Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 41 - Permintaan



07:22 AM.


Kira-kira satu setengah jam setelah kejadian itu, di sebuah bar ...


“Aku heran kemana perginya kedua orang itu,” ucap Mary meraih gelas dan meneguknya.


“Kau yakin orang itu melawan semua monsternya?” tanya Roy yakni salah satu rekannya.


“Yakin sekali! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau tahu!”


“Kalau memang begitu, mungkin mereka langsung pergi, takut kalau ada yang mengetahui identitasnya,” ucap Freed yang juga merupakan rekan Mary.


“Takut? Kenapa?” tanya Roy tidak mengerti.


“Karena mereka kuat kan ... “ jawab Freed singkat.


“Tidak ada nyambungnya sama sekali,” timpal Roy.


“Mungkin benar juga, dari wanita tadi saja ... aku sempat merasakan sesuatu yang aneh darinya,” gumam Mary.


“Mary ... Ada apa?” tanya Roy melihat rekan wanitanya itu melamun.


“Ahh ... Tidak ada apa-apa,”


“ .... “


Mereka bertiga pun kembali fokus memakan makanan masing-masing, dan tak lama kemudian dari Bar itu terdengar suara pria dan wanita tengah membicarakan sesuatu.


“Ternyata makanan di kota ini tak kalah enaknya ya ... “ Kata pria itu.


“Kau benar, sepertinya aku mungkin bisa membuatnya,” ucap wanita itu.


“Benarkah?”


“Iya, itupun kalau ada bahan-bahannya sihh ... “


“Kalau untuk itu serahkan saja padaku,” ucap pria itu sambil tersenyum.


Wanita itu menganggukkan kepalanya sebentar, lalu berkata.


“Apa kita mau pergi dari kota ini sekarang? Menurut peta sihh kota selanjutnya ada di ... Heh? Laut?” ucap wanita itu terkejut.


“Laut kah? Menurutmu kita terbang saja atau naik kapal?” tanya pria itu.


“Semuanya terserah kamu Ruri.”


“Hadehh ... sudah kuduga kau akan berkata begitu ... “


“Baiklah-baiklah ... menurutku kita lebih baik naik kapal saja,” ucap wanita itu mengusulkan.


“Kenapa?”


“Kau lihat ini ... Jaraknya cukup luas untuk terbang kesana.”


“Hmm begitu yaa ... Baiklah sudah diputuskan, ayo pergi!” ucap pria itu sambil beranjak dari kursinya, sementara wanita itu menganggukkan kepalanya lalu mengikuti pria itu dari belakang.


Saat hendak keluar dari Bar itu, pria itu berhenti sebentar karena berpapasan dengan tempat duduk seorang wanita yang mungkin dikenalnya lalu menyapanya.


“Hei nona, terima kasih atas kerja samanya tadi pagi,” ucap pria itu sambil berjalan kembali.


“Ahh ... Iya sama-sama, terima kasih juga sudah menyelamatkan kota in-“ ucap Mary terpotong karena baru mengingat orang itu.


“H-HEI?! JANGAN PERGI DULU!” ucap Mary sambil beranjak dari tempat duduknya mengejar pria dan wanita itu.


Beberapa saat kemudian ...


“Jadi ... Ada apa ya? Apa aku melakukan sesuatu?” tanya Ruri polos dengan senyumannya.


“Apa kau yakin dia orangnya?” tanya Roy tidak percaya.


“Tentu saja, mereka berdua yang hampir menghabisi semuanya,” kata Mary.


“Jadi, ada apa tentang itu?” tanya Ruri lagi.


“Sebenarnya tidak ada apa-apa, tapi setelah aku memberitahukan hal ini kepada orang-orang di guild, mereka ingin bertemu kalian dan membicarakan sesuatu,” jelas Mary.


“Bertemu kami?” tanya Kaila.


“Iya benar, ngomong-ngomong siapa nama kalian? Sepertinya aku belum pernah melihat kalian sebelumnya,” tanya wanita itu.


“Itu benar, karena kami memang bukan berasal dari sini, namaku Ruri Narendra, dan ini ... “ ucap Ruri sambil melirik kearah Kaila.


“Namaku Kaila Felicia.”


“Ohh begitu rupanya, pantas saja ... Perkenalkan aku Mary, dia Roy, dan Freed,” kata wanita itu.


“Hmm aku mengerti,” ucap Ruri.


“Baiklah, Ruri, Kaila, apa kalian mau minum?” tawar Mary.


“Ahh tidak usah ... Kami sudah makan dan minum tadi,” kata Kaila menolak.


“Iya benar, lagi juga kami sedang buru-buru,” sambung Ruri.


“Buru-buru? Kalian ingin kemana?” tanya Freed.


“Kami ingin pergi ke Barat,” jelas Ruri singkat.


“Untuk apa kalian kesana?” tanya Roy yang ikut bertanya.


“Singkatnya kami sedang mencari seseorang,” jawab Ruri sambil tersenyum.


“Hmm begitu rupanya, tapi sebelum pergi, sempatkanlah kalian untuk mampir ke guild, sepertinya mereka ingin mengatakan sesuatu yang penting,” kata wanita itu sambil menghabiskan air di gelas miliknya.


“Baiklah, bisa tolong antar kami kesana?” ucap Ruri.


“Iya, ayo!”


Guild.


“Ha-halo ... “ kata Ruri singkat setelah sampai di sana.


