Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 57 - Memasuki Wilayah Iblis



Keesokan harinya pagi yang cerah menyambut hangat, orang-orang mulai kembali melakukan aktifitasnya masing-masing, dari mulai berdagang, berburu, mengerjakan permintaan di guild dan lain sebagainya.


Pagi itu Ruri hendak kembali melanjutkan perjalanannya dan berpamitan kepada Anita dengan anaknya.


“Sudah ya, kami pergi duluan,” ucap Clarissa.


“Iya, hati-hati di jalan ya.”


“Kak, memangnya rumah kalian dimana?” tanya Cisa.


“Jauh, memangnya kau ingin kesana?” ucap Ruri bertanya kembali.


“Yaa, kapan kapan aku ingin mengunjungi Kak Ruri dan Kak Clarissa.”


“Kami tinggal di kota Timur sana, bernama Zeastic mungkin akan sangat jauh dari sini,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Baiklah akan kuingat!”


“Sekali lagi terima kasih banyak ya, Ruri, Clarissa, aku tak tahu bagaimana cara kami untuk membalasnya.”


“Sudah tak usah kau pikirkan.”


“Sudah ya, kami pergi, sampai jumpa lagi.”


“Sampai jumpa.”


...****************...


“Clarissa, apa kau merasa ada yang aneh selama perjalanan kita ini?”


“Apanya? Aku hanya merasa belakangan ini kita jarang bertarung.”


“Iya.”


Clarissa pun menyadari sesuatu dan berkata.


“Siluman?”


“Benar, kita tak pernah bertemu sekalipun dengan siluman, saat mengawal Hiro juga, kita hanya bertemu bandit saja.”


“Tapi bukankah itu hanya kebetulan saja?”


“Tidak, dari banyak kota yang pernah kita singgahi aku selalu menanyakan hal itu pada warga sekitar, tapi tak ada satu pun yang berkaitan dengan siluman.”


“Apa ini ada kaitannya dengan Pak Nathan?”


“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Ruri.


“Kau tahu bukan? Istri Pak Nathan sedang hamil mungkin sekarang sudah berjalan 3 atau 4 bulan, makanya ia menghentikan semua siluman agar istrinya aman.”


“Bisa juga sihh seperti itu, tapi sepertinya bukan.”


“Jadi bagaimana menurut pemikiranmu?”


“Berhentinya serangan siluman ini ... Terjadi sejak kira-kira sehari sebelum kita memulai perjalanan.”


“Memangnya kenapa?”


“Aku merasa ini seperti undangan agar kita cepat sampai dengan selamat.”


“H-hah? Undangan bagaimana? Atau jangan-jangan ini adalah jebakan untuk menjeba dan membunuhmu?”


“Itu bisa saja, tapi sepertinya Pak Nathan tidak akan melakukan cara sekotor itu.”


“Kalau misalkan benar begitu bukankah sebaiknya kita berhenti saja?”


Ruri terdiam sejenak untuk berpikir.


“Tidak, justru aku harus kesana secepatnya.”


“Apa aku tak bisa menghentikanmu?”


“Sepertinya begitu,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Ruri, jangan bertindak gegabah lagi ... Sekuat apapun dirimu, kau tidak akan kuat jika melawan 5 raja iblis sendirian.”


“Iya aku tahu.”


“Jadi, kita akan langsung bergegas begitu?”


“Iya.”


“Baiklah aku setuju saja jika kau tak melakukan hal konyol seperti waktu itu, sampai tidak tidur.”


“Iya iya, aku aku tahu.”


Hari demi hari terus berganti, hingga bulan pun mulai berganti beberapa kali, Ruri yang masih dalam perjalanan menuju ke salah satu kastil raja iblis terdekat pun tak sekalipun mengeluh karena jarak yang tak masuk akal itu.


Tak terasa sudah 6 bulan pun berlalu, tiba-tiba saja suara Dhafin muncul dalam benak Ruri.


“Ruri? Kau bisa mendengarku?”


“Iya, ada apa Dhafin?”


“Dhafin? Kau berbicara dengan sihir itu lagi? Kapan kau menanamkannya pada Dhafin?” tanya Clarissa.


