
Sesampainya di pulau itu, Ruri turun sebentar untuk menginjakkan kakinya di tanah.
“Dimana Kaila? Aku hanya bisa merasakan hawa raja iblis itu yang berada di gunung api,” ucap Ruri sambil berpikir sejenak.
Setelah beberapa saat Ruri pun mengingat sesuatu, bahwa iblis itu dapat membuka dimensi lain.
“Jadi memang harus berhadapan dengannya dulu ya?” kata Ruri sambil menatap gunung api itu, kemudian mengepalkan tangannya kuat-kuat dan kembali terbang menuju gunung api itu.
...****************...
“Hei apa kau benar-benar bisa mengatasinya?”
“Tentu saja, dan juga jangan mengganggu pertarungan kami!” kata Hoursy Loungjer berkata dengan seseorang menggunakan sihir telepati.
“Aku sebenarnya memang tak mau mengganggu, tapi manusia itu ... Dia tidak normal, dan sepertinya ia memiliki potensi sebagai pahwalan. Maka dari itu, aku dengan senang hati akan menawarkan bantuan, bagaimana?”
“Walaupun begitu ... ini adalah pertarunganku, aku tak memerlukan bantuanmu!” kata raja iblis Hoursy sambil menghentikan sihir telepatinya karena ia sudah menyadari bahwa ada seseorang yang masuk kedalam gunung api itu.
“Selamat datang Ruri Narendra, tidak ku sangka kau akan menemuiku secepat ini,” katanya sambil tersenyum.
“Sudah jangan banyak bicara! Dimana Clarissa?”
“Aku bisa saja mempertemukanmu, kalau kau bisa mengalahkanku,” ucapnya sambil tersenyum.
Ruri yang mendengar kata-kata itu langsung mengepalkan tangannya dan mulai berlari dengan cepat menuju iblis itu.
Sementara iblis itu tersenyum dan mulai meladeni Ruri dengan ikut berlari ke arahnya dan mulai mengepalkan tangan kanannya.
Kedua pria itu terus berlari, saat sudah mendekat mereka pun melompat dan saling mengayunkan tinju mereka.
*Duuuuummm ... !!!
*Fuuuuussshhh ...
Benturan kedua tinju mereka yang entah sudah di lapisi sihir apa sampai-sampai membuat efek angin yang luar biasa.
Saat keduanya menyadari bahwa satu dari mereka tidak ada yang terhempas karena pukulan mereka, Ruri dan Hoursy pun langsung menjauh sedikit kemudian mulai menyerang dengan tangan kosong.
Ruri berkali-kali mulai melancarkan pukulannya. Namun hal ini dapat ditangani oleh iblis itu dengan menangkis dan berbalik memukul, sampai sekitar satu menitan mereka saling memukul dan menepis tak ada satupun yang berhasil mengenai tepat sasaran.
“Ada apa? Apa cuman segini kemampuanmu?” ucap iblis itu sambil memukul kedua lengan Ruri yang menyilang sampai terhempas sedikit kebelakang.
Mendengar itu Ruri pun terlihat geram, ia langsung berlari kembali ke arah orang itu, kemudian melompat dan menyerang bagian kepala lawannya menggunakan kedua kaki secara bersamaan. Akan tetapi, tetap saja orang yang dihadapi pria berambut perak itu dapat menahan kedua kakinya hanya menggunakan kedua lengan.
Saat tertahan Ruri dengan cepat membungkukkan badannya dan memukul kepala orang itu menggunakan kedua tangannya.
Satu pukulan tepat mengenai kepalanya sampai membuat kepala orang itu terpaksa menunduk.
“Apa ada yang lebih sakit lagi?”
Ruri yang semakin muak, tak menyia-nyiakan kesempatan bagus untuk menyerang habis-habisan.
Saat Ruri menyentuh tanah, ia pun langsung memukul berkali-kali ke bagian tubuh pria itu, kemudian menendang dagunya sampai terlempar keatas. Tanpa memberi kesempatan, Ruri langsung melompat, berputar dan menendang tubuh iblis itu sampai melesat jauh ke dinding gunung api.
Pria yang menempel di dinding gunung api itu karena hempasan tadi, langsung berkata.
“A-apa cuman begit-“ Iblis itu yang tak melanjutkan perkataannya, karena Ruri melesat cepat kearahnya dan memukul wajah iblis itu sampai menembus dinding gunung api dan terbanting jauh ke tanah hitam di luar sana.
“Apa itu sudah cukup?” tanya Ruri pelan yang sudah berdiri di atas gunung api.
“A-aku akui ... kemampuanmu luar biasa ... tapi, tetap saja, ini semua belum cukup untuk mengalahkanku!” kata Hoursy sambil mengeluarkan sayapnya dan terbang cepat ke arah Ruri.
Ruri yang terkejut hanya bisa menyilangkan kedua tangannya sebagai tameng.
“Lemah!” kata Hoursy sambil memukul pertahanan Ruri sampai terhempas jauh ke atas.
Ruri pun berusaha mengendalikan diri untuk berhenti di udara. Namun baru beberapa saat Ruri terhenti, alangkah terkejutnya saat ia melihat pria bersayap itu sudah ada di atasnya.
