
“Kenapa jadi seperti ini terus ... ”
“Iya, One tak melakukan tugasnya seperti dulu lg, apa karena dia yang paling kuat jadi berbuat seenaknya.”
“Sepertinya one memang harus dimusnahkan.”
“Tapi kita tidak bisa melawannya. Kau tahu kan, ini tentang aturan raja iblis, larangan untuk membunuh satu sama lain, jika ada yang membunuh, maka si pembunuh akan mati dalam sekejap.”
“Aku tau itu.”
“Apa kita harus membutuhkan pengorbanan?”
“Sebaiknya jangan, jika kita terus mengurangi jumlah raja iblis, ini akan mengancam kekuatan kita. Dan manusia bisa saja mendapatkan semuanya.”
“Maka dari itu, kita harus membutuhkan bantuan muridnya.”
Seminggu pun berlalu, Dhafin dan Naila sudah kembali ke Ibukota untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.
Ruri yang berniat untuk bergerak, ia pun dengan segera pergi menemui Pak Nathan untuk meminta petunjuk tentang tempat raja iblis lainnya. Karena alasan tertentu, Ruri tak membicarakan tentang rencananya itu.
“Jadi, keputusanmu untuk membunuh iblis belum berubah?”
“Iya, apa kau akan menghentikanku?”
“Tidak, itu malah yang kuinginkan ... Lakukan sesukamu.”
“Kalau begitu, bisa kau bantu aku untuk memberitahu dimana saja tempat raja iblis itu?”
“Aku tak bisa menjelaskan detailnya, tapi kau akan segera mengetahuinya setelah sampai di salah satu tempat itu.”
“Baiklah ... “
Pak Nathan mulai menceritakan tentang dimana saja raja iblis berada.
“Maaf ya aku tak bisa memberitahumu tentang siapa yang tinggal di tempat-tempat itu.”
“Tidak apa Pak, itu sudah sangat membantu, terima kasih ya,” kata Ruri yang hendak pergi dari sana.
“Iya, cepat ya ... Waktu yang kumiliki sudah tak lama lagi,” ucap Pak Nathan hampir tak terdengar.
Walaupun hanya pelan, Ruri mendengar kata kata itu dengan jelas, dan saat Ruri ingin bertanya kepada Pak Nathan, Clarissa menepuk pundaknya.
“Ruri ada apa? Ayo pergi!”
Ruri pun mengurungkan niatnya yang mau bertanya dan segera pergi dari sana.
“Kebetulan atau bagaimana? Padahal aku ingin sekali menonton pertarungan mereka berdua, tapi kenapa pada saat-saat seperti ini sihh ... “ gumam Pak Nathan tersenyum kecut mengingat istrinya baru diketahui telah hamil dua bulan.
Flashback on
“One bilang pada muridmu untuk segera menemuiku, aku ingin membalaskan dendamku terhadap Five,” ucap two saat berada di alam bawah sadar.
“Heh? Kau ingin membalaskan dendam? Tidak biasanya ya.”
“Berisik sekali kau ini, aku hanya ingin melakukan apa yang aku ingin.”
“Baiklah aku akan menyampaikannya. Kebetulan tempatmu yang paling dekat dari sini."
Flashback off
“Apa kau bisa menghadapi two, Ruri Narendra?” gumam Pak Nathan sambil tersenyum.
“Sayang, bisa kau cuci piringnya? Aku lelah ... “
“Iya ... Akan segera kulakukan.”
"Ahh ... Aku kepengen banget menonton pertarungan mereka?!"
...****************...
“Clarissa kita langsung saja ketempat guild itu ... Sekalian mampir sebentar,“ ucap Ruri.
“Memangnya arahnya ke sana?"
“Iya searah, bahkan rute itu yang tercepat. Karena sihir dimensi yang kupunya sekarang ini hanya bisa kugunakan jika sudah benar-benar tahu suatu tempat, dengan kata lain aku pernah kesana.”
“Baiklah aku ikut saja.”
Setelah itu Ruri mengarahkan tangannya kedepan dan membuka lubang dimensi yang langsung menghubungkan kota Zeastic dengan guild Lisa.
“Mary ... !!!” ucap Clarissa.
“Cla-Clarissa? Kalian berdua kembali?”
“Sebenarnya bukan kembali, tapi baru berangkat lagi.”
“Aku tak mengerti tapi sepertinya rumit ya.”
“Begitulah.”
