya aku tidak memikirkan perkara itu sekarang," ucap Ruri.


"Hahah kau benar, entah kenapa aku juga jadi ikut memikirkan hal itu," ucap Pak Angga sambil tertawa kecil.


*Hei Vina, a-apa yang kau lakukan, ti-tidak?!


*Tidak, aku hanya heran kenapa punyamu lebih besar.


*a-apa yang kau pikiran, ti-tidak...!!


*jangan keras keras nanti Ruri dan Dhafin bisa mendengarmu.


*H-hah? Hei Ruri Dhafin jika kau memikirkan yang aneh aneh aku akan membunuh kalian berdua...?!


"Sepertinya mereka menikmati pemandian ini," ucap Ruri.


"Seperti itulah gadis muda jaman sekarang," ucap Pak Angga yang dilanjutkan tawa ketiga laki-laki itu.


Beberapa menit kemudian ...


"Ada apa Ruri?" tanya Clarissa melihat Ruri diam termenung saat perjalanan kembali menuju penginapan.


"Ahh tidak apa-apa, mungkin aku hanya terlalu lama di kolam," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Apa kau masih memikirkan hal tadi?" bisik Dhafin.


Ruri terkejut lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Tidak usah kau pikirkan, tadi saat kau keluar duluan, aku sempat bertanya pada Pak Angga," ucap Dhafin.


"Apa?" tanya Ruri tidak mengerti.


"Aku bertanya tentang kalung itu."


Flashback on ...


"Apa kalian berdua belum selesai?" tanya Ruri.


"Aku ingin disini sebentar lagi," ucap Pak Angga.


"Begitupun denganku," sambung Dhafin.


"Hmm baiklah aku duluan yah," ucap Ruri sambil berlalu pergi.


"Pak, boleh aku bertanya," ucap Dhafin setelah Ruri pergi.


"Boleh saja, selagi itu bukan sesuatu hal yang harus dirahasiakan," kata Pak Angga.


"Ini tentang kalung yang bapak pakai itu," kata Dhafin.


"Heh? Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?" tanyanya.


"Apakah kalung itu bernilai tinggi jika dijual?" ucap Dhafin.


"Memangnya kenapa?" tanya Pak Angga.


"Soalnya ini menyangkut kemungkinan pertama yang tadi, aku hanya ingin memastikan bahwa kemungkinan itu memang benar ada atau hanya pemikiranku belaka," jelas Dhafin.


"Jadi begitu. Sebenarnya kalung ini buatan ibuku, ia membuatkannya 4 buah untuk diberikan kepadaku dan suatu saat jika aku sudah mempunyai anak, lalu hasilnya, yang memakai kalung itu saat ini adalah Luna dan Rian. Jika kau bertanya tentang nilai harga jual di pasaran, mungkin tidak akan ada yang mau membelinya, karena kalung ini hanya dibuat dengan sederhana, tapi, kesederhanaan itulah yang membuat kalung ini berharga dimata keluarga kami," ucap Pak Angga.


"Hmm begitu rupanya, baiklah, terima kasih Pak," ucap Dhafin.


"Berarti salah satu dari mereka memang benar ada anakku sendiri," kata Pak Angga pelan.


"Tenang saja, Pak, serahkan semuanya pada kami," ucap Dhafin dengan nada meyakinkan.


"Hmm baiklah, aku percaya pada kalian, jadi, mohon bantuannya."


Flashback off ...


"Kira-kira begitulah," ucap Dhafin pelan.


"B-benarkah?!" ucap Ruri terkejut.


"I-iya."


"Huuhh ... akhirnya apa yang ku khawatirkan menghilang," ucap Ruri sambil menghela nafas.


"Sebenarnya aku mengatakan ini hanya untuk bertanggung jawab karena telah membuat dirinya khawatir akan perkataanku sendiri," gumam Dhafin sambil tersenyum.


"Hei kalian berdua sedang membicarakan apa?" tanya Vina yang melihat Dhafin dan Ruri berbisik-bisik.


