Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 31 - Naga Merah



“Bagaimana kau bisa melakukan ini semua?” kata Gary menatap Ruri heran.


“Apa kau lupa dengan apa yang kukatakan kemarin? Jadi mudah saja bagiku melawan puluhan hingga ratusan siluman,” ucap Ruri sambil menaruh alat makannya di meja.


“Sudahlah Gary, percaya saja padanya, aku merasa tidak enak kalau kau terus terusan mencurigai mereka,” ucap Anariel tersenyum.


“Baiklah ... Baiklah ... “


“Ohh iya, kan permintaan kalian masih ada 1, bagaimana kalau kami berdua ikut,” pinta Anariel.


“Ada apa?”


“Tidak, mungkin aku hanya sedikit penasaran saja bagaimana cara kalian menyelesaikan permintaan permintaan itu,” kata Anariel.


“Bukankah berarti, itu sama saja kalau kau juga mencurigai mereka Ana?” ucap Gary sambil menatap tajam Anariel.


“Ahh ... Ti-tidak kok, a-aku hanya penasaran, itu saja,” kata Anariel sedikit tersenyum.


"Artinya sama saja," gerutu Gary.


“Tidak apa kok, sepertinya untuk yang satu ini aku membutuhkan bantuan kalian,” kata Kaila.


“Bantuan?” ucap Gary dan Anariel berbarengan.


“Iya, tentang letak tempat permintaan itu.”


“Coba kulihat,” ucap Anariel sambil melihat selembaran kertas yang diberikan Kaila.


“T-tempat ini ... “ kata Anariel menaruh kertas itu di meja lalu melirik ke arah papan permintaan.


“Ada apa Anariel?” tanya Kaila.


“Ahh ti-tidak, baiklah aku dan Gary akan menemani kalian,” kata Anariel.


“Semoga tidak terjadi apa-apa,” gumam Anariel.


Beberapa menit kemudian setelah selesai makan siang, Anariel pun menyuruh Ruri dan Kaila untuk mengklaim misi tersebut agar orang di guild itu tidak khawatir akan sesuatu yang dilakukan oleh Ruri dan Kaila. Setelah selesai mereka berempat pun pergi menuju sebuah desa kecil di arah barat laut dari guild itu.


“Syukurlah, ini berjalan dengan baik seperti apa yang kuharapkan, dalam sehari ini sudah dapat 2 koin emas kecil,” ucap Ruri saat di perjalanan.


“Itu karena imbalan dari guid dan ribuan stealth crystal yang kau dapatkan,” kata Gary.


“Tapi, aku baru kali ini melihat seseorang bisa menyelesaikan permintaan sebanyak itu hanya dalam waktu sesingkat itu, sebenarnya kalian itu siapa?” tanya Anariel yang membuat semua langkah kaki terhenti.


“Iya, benar apa yang dibilang Ana, sampai sekarang belum ada seorang pun yang berhasil menyelesaikan permintaan sebanyak itu, bahkan petualang kelas atas mungkin hanya mampu 2 sampai 3 permintaan saja dalam sehari,” sambung Gary.


“Aku tidak bermaksud curiga, tapi aku hanya ingin menghilangkan keraguan yang ada di dalam diriku ini, biar ku perjelas, kalian bukan musuh kami kan?” kata Anariel dengan nada serius.


Kaila mendadak terkejut sampai-sampai tidak sanggup berkata kata.


Melihat itu, tiba-tiba saja Ruri memegang pundak Kaila yang membuatnya agak tenang kembali, lalu berkata.


“Aku hanya manusia biasa kok,” kata Ruri sambil tersenyum.


Melihat itu Anariel hanya menghela nafasnya lalu berkata.


“Sepertinya aku memang tidak perlu ragu lagi soal kalian,” ucap Anariel sambil berjalan kembali.


“Kalau Ana yang berkata seperti itu aku tidak mau tahu lagi,” sambung Gary yang mengikuti Anariel dari belakang.


“Kau baik-baik saja?” tanya Ruri kepada Kaila dengan suara pelan.


“I-iya,” ucap Kaila sambil memalingkan pandangannya.


“Terima kasih Ruri,” gumam Kaila sambil tersenyum.


“Tapi ... Aku tidak ingin selamanya membohongimu.”


“Ahh ... Kita sudah sampai,” ucap Anariel.


“Heh? Ternyata cukup jauh juga, baiklah ayo kita temui orang yang mengajukan permintaan ini, karena isi permintaan ini kurang jelas,“ kata Ruri.


