
“Tidak perlu di pertanyakan lagi, aku yang merencanakan pergi ke sana, masa aku tidak ikut?” kata Naila dengan yakin.
“Baiklah, ayo pergi!”
Ruri dan kedua temannya itu pergi menjelajahi wilayah pegunungan untuk mencari petapa kehidupan yang dibicarakan orang tadi.
Hampir satu jam Ruri dan kedua temannya mencari petapa itu, namun tak kunjung ditemukan juga.
“Ruri apa kita menyerah saja mencari petapa itu?” keluh Dhafin.
“Iya, bagaimana kalau besok kita lanjutkan mencarinya, lagi juga besok kita masih ada di sini,” sambung Naila.
“Kalau begitu, kalian duluan saja, aku akan mencari di satu tempat lagi, setelah mencari di sana aku akan menyusul kalian,” ucap Ruri seraya pergi.
“Jadi bagaimana? Mau kembali duluan seperti yang dibilang Ruri?” tanya Dhafin.
“Yaa begitulah ... tidak usah ditanyakan,” jawab Naila sambil tersenyum.
Ruri terus berlari menyusuri kaki pegunungan itu, dan akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya.
“Kalau di cerita atau film, biasanya ... petapa itu tinggal di gua gua, mungkin saja petapa itu ada di dalam gua ini,” gumam Ruri sambil tersenyum.
Ruri pun tanpa berpikir panjang langsung berjalan memasuki gua itu hanya dengan pencahayaan sihir api di tangan kirinya.
Beberapa saat setelah Ruri memasuki gua itu, tiba-tiba saja sebuah benda kecil melesat cepat mengarah tepat ke kepala Ruri.
Namun dengan sigap Ruri menghindarinya.
“Apa itu tadi? Batu?” gumam Ruri yang masih waspada jika saja akan ada serangan lagi, namun ...
“Heh? Kau bisa menghidarinya? Hebat juga kau anak muda, kalau orang biasa pasti sudah mati tadi,” kata seseorang dari dalam kegelapan.
Karena mendengar suara seseorang, Ruri langsung menguatkan sihir apinya dan terlihat jelaslah seisi gua serta orang yang berbicara tadi.
“Apakah kau petapa kehidupan?” tanya Ruri kepada sesosok laki-laki yang sudah termakan usia.
“Jadi itu julukanku yang diberikan oleh orang-orang,” katanya.
Ruri sedikit terkejut lalu berkata lagi.
“Kek, jika kau memang petapa kehidupan, tolong! Pinjamkan kemampuanmu untuk memberitahuku sesuatu!” pinta Ruri kepada orang tua itu.
“Sebelum kau melanjutkan ocehanmu itu, lebih baik kau khawatirkan keselamatanmu dulu,” ucap Kakek itu sambil melempar tongkatnya dengan cepat mengarah ke Ruri.
Ruri pun langsung menangkis tongkat kayu itu menggunakan pedang es nya.
Selang beberapa saat, sebelum tongkat kayu itu menyentuh tanah, tiba-tiba saja petapa itu sudah berada di hadapan Ruri, dan ia kembali memegang tongkatnya dan memukul tepat mengenai perut Ruri, yap benar, serangan telak dari seorang kakek kakek.
Ruri yang terkena pukulan itu tidak langsung diam, ia melemparkan bola api di tangan kirinya mengarah ke langit langit gua sebagai pencahayaan tanpa menggunakan tangannya lagi, dengan begitu Ruri akan lebih leluasa bertarung dengan kedua tangannya.
“Baiklah sekarang kau sudah bisa menggunakan kedua tanganmu, apa kau pikir dengan kedua tanganmu itu bisa mengalahkanku?” ucap petapa itu sambil melompat ke arah Ruri sambil mengayunkan tongkatnya.
Ruri pun menggunakan dua pedang es untuk menahan pukulan tongkat itu dan segera menyerang balik, akan tetapi petapa itu dengan mudahnya menangkis kedua pedang Ruri hanya dengan sebuah tongkat yang diayunkan secara memutar.
Ruri berkali-kali terkena serangan telak dari pukulan tongkat itu, sebaliknya, petapa itu belum sedikitpun tersentuh dari semua serangan yang Ruri lancarkan, bahkan dari serangan Ruri itulah cara ia sering berhasil menghajar Ruri.
“Sepertinya Kakek ini menahan diri, jika tidak, aku pasti sudah pingsan dari tadi, tapi, jika ini terus berlanjut ... aku bisa dalam bahaya!” gumam Ruri sambil mengayunkan pedangnya yang dapat dihindari petapa itu dengan mudah lalu menyerang balas dengan tongkatnya.
