Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 21 - Mimpi buruk



"Aku sangat berterimakasih karena kau sudah membiarkan mereka pergi," kata Ruri sambil tersenyum.


"Aku kesini bukan untuk menyerang makhluk-makhluk itu, aku kesini hanya ingin mencegah kehancuran bangunan itu. Kenapa kau ingin menghancurkannya? Bukankah itu adalah satu satunya cara yang hanya bisa dilakukan oleh iblis sepertimu, Pak Nathan?" kata Soni sambil tersenyum.


"Iblis? Jadi kau memang benar-benar jadi iblis di sini?" ucap Ruri terkejut.


"Heh? Kenapa kau terkejut? Kukira kau sudah menyadarinya, karena kau berkata seperti itu padaku beberapa hari yang lalu," kata Pak Nathan kepada Ruri.


"Aku hanya beranggapan saja sihh ... bukan menyadari hal itu, hehe," kata Ruri sambil tertawa kecil.


"Dasar kau ini, ternyata kau memang masih bocah," ucap Pak Nathan sambil tersenyum.


"Jadi, kau jauh-jauh kesini hanya untuk mencegahku menghancurkan bagunan ini?" kata Pak Nathan.


"Yahh ... kurang lebih seperti itu," jawabnya.


"Yahh sudah kuduga hal ini akan terjadi. Benar aku dulu memang dilahirkan sebagai iblis, tapi sekarang aku sudah kembali menjadi manusia, dengan kata lain aku tetap akan melakukannya," kata Pak Nathan.


"Hmm ... sepertinya tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan disini," kata Soni sambil mengubah wujudnya ke dalam bentuk aslinya.


"Ternyata iblis itu bentuknya seperti itu yahh, tidak enak sekali dipandang," kata Ruri yang menahan tawanya.


"Ruri sekarang bukan waktunya tertawa, aku merasakan firasat buruk darinya, padahal sebelum ini saat aku bertemu dengannya ia tidak seperti ini," kata Pak Nathan.


"Hmm?"


"Dia yang sekarang ini lebih berbahaya," ucap Pak Nathan sambil melesat cepat dan mengayunkan tangannya hendak memukul kepala Soni namun dengan cepat Soni menghindar lalu menendang punggung Pak Nathan dan seketika saja Pak Nathan terhempas jauh.


"A-apa yang baru saja terjadi?" gumam Ruri terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Tanpa berfikir, Ruri langsung membuat puluhan jarum es dan menembakkannya ke arah Soni, karena Soni menyadarinya, ia langsung terbang kesana kemari menghindari serangan Ruri, lalu melesat cepat ke arah Ruri dan mengayunkan tangannya.


Melihat itu Ruri langsung membuat dua pedang es nya dan menahan pukulan Soni dengan pedangnya, tidak bertahan lama Soni langsung mundur sebentar dan menendang pedang Ruri ke atas sampai terlempar jauh.


"I-ini gawat!" kata Ruri melihat pedangnya terlempar jauh dan kembali menatap Soni yang tiba-tiba saja kakinya sudah mengarah ke tubuh Ruri.


Ruri menyempatkan membuat protector tepat di tubuhnya yang menjadi tujuan dari tendangan kuat milik Soni.


Namun hal itu sia sia karena protector yang dibuat Ruri pecah lalu tendangan itu mengenai tepat tubuh Ruri dan terhempas jauh.


"Lemah," kata Soni singkat yang langsung melirik ke belakang karena disana sudah ada Pak Nathan yang hendak memukulnya, akan tetapi, Soni menahannya menggunakan sayapnya dan kembali menendang dengan kuat Pak Nathan hingga terhempas jauh.


"Apa kau sekarang sudah mengerti, Ruri?" tanya Pak Nathan yang mencoba kembali bangkit.


"Yaahh ... kurang lebih aku sudah mengerti, apa kau mau mundur Pak Nathan? Karena aku akan serius mulai sekarang," kata Ruri sambil berjalan mendekat ke arah Soni.


"Heh? Kau pikir aku ini siapa? Aku hidup lebih lama darimu baik di sini ataupun di dunia sebelumnya," kata Pak Nathan yang juga berjalan mendekat ke arah Soni.


"Kau sudah tua, makanya aku berniat untuk menggantikanmu melawan makhluk ini, jadi beristirahatlah dan perhatikan saja," kata Ruri sambil tersenyum lalu membuat pedang es nya dan melemparnya ke atas.


"Untuk seukuran bocah, perkataanmu boleh juga, tapi aku tidak ingin kalah," kata Pak Nathan sambil tersenyum lalu mengambil sebuah koin dari balik sakunya dan melambungkan ke atas.


Saat koin itu menyentuh tanah, seketika saja Ruri dan Pak Nathan melesat cepat ke arah Soni.


Kedua orang itu saling membantu dalam melancarkan serangan namun hal itu tidak membuat musuhnya tergores sedikitpun.


Akan tetapi.


*Duuuugg ...


Soni menahan pukulan Pak Nathan menggunakan kedua sayapnya dan sedikit terdorong mundur.


