
"Kalian tunggu disini saja, aku akan segera kembali," ucap Ruri yang langsung berdiri dan segera berlari menuju sumber asap itu.
"Heh? Kau mau kemana Ruri?" tanya Dhafin.
"Cuman sebentar kok," kata Ruri yang mulai hilang dari pandangan.
"Apa kita hanya akan menunggu disini, sampai Ruri kembali?" ucap Naila setelah Ruri pergi.
"Tidak, aku akan pergi mengikuti Ruri," ucap Clarissa.
"Yah mau bagaimana lagi, aku juga tidak mau kalau disuruh menunggu," ucap Vina.
"Ahh aku tahu pasti akan begini, aku akan ikut saja," ucap Dhafin.
"Baiklah ayo pergi!" ucap Naila.
...****************...
"Ternyata dugaanku benar, ada rumah yang terbakar di desa itu," gumam Ruri yang melihat dari pinggir hutan.
Ruri pun berlari menuju desa itu. Ia berniat untuk memadamkan rumah yang terbakar di desa itu, namun, langkahnya terhenti karena menabrak seseorang berjubah hitam dan bertopeng tengah membawa karung besar penuh terisi sesuatu.
"Ahh maaf, aku tidak sengaja, kau baik-baik saja?" ucap Ruri sambil mengulurkan tangannya.
Orang itu pun bangkit tanpa memperdulikan ucapan dan bantuan Ruri, kemudian pergi menjauh kearah hutan.
"Heh? Aneh ... " ucap Ruri.
Saat melihat kebawah, terlihat oleh Ruri, sebuah kalung tepat di tempat terjatuhnya orang berjubah tadi.
Ruri pun mengambilnya karena ia berniat untuk mengembalikan ke orang bertopeng tadi, akan tetapi, orang itu telah menghilang dari pandangannya.
"Nanti sajalah balikinnya, kalau dia kembali lagi. Kalau tidak kembali, biar aku ambil saja, lumayan buat aksesoris, hehe," ucap Ruri sambil tersenyum.
Ruri pun kembali berlari menuju rumah itu dan bertanya pada salah seorang disana.
"Ada apa dengan rumah ini Pak?" tanya Ruri kepada salah seorang yang berusaha memadamkan api itu menggunakan air dari sebuah ember kayu.
"Tentu saja terbakar, memangnya kamu tidak lihat?!" ucap laki-laki itu.
"Ahh sepertinya pertanyaanku salah," gumam Ruri sambil tersenyum.
"Kalau tidak ada yang penting, lebih baik kau membantu kami memadamkan apinya! Soalnya anakku masih berada di dalam rumah itu!" ucap laki-laki itu panik.
"Hah? Masih ada orang didalam sana?" ucap Ruri.
"Iya, dia anakku," ucap laki-laki itu.
"Ada dimana?" tanya Ruri cepat.
"Di lantai atas, h-hehh ... tunggu, a-apa?! kau bisa terbang?!" ucap laki-laki itu terkejut melihat Ruri langsung terbang masuk ke rumah itu melalui jendela besar yang terbuka.
"Halo halo ... apa disini ada seseorang?" ucap Ruri.
"Di-disini! Cepatlah!" ucap suara seseorang dari dalam sebuah ruangan.
Dengan cepat Ruri pergi mencari asal suara itu dan masuk kedalam salah satu ruangan. Terlihat oleh Ruri, seorang gadis berada di ujung ruangan yang kini gadis itu tengah terjebak diantara kayu kayu yang terbakar.
"Ahh kalau begini, aku juga tidak bisa lewat," ucap Ruri sambil berfikir.
"Hah? Jadi kau masuk kesini hanya untuk mengucapkan itu? Kau orang yang tidak berguna, lebih baik kau keluar, lalu cari orang lain saja untuk menolongku," ucap gadis itu.
