Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 56 - Cisa si Gadis Tangguh



07:52 AM.


“Maaf ya, aku kelelahan setelah terbang sebulan penuh ini,” ucap Clarissa kemudian merebahkan diri di atas batu besar.


“Tidak apa, aku juga lelah hehe,” ucap Ruri yang berusaha menahan matanya agar tetap terbuka.


“Kantung matamu besar sekali?! Memangnya kau tidak tidur selama sebulan ini?”


“Bukan tidak tidur, hanya tak bisa tidur, itu saja hehe ... “


“Aku tahu mana mu masih banyak, tapi apa apaan sampai tidak tidur begitu, apa kau segitunya ingin mencari penyakit?!” ucap Clarissa tersenyum sambil menaikan tinjunya.


“Ta-tapi, aku baik-baik saja kok.”


“Tapi matamu tidak terlihat baik-baik saja! Sudah ayo pergi ke kota itu untuk beristirahat aku tak menerima tolakkan!”


“Ba-baiklah ... “


Mereka berdua pun pergi ke kota untuk mencari sebuah penginapan terdekat dan setelah menemukannya mereka langsung masuk dan memesan sebuah kamar.


“Dengar ... Jika kau tidak tidur juga, aku akan melarangmu pergi dari sini!”


“I-iya ... “ jawab Ruri pelan kemudian membaringkan diri di ranjang.


“Aku mau keluar sebentar. Jadi jangan kemana-mana,” ucap Clarissa sambil menutup pintu.


Ruri tersenyum kemudian mengangguk pelan dan mencoba menutup matanya. Namun, walaupun mata Ruri terlihat jelas kantung matanya, ia tidak bisa melarutkan diri kedalam dunia mimpi.


“Ahh saking lamanya tidak tidur aku jadi lupa caranya?!”


Ruri menghela nafas dan kembali memejamkan matanya harap-harap bisa tertidur dengan sendirinya.


Setelah ia berhasil terlelap, tiba-tiba saja terdengar suara anak perempuan menangis dari balik dinding tepat di sebelah kamar Ruri, hal ini pun membuat laki-laki berambut perak itu kembali terjaga. Memang kebetulan sebelah kamar Ruri adalah sebuah gang kecil yang jarang dilalui oleh orang-orang.


Dengan cepat Ruri menutup telinganya dengan kedua bantal akan tetapi suara anak perempuan itu masih terdengar jelas di telinganya.


“Kalau begini aku tak akan pernah bisa tidur?!” Ruri jengkel kemudian beranjak dan melompat dari jendela.


“Ma-maafkan aku, aku akan membayarnya besok ... “


“Hah? Memangnya sudah berapa kali kau bilang begitu?! Aku tak mau tahu, sekarang harus bayar!”


“Bisa tidak sihh kalian bicara di tempat lain saja?! Berisik tahu!”


“Dengar? Kau membuat orang lain terganggu. Baiklah ayo pindah ke tempat lain!”


“Ma-maaf ... “


Katanya yang kemudian menurut kepada orang itu dan berlalu pergi.


Karena Ruri merasa ada sesuatu yang tidak beres ia pun langsung berkata.


“Tunggu.”


“Ada apa?”


“Hei bocah apa dia ayahmu?”


“Bu-bukan ... "


“Diamlah!”


“Apa yang kau inginkan darinya?”


“Apa? Anak ini mempunyai hutang, aku hanya ingin memberikan solusi untuk melunasi hutang-hutangnya, tapi dia malah lari.”


“Pantaskah kau melakukan itu?”


“Tentu saja, aku berhak melakukan apapun.”


“Sampah.”


“Apa katamu?!”


“Seberapa banyak hutangnya?”


“Kira-kira sekarang sudah sekitar 4 koin emas kecil.”


Ruri mengela nafas dan merogoh sakunya.


“Segeralah pergi dari sini dan jangan pernah mendatangi anak itu lagi ... “ kata Ruri sambil melempar sebuah koin dan berlalu pergi.


“Ko-koin emas besar? Baiklah ... “ Kata laki-laki itu sambil berlalu pergi.


"Lakukanlah ... "


Seketika saja anak itu diam-diam langsung mengikuti Ruri dari belakang.


“Mungkin kalau aku abaikan dia akan pergi,” pikir Ruri yang kembali masuk kedalam penginapan.