“Aku harus menjaga jarak dan melawannya menggunakan sihir saja, tapi, orang ini ... “ gumam Ruri sambil mencoba menjaga jarak dari petapa itu, namun tidak sekalipun Ruri diberi kesempatan untuk menjaga jarak darinya.
Sesaat Ruri sempat lengah dan ia pun di pukul habis-habisan oleh petapa itu tanpa berhenti sedikitpun.
“Ayolah bocah! Apa cuman segini kemampuanmu? Kemana semangatmu yang tadi saat kau memintaku melakukan sesuatu?” ucap petapa itu yang masih memukul Ruri menggunakan tongkatnya berkali-kali tiada henti.
Ruri yang masih dipukuli oleh petapa itu sudah hampir berada di ujung kesadarannya.
“Apa ini akhir dariku? Padahal perjalananku untuk mengembalikan Clarissa belum saja dimulai, tapi aku malah akan mati duluan sebelum melakukan perjalanan, apa aku memang tidak sanggup untuk menepati janjiku? Yahh mungkin inilah akhir yang tepat bagi seseorang yang menyedihkan sepertiku ini,” gumam Ruri sambil tersenyum dan menutup matanya.
“Jadi kau sudah menyerah? Sayang sekali,” gumam petapa itu sambil mundur sebentar untuk melancarkan serangan terakhirnya.
Petapa itu mengayunkan tongkatnya mengarah langsung ke kepala Ruri ...
*Duuuunngg ...
Suara benturan dinding protector dengan tongkat kayu.
“Ahh sekeras apa sihh kayu itu?” ucap seorang wanita dari luar gua.
“Meski begitu ... “ ucap seorang laki-laki yang juga dari luar gua sambil menembakkan bola api mengarah langsung ke petapa itu.
Petapa itu pun langsung melompat menjauh.
“Ruri ... !!! Apa kau benar-benar Ruri?!” Kata Dhafin setengah berteriak.
“Dhafin?” ucap Ruri pelan sambil membuka matanya sedikit.
“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau kalah hanya dengan kakek tua seperti dia?! Bukankah kau ingin melawan raja iblis hah? Apa kau sudah menyerah dengan janjimu itu hanya karena kalah dari seorang kakek tua? Yang benar saja, ayo tunjukkan padanya kekuatan dari seorang ranking 1!” ucap Dhafin lagi.
Ruri hanya tersenyum kecil lalu bangkit.
“Dasar Dhafin, seenaknya saja kalau berbicara,” ucap Ruri pelan sambil tersenyum lebar.
“Kalian berdua terima kasih sudah menolongku, Naila, bisa hilangkan protectornya?” kata Ruri sambil menoleh ke arah mereka berdua.
“Heh? Sekarang? Apa kau sudah tidak apa-apa dengan tubuh babak belur seperti itu?” tanya Naila yang ragu untuk menuruti kata kata Ruri.
“Tenang saja, percayalah padanya, sekali dia menemukan tekadnya ... Ia tidak akan kalah,” ucap Dhafin kepada Naila.
“Baiklah.”
“Heh apa kau masih bisa melawan bocah?” kata petapa itu sambil tersenyum.
“Tentu saja,” ucap Ruri sambil membuang pedangnya dan membuat tongkat es nya.
“Heh? Padahal kau saat menggunakan 2 pedang sekalipun tidak bisa mengalahkanku dan sekarang kau akan menggunakan sebuah tongkat saja?”
Ruri hanya tersenyum kecil lalu menarik nafas dan berkata.
“Speed up movement, active. Strengthens endurance, active.”
Setelah berkata itu Ruri langsung melempar tongkatnya ke arah petapa itu.
Petapa itu hanya menghindarinya karena dia lebih fokus kepada orang yang melempar tongkat es tersebut.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya petapa itu, karena Ruri bergerak dengan sangat cepat tepat di belakangnya langsung meraih kembali tongkat yang dilemparnya tadi dan segera mengayunkan ke tubuh petapa itu.
Dengan instingnya merasakan hawa kehidupan, petapa itu dapat menangkis tongkat Ruri dan sedikit terhempas kebelakang.
“Ada apa ini? Bukan hanya kecepatannya yang meningkat berkali-kali lipat, tapi kekuatannya juga. Apa ini karena kedua temannya itu membantu? Sepertinya tidak, aku tidak merasakan adanya sesuatu yang menghubungkan dengan anak ini,” gumam petapa itu yang masih berpikir akan perubahan kekuatan Ruri.
“Jadi begitu. Ternyata kau belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu ya bocah?” ucap petapa itu sambil tersenyum kecil.
