Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 35 - Menyerahkan Diri



“Ahh itu mereka, jadi mereka benar benar disini,” gumam Ruri saat melihat Naila dan Dhafin yang hendak menghampirinya di dekat gerbang masuk.


“Hmm ... Kenapa kalian bisa disini?” ucap Ruri tidak mengerti.


“Entahlah ... “ ucap Dhafin sambil melirik ke arah Naila.


“Aku hanya kebetulan lewat saja-“ ucap Naila terpotong.


“Bohong! Dia sengaja melakukannya, dan menunggumu di kota ini selama 3 hari kau tahu?!” jelas Dhafin sambil tersenyum kecut.


“Ada apa Naila? Apa ada sesuatu?” tanya Ruri.


“Tidak, hanya saja ayahku memberiku tugas untuk mengantarkan sebuah surat kepada raja di negri ini, karena kota ini berada di arah barat, jadi aku tanya kepada seluruh penjaga di kota ini, tapi mereka hanya menjawab bahwa orang seperti dirimu belum pernah terlihat, dengan berarti kau belum sampai di kota ini. Jadi aku putuskan saja untuk menunggumu disini. Begitulah ceritanya,” jelas Naila.


“Hei kau kelupaan sesuatu di cerita ringkasmu itu, saat bagian kau menyeretku untuk ikut denganmu!” ucap Dhafin.


“Tapi bukankah kau sendiri yang tidak keberatan saat aku mengajakmu?” ucap Naila sambil tersenyum.


“Dasar Dhafin, kau terlalu jujur,“ ucap Ruri.


“Di-diam kau! Jangan bicara yang tidak tidak,” kata Dhafin sambil memalingkan pandangannya.


“Hehe.”


“Bagaimana kalau kita makan siang dahulu? Kalian pasti belum makan kan?” ucap Naila kepada Kaila dan Ruri.


“Kau benar, karena kebetulan ada kalian disini, Dhafin yang teraktir ya?” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Setuju!” sambung Naila.


“Iya itu ide bagus,” ucap Kaila sambil tersenyum.


“H-hei? Apa apaan itu? Aku sama sekali tidak punya uang kalian tahu!”


“Baiklah sudah sudah, ayo kita pergi!” ucap Naila.


“Hmm!”


Mereka berempat pun pergi menuju Bar terdekat. Akan tetapi saat dijalan, mereka berhenti sejenak karena melihat 10 orang Magicalist di kota itu tengah mendekat yang mungkin hendak pergi keluar kota.


“Jadi seperti itu Magicalist?” tanya Ruri.


“Iya benar, mungkin mereka sedang ditugaskan ke luar kota. Dan lihat, yang di berjalan di depan adalah salah satu anak bangsawan di kota ini,” ucap Naila.


“Heh? Ternyata aktif juga orang-orang seperti itu ... “ gumam Ruri.


Saat Magicalist itu berpapasan dengan Ruri dan teman-temannya. Tiba-tiba salah seorang Magicalist yang berada di depan itu pun berhenti bergerak, lalu menatap mereka.


“Ada apa, Sigh?” tanya salah seorang yang berada di belakang orang bernama Sigh itu.


“Apa kalian merasakannya?” tanya Sigh kepada temannya.


“H-hah? Ehh ... Kau benar, walaupun terasa samar, tapi aku bisa merasakannya sedikit,” jawab salah seorang temannya.


“Ada apa? Merasakan apa?” tanya teman lainnya yang tak mengerti.


Terlihat orang yang bernama Sigh mendekati Ruri dan kawanannya.


“Ada apa ya?” tanya Ruri sambil menghadang menggunakan tangan kirinya karena ia menyadari kalau seorang magicalist itu mengarah kepada teman-temannya.


“Minggirlah! Aku tak punya urusan denganmu,” katanya sambil mendorong Ruri.


“Hei kau! Ikutlah dengan kami! Kalau tidak mau, aku akan membawamu walau harus menyeretmu sekalipun!” katanya kepada Kaila.


“Apa maksudmu? Kau siapa? Dan kau ingin membawaku kemana? Seenaknya saja ... ” ucap Kaila terkejut karena tiba-tiba diancam seperti itu.


