Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 18 - Rencana yang berjalan lancar



19:04 PM.


"Hei ada apa? kau terlihat begitu tergesa-gesa."


"Ahh tidak, aku hanya ingin memberi tau sesuatu, bahwa para pendatang itu memiliki sesuatu yang lebih hebat dari hasil kita yang sebelumnya."


"Apa itu?"


"Stealth crystal."


"Bola putih itu?"


"Iya, bahkan punya orang itu sebesar ini."


"H-hah? Mustahil, baiklah kalau benar begitu, rencana kita berubah, tapi ngomong-ngomong, para pendatang itu sekarang berada dimana?"


"Mereka bilang ingin berjaga ditempat rumahku itu yang terbakar, karena mereka pikir kita akan muncul disana."


"Hahahah ternyata mereka cukup bodoh, baiklah ayo pergi!"


"Yoo...!!!"


30 menit kemudian ...


"Apa benar mereka akan datang ke penginapan ini? Ini sudah hampir setengah jam," ucap Luna tidak mengerti.


"Tentu saja, percayalah pada Ruri," ucap Dhafin.


"Y-ya baiklah, tapi kenapa hanya kita berdua yang berjaga di penginapan ini?" ucap Luna dengan muka datar.


"Entahlah," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Kau tidak ingin aneh-aneh kan, kalau kau sekali saja berpikir begitu akan kubunuh kau," ucap Luna sambil menatap tajam Dhafin.


"Iya iya aku tau."


"Sebentar, kok tempat ini lama lama semakin berkabut? H-hah? Aku tidak bisa melihat apa-apa," ucap Luna yang mulai panik.


"Sepertinya rencana Ruri berjalan lancar," gumam Dhafin sambil tersenyum.


Terdengar beberapa suara langkah kaki memasuki ruangan itu.


"H-heh Dhafin kau kah itu?" ucap Luna terkejut.


"Bukan, sepertinya mereka sudah pergi," ucap Dhafin sambil menggunakan sihir anginnya dan seketika saja kabutnya hilang.


"H-hah? Ada angin dalam ruangan?!" ucap Luna sambil menutupi pakaian bawahnya yang terangkat keatas karena sihir Dhafin.


"Tenang saja, itu bukan angin dalam ruangan, melainkan sihirku," ucap Dhafin setelah kabutnya menghilang.


"Apa maksudmu mengarahkannya padaku?!" ucap Luna yang masih memegang pakaiannya.


"Aku tidak tahu kalau itu mengarahnya padamu, tapi aku hanya ingin menghilangkan kabutnya saja untuk melihat ... " ucap Dhafin sambil melihat kearah tempat tas Vina yang terdapat bola putih didalamnya, namun kini sudah tidak ada lagi di tempatnya.


"Kemana tas Ruri?" tanya Luna.


"Mereka sudah mengambilnya," ucap Dhafin sambil melihat kearah keluar jendela dan terlihat beberapa orang membawa tas milik Vina.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mengejarnya? Di tas itu ada sesuatu yang sangat berharga kan?" ucap Luna yang mulai panik.


"Tenang saja, disana sudah ada Ruri yang menunggu para pencuri itu kok, ayo kita sebaiknya cepat, aku ingin melihat Ruri beraksi lagi," ucap Dhafin sambil melompat dari jendela.


"H-heh? Kau melompat dari sini?!" ucap Luna terkejut.


"T-tunggu, kenapa aku heran? Ruri juga melakukan hal yang sama," gumam Luna sambil menghela nafas dan turun melalui dalam.


...****************...


"Akhirnya kita mendapatkannya."


"Apa kita tidak melihat isinya dulu?"


"Ahh iya kau benar, siapa tahu bola itu sudah di pindahkan."


"Tidak, bola ini masih ada didalam dan tepat apa yang dikatakan Rian, ini adalah stealth crystal, kerja bagus Rian."


"Sudahlah ayo cepat kita pergi, sebelum orang tadi menyadarinya kalau kita mengambil bola ini."


"Iya kau benar."


Setelah para pencuri itu sampai dihutan ...


"Pencurian terbesar kita, dengan ini kunyatakan sukses besar!" ucap salah seorang yang merupakan ketua dari kelompok itu.


Mereka semua yang disana bersorak sambil melepas topeng mereka semua.


