Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 25 - Pertemuan



5 Tahun kemudian ...


*Slasshh ...


Suara tebasan angin tepat mengenai leher seseorang yang membuat kepalanya terlepas dari tubuhnya.


“Tak ku sangka kau akan berguna sampai sekarang, jadi aku tidak perlu repot repot mengotori tanganku.”


“ .... “


“Hmm? Ohh iya sejak pertama kali bertemu denganmu, aku tidak pernah mendengar suaramu lagi sejak saat itu,” kata orang itu sambil menatap seorang wanita bersayap hitam yang berlumuran darah di sekitar tubuhnya.


“Pergilah!” ucap wanita itu tanpa menoleh.


“Hei hei jangan dingin begitu, baiklah lupakan saja ucapanku tadi, karena sekarang aku ingin membicarakan tugas baru untukmu.”


“Tugas baru?”


“Iya, kau akan mengawasi orang ini,” ucapnya sambil mengarahkan tangannya ke genangan darah, seketika saja genangan darah itu membentuk sebuah bola kecil, dan di gumpalan bola darah itu terlihat jelas seorang manusia.


Wanita itu langsung terbelalak melihatnya.


“APA MAKSUDMU MENGAWASI?! KAU TIDAK MENYURUHKU UNTUK MEMBUNUHNYA BUKAN?!” Kata wanita itu yang tiba-tiba saja langsung naik darah.


Namun tiba-tiba saja tubuhnya terasa membakar dengan teramat panas, sampai-sampai tubuhnya terasa hampir hancur dibuatnya.


“Aaakkhhh ... “ kata wanita itu kesakitan.


“Dasar, apa kau lupa? Selain kekuatan yang kuberikan padamu, aku juga menaruh kutukan pada segel itu, agar kau tidak memberontak.”


“Dasar pengecut!”


“Aaakkhhh ... “ kata wanita itu kesakitan lagi karena segel itu bereaksi lagi.


“Baiklah kita kembali ke awal, seperti yang kau dengar, kau hanya akan mengawasinya saja,” ucapnya sambil tersenyum.


“Kalau hanya mengawasinya saja mungkin aku bisa, tapi ... “ ucap wanita itu sambil menyentuh dadanya dengan tangan kanannya.


“Ada apa?”


“Tidak, bukan apa-apa, baiklah aku akan melakukannya.”


...****************...


“Tidak ku sangka kelulusan kita bisa secepat ini.”


“Yahh ... kau benar, Dhafin,” ucap pemuda itu kepada rekannya sambil melihat ke arah teman sekelasnya yang merayakan kelulusan mereka.


“Tapi kau hebat sekali, sejak saat itu kau selalu menjadi no 1 di sekolah, dan itu tidak adil,” ucap Dhafin sambil tersenyum kecut.


“Ayolah ini bukan saatnya untuk meratapi nasib,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Ada apa dengan Dhafin?” kata Naila.


“Entahlah, dia selalu saja iri terhadap sesuatu.”


“Yahh ... Begitulah sifatnya, sudah tidak heran lagi kalau itu Dhafin,” ucap Naila sambil tersenyum.


“Kalian berbicara seakan-akan aku tidak ada disini.”


“Itu karena Dhafin pasti akan menerima kenyataannya sendiri,” kata Naila.


“ .... “


“Bercanda bercanda.”


“Hei Dhafin, setelah ini apa yang ingin kau lakukan?” ucap Vina yang tiba-tiba bertanya.


“Sebentar, aku tidak mengerti, ini kan acara kelulusan kami, kok kamu bisa ada disini? Kau sendiri saja bahkan belum lulus,” kata Dhafin sambil menatap Vina.


“Tentu saja aku kesini sebagai teman tuan putri untuk menemaninya merayakan kelulusannya,” ucap Vina polos yang membuat Naila terkejut.


“Tuan putri? Siapa itu?” tanya Ruri tidak mengerti.