“Aku sudah memperingatkanmu,” ucapnya sambil maju dan menarik lengan Kaila dengan paksa dan membawanya.


“H-hei! Apa maumu?! Lepaskan!” ucap Kaila memberontak mencoba melepaskan tangannya.


Baru beberapa langkah Sigh membawa Kaila, langkahnya pun terhenti karena seseorang menghadangnya.


“Lepaskan dia! Bukankah bisa dibicarakan baik-baik?” ucap Ruri.


“Tentu saja tidak, apa maumu? Minggir!”


“Harusnya aku yang bilang begitu, dan berhentilah memegang lengannya!” ucap Ruri kesal sambil memukul wajahnya sampai membuat orang itu terhuyung-huyung dan tak sengaja lengan Kaila ikut terlepas.


“Sialan kau?! ” ucap Sigh saat sudah berdiri dengan benar lalu berlari mendekati Ruri dan mengayunkan tinjunya yang sudah diperkuat dengan sihir.


Melihat itu Ruri tidak mau diam, Ruri pun berniat menerima pukulan orang itu dan kembali mengepalkan tangannya, lalu mengayunkan tinjunya juga.


*Duuuuggg ... Duuuuggg ...


Suara kedua orang itu terkena pukulan masing-masing.


Ruri hanya terhuyung sedikit lalu meludah. Sedangkan orang yang bernama Sigh itu terhempas kebelakang karena Ruri juga menggunakan sihir penguat di tangannya.


Semuanya terkejut melihat itu.


“Hei kalian jangan diam saja, cepat tangkap wanita itu!” perintah Sight kepada teman-temannya.


Teman-teman Sigh langsung bersiap menyerang, beberapa mengeluarkan pedangnya dan sisanya menggunakan sihir. Sedangkan, Kaila yang terkejut langsung berlari ke belakang Ruri.


“Ini gawat! Kalau di dalam kota seperti ini, aku jadi tidak leluasa bertarung, dan kalau aku serius menanggapi mereka semua, pasti bakal banyak korban. Sebisa mungkin aku harus menahan diri!” gumam Ruri.


“Apa yang sebenarnya kalian inginkan HAH?!” tanya Ruri setengah berteriak.


“Kami hanya ingin menangkap wanita itu, memangnya kau tidak menyadari kalau dia itu iblis hah?!” ucap Sigh menjawab pertanyaan Ruri dengan suara agak keras.


Mendengar itu semuanya terkejut, Dhafin, Naila termasuk Ruri sendiri.


“Ternyata aku baru menyadarinya, memang benar, sejak saat itu, aura iblis Kaila walaupun samar samar namun tetap saja terasa, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Apa karena aku sudah terbiasa jadi menghiraukannya saja? Dasar aku benar-benar lengah!” gumam Ruri kesal pada dirinya sendiri.


“Sudahlah Ruri, cukup, hentikan saja. Aku tidak mau seluruh orang di negri ini memusuhimu hanya karena melindungiku, dan jika ini terus berlanjut, bisa bisa kau dibenci semua orang, termasuk teman-temanmu sendiri,” ucap Kaila sambil tersenyum.


“Ta-tapi ... Walaupun begitu ... Aku tetap tidak mau!” ucap Ruri sambil menatap 9 orang magicalist di depannya yang perlahan maju dan siap kapan saja untuk menyerang.


“Ruri, apa yang dikatakan tuan Sigh benar?” tanya Dhafin.


“ .... “


“RURI JAWAB?!” Ucap Dhafin lagi.


Ruri terdiam sejenak lalu berkata.


“Iya benar.”


“LALU KENAPA? Hei! Jika kau benar-benar iblis menjauhlah dari Ruri! Jangan dekati dia!” ucap Dhafin.


Tiba-tiba saja setelah mendengar perkataan Dhafin, tak terasa air mata Kaila perlahan mulai menetes.


Melihat seorang iblis itu meneteskan air mata, Dhafin dan Naila pun terkejut.