"Sudah kuduga, walaupun diawal ia tidak terluka sama sekali, tapi jika pertarungan ini berlangsung terus menerus hasilnya akan terlihat," kata Pak Nathan sambil menembakkan beberapa bola api.


"Kau benar, ia mulai kelelahan," kata Ruri yang berlari lalu mengayunkan pedangnya ke arah Soni berkali-kali.


"Ini mulai menarik, kalian bisa mengetahui kelemahanku dalam pertarungan," kata Soni sambil melompat menjauh karena melihat benda hitam yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Ruri ... cepat menjauh dari benda hitam itu," kata Pak Nathan yang berada di belakang.


Mendengar itu Ruri langsung berlari menjauh dan seketika saja benda hitam itu mulai membesar dan menghisap yang ada di sekitarnya.


"A-apa itu?" kata Ruri melihat bola hitam itu menghisap apapun.


"Itulah distorsi ruang yang selama ini biasa disebut sebagai bencana lubang hitam raksasa," kata Pak Nathan.


"Kukira itu sihir milik Soni, aku sempat terkejut."


"Jangan senang dulu, sepertinya distorsi ruang ini bukan hanya ada di sini," kata Pak Nathan yang membuat Ruri terkejut.


"Heh? Sepertinya orang-orang yang mengungsi juga dalam masalah," kata Soni tiba-tiba tersenyum.


"H-hah?" kata Pak Nathan sambil melompat ke atap rumah yang agak tinggi dan melihat ke arah dimana para penduduk diungsikan.


"Ini gawat!" ucap Pak Nathan yang melihat 4 buah distorsi di sana.


"Itu tidak akan seru jika hanya lubang hitam raksasa saja, jadi aku akan sedikit menghiasnya," kata Soni sambil menyentikkan jarinya.


Tiba-tiba saja seluruh siluman yang ada di hutan mengarah langsung ke lubang hitam, lebih tepatnya ke arah orang-orang yang mengungsi.


"Ini gawat! Bisa bisa para penduduk karena terpaku terhadap siluman siluman itu, mereka bisa saja terkena radius distorsi ruang itu dan terhisap," gumam Pak Nathan dari ketinggian melihat ke arah orang-orang yang mengungsi.


"Ada apa Pak?" tanya Ruri yang datang menghampiri.


"Ahh tidak ... Ruri, selamatkan teman-temanmu jika kau peduli," ucap Pak Nathan.


"Kenapa?"


"Lihat saja sendiri," kata Pak Nathan sambil menunjukkan sesuatu di sebrang sana.


"H-hah? I-itu ... " kata Ruri tidak melanjutkan perkataannya.


"Kalau kau paham serahkan sisanya padaku," kata Pak Nathan.


Akan tetapi, tiba-tiba Soni muncul tepat di hadapan Ruri lalu memukulnya hingga terhempas ke bangunan sekitar.


"Jangan pergi dulu, urusan kita belum selesai, baru sebentar menghiburku kau sudah mau pergi? Sangat tidak sopan sekali," kata Soni sambil menembakkan beberapa bola api ke arah Ruri.


Dengan cepat Pak Nathan melesat dan menahan bola api itu dengan protector.


"Biarkan aku lewat!" kata Ruri pelan sambil memegangi perutnya yang baru saja terkena pukulan dan perlahan kembali bangun.


"Ada apa? Apa kau sudah kehabisan mana?" tanya Soni yang melihat tubuh Ruri sudah tidak mengeluarkan aura sebelumnya.


Ruri hanya diam dan melangkahkan kakinya perlahan menuju ke tempat pengungsian, namun lagi lagi Soni menahannya setelah memukul mundur Pak Nathan.


"Hei hei, ayo cepat, temanmu sedang kesulitan, apa kau mau berbaring di sini terus?" kata Soni yang berkali-kali menendang Ruri kesana kemari.


Disaat Ruri tengah berbaring tidak berdaya, ia menyempatkan diri melirik ke arah tempat orang-orang mengungsi lalu memfokuskan mana nya ke kedua bola matanya, seketika saja ia bisa melihat apa yang terjadi di kejauhan sana.


"Cla-Clarissa ... !!!" seru Ruri dengan suara lirih karena melihat Clarissa dalam keadaan yang terancam bahaya, yaitu bertahan dari hisapan distorsi ruang.


"Aku mohon, biarkan aku pergi menyelamatkan temanku," kata Ruri kepada Soni yang sudah berdiri di sampingnya.


"Hmm? Baiklah, silahkan saja ... "


Mendengar itu Ruri langsung bangkit perlahan lalu berjalan kembali, akan tetapi Soni langsung berkata.


"Silahkan saja ... tapi, setelah kau mengalahkanku," ucap Soni yang dilanjutkan dengan tendangan kakinya tepat mengenai punggung Ruri dan sedikit terlempar jauh.


"Ada apa? Kau tidak bisa menyelamatkan seseorang jika kau masih-" kata kata Soni terpotong saat ia menyadari bahwa ada yang tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menembaknya dengan bola api.