"Bukan apa-apa," ucap Ruri dan Dhafin berbarengan.


Melihat itu Clarissa langsung berkata dengan tatapan curiga.


"Kalian tidak sedang membicarakan yang di pemandian tadi kan?" ucap Clarissa.


"Hei Ruri, bagaimana dia tahu kalau kita sedang membicarakan saat kita dikolam tadi? Apa dia dari tadi menguping pembicataan kita?" bisik Dhafin kepada Ruri.


"Aku tidak tau," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Hei aku sedang bertanya, jangan bisik bisik begitu?!" ucap Clarissa.


"Bagaimana kau tahu Kak? Apa kau dari tadi menguping pembicaraan kami?" ucap Dhafin dengan tenang.


"Dhafin, pertanyaanmu mungkin akan membawa malapetaka," gumam Ruri yang masih tersenyum.


"H-hah?!" kata Clarissa terkejut yang mulai menundukkan wajahnya yang mulai memerah dan kemudian mengumpulkan sihir di tangan kanannya.


"Sepertinya dugaanku benar, kesalahpahaman sedang berlangsung," gumam Ruri sambil mengaktifkan sihir percepatan.


"R-Ruri ... kenapa Kakak terlihat begitu marr ... h-heh?! kemana anak itu pergi?" ucap Dhafin terkejut melihat Ruri sudah tidak berada di sampingnya lagi.


"Dasar mesum?!" ucap Clarissa sambil melesat cepat lalu memukul Dhafin sekuat tenaga.


"Heh? Kok mesum? Jangan-jangan Ruri sudah tahu kalau ini akan terjadi? tega sekali kau Ruri, meninggalkanku saat penderitaan mengarah tepat padaku," gumam Dhafin sambil tersenyum sesaat sebelum pukulan Clarissa mengenainya.


*Bruuukk ...


*Fuuussshh ...


Suara pukulan Clarissa tepat mengenai tubuh Dhafin dan terpental jauh entah sampai kemana.


"H-hei, a-apa dia baik-baik saja?" tanya Luna khawatir.


"Tenang saja, hal ini sering terjadi," ucap Naila sambil tersenyum.


"Ahh begitu rupanya, ternyata kebiasaan para penyihir agak menakutkan yah," ucap Luna sambil tertawa kecil.


"Begitulah."


"Luna? Dan kalian semua habis dari mana?" ucap seorang laki-laki yang baru saja datang.


Seketika saja Naila, Vina dan Clarissa pun terkejut lalu bertatapan sebentar.


"Kami habis dari pemandian air panas, lalu kau sendiri habis dari mana hah?! Seharian ini kau tidak pernah bersama tamu kita ini," ucap Luna.


"Kan aku sudah bilang kalau ada sedikit urusan, jadi maaf yah," ucap Rian sambil tersenyum.


"Dasar, selalu saja begitu," ucap Luna dengan jengkel.


"Hehe, ohh iya, Luna, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Rian.


"Tentang apa?" tanya Luna.


"Nanti saja saat kau sudah selesai mengantar mereka kembali ke penginapan," kata Rian.


Mendengar itu Clarissa langsung berkata.


"Ahh tidak usah, lagi juga penginapannya sudah terlihat dari sini, jadi, kami kembali duluan ya, Luna."


"Hmm baiklah kalau begitu," ucap Luna yang dilanjutkan perginya ketiga gadis itu menuju penginapan.


"Apa sebaiknya, kita harus tetap bersama Luna saja?" tanya Vina.


"Jangan, kita lebih baik tidak ikut campur dengan urusan pribadi mereka," ucap Clarissa.


"Tapi bagaimana kalau Luna memberitahu Rian tentang ... " ucap Vina tidak meneruskan perkataannya karena ia sudah tahu.


Disisi lain Luna dan Rian masih berdiri di tempat itu.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Luna.