“Maafkan aku. Ternyata aku memang sebaiknya mati saja saat itu, tapi entah kenapa aku sangat bersyukur masih bisa hidup sampai sekarang, dan walaupun hanya sesingkat ini aku diberi waktu bersama kalian, aku sangat bahagia, sungguh ... Aku bahagia sekali. Aku sangat bahagia sekali masih bisa merasakan kebersamaan bersama kalian walaupun aku telah menjadi setengah iblis sekalipun,” ucap Kaila sambil tersenyum, lalu berkata lagi.


“Tenang saja, aku akan menyerahkan diri kok,” ucap Kaila pelan sambil tersenyum dengan deraian air mata melintasi pipi merahnya.


“Tidak Kaila! Aku tidak ingin hal itu terjadi!” ucap Ruri agak keras.


“Sudahlah Ruri, lebih dari ini, kau benar-benar akan dalam masalah jika melanjutkan perjalanan ini bersamaku,” kata Kaila yang masih tersenyum.


“Aku tahu, tapi ... “ ucap Ruri tak melanjutkan perkataannya.


Kaila menyerka semua air matanya dan sambil tersenyum ia berkata.


“Ruri ... “


Saat Ruri berbalik badan, tiba-tiba saja wajahnya diraih oleh kedua tangan Kaila, dan tak terasa bibir hangat Kaila sudah menyentuh milik Ruri.


Ruri yang terkejut akan kejadian tak terduga itu, hanya bisa pasrah dan terlarut dalam sentuhan hangat bibir manis Kaila. Semuanya hanya terdiam, tak satupun berani mendekat ataupun berbicara. Setelah selesai, Kaila memindahkan tangannya dari wajah dan meletakkannya di pundak Ruri sambil berkata.


“Aku mencintaimu, Ruri,” ucapnya sambil tersenyum dan sedikit mundur lalu menganggukkan kepalanya seperti mengisyaratkan sesuatu.


Seketika saja ...


*Duuuuggg ...


Sebuah pukulan tepat mengenai bagian punggung Ruri dan hal itu membuatnya tak sadarkan diri.


“Ruri!” ucap Naila melihat Ruri terjatuh.


“Tenang saja, dia tidak apa-apa,” ucap magicalist yang memukul Ruri itu.


“Aneh sekali, entah kenapa pendapatku tentangnya seketika berubah. Dan anehnya lagi ... Kenapa dibagian ini terasa sesak saat aku mengatakan hal kasar kepadanya," ucap Dhafin yang juga berderaian air mata sambil memegang erat dadanya.


“Iya kau benar Dhafin, dia memang iblis, tapi ... Entah kenapa ... Firasatku mengatakan bahwa dia bukanlah musuh,” ucap Naila pelan.


“Terima kasih atas kerja samanya, tapi meski begitu, kau tetap akan dieksekusi tahu,” ucap magicalist tadi.


“Iya tidak apa,” ucap Kaila pelan sambil tersenyum dan tangannya mulai diikat.


“Bawa pemuda itu juga!” seru Sigh.


“Hei apa maksudmu tuan Sigh? Kenapa Ruri juga dibawa?” tanya Naila.


“Maaf nona Naila, aku terpaksa melakukannya, karena ini yang seperti kau tahu, dia telah membuat keributan,” ucapnya sambil hormat.


“Itu bukannya karena kau yang memulainya? Kalau kau bicarakan baik-baik mungkin dia tidak akan memukulmu!” kata Naila.


“Baiklah maaf, aku tidak akan menyangkal itu. Tapi sepertinya pemuda ini mempunyai hubungan khusus dengan iblis itu, karena tadi ... “ ucap Sigh terhenti mengingat kejadian tadi.


“Jadi aku hanya akan menahannya sebentar dan mengintrogasinya,” sambung Sigh.


“Begitu, baiklah lakukan lahh ... “ ucap Naila sambil berpaling.


“Aku akui kejadian itu membuatku tersakiti, tapi saat itu aku merasa bahwa aku ikhlas jika Ruri dengannya, seperti saat 5 tahun lalu,” gumam Kaila yang teringat akan Clarissa.