"Aku akan membantu jika aku bisa, tapi kalau kau terjebak seperti itu, rasanya aku jadi malas. Apalagi orang yang ku tolong sifatnya seburuk dirimu, lebih baik kau mati saja di makan api. Dadah sampai jumpa," ucap Ruri yang berniat beranjak pergi dari sana.
"Hei jangan pergi!" ucapnya.
"Kenapa? Katanya kau lebih baik menunggu orang lain yang ingin menolongmu," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Ahh sudah lupakan saja, itu tidak akan sempat, jadi kumohon selamatkan aku!" ucapnya.
"Hah? Membosankan ... sebegitu cepatnya kau berubah pikiran, jadi, apa yang akan kudapat setelah menolongmu?" ucap Ruri.
"Hah? Kau perhitungan sekali?!" protes gadis itu.
"Jadi bagaimana? Sebentar lagi dinding di belakangmu itu rapuh, kemungkinan besar itu akan langsung mengenaimu," ucap Ruri yang kembali tersenyum.
"Cih laki-laki ini licik sekali," gumam gadis itu.
"Waahh...?!" ucap gadis itu terkejut saat beberapa atap mulai runtuh tepat di depannya.
"Baiklah aku akan melakukan apapun yang kau mau!" ucap gadis itu yang mulai panik.
"Heh ... baiklah," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Hah? A-apa? Tadi itu aku hanya-" kata gadis itu terpotong.
"Tidak bisa, kesepakatan telah dibuat, tidak bisa di tarik kembali," ucap Ruri sambil mengeluarkan tongkat es nya.
"A-apa itu?" ucap gadis itu terkejut.
Ruri pun membenturkan tongkat es nya ke lantai, lalu seketika saja ruangan itu pun menjadi dingin dan mengeluarkan uap uap yang berwujud asap putih.
Dalam kumpulan asap itu Ruri pun bergerak cepat kearah gadis itu lalu menggendongnya.
"H-huh?! A-apa yang kau lakukan?! Mentang mentang aku tidak bisa melihat apa-apa, jangan kau lakukan hal yang tidak senonoh yah!" ucap gadis itu sambil memukul-mukul tubuh Ruri.
"Berisik sekali kau ini, aku hanya menggendongmu, jadi tenanglah agar kau tidak terluka," ucap Ruri sambil berlari keluar dari ruangan itu.
"Hei, kau mau kemana? Tangganya ada di sebelah kanan, kenapa kau belok kiri?" tanya gadis itu tidak mengerti.
"Tenang saja, kita akan melompat dari jendela," ucap Ruri.
"H-hah?! Lompat dari jendela? Ja-jangan bercanda?!" ucap gadis itu terkejut melihat Ruri membawanya menuju jendela dengan ukuran cukup besar yang terbuka lebar.
Ruri pun melompat keluar dari jendela itu, karena ketakutan gadis itu hanya memejamkan mata dan berpegangan erat pada tubuh Ruri.
"Hei hei, ayo turun lalu lepaskan tanganmu. Sampai kapan kau mau tidur terus, dan juga sampai kusut bajuku karena perbuatanmu," ucap Ruri kepada gadis itu yang mulai membuka matanya dan sesaat itu pula ia terkejut.
"Hah? Kau lompat dari atas sana? Atau turun lewat pohon?" ucapnya tidak percaya.
"Iya," ucap Ruri singkat.
"Iya apa?" tanyanya.
"Kau berat," ucap Ruri melepaskan pegangannya dan seketika gadis itu pun jatuh ke tanah.
"Aduduhh ... berani sekali kau melaku-" ucap gadis itu terpotong.
"Luna, syukurlah kau selamat," kata laki-laki tadi sambil berlari menghampiri gadis itu.
"Terima kasih umm ... siapa namamu? Sepertinya aku belum pernah melihatmu," ucap laki-laki itu.
"Pak, sebelum itu, boleh saya minta tolong sesuatu," ucap Ruri.
"Apa?"