Ruri hanya membalas pertanyaannya dengan senyuman.
“Baiklah, majulah!” ucap petapa itu sambil memutar sedikit tongkatnya lalu melakukan kuda-kuda.
Ruri bergerak cepat langsung ke hadapan petapa itu dan saling mengayunkan senjatanya.
*Taaaaakk ...
*Taaaaakk ...
*Buuuuukk ...
Ruri yang awalnya selalu terkena serangan dari tongkat petapa itu, kini sudah berakhir imbang.
“Dhafin sepertinya ini akan lama, mereka jadi imbang begitu, apa kita akan membantunya saja biar lebih cepat, karena sebentar lagi jam 17:00” Ucap Naila kepada Dhafin.
“Tidak, mereka tidak imbang,” kata Dhafin sambil tersenyum.
“Apa maksudmu?”
“Kalau dilihat dari pertarungannya memang terlihat imbang tapi kalau dilihat dari dalam ... Dan sekarang ini Ruri sudah berada di puncak kemenangan,“ ucap Dhafin lagi yang membuat Naila langsung mengerti.
“Jadi itu sebabnya kau dari tadi mengatakan petapa itu Kakek tua,” ucap Naila yang dilanjutkan dengan anggukan kepala Dhafin.
*Taaaaakk ...
Tongkat milik Kakek itu terlepas dari tangannya.
Karena Ruri hendak melangsungkan serangan dengan tongkat es nya, petapa itu memilih untuk menghindarinya dengan melompat jauh kebelakang, namun ...
*Brruuuuukk ...
Suara petapa itu terpeleset pedang Ruri yang sebelumnya ia telah buang.
Saat petapa itu hendak bangkit kembali, akan tetapi Ruri sudah berdiri di hadapannya, kemudian Ruri menggerakan tangannya dengan cepat.
Melihat itu, petapa itu langsung merasa takut, kemudian menutup matanya dan ...
“Ayo Kek, pertarungan sudah selesai,” ucap Ruri yang sudah mengulurkan tangannya kepada petapa itu.
“Ehh? A-ahh baiklah,” kata petapa itu sambil meraih tangan Ruri.
"Maaf yaa Kek, kalau-" ucap Ruri terpotong.
“Tidak usah berlama-lama ... langsung saja. Jadi, apa mau kalian kesini?” tanya petapa itu.
Ruri menganggukkan kepalanya dan berkata.
“Begini, apa benar Kakek punya kemampuan merasakan energi kehidupan seseorang hanya dengan membayangkannya saja maksudku walaupun orangnya tidak ada di sini?” tanya Ruri.
“Benar, tapi aku hanya bisa merasakannya jika aku sudah mengenali wajah seseorang itu,” jawab petapa itu lagi.
“H-hah? Jadi kalau kakek tidak tahu wajahnya berarti Kakek tidak bisa merasakannya?” tanya Dhafin sambil tersenyum kecut.
“Begitulah.”
“Aaaarrghhhh ... kita habiskan waktu satu setengah jam hanya untuk mencari petapa yang tidak berguna!” kata Dhafin sambil marah marah sendiri.
“Suruh siapa kau mencariku, lagi pula warga di kota sudah memberitahumu bukan?” ucap petapa itu.
“Tapi tetap saja?!” kata Dhafin yang masih frustasi
“Tenang saja, aku bisa melihat wajah seseorang melalui pikiran kalian,” ucap petapa itu lagi.
“Heh? Jadi kau bisa melakukan itu juga, kenapa tidak bilang dari awal?!” ucap Dhafin geram.
“Hei siapa namamu?” tanya petapa itu kepada Ruri.
“Namaku ... Ruri Narendra.”
“Baiklah Ruri, apa kau mengingat wajah seseorang yang kau ingin ketahui itu?” tanya petapa itu lagi.
“Iya, tentu saja,” kata Ruri dengan yakin.
“Baiklah hubungkan tanganku dengan tanganmu lalu pejamkan mata sambil membayangkan wajahnya,” jelasnya.
Ruri pun menurutinya dan tidak lama kemudian petapa itu melepaskan tangannya dari Ruri.
“Jadi bagaimana Kek? Apa dia masih hidup?” tanya Ruri cepat.
“Iya, dia masih-“ ucap kakek itu terpotong karena Ruri tiba-tiba menarik baju petapa itu sambil berkata.
“Sungguh? Kakek nggak berbohong kan?” ucap Ruri dengan cepat.
“I-iya.”
“Syukurlah,” ucap Ruri.
"Inikah yang dinamakan masih ada harapan?" gumam Ruri merasa lega.