“Sebelum mereka kembali ke ibukota.”


“Kau tak kembali? Istri Pak Nathan sudah melahirkan lohh ... “


“Benarkah? Syukurlah, apa jenis kelaminnya?”


“Perempuan, memang kau tak kembali?”


“Untuk saat ini aku tak bisa, karena aku sekarang lagi berada di tengah-tengah samudra saat ini.”


“Sa-samudra ... Mengejutkan ya ... “ kata Dhafin sambil tertawa sedikit.


“Hehe.”


“Ya sudah, tapi kau dan Kakak harus datang ya saat tiba waktunya pernikahanku dengan Naila.”


“H-heh? Kau juga sudah ingin menikah?”


“Iya, karena alasan tertentu.”


“Kapan itu?”


“Bulan depan.”


“Heh ... Selamat ya, jangan keras-keras ama Naila ya.”


“Apanya yang keras, justru dialah yang seperti mengendalikanku.”


“Hahah sepertinya kita mirip.”


“Iya, sudah dulu ya.”


“Ahh iya.”


“Pastikan kau datang!”


“Iya iya ... Sampaikan salamku dan Clarissa buat semuanya.”


“Iya siap.”


“Ruri, siapa yang mau menikah?” tanya Clarissa.


“Dhafin dan Naila.”


“H-hahh?!”


“Berani-beraninya anak itu mendahuluiku?!” gumam Clarissa sambil tersenyum kecut.


“A-anuu ... Clarissa kau baik-baik saja?”


“Ya kurang lebih begitu ... Jadi, kapan pernikahan mereka?”


“Bulan depan, dan juga Pak Nathan sudah mempunyai anak perempuan.”


“Heh? Iya ya ... Syukurlah kalau begitu.”


“Aku bingung, akan jadi seperti apa ya anaknya itu?” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Kalau Dhafin menikah bulan depan, lalu kita kapan?” kata Clarissa lagi.


“Bu-bukannya kita sudah membicarakan ini ya?”


“Tapi kau belum menentukan jelas waktunya.”


“Hadehh ... Baiklah akan kulakukan jika semua ini selesai.”


“Itu masih jawaban yang sama dan itu masih lama ... “


“Baiklah, setelah pulang dari perjalanan ini. Kau puas?!”


“Janji dulu ... “


Ruri hanya tersenyum kecut dan kemudian terbang lebih cepat meninggalkan Clarissa.


“H-hei ... Ruri!”


Kedua orang itu terus terbang menyusuri luasnya dunia, hingga pada akhirnya sebulan kemudian mereka pun sampai di sebuah kota yang dibilang oleh Pak Nathan.


“Kau yakin ini kotanya?” tanya Clarissa.


“Iya, di balik tembok sebelah barat sana terdapat jembatan yang membatasi dunia manusia dan iblis.”


“Kalau begitu kita pergi besok saja, sekarang sudah gelap.”


“Tidak langsung saja? Pernikahan Dhafin kan besok.”


“Aku tahu itu, tapi ini demi keselamatanmu juga, kau lelah bukan habis terbang hampir seharian melewati samudra tadi?”


“A-aku sihh tidak terlalu lel-“


“Pokoknya harus istirahat! Besok baru pergi! Paham?”


“I-iya dehh ... “


“Ayo cari penginapan! Sekalian cari hadiah untuk mereka berdua.”


“Iya, benar juga.”


...****************...


07:12 AM.


Paginya Ruri dan Clarissa langsung pergi ke perbatasan dan langsung di hadang oleh dua orang bertubuh kekar layaknya Minotaur.


“Apa yang kau inginkan manusia?!”


“Tu-tunggu ... Aku hanya ingin bertemu dengan raja iblis.”


“Aku hargai sifat sopan santunmu itu, tapi maaf saja kami tolak permintaan itu, apalagi pada kalian para manusia!” Kata yang satunya.


“Ruri boleh kubunuh nggak sihh?”


“Ja-jangan ... Kita kesini bukan untuk itu.”


“Tolong, sebentar saja, atau kami menunggu disini dan kalian bilang saja kalau seorang manusia bernama Ruri Narendra ingin berbicara.”