Akan tetapi anak itu tetap mengikutinya sampai ke kamar.


“Hei bocah ... Sebaiknya kau cepat pergi.“


“ .... “


Anak itu tak menjawab dan tetap berdiri di depan pintu walaupun sudah ketahuan.


“Huhhh ... Terserah saja deh,” gerutu Ruri sambil merebahkan diri dan mencoba tidur kembali.


Melihat itu, anak itu pun perlahan masuk tanpa suara dan mengambil sebilah belati dari balik sakunya.


“Dapat!” gumamnya saat sudah berada di samping laki-laki itu dan mencoba menusukkan belati itu ke leher pria itu.


*taaaang ...


“Ti-tidak mungkin ... “ anak itu terkejut karena belatinya tak bisa menembus leher pria itu.


“Begitukah caramu berterima kasih?” ucap Ruri yang membuat anak itu hendak pergi melarikan diri. Akan tetapi langkahnya terhenti saat mendengar lanjutan dari perkataan laki-laki itu.


“Berenti! Sekali lagi kau melangkah aku akan langsung menembus tubuh mungilmu itu.”


Anak itu tahu bahwa kata-kata itu bukan hanya gertakan belaka, karena terlihat jelas di belakangnya terdapat sebilah pedang es melayang yang siap untuk menusuk kapan pun.


“Kemari!” kata Ruri lagi dan seketika saja anak itu langsung menurut.


“Apa yang baru saja kau ingin lakukan?”


“Ma-maaf ... “


“Aku tak butuh permintaan maaf. Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku.”


“ .... “


“Aku tak ingin berlama-lama membicarakan ini ... “ ucap Ruri sambil membuat tekanan di daerah sekitarnya yang berefek langsung pada anak itu hingga membuat anak itu kesulitan untuk bernafas.


“Jika kau tak menjawab juga aku akan melakukannya lebih dari ini. Jadi, apa yang kau coba lakukan tadi?”


“A-aku ... Mencoba membunuh kakak.”


“Untuk apa?”


“Karena kupikir kakak mempunyai banyak uang, jadi aku melakukannya.”


“Untuk apa? Bukankah utangmu sudah selesai?”


“Ya, berkat kakak, tapi aku masih membutuhkan uang, aku harus mendapatkannya bagaimana pun caranya.”


“Apa benar begitu caramu mendapatkan uang selama ini?”


“Ti-tidak ... Aku terpaksa melakukannya, karena penyakit ibuku harus segera ... “ ucapnya tak melanjutkan perkataannya karena menahan diri untuk tidak menangis.


“Pergilah!” ucap Ruri sambil melempar tiga keping koin emas besar ke lantai dan kemudian kembali berbaring di ranjangnya.


“Heh?”


“Cepat pergilah, ibumu membutuhkan pertolongan bukan?”


“I-iya ... Terima kasih.”


“Ruri? Kau dimana? Apa ini hanya pikiranku saja yaa ... “ kata Clarissa sambil menoleh kesana kemari akan tetapi tak menemukan orang yang berbicara.


“Ini bukan pikiranmu, ini benar-benar aku dasar bodoh.”


“Tu-tunggu bagaimana caranya kau melakukan ini? Heh sebentar kau belum tidur juga?!” ucap Clarissa yang mengubah topik pembicaraan.


“Iya iya aku tahu, aku akan menjelaskan detailnya kapan-kapan saja, untuk sekarang aku membutuhkan bantuanmu.”


“Apa? Bantuan?”


“Iya, soalnya aku mau langsung tidur. Hooaaamm ... "


Saat anak itu keluar dari penginapan tiba-tiba saja laki-laki tadi langsung datang menghampirinya.


“Jadi, orang itu mempunyai berapa banyak uang?”


“ .... “


“Ini uang untuk biaya obat ibuku.”


“H-hah? Apa kau bilang? Setelah aku bantu kau malah berbuat seenaknya saja,” ucap laki-laki itu kemudian menarik pedangnya.


“Kau kan sudah mendapatkan uang tadi, memangnya belum cukup?!”


“Pendapatanku dengan pendapatanmu berbeda, kemarikan uang yang kau dapat itu! Atau aku akan menghentikanmu disini mencegah pengobatan ibumu sampai ia mati,” katanya sambil tersenyum.


“Ja-jangan ... Aku mohon, untuk kali ini saja ... “


“Berikan!”