“Jadi, Kakak masih ... ?” ucap Dhafin tidak percaya.
“Syukurlah Clarissa, ternyata kau masih hidup,” ucap Naila yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Kek, apa ada petunjuk tentang dimana dia?” tanya Ruri.
“Aku tidak tahu sampai sedetail itu, tapi aku merasakan energinya berada jauh di barat sana, entah itu sejauh mana, maaf jika tidak terlalu membantu.”
“Tidak, justru sebaliknya, kami sangat terbantu akan perkataan dari Kakek, jadi, terima kasih Kek,” ucap Ruri.
“Ahh sudahlah, cepat kalian pergi, bukankah kalian harus kembali sebelum jam 17:00,” ucap petapa itu.
“Heh? K-kenapa dia bisa tahu? Ahh aku lupa, dasar tukang mengintip pikiran orang lain, kalau begitu aku juga ingin kemampuan seperti itu?!” ucap Dhafin.
“Hah sudah jangan dengarkan dia Kek, sekali lagi terima kasih Kek,” ucap Naila sambil menyeret Dhafin.
“H-hei tu-tunggu dulu ...?!” kata Dhafin.
“Baiklah kami pergi dulu Kek, terima kasih sudah membantu kami,” ucap Ruri sambil pergi.
“Ruri,” kata petapa itu.
“Iya?”
“Aku yakin, kau pasti bisa membawanya kembali walaupun raja iblis sekalipun yang akan melawanmu.”
“Hmm,” kata Ruri sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu berlalu pergi.
"Aku tidak mengerti dengan anak itu, padahal hubungannya dengan gadis itu hanya seorang teman, tapi kenapa dia ingin sekali pergi menyelamatkan gadis itu yang sudah berada di genggaman raja iblis? Apa karena cinta? Ahh sudahlahh ... Kakek tua sepertiku sudah tak pantas mengucapkan kata cinta," gumam petapa itu sambil tersenyum lalu tertawa.
Flashback off ...
“Jadi karena itu kau ingin mencarinya?” kata Kaila.
“Iya, jadi bagaimana? Apa kau mau ikut?” tanya Ruri.
Kaila terdiam sejenak lalu berkata.
“Sepertinya menarik, baiklah aku akan ikut, dari pada aku berjalan-jalan sendiri tanpa tujuan yang jelas,” katanya sambil tersenyum.
“Baiklah sudah diputuskan, aku dan Kaila akan pergi besok,” Kata Ruri.
“Tapi ingat ini Kaila, walaupun Ruri orangnya seperti itu dia juga tetap laki-laki,” ucap Naila setengah berbisik kepada Kaila.
"Aku mengerti."
“Aku mendengarnya lohh,” kata Ruri dengan senyum anehnya.
“Bagaimana?” tanya Kaila setelah melihat Vina datang.
“Masih ada 2 mau memilih?” tawar Vina.
“Baiklah ayo kita melihat-lihat!” ucap Kaila sambil pergi bersama Vina.
“Ternyata Kaila orangnya periang yah,” ucap Naila.
“Kau benar, aku juga sempat terkejut melihatnya seperti itu, tapi dari raut wajahnya dia seperti sedang menanggung semuanya sendiri,” kata Ruri pelan.
“Iya, pasti berat baginya hidup sendiri dan tidak memiliki tujuan yang ingin dicapainya,” kata Naila.
“Karena itu Ruri, kau harus membuat perjalanan nanti agar terasa terkesan baginya dan tunjukkan padanya betapa indahnya mempunyai sebuah tujuan,” kata Dhafin.
“Iya kurasa juga begitu,” ucap Ruri sambil tersenyum.
...****************...
“Bagaimana hasilnya untuk sekarang?”
“Sepertinya mulai besok dia akan bergerak ke arah barat,” jawabnya.
“Hmm begitu, apa kau tahu tujuan dia pergi kesana?”
“Tujuannya ... “ kata wanita itu yang tidak melanjutkan perkataannya.
“Hmm?”
“Untuk tujuannya, saya belum mengetahuinya.”
“Begitu, apa dia berniat pergi sendiri?”
“Tidak, dia akan pergi bersama seorang wanita yang bernama Kaila.”
“Baiklah, lanjutkan terus tugasmu!”
“Baik.”
"Maafkan aku Ruri, untuk sementara aku akan menuruti raja iblis, karena kalau aku bunuh diri, aku tak bisa melakukannya karena aku takut kau akan menderita setelah mendengar semua itu, dan juga, aku masih ingin melihatmu hidup," gumam Clarissa sambil memejamkan matanya.