"Suruh semua orang berhenti memadamkan apinya, dan agak menjauh sedikit dari rumah ini," ucap Ruri.
"Ta-tapi apinya ... " katanya.
"Percayalah," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Ba-baiklah ... " ucap laki-laki itu sambil berdiri.
"Kalian semua, menjauhlah dari rumah ini!" ucap laki-laki itu dengan keras.
"Tapi bagaimana dengan rumah ini? Kalau tidak cepat cepat di padamkan, apinya bisa merambat ke rumah yang lain," ucap salah seorang warga.
"Baiklah."
Semua orang pun berhenti menyirami air dan menjauh sedikit dari rumah itu.
"Terima kasih, kalian berdua juga menjauhlah, sisanya serahkan saja padaku," ucap Ruri.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya lalu membawa anaknya menjauh.
"Aku sebenarnya kesini hanya untuk latihan menggunakan sihir air milik Naila," gumam Ruri sambil tersenyum.
"Baiklah," ucap Ruri sambil mengarahkan kedua tangannya ke rumah itu, namun, tiba-tiba saja.
"Water sources...!!!" ucap seseorang dari atap rumah sebelah.
Seketika saja, seluruh rumah itu tersiram air dalam jumlah banyak, lalu beberapa saat kemudian seluruh api di rumah itu pun padam.
Ruri terkejut lalu menoleh ke arah sumber suara tadi.
"Naila?!" ucap Ruri.
"Yah seperti biasa, kau mau melakukan semuanya sendiri, tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu," ucap Naila sambil turun dan menghampiri Ruri.
"Padahal aku hanya ingin mencoba kemampuan sihir airku," ucap Ruri.
"Hah? Kau bilang kebakaran tadi hanya untuk latihan?" ucap Vina dari belakang Ruri.
"Ahh kenapa mereka semua ikut kesini?," gumam Ruri.
"Hahah-" tawa kecil Ruri.
"Wahh kalian ternyata hebat hebat," ucap laki-laki tadi yang datang menghampiri Ruri dan kawan kawannya.
"Ahh i-itu bukan apa-apa," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Pak kalau boleh tau, sebenarnya apa yang telah terjadi disini?" tanya Naila kepada laki-laki itu.
"Hmm sepertinya kebakaran ini terjadi karena ulah seseorang," ucap laki-laki itu.
"Jadi maksudnya, ada seseorang yang sengaja melakukan ini?" tanya Naila lagi.
"Yah begitulah karen-" ucap laki-laki tadi terpotong karena ada seseorang perempuan paruhbaya menghampirinya dan berkata.
"Ini gawat pak, pencurian terjadi lagi, kali ini di tiga rumah sekaligus," ucap perempuan paruhbaya tadi.
"Hah?! Mereka lagi?!" ucap laki-laki tadi agak terkejut dan geram.
"Kemungkinan begitu, karena tadi kata salah seorang saksi mata tidak sengaja melihat sekelompok orang berjubah dan bertopeng berlarian membawa karung," ucap perempuan paruhbaya itu.
"Cihh ... mereka itu terlalu pintar kalau soal mencuri," ucap laki-laki itu geram.
"Orang berjubah dan bertopeng membawa karung?" gumam Ruri terkejut.
"Pak, memangnya disini sebelumnya ada kasus pencurian yang sama?" tanya Ruri.
"I-iya begitulah ... ini sudah yang ke 13 kalinya," ucap laki-laki tadi.
"Hmmm ... " ucap Ruri yang mulai berpikir.
Tiba-tiba saja Dhafin menghampiri laki-laki itu sambil berkata.
"Sebentar Pak, saya mau bicara dengan anak ini sebentar," ucap Dhafin sambil menarik tangan Ruri.
"I-iya silahkan," ucap laki-laki itu keheranan.
"Hei Ruri, lebih baik kita tidak usah berurusan dengan ini, pasti ini akan merepotkan kita juga," bisik Dhafin.