"Bagaimana dengan mereka?" ucap Rian yang membuat Luna mengangkat alisnya.


"Apa maksudmu?" tanya Luna tidak mengerti.


"Mereka para pendatang itu," ucap Rian.


"Memangnya mengapa dengan mereka?"


"Tidak, hanya saja aku curiga kepada mereka semua, karena mereka adalah penyihir," ucap Rian.


"Curiga akan apa?" tanya Luna lagi.


"Aku hanya curiga kalau mereka adalah para perampok itu," ucap Rian yang membuat Luna terkejut.


"Awalnya juga aku curiga, akan tetapi ... " ucap Luna tidak melanjutkan perkataannya lalu berpikir sejenak.


"Tapi apa?"


"Me-mereka sudah menolongku dari kebakaran itu," ucap Luna dengan nada pelan.


"Yaa begitulah kebiasaan para pencuri, itu semua hanya kebohongan, mereka diawali dengan kebaikan, nanti saat kita lengah, mereka akan merampas segalanya dari kita," ucap Rian.


"Apa yang dikatakan Rian itu benar? Tapi, apa kata-kata Ruri juga itu semua kebohongan? " gumam Luna yang mulai bimbang.


"Apa mereka pernah berkata aneh-aneh seperti rencana atau semacamnya?" tanya Rian.


"Jelas sudah, ternyata memang dia, keberhasilan rencanaku semua tergantung jawaban Luna," gumam Ruri dari balik bangunan yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka.


"Jadi, apa mereka pernah berkata sesuatu?" tanya Rian lagi karena melihat Luna terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Aku rasa ... i-iya, mereka mengatakan sesuatu," ucap Luna sambil menundukkan kepalanya.


"Hah? Apa Luna akan memberi tahu tentang rencanaku?" pikir Ruri terkejut mendengar apa yang ia dengar.


"Apa yang mereka katakan?" tanya Rian.


"Mereka ingin membantu desa ini menangkap para pencuri itu," ucap Luna.


"Maksudku bukan seperti itu, apa mereka mengatakan punya rencana atau semacamnya?" tanya Rian lagi.


"Tidak, mereka semua tidak mengatakan kepadaku bahwa mereka memiliki rencana," ucap Luna dengan nada meyakinkan.


"Ahh kukira mereka mengatakan rencananya kepadamu," ucap Rian sambil memalingkan pandangannya.


"Memangnya mereka punya rencana? Dan juga kalau punya sekalipun, ada apa dengan rencana mereka? Bukankah bagus kalau mereka membantu kita menangkap para pencuri itu?" tanya Luna.


"Ahh bukan karena apa sihh, aku hanya sedikit curiga terhadap mereka saja, karena tidak ada salahnya kan kalau kita selalu waspada?" ucap Rian.


"Hmm kau benar," ucap Luna memelankan suaranya.


"Yaudah, ayo kembali! Pasti ayah sudah menunggu," ucap Rian.


"Kau duluan saja. Aku baru ingat, sepertinya ada sesuatu yang tertinggal di pemandian tadi," ucap Luna.


"Ohh baiklah, hati-hati ya," ucap Rian sambil berlalu pergi.


"I-iya," ucap Luna sambil menundukkan kepalanya.


Saat Luna sudah tidak melihat Rian dari pandangannya, ia berbalik badan dan tiba-tiba saja Ruri sudah berada di depannya.


"Mau ku temani mengambil barang itu?" ucap Ruri.


"Dasar bodoh," ucap Luna sambil memalingkan pandangannya lalu berjalan menjauh dari Ruri dan kemudian berhenti.


"Ayo, katanya mau menemaniku," ucap Luna tanpa menoleh sedikitpun.


"Iya, dengan senang hati," ucap Ruri sambil berjalan mengikuti Luna dari belakang.


"Jadi, kenapa kita kesini? Bukankah kau ingin ke pemandian tadi?" tanya Ruri tidak mengerti karena Luna membawanya ke sebuah bangunan yang hangus terbakar itu.