"Kuucapkan selamat ya!" ucap seseorang dari balik pohon sambil bertepuk tangan.


"Ru-Ruri?!" ucap Rian sambil terkejut.


"Kalian lama sekali, padahal aku sudah lama menunggu kalian," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Me-menunggu?! Berarti dia sudah tahu sejak awal?" gumam Rian yang mulai gemetar.


"Bisakah kau kembalikan bola itu padaku," ucap Ruri dengan tenang.


"Tidak akan, karena benda ini akan menjadi pendapatan kami yang sangat luar biasa," ucap salah seorang.


"Heh? Jadi kalian tidak berniat mengembalikannya?" ucap Ruri.


"Tentu saja tidak, tidak ada pencuri yang mengembalikan hasil curiannya."


"Heh? Jadi tidak apa kan kalau aku membunuh kalian?" ucap Ruri sambil tersenyum lalu membuat pedang es nya dalam sekejap.


Melihat itu para pencuri itu terkejut dan bersiap-siap.


"Baiklah, aku akan maj-" ucap Ruri terpotong lalu melompat karena mendengar suara seseorang dari belakangnya.


"Wind Slash...!!!" ucap Clarissa yang mengarahkan sihir anginnya ke Ruri, namun karena Ruri menghindarinya, angin itupun mengarah langsung ke kumpulan orang-orang itu, lalu dengan sigap sihir itu ditahan oleh mereka.


"Hei Clarissa apa maksudmu? Padahal aku hampir saja berada di puncak keren kerennya," ucap Ruri kepada rekannya itu.


"Panggung ini bukan punyamu saja, aku juga ingin ikut serta," ucap Clarissa sambil berjalan mendekati Ruri.


"Kalau boleh, aku juga ingin membantu, tapi sayang, anak panahku sudah habis," ucap Vina dari atas pohon.


"Hei Vina jangan berisik, bisa bahaya kalau kau diincar mereka," ucap Naila di sampingnya.


"Hei hei Rian, jumlah mereka sebenarnya ada berapa?" tanya salah seorang kepada Rian.


"Seperti yang kukatakan sebelumnya, para pendatang itu berjumlah 5 orang," ucap Rian.


"Tidak berisik juga percuma, laun lamban juga mereka akan menyadari kalau kita disini," ucap Vina sambil turun dari pohon.


"Vina lebih baik kau tidak ikutan saja," ucap Ruri.


"Tidak, aku juga mau ikutan, kau tahu sendiri, aku tidak suka kalau disuruh untuk menunggu, jadi, Ruri aku minta kau membuatkan panah yang seperti kemarin," ucap Vina sambil tersenyum.


"Huuhh ... apa boleh buat," ucap Ruri sambil membuat belasan panah es.


"Jadi, apa kalian ingin menyerahkan diri?" ucap Ruri sambil mengacungkan pedang es nya kepada kumpulan orang berjubah itu.


"Tidak akan pernah," ucap seorang yang berada di depan sambil tersenyum yang merupakan ketua dari perampok itu.


"Heh? Apa kau ketuanya?" tanya Ruri sambil tersenyum.


"Kalau iya kenapa?" ucap orang itu sambil mengaktifkan sihirnya dan seketika orang itu dikelilingi oleh aura hitam.


"Aku ingin melawanmu. Clarissa, Naila, Vina, kuserahkan sisanya pada kalian," ucap Ruri sambil melepaskan sihirnya dan melesat cepat masuk kedalam hutan lebih jauh bersama orang tadi.


"T-tunggu! hadehh ... kebiasaan dia ini, selalu cepat kalau menghilang," kata Clarissa.


"Jadi kita bertiga yang akan melawan sisanya, yah ini mungkin agak sulit tapi sepertinya kita harus menyelesaikannya ini secepatnya," ucap Vina sambil mengambil sebuah anak panah es tadi.


"Iya kau benar Vina. Rian, aku tidak tahu sekarang ini kau dipihak siapa, tapi kalau kau melawan kami, seketika itu pula aku akan menganggap kau sebagai musuhku," ucap Clarissa.


Rian hanya diam tidak mendengarkan yang dikatakan Clarissa.


Saat Vina melepaskan anak panahnya, seketika itu pula pertarungan pun berlangsung.


Beberapa menit kemudian satu per satu dari para perampok itu pun sudah dikalahkan, namun, tampaknya Clarissa dan Naila mulai kelelahan.