‘Membasmi siluman yang berkeliaran di tepi gunung!’ begitulah isi dari kertas permintaan itu.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di kediaman orang yang mengajukkan permintaan itu dan bertanya-tanya tentang apa saja yang menyangkut permintaan itu.


Setelah bertanya, walaupun informasi telah didapat akan tetapi tiba-tiba saja perkataannya membuat semuanya bertanya-tanya.


“Ku kira, kalian yang akan melakukan permintaan utamanya, tapi meski begitu kami cukup terbantu karena kalian ingin menerima permintaan ini, jadi kalau kalian berhasil, desa ini akan tenang untuk beberapa hari ini,” katanya.


Ruri pun bertanya tapi orang itu hanya menggelengkan kepalanya karena ragu untuk menjawabnya.


“Ada apa sebenarnya? Apa ada permintaan lain di tempat ini? Yahh aku tidak terlalu peduli juga, karena tujuanku hanya menyelesaikan permintaan ini saja, lalu segera pergi,” gumam Ruri yang langsung berjalan menuju tepi gunung.


“Ruri tunggu ... Baiklah, terima kasih pak,” ucap Kaila lalu berlalu pergi, begitu pun dengan Gary dan Anariel.


“Heh ... jadi hanya sedikit silumannya, memang benar sihh para siluman ini dekat sekali dengan desa tadi, kurasa ini akan jauh lebih mudah,” kata Ruri.


“Anuu ... Ruri, karena kita mengajak Ana dan Gary, apa kau tidak ada niatan memberi kesempatan untuk mereka bertarung?” ucap Kaila mengingatkan.


“Ahh ... Iya, bagaimana? Apa kalian mau?”


Gary dan Anariel saling bertatapan sebentar lalu berkata.


“Tujuanku hanya menemani kalian,” kata Anariel.


“Benar, lagi juga kami penasaran bagaimana kalian mengalahkan semua siluman itu di misi sebelumnya,” sambung Gary.


“Ya benar, aku juga penasaran,” sambung Anariel lagi.


“Kalau kalian bilang begitu juga, aku hanya membunuh mereka menggunakan ini,” ucap Ruri sambil membuat pedang es kemudian melemparkannya ke arah salah satu Horned Wolf disana.


Dalam sekejap, kepala Horned Wolf itu terlepas dari lehernya kemudian tubuhnya mulai terjatuh dan mengeluarkan banyak darah, melihat itu Anariel dan Gary terkejut.


“Horned Wolf itu terbunuh? Hanya dengan melempar sebuah pedang dari elemen es?” ucap Anariel dan Gary pelan sambil berbarengan.


“Yahh begitulah, karena para siluman punya kemampuan beregenerasi, mungkin mengincar lehernya adalah pilihan tepat karena mudah untuk dipotong seperti itu,” kata Ruri.


“Meskipun begitu tetap saja, melempar pedang seperti itu-“ ucap Gary terpotong karena tiba-tiba setelah kematian Horned Wolf tadi, para siluman yang di sekitarnya langsung meraung dan melolong.


“Ada apa?”


“Lihat di arah sana!” ucap Kaila.


Terlihat dari kejauhan banyak siluman yang datang mendekat.


“Ahh dari sana juga ada!” ucap Anariel sambil menunjuk kearah yang berlawanan.


“Ini gawat! Lebih baik kita mundur dulu, mustahil mengalahkan mereka semua dengan jumlah segitu banyaknya,” ucap Gary.


“Iya benar, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ini sangat gawat!” ucap Anariel.


“Akhirnya muncul semua, jadi aku tidak perlu mencarinya satu satu,” gumam Ruri sambil tersenyum.


“Kaila, apa kau bisa urus yang sebelah sana?”tanya Ruri.


“Ehh tunggu, jangan bilang kalian ingin melawan itu semua?” kata Anariel tidak mengerti dengan jalan pikir kedua orang itu.


“Tenang saja, kalian berdua boleh memerhatikan saja, jadi bagaimana Kaila?” ucap Ruri sambil berjalan pelan mendekati para siluman yang mendekat itu.


“Aku bisa saja. Tapi, aku mungkin akan kesulitan, jadi aku tidak bisa menjamin akan bisa mengalahkannya sendirian,” ucap Kaila sambil tersenyum.


“Kalau begitu, biarkan kami ikut membantu,” ucap Gary yang berjalan di depan Kaila.


