
"Ruri, apa kamu berniat melawan makhluk itu sendirian," tanya Clarissa sambil menundukkan kepalanya.
"I-iya begitulah," ucap Ruri pelan.
"Apa kamu pikir aku akan meninggalkanmu begitu saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Apa aku bisa melakukan itu, sementara kamu berada dalam bahaya sedangkan aku kembali mencari pertolongan?" ucap Clarissa kesal kepada Ruri.
Ruri hanya diam, tidak bisa berkata apa-apa.
"Ruri," ucap Clarissa sambil memegang pundak Ruri.
"Ingat, kita ini rekan, aku akan membantumu sebisa mungkin," ucap Clarissa lagi yang membuat Ruri terkejut.
"Hmm baiklah, terima kasih, Clarissa," ucap Ruri pelan.
"Tidak usah berterima kasih, kita adalah rekan, membantu adalah hal yang wajar," ucap Clarissa.
"Iya aku tahu, baiklah, ayo kita lakukan Clarissa," ucap Ruri sambil membuat tongkat es nya.
"Hmm," ucap Clarissa.
Sekolah ...
"Pak Nathan, apa kamu yakin untuk melakukan operasi ini besok sore?" tanya Bu Kepsek.
"Tentu saja, karena kalau dibiarkan, kota ini... tidak, bahkan dunia ini akan musnah," ucap Pak Nathan.
"Apa itu adalah sihir seseorang?" tanya ibu Kepsek.
"Tidak, lebih tepatnya itu adalah sistem alam atau sihir dari dewa," ucap Pak Nathan.
"Ahh begitu rupanya, baiklah, kurasa melanjutkannya hanya akan menguntungkan diri kita sendiri yang suatu saat akan menjadi malapetaka untuk seluruh dunia, hmm ok, aku setuju jika untuk menyelamatkan mereka semua, walaupun harus melupakan sesuatu yang hebat," ucap Ibu Kepsek sambil berlalu pergi meninggalkan Pak Nathan.
"Ternyata perkataan orang prasejarah telah merubahku kembali menjadi manusia," ucap Pak Nathan pelan sambil melihat keluar jendela.
"Heh? Ternyata Distorsi Ruang sudah terjadi lagi disana?" gumam Pak Nathan melihat bola hitam menghisap segala sesuatu di sekitarnya yang biasa warga sekitar menyebutnya sebagai bencana bola hitam raksasa.
"Padahal niat awalku memang ingin menghancurkan dunia ini menggunakan itu," ucap Pak Nathan yang menatap kearah bola hitam itu.
"Tapi, sepertinya memang aku juga yang harus mengakhiri bencana ini," ucap Pak Nathan.
...****************...
"Clarissa, beritahu aku, apa saja yang kamu ketahui tentang makhluk ini," ucap Ruri yang mulai berlari mengitari makhluk itu bersama Clarissa.
"Sebentar, aku ingin memastikan sesuatu," ucap Clarissa sambil mengayunkan tangannya menggunakan sihir angin Wind Slash mengarah ke tubuh makhluk itu, namun hal itu hanya membuatnya sedikit tergores dan segera kembali sembuh seperti semula.
*Aarrrgghh...
Suara makhluk itu.
Melihat itu, Ruri terkejut dan berkata.
"Jadi itu kemampuan regenerasi yang dimiliki siluman, hanya saja makhluk itu kemampuan regenerasinya lebih cepat dibandingkan dengan Horned Wolf," kata Ruri.
"Iya seperti yang kau lihat, kemampuan regenerasinya sangat luar biasa dibandingkan dengan siluman lain, tapi dia juga bisa merasakan sakit dan mempunyai kelemahan, bersiap lah Ruri dia akan menembakkan sihir!" ucap Clarissa yang melihat makhluk itu membuka mulut.
"Hah? Dia juga bisa menggunakan sihir?" ucap Ruri tidak percaya.
Terlihat sebuah sihir didepan mulut siluman itu berupa gabungan suatu energi alam dan membentuk seperti bola kecil berwarna hijau gelap yang semakin lama kian membesar.
"Ruri jangan menahannya!" ucap Clarissa yang melihat Ruri mencoba menahan sihir makhluk itu menggunakan dinding es nya yang ia buat menggunakan tongkat es nya, namun ...
*Buuusshh ...
Suara lontaran bola hijau makhluk itu dalam bentuk bulat utuh menuju dinding es Ruri dan seketika itu pula menembusnya lalu bergerak langsung mengarah ke Ruri.
Karena terkejut, Ruri menyempatkan diri menggunakan sihir protector ke seluruh tubuhnya.