"Bagaimana ini Clarissa? Mana milikku sudah hampir mencapai batas, dan juga masih tersisa 3 orang lagi," ucap Naila yang mulai terengah-engah.


"Begitupun juga denganku, aku tidak habis pikir kalau Rian akan tetap membantu para perampok itu," ucap Clarissa.


"Menyerahlah kalian bertiga!" ucap Rian.


"Harusnya kami yang bilang begitu?!" balas Clarissa.


"Dasar keras kepala!" ucap Rian sambil menembakkan bola api tepat ke arah Clarissa, dan tiba-tiba saja.


"Fire ball...!!!" ucap seseorang yang menahan bola api milik Rian dengan bola api pula.


"Suara ini ... Dhafin?!" ucap Clarissa, Vina dan Naila sambil menoleh.


"Maaf yaa, sepertinya aku agak terlambat," ucap Dhafin.


"Kau memang selalu terlambat," ucap Vina sambil tersenyum.


"Baiklah serahkan semuanya padaku, Fire arrow...!!!" ucap Dhafin sambil mengangkat tangan kanannya keatas, seketika saja puluhan panah api melayang di udara.


"Baiklah," ucap Clarissa sambil duduk mengamati.


"Yah, kurasa memakai Dhafin untuk kali ini adalah hal yang tepat," ucap Vina yang ikut duduk bersimpuh di atas rerumputan.


"Seenaknya kau mengucapkan kata 'memakai' kepadaku Vina, aku ini manusia bukan barang," ucap Dhafin.


"Baiklah baiklah, sekarang habisi mereka semua," ucap Vina.


"Tidak, akan kusisakan satu orang untuk dia," ucap Dhafin sambil mengarahkan tangan kanannya ke ketiga orang itu.


Seketika saja kedua orang itu terjatuh terkena sihir api Dhafin.


"Baiklah ini untuk kau Rian," ucap Dhafin sambil menoleh ke arah Clarissa lalu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau hanya itu sepertinya aku masih bisa," ucap Clarissa sambil berdiri lalu mengumpulkan sihir angin di tangan kanannya.


"H-hah? A-apa itu?" ucap Rian terkejut melihat Clarissa.


"Ini bukan apa-apa," ucap Clarissa sambil melesat cepat ke arah Rian lalu memukulnya menggunakan tangan kanannya, Rian pun terhempas cukup jauh akibat pukulan itu.


Saat Rian ingin bangkit, seseorang datang menghampirinya.


Rian pun langsung melihat wajah seseorang yang berdiri di depannya lalu berkata.


"Lu-Luna?"


*plaaakk...!!


"Ternyata ini kerjaanmu selama ini, aku tidak habis pikir yaa?!" ucap Luna.


"Ma-maaf, aku tidak bermaksud unt-"


*plaaakk...!!


"Berhentilah menebar kebohongan dengan mulut itu, aku sudah tidak ingin mendengar alasanmu lagi?!" ucap Luna dengan keras.


Setelah mengatakan itu, seseorang datang menghampiri Luna dari belakang, lalu memegang pundak gadis itu.


"Tenanglah Luna, serahkan saja Rian pada Ayah," ucap Pak Angga.


Luna menganggukkan kepalanya lalu mundur sedikit.


"Hei Kakak, dimana Ruri?" tanya Dhafin dengan nada setengah berbisik


"Ahh iya, sepertinya Ruri masih bertarung saat ini," jawab Clarissa sambil berlari masuk ke hutan lebih dalam.


"Hei Kakak, tunggu aku!" ucap Dhafin sambil berlari mengikuti Clarissa.


"Ayah, aku akan ikut mereka," kata Luna.


"Iya, hati-hati lah."


"Hei Clarissa, apa benar Ruri bertarung disini?" tanya Luna sambil menoleh kesana kemari namun orang yang dibicarakannya tidak terlihat dimana-mana.


"Iya, aku yakin mereka berdua kearah sini tadi," ucap Clarissa pelan.


"Hei bukankah itu es milik Ruri?" ucap Dhafin melihat beberapa jarum es tertancap di beberapa pohon.


"Iya kau benar, dan di depan sana banyak pepohonan yang tumbang, aku yakin mereka tidak jauh dari sini," ucap Clarissa.