"Iya, yang dibilang Dhafin benar," ucap Clarissa.
"Hmm ... sepertinya kau benar, tapi kalau bisa kita harus membantunya, karena aku sudah dapat petunjuk dan aku yakin bisa menangkap pencuri itu sebelum esok hari," bisik Ruri.
"Hah? Kau sudah tahu pencurinya?" tanya Vina.
"Mungkin saja, tapi aku perlu bukti yang kuat," ucap Ruri.
"Baiklah aku serahkan padamu," ucap Dhafin pasrah.
"Yah, menurutku berada di desa ini untuk sementara, mungkin tidak buruk juga," ucap Naila.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Ruri kepada Clarissa dan Vina.
Clarissa dan Vina bertatapan sebentar lalu berkata.
"Baiklah kita ikut saja," ucap Vina.
"Baiklah, Pak, kami akan membantu sedikit, tentang kasus pencurian itu," ucap Ruri kepada laki-laki itu.
"Hah? Benarkah? Terimakasih banyak," ucap laki-laki itu.
"Padahal kita belum melakukan apa-apa," gumam Ruri sambil tersenyum.
"Ahh iya aku lupa memperkenalkan diri, namaku adalah Angga, kepala desa di daerah ini," ucap laki-laki itu.
"Dan ini anakku, Luna," ucap Pak Angga sambil memegang pundak gadis tadi yang baru saja datang.
"Ayah, apa maksudnya ini?" tanya gadis itu yang katanya bernama Luna.
"Mereka akan membantu kita menangkap para pencuri itu, jadi lebih baik kita memperkenalkan diri dulu," kata Pak Angga kepada anaknya.
"Hah? Mereka?" tanya Luna tidak percaya sambil menunjuk kearah Ruri.
"I-iya, memangnya kenapa?" tanya Pak Angga.
Luna menatap Ruri tajam, karena dirinya merasa diperhatikan, Ruri langsung membalas tatapan gadis itu dengan senyuman.
Melihat itu, Luna langsung memalingkan wajahnya dan berkata.
"Baiklah terserah ayah saja," ucap Luna sambil berlalu pergi.
"Maaf ya, sifat anakku memang begitu," ucap Pak Angga.
"Ahh tidak apa-apa Pak, ohh iya, perkenalkan nama saya Ruri, ini Clarissa, Vina, yang ini Naila dan yang disana Dhafin," ucap Ruri.
"Ahh iya salam kenal semuanya. Hmm bagaimana kita membahas ini di tempat la-" ucap Pak Angga terpotong karena ada seorang pemuda datang.
"Ayah, ada apa dengan rumah kita?" tanya pemuda itu.
"RIAN, KEMANA SAJA KAU?!" ucap Pak Angga sambil memukul kepala pemuda itu.
"Aku hanya habis dari danau," ucap pemuda itu sambil memegang kepalanya.
"Saat aku membutuhkan kemampuan sihirmu, pasti kau selalu saja tidak ada, ingat! Disini yang bisa menggunakan sihirnya hanya kau, jadi, kau sangat diperlukan disini," ucap Pak Angga kepada pemuda itu.
"Hmm anuu, maaf Pak. Kalau boleh tau siapa dia?" tanya Ruri.
"Ahh iya maaf, dia ini adalah anak angkatku, namanya Rian, dia juga penyihir sama seperti kalian," ucap Pak Angga.
Saat pemuda yang bernama Rian itu melihat ke arah Ruri, dia pun tampak sedikit terkejut. Sedangkan Ruri hanya membalas tatapan pemuda yang bernama Rian itu dengan pandangan curiga, lalu sesaat kemudian Ruri tersenyum sambil berkata.
"Perkenalkan, namaku Ruri, Ruri Narendra," ucap Ruri sambil mengulurkan tangannya.
Pemuda itu pun menyambut tangan Ruri lalu berkata.
"Salam kenal, namaku Rian, anak angkat Pak Angga."