Seketika...
*Dooommm...
*Duuuaaaarr...!!!
*Fuuusshh...
"Ruri...!!!" teriak Clarissa melihat Ruri terpental jauh akibat ledakan sihir itu.
"Tidak ku sangka tekanan sihirnya sangat kuat," gumam Ruri.
Dengan cepat Clarissa menggunakan sihir anginnya untuk menyerang siluman itu agar perhatian makhluk itu teralihkan ke dirinya.
Siluman itu pun beralih menatap Clarissa dengan pandangan marah dan kembali membuat bola energi hijau tidak besar tapi menembakkannya secara beruntun.
Clarissa pun berlari kesana kemari menghindari serangan bola hijau tersebut.
"Baiklah, walaupun ini mustahil, aku akan membuktikan jika keberadaan dan kekuatannya sama, mungkin saja cerita tentang, kelemahan dari Taurus Major bukanlah khayalan belaka," ucap Clarissa sambil berlari menghindari bola energi yang dibuat oleh siluman itu lalu mendekatinya.
Setelah sampai dibawah siluman itu tepat dekat kakinya, makhluk itu pun mulai mengangkat kedua kaki depannya tinggi tinggi dan terlihat jelas oleh Clarissa, di telapak kaki makhluk itu terdapat sebuah lingkaran sihir yang berwarna putih dan bercahaya.
"Itu dia," ucap Clarissa sambil bersiap untuk menggunakan sihir anginnya namun, dengan cepat siluman itu kembali menurunkan kakinya berniat untuk menghempaskan Clarissa menggunakan kakinya.
"Awas Clarissa...!!!" ucap Ruri sambil melesat cepat.
*Buuuumm...
*Fuuussshh...
Suara hentakan kedua kaki siluman itu yang membuat daerah sekitar menjadi bergetar kuat.
"Ada apa ini?" ucap Dhafin yang merasakan tanah yang didudukinya bergetar.
"Apa ini? Gempa bumi?" ucap Naila yang melihat sekeliling.
"Naila, menurutku tadi itu bukan gempa bumi biasa, aku merasa... tidak enak akan gempa yang barusan," kata Dhafin setelah getarannya hilang.
"Apa maksudmu, Dhafin?" tanya Naila.
"Aku tidak tahu, hanya saja... ahh tidak, semoga tidak terjadi apa-apa, ayo kita segera bergegas menuju tempat Kakak, dan yang lain," ucap Dhafin sambil berdiri.
"Tapi lukamu belum sepenuhnya sembuh," kata Naila.
"Tidak apa, ini sudah merasa lebih baik dari pada sebelumnya, terimakasih yaa, Naila," ucap Dhafin sambil tersenyum.
"Yaa terserah dehh," ucap Naila.
"Ayo pergi!" ucap Dhafin sambil berlari bersama Naila.
"Clarissa ... Kau baik-baik saja?" tanya Ruri yang melihat Clarissa terbaring tidak bergerak setelah mendorong gadis itu.
"Tidak ku sangka dia juga bisa menggunakan sihir angin dalam hentakkan kakinya," gumam Ruri sambil mengalihkan pandangannya ke siluman itu.
"I-iya, aku tidak apa-apa, bagaimana dengan dirimu sendiri? Bukankah kamu tadi itu terkena sihirnya," ucap Clarissa sambil kembali berdiri.
"Tidak, aku tidak terkena sihirnya, hanya saja aku menyempatkan diri membuat protector sesaat sebelum benda hijau itu mengenaiku," jelas Ruri.
"Hah? Kau bisa menggunakan protector juga?" ucap Clarissa terkejut.
"Kesampingkan dulu hal itu, lalu, kenapa kau maju sendirian?" ucap Ruri.
"Iya maaf, aku cuman ingin memastikan bahwa kelemahannya sama dengan cerita yang kudengar dahulu," kata Clarissa.
"Jadi, bagaimana? Apa kelemahannya sama?" tanya Ruri.
"Iya, kelemahannya pasti sama, aku melihat jelas ditelapak kakinya, ada sebuah lingkaran sihir berwarna putih yang bercahaya di setiap kakinya, dan itu sama persis dengan yang ada di cerita," jelas Clarissa.
"Jadi kelemahannya hanya di telapak kakinya saja?" ucap Ruri sambil melompat menjauh bersama Clarissa karena siluman itu terus menyerang.
"I-iya, tapi jika hanya menyerangnya di bagian kedua telapak kakinya, hal itu hanya membuatnya terjatuh lemas selama 1 menit," kata Clarissa yang membuat Ruri terkejut.