“Kau tidak tau Ruri?” ucap Vina yang membalikan pertanyaan Ruri.


Ruri hanya berpikir sebentar lalu menganggukkan kepalanya.


“Yang dia maksud itu orang ini,” ucap Dhafin sambil mendorong pelan Naila.


“Na-Naila? Tuan putri?” ucap Ruri kebingungan.


“Sssttt ... sudahlah kalian berdua, aku khawatir jika yang lain dengar,” kata Naila pelan.


“Tapi tidak apa kan kalau Ruri?” ucap Vina sambil tersenyum.


“Kalau hanya Ruri ... sepertinya bukan masalah,” katanya pelan sambil memalingkan pandangannya.


“Hmm?”


“Dengar ini, Naila itu sebenarnya putri dari raja di negri ini, dan ia juga merahasiakan identitasnya karena kemauannya dan perintah dari sang raja sendiri, sebab ayahnya ingin Naila menjalani kehidupan masa mudanya sebagai orang biasa,” bisik Vina panjang lebar.


“Heh? Benarkah?” Kata Ruri sedikit terkejut.


“Yaa begitulah,” ucap Vina.


“Jadi karena itu, ja-jangan bersikap formal padaku,” ucap Naila pelan sambil memalingkan pandangannya.


“Tenang saja, aku dari awal juga sudah memandangmu sebagai teman, walaupun sekarang aku tahu kenyataannya, pandanganku padamu juga tidak akan berubah, jadi jangan cemas,” ucap Ruri sambil memegang pundak Naila yang membuatnya sedikit tersipu.


“Aku kagum padamu, walaupun kau orang yang seperti itu, tapi kamu mau menjadi yang seperti sekarang, tidak salah aku berteman denganmu,” sambung Ruri sambil tersenyum.


“Ruri, bisakah kau hentikan itu, muka Naila nanti bisa penuh dengan warna merah,” ucap Vina yang membuat Ruri menatap wajah seseorang didepannya tengah memalingkan pandangannya.


“Ada apa denganmu Naila? Apa kau demam?” kata Ruri yang melihat wajah Naila memerah.


“Ti-tidak, aku baik-baik saja.”


“Dasar Ruri, dia sama sekali tidak peka,” ucap Vina kepada Dhafin.


“Yahh ... itu sudah sering terjadi pada Kakak, jadi tidak usah heran kalau itu Ruri,” balas Dhafin sambil tersenyum.


“Jadi bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Vina kepada Dhafin.


“Hmm ... Niatnya aku ingin menemani Ruri, tapi sepertinya aku lebih baik memutuskan untuk pergi ke ibukota dan ingin menjadi seorang magicalist,” jawab Dhafin.


“Heh? Apa kau yakin dengan kekuatan seperti itu bisa menjadi magicalist?” ucap Vina dengan nada ejekan.


“Yaa karena itu, aku ingin menjadi lebih kuat lagi, aku tidak mau kehilangan apa-apa lagi, walaupun sekarang aku tidak punya apa-apa lagi sihh ... “


“Sepertinya bukan hanya anu mu yang bertambah besar, tapi kepribadian mu juga sudah mulai berubah sedikit menjadi lebih dewasa,” ucap Vina sambil tersenyum.


“Yaa tentu saja, masa aku harus menjadi anak kecil terus, dan juga apa maksudmu dengan ‘anu' mu?” kata Dhafin sambil tersenyum dengan nada sedikit geram.


“Heh kau lupa ya? Waktu itu kau memperlihatkannya padaku,” ucap Vina sambil senyum senyum sendiri.


“Aku tidak memperlihatkannya dan juga itu karena kau langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintunya?!”


“Aku hanya ingin memberitahu sesuatu jadi bukan salahku,” jawab Vina dengan santai.


“Tapi tetap saja ... dan juga berhentilah mengingat hal itu?!” ucap Dhafin geram sambil memukul kepala Vina.