"Hei apa itu Ruri?" tanya Luna melihat dua buah cahaya, merah dan biru yang berseberangan.


"Ahh benar, tapi, aku merasa tidak enak akan cahaya itu," ucap Clarissa.


"Apa maksudmu?" tanya Luna tidak mengerti.


"Naila!" ucap Clarissa sambil menoleh ke arah Naila, setelah ia melihat kedua cahaya itu bergerak satu sama lain menabrakkan diri.


"Iya, aku tahu," ucap Naila sambil membuat protector.


seketika saja ledakan kuat terjadi dari dalam hutan.


*Duuuaaaarr...!!!


*Fuuusshh ...


"Apa itu tadi?" ucap Luna terkejut apa yang baru saja terjadi.


"Kita akan mengetahuinya setelah kita sudah disana," ucap Clarissa sambil berlari kearah ledakan itu terjadi.


"Sudah kuduga kau pelakunya," ucap Clarissa sambil tersenyum dari atas melihat seseorang berdiri di sebuah lubang besar yang dihasilkan dari ledakan tadi.


"Maaf sepertinya aku terlalu lama bermain dengannya," ucap Ruri sambil melompat keluar dari lubang itu.


"Ahh tidak, kami juga baru selesai," kata Vina.


"Heh? Kau membawa Luna?" ucap Ruri kepada Dhafin setelah melihat Luna di sampingnya.


"Ahh tidak, dia yang mau ikut sendiri," ucap Dhafin cepat.


"Hmm tidak apa lah, lagi juga aku ingin bertanya sesuatu ... Luna, apa kau mengenal orang ini?" tanya Ruri sambil meletakkan seseorang yang ia bawa dari lubang tadi.


Luna terkejut melihat seseorang yang tidak sadarkan diri itu.


"Jadi begitu. Iya aku mengenalnya, terima kasih semuanya," ucap Luna.


"Ohh iya, Ruri, dimana stealth crystal itu?" ucap Vina kepada Ruri.


"Ahh iya?! Aku lupa, saat dia serius, orang ini melempar stealth crystal itu entah kemana, bagaimana ini?!" ucap Ruri mulai panik.


"Sudah tenang saja, kalau mencari bola itu serahkan saja pada kami, jadi sebaiknya kita kembali saja dulu" ucap Luna.


"Iya sepertinya Luna benar, aku sudah lelah sekali," ucap Clarissa.


"Tapi bagaimana dengan bola itu," ucap Ruri pelan.


"Kan Luna sudah bilang ingin membantu mencarinya, lagi juga ini salah kau sendiri, kenapa seenaknya saja meninggalkan kami begitu saja," ucap Clarissa.


"Itukan karena aku terlalu bersemangat," ucap Ruri sambil memonyongkan bibirnya.


"Yaa itu akibatnya kalau ... "


Luna hanya tersenyum melihat kelakuan para pendatang itu.


"Terima kasih Ruri karena t**elah membantu desa ini, dan kau sudah berhasil mendapatkan kepercayaan itu,'" gumam Luna sambil tersenyum menatap Ruri yang masih berdebat dengan rekannya itu.


...****************...


08:28 AM.


"Jadi kalian benar-benar ingin kembali sekarang?" tanya Luna.


"Iya, karena sudah agak lama sejak kami pergi dari kota," ucap Ruri.


"Apa kalian tidak ingin tinggal sehari lagi? Masih banyak lohh tempat menarik yang ingin ku tunjukkan," ucap Pak Angga.


"Ahh tidak, terima kasih atas tawarannya, tapi kami harus segera kembali, karena ... " ucap Ruri sambil melirik kearah Vina.


"Tenang saja, jangan khawatirkan aku, walaupun aku tidak pulang 2 hari, aku tidak akan dimarahi," ucap Vina sambil berpaling.


"Kau yakin? Padahal waktu itukan kau pernah pulang agak terlambat lalu kau menceritakan padaku bahwa kau ... " ejek Clarissa yang tidak melanjutkan perkataannya.


"Apa?" kata Dhafin.


"Ti-tidak, sudahlah jangan difikirkan?!" ucap Vina yang mulai tersipu malu.


"Yaah ... karena itulah kita harus kembali," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Baiklah aku mengerti, terima kasih atas semuanya, lain kali kalau sempat datanglah kesini lagi yaa ... " ucap Luna.