"Jadi dimana kelemahan siluman itu yang sebenarnya?" tanya Ruri lagi.
"Jadi begitu, tenang saja, aku sudah memahaminya," ucap Ruri.
"Hah? Kamu sudah mengerti bagian akhirnya?" ucap Clarissa terkejut.
"Tentu saja, itu hanya permainan kata-kata sederhana, jadi intinya kita harus melukai keempat telapak kaki siluman itu bersamaan?" ucap Ruri.
"Iya," jawab Clarissa.
"Clarissa, dalam hal ini, apa kamu bisa melukai dua kaki?" tanya Ruri.
"Entahlah, tapi akan kuusahakan, walaupun jarak antar kakinya agak tidak meyakinkan," ucap Clarissa.
"Hmm bagus, aku punya rencana," ucap Ruri sambil membisikkan rencananya.
"Apa kau yakin itu akan berhasil?" tanya Clarissa setelah mendengar rencana Ruri
"Iya, kita coba saja dulu," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Hmm baiklah aku ikuti rencanamu," kata Clarissa.
"Baiklah, ayo..!!!" ucap Ruri sambil berlari menuju bagian kanan siluman itu, sedangkan Clarissa berlari menuju bagian kiri siluman itu.
Berkali-kali siluman itu silih berganti menembaki Clarissa dan Ruri yang mencoba mendekatinya.
Setelah Ruri dan Clarissa sampai dekat kakinya, siluman itu menundukkan kepalanya hanya untuk melihat yang dilakukan kedua anak itu, kalau menyerangnya menggunakan sihir kemungkin saja bisa mengenai kaki siluman itu sendiri.
"Clarissa, sekarang serang kaki bagian depan pada satu titik secara terus menerus!" seru Ruri dari sebrang sana.
Ruri menembakkan berkali-kali jarum es nya mengarah ke satu kaki depan bagian kanan, sedangkan Clarissa berkali-kali mengayunkan tangannya menggunakan Wind Slash pada satu titik secara terus menerus.
*Aarrrgghh...
Karena merasa kesakitan, siluman itu pun mulai melangkahkan kakinya, berniat untuk menginjak kedua anak itu, akan tetapi Ruri dan Clarissa menghindarinya dengan mudah lalu kembali menyerang kaki siluman itu.
Darah siluman itu pun sudah keluar sangat banyak melalui kakinya karena tidak sempat melakukan regenerasi akibat dari serangan Ruri dan Clarissa yang tanpa henti.
Siluman itu pun mulai mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi.
"Sesuai rencana, akhirnya dia berniat menggunakan sihir anginnya dalam hentakkan kakinya lagi, dengan begitu kita dapat menyerang telapak kakinya, dan saat lemas terjatuh walaupun sebentar aku dan Clarissa akan menyerang keempat kakinya bersamaan," gumam Ruri sambil tersenyum.
Kemudian siluman itu membuka mulutnya yang membuat Ruri terkejut.
"CLARISSA ... PERGI MENJAUH?!!" Seru Ruri.
"Kenapa?" tanya Clarissa tidak mengerti.
"Dia tidak akan menghentakkan kakinya melainkan menembakkan sebuah bola hijau besar seperti tadi, tapi kali ini ia lakukan sambil berdiri," kata Ruri.
Karena terkejut mendengar penjelasan Ruri, Clarissa langsung melihat kearah ke kepala siluman itu.
Terlihat oleh Clarissa, bola energi berwarna hijau berdiameter 10 meter tepat dekat mulut siluman itu yang kapan saja siap untuk di lontarkan.
"Ahh tidak ada waktu, aku akan melindungi Clarissa menggunakan protector," gumam Ruri yang melihat bola hijau itu telah di lontarkan menuju ke tengah-tengah antara Clarissa dan Ruri.
"Walaupun protector ini hancur, setidaknya itu akan cukup untuk menahan sedikit dari ledakan yang dihasilkan, jadi Clarissa tidak akan mati oleh ledakan itu," gumam Ruri sambil mengarahkan tangannya kearah Clarissa.
Melihat protector yang mengelilingi tubuhnya, Clarissa pun langsung terkejut dan menatap kearah Ruri yang tanpa ditutupi oleh protector.
"RURI, TIDAK, LEBIH BAIK KAU MELINDUNGI DIRIMU SENDIRI?!" teriak Clarissa dengan histeris dari sebrang sana.
Ruri hanya tersenyum kearah Clarissa dan seketika saja...
*Dooommm...
*Duuuaaarrr...!!!
*Fuuussshh...
Suara ledakan besar yang dilanjutkan kencangnya angin yang dihasilkan dari ledakan itu.