Dengan cepat ia menghindarinya lalu berkata.


"Tidak ku sangka kau masih bisa bergerak dengan keadaan seperti itu."


"Tentu saja, karena kita ini makhluk yang sama," ucap Pak Nathan singkat.


"Hmm? Kita memang sama, tapi dalam hal kekuatan, sekarang ini aku jauh berada di atasmu pak tua," kata Soni sambil bergerak cepat menyerang Pak Nathan.


Pertarungan kedua iblis itu tidak berlangsung lama, Pak Nathan yang tidak kuat menahan serangan Soni langsung tidak sadarkan diri.


Setelah selesai, Soni langsung menoleh ke arah Ruri yang masih bersikeras mencoba berjalan menuju ke tempat teman-temannya berada.


"Kau masih bisa berjalan?" kata Soni sambil menendang kaki kiri Ruri yang membuatnya jatuh terkapar.


"Kukira kau begitu kuat, tapi ternyata kau hanya bocah biasa," ucap Soni yang menendang Ruri berkali-kali.


Ruri tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya diam mendengar kata-kata Soni.


"Ternyata selama ini aku salah, di dunia ini aku bukanlah pemeran utama atau semacamnya, mungkin aku dihidupkan kemari hanya sekedar untuk merasakan bagaimana rasanya mempunyai teman yang mempercayaiku, karena dulu aku tidak mempunyai banyak teman," gumam Ruri.


"Tapi ... meski aku bukanlah pemeran utamanya, aku hanya ingin menyelamatkan teman-temanku," kata Ruri sambil melirik kearah teman-temannya dengan memusatkan mana di matanya.


"Clarissa masih bertahan, Dhafin juga ada disana? Syukurlah Dhafin datang membantu Clarissa," kata Ruri yang menghela nafas lega.


Akan tetapi, tatapan Ruri mulai kosong setelah ia terperanjat karena melihat di belakang Dhafin terdapat seekor Horned Wolf.


"Hei apa yang kau lihat? Aku ada di sini," kata Soni yang berkali-kali menginjakkan kakinya ke tubuh Ruri.


Akan tetapi Soni berhenti berbicara setelah kakinya kini di tahan oleh tangan kanan Ruri.


"Heh? Akhirnya kau bergerak juga."


"Jangan menghalangiku!" kata Ruri pelan sambil menembakkan bola api dengan tangan kirinya.


Soni pun melompat menjauh dari Ruri.


Ruri bangkit lalu berjalan menuju ke tempat teman-temannya berada akan tetapi Soni kembali menghadang.


Soni memukul Ruri berkali-kali tapi Ruri dapat menghindarinya.


"Sudah kubilang ... JANGAN MENGHALANGIKU?!" kata Ruri sambil memukul balik Soni dengan cepat, lalu berakhir dengan tendangan kuat tepat mengenai bagian perut Soni hingga terhempas jauh menembus beberapa bangunan.


Tanpa melirik ke arah musuhnya, Ruri langsung berpaling dan melesat cepat menuju ke tempat teman-temannya berada.


"Sepertinya aku akan berakhir sampai di sini," kata Clarissa yang sudah tidak kuat memegang sebuah tepi tembok.


"Kakak bertahan lah ... " ucap Dhafin sambil menggenggam erat tangan Clarissa.


"H-heh? Dhafin? Dhafin sudahlah, pergilah dari sini sebelum-" kata Clarissa terkejut melihat sesuatu tepat di belakang Dhafin.


"Jika aku bilang, Dhafin juga tidak akan selamat, jadi ... " gumam Clarissa.


Clarissa pun melepas pegangan Dhafin lalu mengayunkan tangannya untuk menggunakan sihir angin mengarahkan langsung ke Horned Wolf di belakang Dhafin tepat mengenai kepalanya.


"KAKAK ...?!" kata Dhafin yang melihat Clarissa terhisap kedalam distorsi ruang.


Setelah distorsi ruang itu menghisap Clarissa, tiba-tiba saja distorsi itu semakin mengecil lalu menghilang.


"Clarissa ... " kata Dhafin sambil mengepalkan tangannya kemudian menoleh ke arah Horned Wolf itu lalu memukulnya berkali-kali dan menggenggam leher siluman itu dengan kedua tangannya kuat-kuat.


Horned Wolf itu tidak berkutik lalu tiba-tiba saja tubuhnya membesar lalu meledak karena Dhafin menyalurkan sihir apinya kedalam tubuh siluman itu.


Seketika itu pula Ruri datang, karena tidak melihat Clarissa di sana ia pun bertanya.


"Dhafin ... dimana Clarissa?" kata Ruri.


"K-kakak sudah ... " kata Dhafin yang menahan air matanya sambil menundukkan kepalanya.


"Ti-tidak mungkin ... Dhafin, kau pasti bercanda, cepatlah beritahu aku," kata Ruri lagi.


Dhafin hanya diam lalu meneteskan air matanya karena tidak kuat membendungnya terlalu lama.


"Lagi lagi aku terlambat ... " kata Ruri sambil menundukkan kepalanya.