"Baiklah, kami pergi dulu."


"Ru-Ruri tunggu sebentar," ucap Luna tiba-tiba.


"Ada apa?" kata Ruri.


"Sebelumnya aku pernah berjanji untuk melakukan apapun yang kau mau, jadi, mungkin sekarang saat yang tepat untuk menepatinya sebelum kau pergi," ucap Luna yang pipinya mulai memerah.


"Ohh yang itu, aku hanya bercanda," ucap Ruri sambil tertawa kecil.


"Kalau menurutmu begitu, anggap saja perkataanku saat itu untuk membalas budimu," ucap Luna.


"Hmm begitukah?" ucap Ruri sambil berfikir.


"I-iya, jadi mintalah sesuatu apapun yang kau mau, kalau kau mau, aku bisa menjadi pendamping hidupmu di masa depan, a-aku akan bersedia menunggu saat itu tiba," ucap Luna sambil menatap Ruri sambil memelankan suaranya.


Seketika saja semuanya yang mendengar itu langsung terkejut.


"HEHHH...?!" kata semuanya terkejut mendengar tuturan kata dari Luna.


"HEI RURI APA YANG TELAH KAU PERBUAT?!" tanya Clarissa cepat.


"IYA SAMPAI-SAMPAI LUNA BERKATA SEPERTI ITU?!" sambung Dhafin.


"Ahh ... tidak, sepertinya kalian salah paham," ucap Ruri yang mencoba menjelaskan sampai sampai mengeluarkan keringat dingin di seluruh tubuhnya.


"Kalau kau memang bersikeras, permintaanku adalah ... " ucap Ruri.


"APA?" tanya Dhafin.


"CEPAT KATAKAN?!" tambah Clarissa.


"SABAR LAHH ... BERI AKU JEDA WAKTU UNTUK BICARA?!" ucap Ruri kepada kedua rekannya itu.


"Jadi apa permintaanmu?" ucap Luna.


"Permintaanku adalah ... tolong rawat desa ini baik-baik ya, mungkin aku menyukai tempat ini, maka karena itu rawatlah desa ini agar tidak terjadi apa apa nantinya," ucap Ruri sambil menyodorkan tangannya.


"Hmm ... begitukah? Baiklah aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menepati janjiku," ucap Luna sambil menyambut tangan Ruri.


"Kalau begitu aku pamit ya, kutitipkan desa ini kepada kalian," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Iya / Serahkan pada kami," ucap Luna dan Pak Angga.


"Ayah, ayo kita jaga desa ini dengan benar," ucap Luna setelah Ruri dan kawanannya pergi.


"Tentu saja."


...****************...


"Hei Ruri, apa kau menyukai Luna?" ucap Clarissa saat perjalanan kembali.


"Heh? Jadi Kakak yang memulai," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Dasar Clarissa, kau tidak sabaran rupanya," bisik Vina.


"Diamlah," ucap Clarissa sambil menoleh.


"Hmm bagaimana ya, mungkin bisa dibilang aku menyukainya ... " ucap Ruri yang belum melanjutkan perkataannya.


"Jadi begitu ya," ucap Clarissa sambil menundukkan kepalanya.


"Tapi, aku lebih menyukai kau, Clarissa," ucap Ruri sambil tersenyum ke arah Clarissa.


Mendengar itu seketika saja muka Clarissa mulai memerah.


"Wahh jadi Ruri lebih memilihmu," bisik Vina lagi yang membuat Clarissa semakin tersipu.


"Dan tentunya bukan hanya Clarissa, aku juga menyukai Dhafin, Vina, Naila dan yang lainnya," ucap Ruri melihat keatas langit.


"Heh? Tunggu, apa maksudmu?" ucap Clarissa yang nada suaranya berubah menjadi rasa curiga.


"Kan sudah kubilang, aku menyukai kalian semua sebagai rekan terbaik yang kupunya," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Aku akan membunuhmu!" ucap Clarissa yang langsung mengumpulkan sihir angin di tangan kanannya.


"Heh? Tunggu, ada denganmu, Clarissa?" ucap Ruri tidak mengerti sambil berlari.


"Tentu saja karena aku ingin membunuhmu," ucap Clarissa sambil berlari mengejar Ruri.


"Ahh tidaaak...!!!"