"Itu hanya pengalihan agar aku bisa pergi," ucap Luna sambil tersenyum.


"Hmm?"


"Tapi dulu, alasan seperti itu biasanya Rian tetap melarangku pergi sendirian, sekalinya aku memaksa, dia pasti akan menawarkan diri agar pergi bersamaku untuk melindungi diriku dari apapun. Tapi sekarang, tampaknya dia sudah berubah," ucap Luna sambil menatap tempat itu.


"Jadi itu alasanmu berbohong kepada Rian mengenai kami tidak memberitahumu tentang rencana itu?" tanya Ruri.


"Tidak, aku mengatakan yang sesungguhnya, bahwa 'kalian semua' tidak mengatakan rencanamu," ucap Luna.


"Memang benar, hanya aku yang memberitahumu tentang rencananya, dalam artian bukan kami semua. Dasar, pandai sekali kau bermain kata-kata," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Itu perkara mudah," timpal Luna dengan senyumnya pula lalu ia berburu-buru memalingkan wajahnya kembali


"Jadi, pada akhirnya, kau mempercayai kami kan?" ucap Ruri.


"Jangan terlalu cepat menyimpulkan, a-aku juga masih mencurigai kalian tau," ucap Luna yang memelankan suaranya.


"Tidak apa, walaupun kau masih mempercayai kami setengah setengah, itu sudah cukup, terima kasih yaa Luna," ucap Ruri kembali tersenyum.


"I-iya terserah kau saja," ucap Luna dengan tidak menatap seseorang disampingnya.


"Baiklah serahkan saja sisanya padaku, itulah alasanku datang kesini," ucap Ruri.


"Buktikanlah, kalau kau ingin mendapatkan kepercayaan itu sepenuhnya," ucap Luna sambil memandangi bangunan di depannya.


Ruri menatap Luna sebentar lalu berkata.


"Aku akan berusaha!" ucap Ruri.


"Ahh iya, ini sudah hampir masuk waktu makan malam, lebih baik aku mencari Dhafin, apa kau mau ikut?" kata Ruri kepada seseorang yang masih menatap bangunan itu.


"Ohh iya, temanmu itu yang tadi terpukul sampai jauh, apa benar dia tidak apa-apa setelah dipukul seperti tadi?" ucap Luna mengingat kejadian tadi.


"Itu sudah biasa terjadi diantara kami," ucap Ruri yang dilanjutkan tawa kecilnya.


"Hehh ... kukira tadi dia akan mati," ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Benar ... Akhirnya kau bisa tersenyum juga," ucap Ruri sambil tersenyum menatap gadis itu.


"T-tentu saja, k-kau bodoh ya, aku juga manusia tau," ucap Luna sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan mukanya yang mulai memerah karena tersipu malu.


"Baiklah aku pergi mencari Dhafin dulu, sampai jumpa," ucap Ruri sambil terbang cepat.


"Iya, hati-hati."


Penginapan ...


18:21 PM.


"Boleh kami masuk?" ucap Pak Angga.


"Iya silahkan," ucap Ruri.


"Heh ... sepertinya kalian sudah terbiasa dengan tempat ini," ucap Luna melihat Ruri dan teman-temannya duduk di atas sebuah kain panjang melintang.


"Tentu saja, bahkan kami pernah tidur di dalam gua," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Maaf ya jika tempat ini tidak sesuai dengan kalian," ucap Pak Angga.


"Ahh ini juga sudah cukup kok Pak, terima kasih sudah memperbolehkan kami bermalam disini untuk sementara," ucap Ruri.


"Ruri, kenapa disana agak berantakan?" tanya Rian yang melihat beberapa barang milik Ruri dan teman-temannya itu.


"Ohh iya aku lupa, tadi saat aku ingin mengambil barangku, aku lupa membereskannya kembali," ucap Ruri.


"Hmm begitu rupanya, ehh? Ruri, itu apa?" tanya Rian sambil menunjuk kearah sebuah bola berwarna putih.