Debu mulai berterbangan sampai-sampai jarak pandang pun terbatas, setelah debu mulai menghilang, Clarissa membuka matanya dan terlihat di sekelilingnya terdapat protector berwarna merah yang sudah retak.
"Hah? Bukankah tadi protector Ruri berwarna biru? Apa jangan-jangan?!" ucap Clarissa sambil melihat ke sebrang sana.
Terlihat oleh Clarissa protector berwarna merah juga mengelilingi tubuh Ruri.
Ruri dan Clarissa bertatap-tatapan sebentar sambil tersenyum lalu melihat ke arah belakang mereka.
"Fuuhhh... hampir saja, dan juga dahsyat sekali sihir itu, sampai retak protector terkuatku dibuatnya," kata Naila dari jauh.
Setelah Naila menghilangkan protectornya, Ruri dan Clarissa pun melompat menjauh dari siluman itu, lalu mendekati teman-temannya.
"Terima kasih Naila, kalau tidak ada kamu entah apa yang akan terjadi antara aku dan..." ucap Clarissa tidak melanjutkan perkataannya sambil melirik ke arah Ruri dengan wajah kesal.
"Sudah lupakan itu, bisakah kau jelaskan tentang makhluk besar itu," ucap Naila sambil mengaktifkan kembali dinding protector karena siluman itu tidak henti-hentinya menyerang menggunakan bola hijau kecil yang beruntun.
"Clarissa jelaskan kepada mereka, biar aku yang mengalihkan perhatiannya, tenang saja, kalau mengalihkan perhatiannya, tanpa terluka aku bisa," ucap Ruri sambil berlari.
"Huuhh... dasar ceroboh, terserah deh," ucap Clarissa.
"Jadi bagaimana?" tanya Naila.
"Baiklah, makhluk itu adalah Quadratus," ucap Clarissa singkat.
"Haahh?!" ucap Dhafin, Naila, dan Vina yang terkejut.
"Ma-maksudmu Quadratus itu Taurus Major?" kata Vina terkejut.
"Iya."
"Dimana kau bertemu dengan makhluk itu?" tanya Naila.
"Kesampingkan dulu hal itu, apa kalian sudah tau cerita tentang makhluk itu?" tanya Clarissa.
"Tentu saja, itu adalah cerita yang sudah menyebar keseluruh kota beberapa tahun lalu," kata Vina.
"Baiklah aku akan menjelaskan sekali lagi tentang makhluk itu dan situasinya..." ucap Clarissa yang mulai menjelaskan.
"Ternyata cerita tentang Taurus Major bukan hayalan semata," ucap Naila setelah mendengar penjelasan Clarissa.
"Hei Clarissa, apa penjelasannya masih lama?" ucap Ruri yang melompat kesana kemari menghindari serangan dari siluman itu.
"Iya iya sudah," ucap Clarissa.
"Baiklah ayo, kita bantu Ruri!" ucap Dhafin.
"Hmm," ucap mereka semua sambil berlari menuju kearah Kaki siluman itu dan menyerangnya.
Mereka semua menyerang dan menghindari kaki siluman itu yang berkali-kali menghentakkan kakinya.
"Serang terus sampai dia menaikkan kakinya!" ucap Ruri sambil menembakkan berkali-kali jarum es.
"Ahh akhirnya! semuanya pergi menjauh dari bawah sini! kita akan menjatuhkannya," ucap Ruri yang melihat makhluk itu mengangkat kedua kakinya.
Setelah agak menjauh Clarissa pun berkata.
"Cepat, serang kakinya! Wind Slash...!!!" kata Clarissa sambil mengayunkan tangannya.
"Fire Ball...!!!" ucap Dhafin yang menembakkan bola api besar mengarah langsung ke telapak kaki siluman itu.
"Sword Ice...!!!" ucap Ruri sambil melempar pedang es nya.
Saat kedua kakinya terluka, makhluk itu pun meraung sebentar lalu mulai lemas dan terjatuh.
Semuanya terkejut saat melihat siluman itu menjatuhkan diri dengan pintarnya, telapak kakinya tertutup oleh tubuhnya karena sebelum terjatuh, siluman itu menyempatkan diri menekuk kaki depannya kebelakang dan kaki belakangnya menekuk ke depan.
"Iya memang benar kita sudah membuatnya jatuh, tapi bagaimana kita menyerang keempat telapak kakinya bersamaan, kalau telapak kakinya saja disembunyikan oleh tubuh ini yang regenerasi nya di luar akal sehat?" ucap Dhafin sambil menggores sedikit tubuh siluman itu yang kemudian langsung sembuh begitu saja.