Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 34 - Berjumpa Kembali



Pagi itu matahari mulai menampakkan diri dari balik pegunungan, embun pagi sedikit demi sedikit mulai mengering, angin yang sesekali berhembus pelan membuat suana pagi itu terasa begitu damai, begitupun kenyataannya, yang sebelumnya daerah kaki pegunungan itu berisikan siluman dan tempat tinggalnya naga merah kini sudah tak ada lagi, hal ini benar menunjukkan bahwa kedamaian di tempat itu sudah ditentukan.


Disana terlihat seorang pria dan wanita tengah mengumpulkan sesuatu kemudian setelah selesai mereka melihat bangkai naga itu yang masih utuh.


“I-ini ... Kau yang melakukannya sendiri?” tanya Ruri sambil tersenyum melihat naga itu banyak terdapat luka gores yang cukup dalam dan leher bagian belakang yang berlubang seukuran manusia.


“Be-begitulah ... “ jawabnya sambil berpaling.


“Dasar iblis,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Yaa maaf saja kalau aku setengah iblis yah ... “ ucap Kaila sambil tersenyum dan mengacungkan tinjunya.


“Ahh iya maaf maaf ... “ ucap Ruri sambil tertawa kecil.


“Lalu, ini mau kita apakan? Tanya Ruri.


“Entahlahh ... “


“Ehh sebentar, apa di dalam kepala naga ini ada stealth crystal?” tanya Ruri.


“Sepertinya tidak, karena dia naga biasa, maksudnya bukan siluman,” jelas Kaila.


“Huuhhh ... Kukira siluman, seandainya kita bisa dapat stealth crystal seperti waktu itu, mungkin kita akan mendapatkan banyak uang,” ucap Ruri sambil mengingat-ingat saat melawan Taurus Major 5 tahun lalu.


“Waktu itu?” tanya Kaila.


“Ahh tidak, lupakan, lebih baik kita kubur saja naga in-“ ucap Ruri terpotong karena ada seseorang yang memanggilnya dari kejauhan.


“Ruri, Kaila!” ucap Anariel yang tampak dari kejauhan.


“Heh? Kalian baik-baik saja?” tanya Gary setelah sampai.


" .... "


“Sepertinya tak begitu baik-baik saja,” ucap Gary sambil melirik ke arah tangan kiri Ruri.


“Wajar sihh ... Tapi meski begitu ini tetap mustahil lohh,” kata Anariel sambil melirik ke arah Ruri dan Kaila yang masih hidup.


“Sudahlah percuma kau mau menyangkal seperti apa juga, bukankah lebih baik kita membawa mereka berdua kembali ke kota?” ucap Gary.


“Tunggu sebentar, sebelum itu kita harus melakukan sesuatu dengan naga ini, tidak mungkin kan kalau kita membiarkannya begitu saja?” ucap Ruri.


“Ahh itu tidak perlu,” ucap Anariel.


“Maksudmu?”


“Kita tinggal mengabari guild, bahwa permintaan ini sudah berhasil diselesaikan, nanti orang-orang dari guild lahh yang akan mengatur semua tentang naga ini,” jelas Anariel.


“Sebentar, ada permintaan tentang membasmi naga ini?” tanya Kaila.


“Iya benar, dan seharusnya ini untuk petualang kelas atas dan mereka harus membentuk party untuk menjalankan permintaan ini,” ucap Anariel pelan.


“Sebentar, apa sebelumnya kau sudah tahu hal ini?” tanya Kaila curiga.


“Yaahh begitulah ... Aku sempat melihatnya saat makan siang kemarin, karena kupikir sarang naga itu berada cukup jauh dari kaki gunung ini, jadi aku tak memberitahu kalian tentang ini,” jawab Anariel sambil tersenyum.


“H-hah? Bisa bisanya kau tersenyum setelah tidak memberitahu kami tentang informasi sepenting itu, kita hampir saja terbunuh tau?!” ucap Kaila kesal.


“A-aku minta maaf ... Aku tidak bermaksud mencelakakan kalian kok,“ ucap Anariel pelan sambil menundukkan kepalanya.


“Sudahlah Kaila, dibahas juga percuma, kalau ini tidak terjadi, mungkin kejadian tadi malam juga tak akan pernah terjadi,” bisik Ruri kepada Kaila yang membuat wajah Kaila memerah karena teringat akan kejadian malam tadi.


“Ba-baiklah ... kali ini aku maafkan, jadi lain kali jangan mengulanginya lagi,” ucap Kaila pelan sambil berpaling.


“Hmm baiklah, terima kasih,” ucap Anariel.


...****************...


“Wahh ini sudah lumayan untuk melanjutkan perjalanan,” ucap Ruri melihat 2 keping koin emas besar dan 1 koin emas kecil.


“Kau benar, dengan koin sebanyak itu, mungkin kita bisa bertahan untuk beberapa bulan kedepan,” sambung Kaila.