"Hmm? Ohh ... itu adalah Stealth Crystal," ucap Ruri singkat.


Seketika ketiga orang itu terkejut.


"H-hah? Maksudmu stealth crystal yang harganya mahal itu?" tanya Luna tidak percaya.


"Iya."


"Sebentar, benda sebesar itu stealth crystal?" tanya Pak Angga.


"Iya Pak, aku sendiri juga awalnya terkejut melihat benda itu," ucap Dhafin.


"Memangnya itu milik siapa?" tanya Rian.


"Ruri," ucap Dhafin singkat.


"Kenapa kau membawa benda seperti itu?" tanya Rian lagi.


"Aku selalu membawanya, karena itu adalah benda yang diberikan oleh orang tuaku, makanya aku selalu membawanya agar tidak hilang," ucap Ruri sambil menatap bola putih itu.


"Stealth crystal yang kecil saja bisa dijual sampai 5 keping perak kecil, mungkin bisa sampai 1 keping perak besar, tapi bagaimana kalau sebesar itu?" gumam Rian.


"Baiklah ayo semuanya kita berjaga di tempat yang sudah ditentukan! Rian, apa kau mau membantu kami menangkap para pencuri itu?" tanya Ruri.


"Niatnya begitu, tapi aku sepertinya tidak bisa," ucap Rian.


"Heh? Kenapa?" tanya Dhafin.


"Aku ada janji dengan seseorang," ucap Rian sambil tersenyum.


"Dengan siapa?" tanya Luna.


"Temanku," kata Rian singkat.


"Begitukah? Baiklah, tidak apa, ayo pergi!" ucap Ruri sambil berdiri.


"Hmm."


"Pak, suruh para warga untuk menjaga rumah masing-masing!" ucap Ruri.


"Baiklah," ucap Pak Angga.


"Bagaimana denganku? Aku juga mau membantu," ucap Luna.


"Kau jaga penginapan ini saja," ucap Ruri.


"Cihh ... baiklah baiklah," ucap Luna.


"Memangnya kau dan teman-temanmu mau berjaga dimana?" tanya Rian kepada Ruri.


"Aku punya firasat mereka akan datang dari arah Selatan atau Timur, karena aku pikir mereka pasti akan mencuri di daerah dekat rumah yang terbakar itu, jadi aku dan teman-temanku akan berjaga disana," jelas Ruri.


"Ohh begitu rupanya, baiklah sepertinya aku akan pergi dulu, takutnya temanku terlalu lama menungguku," ucap Rian yang ingin beranjak pergi dari situ.


"Rian hati-hati ya jangan sampai terluka," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Iya, sampai jumpa," ucap Rian sambil pergi.


"Dengan ini kunyatakan ... Skakmat!" ucap Ruri pelan sambil tersenyum lebar.


Flashback on ...


"Disini? Lalu bagaimana caranya kau membawanya kesini?" tanya Pak Angga.


Membawa? Tidak. Lebih tepatnya, aku akan membuat mereka yang datang kesini tanpa perintah," ucap Ruri sambil berdiri dan tersenyum lebar melihat kearah hutan dari balik jendela bangunan itu.


"Bagaimana caranya?" ucap mereka semua terheran-heran.


Ruri kembali duduk dan mulai menjelaskan rencananya.


"Begini, nanti aku berbicara sesuatu saat ada dia, jadi saat aku membahas tentang pendapatan kita hari ini, kalian harus membawa topik itu seakan-akan baru mendengarnya," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Ohh maksudmu yang besar itu?" tanya Vina.


"Iya," jawab Ruri singkat.


"Pendapatan kalian apa?" tanya Pak Angga tak mengerti.


"Bapak akan tahu nanti," ucap Ruri sambil tersenyum.


Flashback off ...


"Ayo kita mulai rencananya!" ucap Ruri bersemangat.


"Hmmm...!!!"