“Jadi, apa yang kau lakukan kembali kesini Ruri? Apa kau sebegitu kangennya ingin bertemu denganku lagi?” ucap Lisa sambil tersenyum.
“Luu? Gua?"
“Sudah ... Sudah lupakan saja apa yang kukatakan itu.”
“Seperti yang Clarissa bilang, kami hanya kebetulan lewat dan mampir sebentar," ucap Ruri lagi sambil menghela nafas.
"Begitu rupanya ... "
“Ohh iya Ruri, mumpung ada kau disini, bagaimana kau membantu mereka?” kata Lisa sambil melirik kearah Mary dan rekannya.
“Ahh iya Ruri, kami harus membuat party dan membutuhkan dua orang lagi untuk mengerjakannya,” kata Roy sambil menunjukkan selembaran kertas.
“H-hei bukankah kita harus menjelaskan detailnya dulu tentang permintaan ini?” ucap Mary.
“Tak apa, aku sudah membacanya, hanya mengawal seorang bangsawan bukan? Baikah aku akan ikut, karena waktu itu aku sudah banyak merepotkan kalian.”
“Yang lalu tak usah kau ungkit lagi, tapi apa kau yakin? Soalnya ... Alasan tak ada orang yang mau menerimanya karena ... “ kata Mary terpotong.
“Sudah tak usah kau pikirkan Mary, aku dan Ruri pasti bakal ikut membantu bagaimana pun keadaannya, kau sedang terdesak bukan?” ucap Clarissa.
“Iya sihh ... Batas waktunya sebentar lagi, jika tak ada yang menerimanya juga, bisa gawat nama baik guild ini,” kata Lisa sambil tersenyum.
“Tuhh kan, sudah tak usah khawatir pada kami.”
“Ba-baiklah ... “
Mereka pun membuat party dan memproses permintaan itu dan kemudian langsung pergi ke rumah bangsawan yang dimaksudkan. Akan tetapi, sesampainya disana, hal yang dikhawatirkan Mary pun terjadi.
“Kalian lama sekali!”
“Maaf tuan muda, tapi kami kan sudah datang sedikit lebih awal dari waktu perjanjiannya.”
“Seharusnya kalian datang satu jam lebih awal!”
“Apa-apaan bocah ini?!” bisik Clarissa sambil tersenyum kecut.
“Kan sudah kubilang ... “ ucap Mary pelan yang ikut tersenyum.
“Apa yang kalian bicarakan? Kalian membicarakanku ya?!”
“Ng-nggak kok,” ucap Mary cepat.
" .... "
“Jadi, orang-orang payah ini yang akan mengawalku? Huhh ... Ya sudahlah cepatlah bersiap! Kita akan berangkat sebentar lagi,” katanya.
“Hei bocah ... Siapa namamu?” tanya Ruri.
“RURI KAU BLAK BLAKAN SEKALI?!” gumam Mary sambil tersenyum kecut.
“Jangan panggil aku bocah!”
“Tapi kau kan memang masih bocah kan?“
“K-kau ini ... ?!”
“Tuan muda, sudah saatnya kita berangkat.”
“Baiklah ... “ ucap anak itu sambil berlalu.
“Hiro ... Namaku Hiro, ingat itu baik-baik.”
“Boleh kubunuh nggak sihh bocah itu?” ucap Clarissa sambil mengeluarkan pedang apinya.
“Ja-jangan ... Ruri kau juga, jangan asal bicara seperti tadi, itu bisa berefek pada misi ini tahu,” ucap Mary sambil tersenyum.
“Ruri, Clarissa, memang begitulah sifat anak itu, makanya banyak yang menolak permintaan ini," jelas Freed.
“Baiklah sisanya kuserahkan pada kalian ya, selamat bersabar ... “ kata Lisa sambil beranjak pergi dari sana.
"Wanita itu ... Selalu saja mengesalkan," gumam Ruri.
“Maaf ya kalau tuan muda berkata sedikit kasar, memang begitulah sifatnya, andai saja ada sesuatu yang bisa membuatnya berubah,” kata pelayan itu.
“Tak apa, kami tau kok, kalau tuan Hiro begitu,” kata Mary.
“Terima kasih, ayo kalian juga masuk kedalam!” kata pelayan itu.
“Iya.”
“Anak itu ... Sepertinya menarik,” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Apa yang kau pikirkan Ruri?” tanya Freed.
“Bukan apa-apa.”
“Lebih baik kau tidak melakukan hal yang membuat Hiro marah.”
“Tenang saja.”