“Padahal kalian hanya melakukan permintaan selama 2 hari dan selama itu kalian bisa mendapatkan hasil segitu banyaknya ... Ahh ... Aku juga mau ... Mau mau mau ... “ rengek Anariel kepada rekannya Gary.


“Kemampuan kita tak sebanding dengan mereka berdua, jadi kita hanya akan mendapat hasil seperti biasa,” ucap Gary acuh.


“Tenang saja. Aku yakin suatu saat nanti, kalian pasti akan bisa seperti kami juga kok, asal kalian terus berlatih dan tidak putus asa akan apapun,” ucap Ruri kepada kedua orang itu.


“Aku tahu itu, makanya aku akan berjuang lagi supaya suatu saat bisa mengalahkanmu,” ucap Gary.


“Yahh semoga saja,” ucap Ruri sambil tertawa kecil.


“Jadi kalian ingin pergi sekarang?” tanya Anariel.


“Yahh begitulah ... “ ucap Ruri sambil melirik ke arah Kaila.


“Kalau begitu, terima kasih atas semuanya, kalian berdua sangat membantu,” ucap Anariel menjulurkan tangannya.


“Iya, aku juga begitu, terima kasih karena telah membantu kami, dengan begini keuangan kami bisa tercukupi untuk beberapa bulan kedepan,” ucap Ruri yang menjabat tangan Anariel.


“Ahh ... Tidak, itu hasil usahamu sendiri, kami tidak melakukan apapun,” ucap Anariel sambil tersenyum kecut.


“Ekheemm ... Mau sampai kapan kalian bersalaman?” ucap Kaila yang memalingkan pandangannya.


“Ahh ... I-iya, baiklah. Anariel, Gary kami pergi duluan ya,” ucap Ruri sambil berlalu pergi bersama Kaila.


“Iyaa, hati-hati di jalan,” ucap Anariel melambaikan tangannya.


“Sepertinya tanpa mengucapkan itu, mereka juga akan baik-baik saja,” ucap Gary di sampingnya.


“Mu-mungkin kau benar,” ucap Anariel tersenyum mendengar ucapan rekannya.


Saat hendak ingin keluar dari kota itu, Ruri pun teringat akan sesuatu.


“Ohh iya Kaila, bagaimana kalau kita membeli sebuah peta, itu mungkin akan sangat membantu,” kata Ruri.


“Hmm mungkin kau benar, karena aku juga belum pernah ke arah barat mungkin itu akan sangat membantu,” ucap Kaila sambil berpikir.


Mereka pun pergi ke salah satu toko dan membeli sebuah peta dan melihatnya.


“Sepertinya lebih baik kita pergi ke kota yang berada di barat daya dari sini saja, karena ini kota yang paling dekat dari yang lainnya, bagaimana?” tanya Ruri.


“Terserah kau, aku kan cuman ikut saja,” jawab Kaila.


“Yaahh ... Kau kan sudah tahu tujuan kita, jadi setidaknya berilah sedikit saran,” ucap Ruri sambil menghela nafas.


“Tidak, aku kan sudah bilang, a k u hanya i k u t s a j a, titik,” ucap Kaila mengulang perkataannya sambil tersenyum.


“Apa boleh buat, baiklah kita akan kesini saja, seperti yang kubilang tadi,” ucap Ruri sambil melipat kembali petanya.


“Ohh iya Ruri, apa kau sudah mencarinya di kota ini? Sepertinya kita belum mencarinya,” tanya Kaila.


"Tapi bagaimana caramu mencarinya secepat itu? Kalau ada yang terlewat bagaimana?" tanya Ruri.


"Aku memeriksa ke balai kota dan melihat daftar orang-orang yang tinggal di kota itu," jelas Ruri.


"Tapi kalau temanmu itu pendatang seperti kita bagaimana? Kan dia tidak terdaftar dalam daftar penduduk kota itu," tanya Kaila lagi.


"Yang aku lakukan bukan hanya ke balai kota saja, tapi caranya sama saja kok, aku pergi ke seluruh penginapan dan juga melihat daftar orang-orang yang menginap."


"Kau pergi ke semua penginapan?" ucap Kaila terkejut.


"Begitulah ... Hahahah" jawab Ruri dan dilanjutkan dengan tawanya.


“Dasar ... Baiklah tidak apa, kalau kau ingin mencari sekeliling kota seperti yang kau katakan tadi, ajak saja aku, jangan segan segan mengerti?” ucap Kaila.


“Baiklah baiklah.”


Mereka berdua pun kembali bergerak menuju kota di arah barat lainnya.


“Hei Ruri, aku ingin bertanya sesuatu, mungkin kedengarannya agak aneh sihh ... “ kata Kaila saat di perjalanan menuju kota selanjutnya.


“Ada apa? Tanyakan saja.”


“Kenapa kau melakukan ini?” ucap Kaila sambil memalingkan pandangannya.