“Celaka!” kata Ruri yang tak sempat membuat pertahanan dan pria itu langsung menendang kepala Ruri kebawah.
*Duuuuummm ... !!!
Suara hempasan tubuh seseorang yang menyentuh tanah hitam.
Karena hempasan tersebut, banyak debu bertebaran di udara sampai-sampai membuat seseorang yang terjatuh tadi menjadi tak terlihat.
Hoursy yang masih melayang di langit terus menatap kumpulan asap debu itu untuk mencari dimana lawannya berada.
Tiba-tiba saja dari kepulan debu itu, muncul sebuah pedang es yang melesat cepat ke arah Hoursy. Karena sudah menyadarinya, ia membuat pedang api dan menangkis pedang es yang melesat kearahnya itu.
*Taaannng ...
Ruri terus berlari menjauh, entah apa yang dipikirkannya. Akan tetapi, hal itu membuat Hoursy terbang mengejar ke arahnya.
Saat jarak mereka sudah semakin dekat, Ruri yang sudah menyadarinya langsung melompat dan berbalik.
*Taaannng ...
Suara pedang api itu yang tertahan tongkat es.
“Pemikiran yang bagus. Karena kecepatanku tak dapat terlihat oleh mata manusia biasa, kau berlari menjauh agar gerakanku dapat sedikit terlihat, tapi aku sangat terkesan kau benar-benar bisa menahannya, jika bukan kau, mungkin sudah mati tadi,” kata Hoursy yang semakin lama pedang api itu melelehkan tongkat es Ruri.
*Taaaaasss ...
Saat tongkat es itu patah menjadi dua bagian, saat itu pula Ruri melompat menjauh menghindari ayunan pedang api itu.
Dengan cepat Ruri langsung merubah dua patahan tongkat es itu menjadi dua bilah pedang dan mulai bergerak kembali menyerang.
*Taaannng ...
*Taaannng ...
*Taaannng ...
Mereka melesat dengan cepat menggunakan sihir percepatan dan saling mengayunkan pedang mereka.
Keadaan Ruri semakin tak menguntungkan karena ia mulai kelelahan, terlihat jelas dari caranya ia bernafas.
Dari jarak jauh dan dengan kecepatan tinggi mereka berdua melesat cepat kemudian saling membenturkan pedangnya.
*Taaannng ...
Suara pedang es dan pedang api yang saling beradu.
“Sepertinya kau sudah tak bisa menghiburku lagi ... “ kata Hoursy saat melihat Ruri yang sudah terengah-engah, kemudian mulai mendorong pedang es Ruri kuat-kuat sampai terdorong mundur sedikit.
“Huuuhhh ... Huuuhhh ... A-aku ... tidak akan menyerah, sebelum kau mengembalikan Clarissa?!” kata Ruri sambil berlari ke arah pria di hadapannya lalu melempar pedangnya ke arah orang itu.
Hoursy hanya menangkis pedang itu kemudian kembali mengayunkan pedangnya karena Ruri berlari kearahnya.
Dengan cepat Ruri bergerak meraih tangan pria itu yang memegang pedang dan sedikit memutar tangannya, alhasil pedang itu terlepas dan Hoursy tak bisa bergerak bebas.
“Kembalikan ... “ kata Ruri sambil menjanggal kaki Hoursy.
“ ... Clarissa!!!” sambung Ruri sambil membanting tubuh iblis itu ke tanah.
Tak berhenti disitu, Ruri langsung melancarkan kembali pukulannya di kepala pria itu.
*Duuuuggg ...
“Kembalikan Clarissa!"
*Duuuuggg
“Kembalikan Clarissa ... !!!” ucap Ruri sambil menyatukan tangannya dan melancarkan serangan terakhir langsung ke kepala.
*Duuuuummm ...
Pukulan keras yang sampai berefek debu di tanah bertebaran di udara.
“Akhirnya ... “ kata Ruri tak melanjutkan perkataannya karena saat debu yang bertebaran itu menghilang, ia terbelalak melihat yang dipukulnya tadi bukan Hoursy melainkan gumpalan darah.
“Tu-tubuh pengganti?!” ucap Ruri sambil menoleh.
Tiba-tiba saja saat Ruri menoleh, tendangan keras tepat mengenai kepalanya dan mulai terhempas jauh.
“Sepertinya kau sudah tidak bisa menghiburku lagi. Baiklah mungkin sudah saatnya aku melakukan seperti apa yang kukatakan kemarin, aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi ... Dia lahh yang akan membunuhmu,” kata Hoursy sambil tersenyum dan mengarahkan tangannya ke Ruri.
Seketika Ruri pun berpindah tempat dan mulai terjatuh di atas genangan darah tanpa batas.
Ruri menatap daerah sekitar, tak ada apa-apa hanya genangan darah yang membentang, dan beberapa tanah yang menjulang keatas.
Namun tiba-tiba saja dari salah satu tanah yang menjulang itu terdengar suara seseorang.
“Sudah lama sekali ya, Ruri.”
Ruri langsung menoleh dan terlihat jelas olehnya, seorang wanita bermata merah dan bersayap hitam, tengah terduduk menatapnya.
“Clarissa ... “