Mendengar kedua temannya ribut-ribut, Ruri langsung menoleh dan berkata.


“Hei, ada apa kalian berdua?”


“’Anu' Dhafin sudah ... “ kata Vina terpotong karena saat melirik ke arah Dhafin ia tersenyum sambil mengeluarkan bola api di tangannya.


“Anu?” kata Ruri tidak mengerti.


“Anuu ... Dhafin katanya ingin menjadi magicalist,” ucap Vina dengan senyum paksaannya.


“Seorang penyihir yang bekerja untuk menjaga keamanan kota,” jelas Naila singkat.


“Ohh jadi itu kurang lebih mirip polisi atau tentara ya? Tapi bedanya ini mengandalkan sihir,” gumam Ruri.


“Ohh begitu rupanya,” kata Ruri singkat.


“Lalu bagaimana denganmu, Naila?” ucap Dhafin sambil menatap ke arah Naila.


“Heh? Aku? Aku mungkin melanjutkan sekolah untuk mempelajari politik di ibukota,” kata Naila sambil berpikir.


“Sudah kuduga,” ucap Vina sambil menganggukkan kepalanya.


“Iya ya, tuan putri banget,” sambung Dhafin.


“Ssssttt ... kalian berdua bicaranya jangan keras-keras,” kata Naila sambil melirik kesana kemari khawatir jika ada yang mendengar perkataan mereka berdua.


“Sepertinya kita berempat memang tidak lama lagi akan berpisah ya.” Ucap Vina pelan.


Mendengar ucapan Vina itu, mereka berempat terdiam sejenak.


“Yahh kau benar Vina, suatu saat pasti kita akan mengambil jalan masing-masing, dan saat yang dimaksudkan itu, tanpa kita sadari tiba-tiba saja sudah berada di hadapan kita saja,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Kau benar Ruri,” ucap Dhafin sambil memandang keluar menatap langit malam yang dihiasi jutaan bintang bersinar terang.


...****************...


Ruang makan ...


07:12 AM.


“Ruri, di sini,” sapa seorang gadis kepada Ruri yang hendak mencari tempat duduk untuk sarapan pagi.


“Naila?” ucap Ruri pelan sambil menghampirinya.


“Dhafin mana?” tanya Naila.


“Seperti biasa, dia selalu bangun telat.”


“Iya yaa ... seharusnya aku sudah tahu itu,” ucapnya sambil tersenyum.


“ .... ”


“Kenapa suasananya jadi canggung begini sihh ...?!” gumam Naila yang masih terpaku pada senyumnya.


“Ada apa Naila?” tanya Ruri yang terheran-heran melihat tingkah temannya itu.


“Ti-tidak ... “ ucap Naila cepat.


“Hmm?”


“ .... “


Wanita itu menarik nafasnya sebentar kemudian menghela nafasnya dengan perlahan lalu berkata.


“Hmm ... Ruri.”


“Hmm?”


“Kapan kau akan pergi?”


“Entahlah, mungkin besok,” ucap Ruri singkat.


“Ahh begitu rupanya.”


“Bagaimana denganmu, Naila?” Sambung Ruri.


“Apa? Aku? Mungkin lusa aku baru akan berangkat ke Ibukota,” jawab Naila sambil berpikir.


“Heh ...? Secepat itukah kalian akan pergi?” ucap Vina tiba-tiba dari belakang yang membuat Naila terkejut.


“Huuh ... Kukira siapa, ternyata kau Vina,” kata Naila sambil menghela nafas.


“Kenapa kau begitu terkejut? Semenakutkan itukah aku ini?” ucap Vina sambil menarik sebuah kursi lalu duduk.


“Ti-tidak, bukan itu ... “ ucap Naila sambil memalingkan pandangannya.