“Ohh jadi kalian berdua yang menghabisi semua monster itu, ternyata cukup tampan juga ya,” kata wanita yang kira-kira berusia 21 tahunan itu.


Ruri hanya tersenyum menanggapi perkataan wanita itu. Sebaliknya Kaila menatap Ruri dengan pandangan curiga. Setelah Ruri menyadari Kaila memerhatikan dirinya, barulah Ruri mulai berkata.


“Ja-jadi ada apa ya?” tanya Ruri yang masih tersenyum.


“Ada 2 hal yang ingin kuberikan pada kalian berdua,” kata wanita itu.


“2 hal?”


“Iya, pertama aku akan memberikan hadiah ini ... “ kata wanita itu sambil memberikan sebuah kantung yang penuh berisi koin perak besar.


“Koin perak besar?! Dan juga jumlahnya ... ” ucap Ruri terkejut.


“Ada apa? Apa masih kurang?”


“Ahh tidak, aku hanya sedikit terkejut karena mendapat uang sebanyak ini,” ucap Ruri yang dilanjutkan tawa kecilnya.


“Begitu ya, kalau begitu kuucapkan terima kasih banyak karena telah membantu kota ini dari serangan para monster itu,” katanya sambil tersenyum.


“Lalu satu hal lain yang ingin kau berikan itu apa? Kurasa ini sudah cukup,” tanya Ruri.


Wanita itu bangkit lalu mendekati Ruri, lalu berkata.


“Sebuah ciuman hangat, apa kau mau?” tanya wanita itu sambil memegang kedua pundak Ruri.


Ruri seketika terkejut dengan apa yang didengarnya lalu menjauh sedikit.


“Kami tolak! Dan jika kau hanya ingin mengatakan itu kami akan langsung pergi!” ucap Kaila cepat sambil menghalangi wanita itu.


“Hahah, maaf maaf atas perbuatanku ini, aku hanya bercanda kok,” katanya yang masih sedikit tertawa.


“Jadi satu hal itu apa?” tanya Kaila.


Wanita itu kembali duduk di kursinya lalu berkata.


“Permintaan.”


“Permintaan?” ucap Ruri dan Kaila berbarengan.


“Iya, untuk lebih jelasnya lihat ini,” ucap wanita itu sambil memberikan selembar kertas permintaan.



“Ini siluman?” tanya Kaila.


“Iya benar, sering kali siluman ini muncul kemudian memakan para warga, dan tak segan segan siluman ini membakar apapun di sekitarnya menggunakan sihir api yang keluar melalui mulutnya."


“Mirip seperti naga ya?” ucap Ruri.


“Benar, hanya saja ini seekor burung, meskipun begitu, burung ini memiliki ukuran yang berbeda dari burung lainnya, jadi bagaimana? Apa kalian mau menerima permintaan ini?” tanya wanita itu.


“Kenapa tidak meminta hal ini kepada petualang kelas atas saja?” tanya Kaila.


“Sudah lama kami melakukannya, tapi, tidak ada yang bisa membunuh siluman itu.”


“Bagaimana Kaila? Apa kita akan menerimanya?” bisik Ruri.


“Lebih baik jangan, itu berbahaya, apa kau tidak ingat kejadian naga itu?”


“Kau benar, tapi ... “ ucap Ruri pelan.


“Terserah kamu sihh ... Aku ikut saja.”


“Kalau aku menerimanya apa yang akan terjadi? Aku takut Kaila kenapa kenapa jika menggunakan wujud iblisnya secara terus menerus,” gumam Ruri.


“Maaf, sepertinya kami tidak bisa mengambil permintaan ini, karena kami sedang terburu-buru ... “ ucap Ruri menolak.


“Hmm begitu ya? Mengecewakan sekali mendengarnya, tapi jika kalian ingin pergi dari kota ini, apa boleh wanita itu kami bunuh?” tanya wanita itu sambil melirik ke arah Kaila.


Ruri dan Kaila pun terkejut mendengar tuturan kata wanita cantik itu.


“Aku merasakan sesuatu yang aneh dengan wanita itu, jadi bagaimana? Maukah kau menyerahkan wanita itu? Atau kami akan mengambilnya secara paksa?”


“Aku tidak bisa menyerahkan Kaila." ucap Ruri singkat.


“Kalau begitu begini saja, kalian menerima permintaan ini dan kalian boleh dengan bebas pergi dari sini, atau menolak permintaan ini akan tetapi kalian harus melawan kami semua karena membiarkan seorang iblis bebas berkeliaran.”


“Cihh ... “ ucap Ruri kesal.


"Kenapa kejadian yang sama selalu terulang kembali?!"


“Ruri lebih baik kau pergi saja, tidak usah khawatirkan aku, melawan siluman itu terlalu bahaya untukmu,” kata Kaila.


“Bagaimana ini?! Aku bisa saja membunuh semua orang di guild ini, tapi hal itu akan mengakibatkan kabar buruk tentang Kaila yang mungkin saja bisa menyebar sampai negri raja itu, dan lebih buruknya lagi bisa sampai terdengar ke kerajaan Zeastic. Aku tak bisa membiarkan Kaila hidup dalam kebencian orang-orang,” gumam Ruri yang masih menundukkan kepalanya.


“Jadi, apa jawabanmu?”


Ruri mengangkat wajahnya dan berkata.


“Jelaskan lebih detail lagi tentang siluman itu!”