“Walaupun aku agak sedikit kesal karena tadi kau menyuruh kami hanya untuk memerhatikan, setidaknya biarkanlah kami untuk meminjamkan kekuatan walaupun tidak seberapa,” ucap Anariel yang sudah berada di atas pohon sambil mengambil busur yang tergantung di punggungnya.


“Kalau begitu baiklah, aku akan menyelesaikan secepat mungkin untuk membantu kalian jika seandainya ada sesuatu yang diluar dugaan,” kata Ruri sambil membuat 2 buah pedang es nya, lalu mengaktifkan sihir percepatan dan segera melesat cepat menuju para siluman yang mendekat itu.


“Apa itu tadi? Dia Mage, tapi dia bertarung di garis depan sendiri? Pantas saja dia sangat kuat, pemikiran kita dengannya sangat jauh berbeda,” ucap Gary yang tersenyum melihat Ruri bergerak cepat menuju para siluman itu dan menebas satu per satu leher makhluk itu.


“Jangan berpaling, mereka mulai mendekat!” ucap Anariel sambil menarik tali busurnya dan terlihat muncul anak panah yang entah terbuat dari apa tapi mengeluarkan cahaya.


“Aku tahu,” kata Gary yang mulai berlari dan mengayunkan pedangnya.


“Gary jangan terlalu jauh!” kata Anariel yang melihat rekannya maju sendiri karena terlalu semangat.


“Tenang saja,” itulah yang diucapkannya.


“Kita tidak sedang melawan siluman yang sedikit tau!”


Namun, Gary tetap tak mendengarkan ucapan Anariel, ia terus maju dan memotong leher siluman yang berada di sekitarnya, akan tetapi beberapa saat kemudian, Gary sempat lengah, dan ada Horned Wolf tengah melompat ke arahnya yang hendak menerkamnya.


“Gary menghindar!” seru Anariel dari kejauhan, sedangkan Gary yang terkejut tidak bisa menarik pedangnya karena masih tertancap di siluman lain.


“Dasar bodoh! Aku tidak tahu sempat atau tidak, semoga saja masih sempat!” gumam Anariel sambil menarik tali busurnya dan melepasnya.


“Ahh ini tidak akan sempat!” gumam Anariel yang tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi pada rekannya, ia pun memejamkan matanya karena ia sudah memperkirakan jarak dan kecepatan panahnya.


Namun tiba-tiba saja.


*wuuuusshh ...


Anariel kembali sedikit membuka matanya, dan terlihat olehnya Horned Wolf yang ingin menerkam Gary, tubuhnya terpotong menjadi tiga bagian.


“A-apa yang terjadi?” gumam Anariel.


“Maaf ... Maaf ... Karena kecerobohanku, kalian jadi bertindak seenaknya tanpa tahu apa yang ada di sekitarnya,” ucap Kaila sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Kaila, Anariel dan Gary menundukkan kepalanya karena merasa diri mereka lah yang dimaksudkannya.


“Mau sampai kapan kau berdiri di situ? Mau mati?” tanya Kaila sambil mengayunkan tangannya berkali-kali karena mencegah para siluman mendekati Gary yang diam termenung.


Mendengar itu, Gary terkejut karena baru menyadarinya dan langsung segera mundur.


“Maaf.”


“Tidak, ini juga kesalahanku karena belum menjelaskan rencananya sebelum kalian menyerang,” kata Kaila sambil menghela nafas.


“Jadi begini, aku akan melakukan sihir angin tingkat menengah seperti ini,” ucap Kaila sambil maju sedikit dan mengayunkan tangannya secara horizontal.


Dan sekejap saja itu terjadi, dalam radius 50 meter kedepan, seluruh siluman yang masuk dalam jangka itu terpotong menjadi dua bagian.


“Heh?” ucap Anariel dan Gary berbarengan karena terkejut.


“Seperti yang kalian lihat, untuk pertama kali ini semuanya rata, tapi tidak selamanya serangan selanjutnya akan mengenai semuanya lagi,” ucap Kaila.


“Kenapa bisa begitu?” tanya Gary.


“Seperti yang kalian tau, siluman tidak bodoh setelah melihat temannya mati dengan cara yang sama dan bagaimana pun mereka mempelajari cara mengatasinya dengan cara mereka sendiri.”