“KAU PIKIR SIAPA KAU?!” ucap pria sebelumnya sambil mengayunkan pedang besarnya.


“Clarissa langsung trobos saja, jangan lukai mereka,” ucap Ruri sambil menghindari pukulan itu kemudian melompati dinding tinggi itu.


“Ahh merepotkan ... “ kata Clarissa yang hanya bisa menurut dan mengikuti laki-laki itu dari belakang.


“Cepat kejar!”


“Ada penyusup!”


Seketika kota menjadi ricuh hanya dengan masuknya dua orang manusia ke dalam kota.


"Hei kenapa kita tidak terbang saja?" tanya Clarissa karena mereka berdua berlari melewati atap perumahan.


"Kalau terbang para iblis bisa menyerang dengan leluasa, dan hal itu akan lebih merepotkan."


"Jadi maksudmu mereka juga ingin meminimalisirkan kerusakan."


"Iya begitu, lihat saja, mereka tidak ada yang berani menyerang dari atas," ucap Ruri sambil memukul bola api yang datang dari bawah.


“Ruri memangnya kau tahu dimana tempat raja iblis itu?” tanya Clarissa saat masih berlari di atap perumahan sambil menghindari beberapa serangan.


“Kalau dari penampilannya, jelas jelas mungkin bangunan besar seperti kastil itulah tempat tinggalnya.”


“Tapi bukankah itu jauh sekali? Apa bisa kita bisa sampai disana kalau kita menghindar terus seperti ini hanya dengan berlari?”


“Tenang saja, aku akan melakukan sesuatu ... Clarissa, bantu aku mengulur waktu untuk menahan semua serangan yang datang,” ucap Ruri berhenti sebentar kemudian terbang ke atas dan menatap bagian depan kastil.


“Baiklah aku mengerti,” kata Clarissa sambil mengeluarkan kedua sayapnya dan mulai menangkis semua serangan.


“Analisis daerah ... “


“Ruri cepatlah!” ucap Clarissa terkejut melihat banyak iblis mengitarinya dan mulai melancarkan serangan.


“Bunuh kedua manusia itu! Tembak!” ucap seorang iblis dan langsung menembakkan bola api besar.


“Selesai, cepat masuk!”


*Duaaaarrr ...


“Apa kena?” ucap salah seorang iblis.


“Sudah jelas.”


“Tapi kenapa mereka tidak jatuh?”


“Entahlah, mungkin mereka membuat protector, jadi bersiap untuk menyerang kembali!”


“Baik!”


Saat efek dari ledakkan itu menghilang semua iblis yang mengepung kedua manusia itu pun terkejut karena tak menemukan dimana tubuh manusia itu.


“Di-dimana mereka?!"


“ .... “


“Itu, disana?”


“Bagaimana bisa mereka sudah ada di depan kastil?!”


“Cepat kejar mereka, nyawa ratu dalam bahaya!”


“Ayo Clarissa!” ucap Ruri sambil menendang pintu besar itu kuat-kuat sampai terbuka.


“Iya.”


“Tunggu, kita kemana?” tanya Clarissa banyak jalan bercabang.


“Sudah, lurus saja.”


“Dari mana kau tahu?”


“Kalau jaraknya sudah dekat, aku bisa merasakannya.”


“Tapi tempat ini kenapa tidak ada penjaganya?”


“Entahlah, aku juga ingin tahu itu.”


Sampai pada di sebuah ruangan yang hanya ada jalan lurus seperti sebuah lorong besar yang berhujungkan pintu besar, Ruri pun menghentikan langkahnya.


“Ada apa Ruri?”


“Ini jebakan!” ucap Ruri


"H-hah? Apa?"


"Tapi sudahlah aku akan melakukan sesuatu nanti," ucap Ruri sambil melempar sebuah pedang es ke pintu besar itu.


*Duuuuaarrr ...


Ledakan besar terjadi yang membuat pintu itu hancur berkeping-keping. Dan tampak seorang wanita duduk di sebuah kursi singgasana berada jauh di depan sana.


“Kau memang hebat, manusia,” katanya sambil tersenyum.