“Ada apa ini pagi-pagi sudah ramai saja oleh kalian bertiga?” kata Dhafin yang baru masuk sambil menutup mulutnya yang masih menguap.


“Kami tidak ingin diceramahi oleh orang yang bangun telat,” kata Vina cepat.


“Seburuk itu kah orang yang bangun telat?” kata Dhafin menimpali ucapan Vina dengan pertanyaan.


Tiba-tiba saja Ruri merasakan sesuatu.


“Perasaan apa ini? Rasanya ... tidak asing,” gumam Ruri langsung menoleh ke arah jendela yang agak jauh dari tempat ia duduk.


“Ada apa Ruri?” tanya Naila yang melihat Ruri bertingkah aneh.


“Tidak, bukan apa-apa,” ucap Ruri sambil menaruh alat makan dan segera bangkit.


“Ruri, kau mau kemana?” tanya Naila.


“Aku ada urusan sebentar,” ucap Ruri sambil berjalan keluar dari penginapan.


“Padahal aku baru datang dia sudah pergi saja,” kata Dhafin sambil duduk.


Setelah berada di luar, Ruri langsung berkata.


“Hei, siapapun itu keluarlah! Kau mendengar suaraku bukan?” ucap Ruri sambil menutup matanya.


“Apa mungkin cuman perasaanku saja ya?” gumam Ruri.


Tiba-tiba saja, terdengar suara keributan kecil tidak jauh dari tempat Ruri berdiri. Karena penasaran Ruri pun menghampirinya.


“Cepat serahkan tas milikmu!”


“Kumohon jangan, ini adalah satu satunya barang yang kupunya,” ucap seorang wanita yang terpojok disebuah gang.


“Kalau kau tetap tidak mau menyerahkannya, mungkin kita berdua akan mengambilnya dengan paksa lohh ... dan juga aku tidak menjamin bahwa tubuhmu akan tetap seperti sekarang setelah kita puas bermain-main denganmu,” ucap salah seorang pria yang menodongkan sebilah pisau kepada wanita itu.


“Kumohon jangan apa-apa kan aku,” ucap wanita itu yang mulai menangis.


“H-hei jika tidak mau makanya cepat serahkan barang bawaanmu itu!”


“Kalian menodongkan senjata kepada seorang wanita dan membuatnya menangis, apa kalian itu manusia?” ucap Ruri sambil berjalan mendekat.


“Hah? Siapa kau? Mau bermain pahlawan-pahlawanan bocah?” ucap salah satu pria sambil tersenyum.


"Bocah? Padahal aku sudah berumur 18 tahun dan tinggiku sudah lumayan, tapi kenapa orang-orang yang lebih tua sedikit dariku selalu memanggilku seperti itu," gumam Ruri sambil menghela nafasnya.


“Hmm ... baiklah aku akan bermain pahlawan-pahlawanan sebentar,” ucap Ruri sambil mengarahkan tangannya ke salah satu pria, dan seketika sebuah jarum es kecil melesat dengan cepat dan menggoreskan ke baju pria itu.


“Yang selanjutnya tidak akan meleset ya,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Pe-penyihir kah?” kata rekan pria itu terkejut dan mulai ketakutan.


Lantas pria yang tergores itu langsung berkata.


“Kau pikir aku akan takut pada gertakanmu itu bocah?”


“Ohh jadi kalian pikir aku hanya menggertak? Baiklah aku akan ... “ kata Ruri sambil menyentikkan jarinya dan seketika belasan pedang es mengelilingi kedua pria itu.


Karena ketakutan lantas salah satu pria menarik wanita itu dan menodongkan pisau ke lehernya.


“Jika kau ingin wanita ini tetap hidup, pergilah dari sini!” ucapnya.


“Sudah kuduga bermain pahlawan-pahlawanan akan berakhir begini. Baiklah, bagaimana permainan ini kita ubah saja menjadi ... bunuh-bunuhan?” ucap Ruri sambil tersenyum.