“Begitu rupanya, lantas, kenapa kau tidak langsung menyerang lagi dengan sihir yang sama? Automatis mereka bukannya jadi tidak bisa menghindar?” tanya Gary lagi.


“Sepertinya kau tidak tahu apa-apa ya? Sihir ini mempunyai jeda waktu jadi aku tidak bisa menggunakannya secara berturut-turut, jadi aku butuh suport dari jarak jauh dan jarak dekat seperti kalian berdua, tapi sepertinya aku akan menggunakan sihir tadi ketika sedang terdesak saja,” ucap Kaila.


“Tidak apa Kaila,” kata Anariel.


“Iya itu sudah cukup,” sambung Gary.


Mereka bertiga pun melakukan apa yang telah di rencanakan, walaupun membutuhkan lebih banyak waktu yang di perlukan, akan tetapi semuanya berjalan mulus.


“Heh kenapa mereka tidak mendekat? Apa setelah melihat temannya mati mereka tidak ingin melawan lagi?” ucap Gary yang menunggu para siluman itu maju namun tidak bergerak lagi.


“Apa kau mau langsung meratakannya Kaila?” tanya Anariel.


“Tidak, aku masih butuh waktu, tapi itu hanya sekitar kurang lebih 20 ekor lagi,” kata Kaila.


Tiba-tiba saja dari arah belakang ada beberapa bola api yang melesat kelangit-langit tepat berdirinya para siluman itu.


“Heh? Kalian belum selesai?” tanya Ruri sambil berjalan mendekat.


“Seperti yang kau lihat sendiri,” jawab Kaila.


“Apa boleh aku ratakan semuanya? Mumpung mereka tidak terpencar.”


“Silahkan saja, lagi juga kau sudah berniat melakukannya sebelum kau bertanya,” ucap Kaila sambil menunjuk ke arah awan yang mulai menggelap.


“Hehe.”


“Apa yang terjadi?” kata Anariel keheranan.


“Ini perbuatan Ruri,” jelas Kaila singkat.


“Hah?” ucap Anariel dan Gary.


“Lightning storm,” kata Ruri mengarahkan tangannya ke siluman-siluman itu.


Seketika saja petir menyambar, suara yang meggelegar membuat semuanya terkejut, hancurnya tanah membuat debu bertebaran di udara, angin kencang yang dihasilkan membuat daerah itu tertutup debu.


Setelah hilangnya debu itu, terlihat jelas bekas sambaran petir itu sambai membuat lubang.


“Sepertinya aku berlebihan,” pikir Ruri.


“Ternyata kau cukup hebat dalam melakukan ini,” kata Kaila.


“Ahh itu tidaklah benar,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Itu, kamu yang melakukannya?” tanya Gary sambil menunjuk ke arah lubang itu.


“Begitulah, walaupun belum cukup kuat, mungkin ini cukup untuk membunuh siluman,” jawab Ruri.


“Sepertinya, dia tidak bercanda soal menyebut dirinya pernah mengalahkan iblis,” kata Anariel kepada Gary.


“Hei, kau pikir aku berbohong begitu?” ucap Ruri setelah mendengar kata kata Ana.


“Iya jelas, tapi setelah melihat ini tidak ada pilihan lain selain mempercayainya,” kata Anariel sambil menghela nafas.


“Ayo lebih baik kita cepat cepat mengambil stealth crystalnya dan konfirmasi permintaan ini!” ucap Kaila.


“Kau benar, lagi juga sudah ingin turun hujan,” kata Ruri.


“Kau pikir awan hitam ini perbuatan siapa?” tanya Kaila dengan wajah datar.


“Hehe, iya iya maaf.”


Mereka pun mengumpulkan stealth crystal, akan tetapi saat mereka mengumpulkan stealth crystalnya, Anariel berhenti sebentar lalu menatap langit.


“Hebat sekali, seseorang bisa menggunakan sihir seperti ini, apa suatu saat aku bisa melakukannya juga?” gumam Anariel.


Saat Anariel masih menatap langit langit gelap yang hendak turun hujan, tiba-tiba saja ia melihat sesuatu dan berteriak keras.


Lantas semuanya terkejut dan bertanya.


“Ana, ada apa?”


“I-itu, Naga Merah!” kata Anariel sambil menunjuk kearah seekor makhluk terbang tepat di balik gunung.


“Be-besar sekali ... “ kata Gary dengan mata terbelalak.


Hujan mulai menetes satu per satu seakan seperti mengiringi kebesaran dari makhluk terbang itu.