“Melakukan apa?”


“Maksudku ... Tentang tujuan kita ini,” ucapnya pelan.


“Ohh maksudmu mencari Clarissa?”


“Iya, kenapa kau ingin mencarinya sampai sejauh ini? Sampai-sampai kau membahayakan nyawamu hanya untuk mencari temanmu yang entah dimana,” ucap Kaila yang masih berpaling.


“Itu karena janjiku yang kubuat dengan dirinya yang lain,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Janji? Dengan dirinya yang lain?” tanya Kaila tidak mengerti.


“Agak susah untuk menjelaskannya dan lebih baik aku tidak menceritakannya,” ucap Ruri.


“Apa tidak ada alasan lain? Seperti ... Dia adalah orang spesial atau semacamnya?” ucap Kaila pelan.


“Ada apa? Kau cemburu?” goda Ruri sambil tersenyum.


“Ti-tidak juga,” ucap Kaila yang langsung memalingkan pandangannya lagi.


“Dia adalah gadis baik, walaupun agak mengerikan sihh ... “ ucap Ruri yang membuat Kaila terkejut lalu bergumam sendiri.


“Me-mengerikan?” gumam Kaila sambil tersenyum aneh.


“Iya, tapi karena itulah yang membuatnya spesial di mata kami, dan anehnya aku dahulu juga sempat menyukainya sihh ... Hahah,” ucap Ruri dilanjutkan tawa kecilnya.


Kaila terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya.


“Ja-jadi ... Kau dulu menyukainya? Lalu bagaimana dengan sekarang?” ucap Kaila sambil tersenyum.


“Senyumanmu membahayakan,” ucap Ruri pelan.


“Tenang saja, apapun yang terjadi nantinya, aku akan selalu tetap menyukaimu, itulah kenapa aku memilihmu,” ucap Ruri sambil tersenyum lalu meraih tangan kiri Kaila dan menggenggamnya.


“Da-dasar ... Selalu saja tiba-tiba ... “ ucap Kaila sambil memalingkan pandangannya hanya untuk sekedar menutupi wajahnya yang memerah.


“Hmm kau tidak menyukainya ya? Baiklah maaf,” ucap Ruri sambil melepaskan tangannya.


Akan tetapi, Kaila langsung kembali meraih tangan kanan Ruri.


“Tidak ... aku menyukainya kok,” kata Kaila yang membuat Ruri tersipu.


“Sebentar ... Kenapa aku jadi canggung begini...!!! Padahal aku yang memulainya,” gumam Ruri yang wajahnya mulai memerah.


...****************...


“Selamat datang! Boleh aku lihat kartu identitas anda tuan?” ucap orang yang menjaga gerbang kota itu.


Ruri pun memberikan kartu identitas miliknya.


“Heh? Anda dari kota Justice kerajaan Zeastic?” ucap para penjaga itu.


“Iya, apa ada masalah tentang itu?” tanya Ruri.


“Ahh ... Tidak, hanya saja itu cukup jauh sekali, jadi apa yang kau lakukan di kota ini?”


“Aku sedang dalam perjalanan mencari seseorang, dan untuk jaga jaga aku mencarinya ke kota ini siapa tahu ada,” jawab Ruri.


“Ohh begitu rupanya, dan nona, bisa kau perlihatkan kartu identitasmu?” ucap penjaga itu langsung beralih ke Kaila.


“Ahh maaf, aku tidak mempunyai kartu itu,” ucap Kaila sambil tersenyum.


“Kalau begitu mohon maaf nona, kau belum boleh kami izinkan untuk memasuki kota ini.”


“Tunggu sebentar, dia ini ... “ ucap Ruri terpotong.


“Ada apa ini?” ucap penjaga lainnya.


“Nona ini ingin masuk namun dia tak mempunyai kartu identitas,” jelas penjaga I.


“Tapi dia rekan seperjalananku, apa tetap tak boleh?” ucap Ruri.


“Meski begitu, tetap tidak boleh tuan, kalau boleh tau siapa nama anda?” tanya penjaga II.


“Namaku, Ruri Narendra.”


“Ru-Ruri ... Narendra?” ucap penjaga II terkejut.


“Ada apa?” tanya penjaga I tidak mengerti.


“Hei nona, apa namamu Kaila Felicia?” tanya penjaga II.


“Iya benar, ada apa?”


“Kalau begitu mohon maaf atas perlakuan kami, teman anda Putri Naila sudah menunggu kalian berdua,” ucap penjaga II.


“Naila?” ucap Ruri dan Kaila sambil bertatapan sebentar.


“Be-begitu rupanya, aku belum tahu soal itu, tolong maafkan aku,” ucap penjaga I.


“Ahh tidak apa,” ucap Kaila dan Ruri berbarengan.


“Ehh tunggu. APA YANG DILAKUKAN NAILA DISINI?!” gumam Ruri tidak mengerti.