“Hei tuan,” ucap seorang wanita dari belakangnya.


“Siapa kau? Apa maumu hah?!”


“Aku hanya ingin memukulmu,” ucap Clarissa sambil tersenyum kemudian memukul orang itu sampai terhempas sedikit.


“Aku ambil kembali ya uang ini," ucap Clarissa sambil mengambil kembali satu keping koin emas besar dari saku laki-laki itu.


Setelah itu Clarissa pun menoleh ke arah anak itu.


“Jadi kau ya, yang berani-beraninya berurusan dengan calon suamiku.”


“Ma-maaf ... Aku tidak bermaksud menipu atau semacamnya tadi itu hanya ... “


“Aku tahu kok, makanya aku kesini untuk menolongmu. Sudah, ayo aku akan ikut menemanimu!”


“Ta-tapi ... “


“Sudah jalan saja.”


“I-iya ... “


...****************...


19:28 PM.


“Hmm? Sudah malam kah? Sepertinya aku terlelap cukup lama ... “ pikir Ruri saat menatap ke arah luar jendela.


Ruri pun langsung mencoba bangun, akan tetapi alangkah terkejutnya Ruri, karena melihat seorang wanita juga tengah terlelap di sebelahnya.


“H-hah? Si-siapa kau?!” ucap Ruri yang langsung melompat dari tempat tidur.


“Ru-Ruri? Akhirnya kau sudah bangun?” katanya sambil mengucak matanya yang masih setengah terbuka.


“Siapa kau? Dan bagaimana kau tahu namaku?”


“Ohh iya maaf, aku tadi ketiduran saat menunggumu, sebentar aku akan panggilkan Clarissa,” kata wanita itu sambil berlalu pergi keluar.


“I-iya ... Tolong ya ... “


"Tu-tunggu memangnya dia siapa? Ahh sudahlah ... "


Ruri menghela nafas dan berjalan menuju cermin.


“Sepertinya mataku sudah kembali normal dan aku jadi terlihat tampan seperti biasa.”


Tidak lama kemudian Clarissa masuk.


“Akhirnya kau bangun juga. Bagaimana? Matamu sudah seperti normal lagi bukan?”


“I-iya ... “


“Tentu saja, karena kau saja tidur selama seminggu lebih ... “


“Se-seminggu?”


“Makanya mulai sekarang istirahat harus di perioritaskan, kalau kubilang tidur yaa tidur! Jangan membantah! Kau tak ingin kejadian ini terulang lagi bukan?”


“Iya iya ... Ohh iya tentang hal tadi, siapa wanita itu?”


“Sudah bangunnya lama, bukannya mengkhawatirkan aku malah menanyakan wanita lain ... Hmmph ... “


“A-aku kan hanya bertanya ... “ ucap Ruri tersenyum jengkel.


“Wanita tadi namanya Anita.”


“Siapa? Kenalanmu?”


“Memangnya kau tidak ingat? Dialah yang dipanggil ibu oleh anak yang kau suruh aku untuk membantunya.”


“Be-begitu rupanya ... Heh? Ibu? Anak itu?”


“Iya, dia sedang mencari anaknya sebentar, nanti juga kesini lagi.”


*cekreekk ...


Pintu terbuka dan terlihat dua orang perempuan berdiri disana sebentar kemudian masuk.


“Tuhh baru juga diomongin,” ucap Clarissa.


Terlihat anak itu hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Ia hanya takut untuk bertatap muka dengan laki-laki di hadapannya.


Melihat itu Ruri tersenyum dan berkata.


“Hei bocah kemari ... “


Awalnya anak itu terlihat ragu-ragu untuk mendekat. Akan tetapi, tak lama kemudian ia langsung berjalan pelan mendekati Ruri.


Ruri pun berjongkok dan menarik kedua pipi anak itu lebar lebar.


“Jadi, kenapa kau terlihat murung begitu? Bukankah ibumu sudah sembuh?”


“Awku hawnya tak enak pawda Kakak.”


Mendengar itu Ruri langsung melepaskan capitan jarinya dan bertanya lagi.


“Kenapa merasa tidak enak?”


“Karena Kakak sudah banyak membantu.”


“Sudah tak usah dipikirkan, aku hanya memberimu uang, yang membantu adalah Kak Clarissa bukan?”


“Iya, tapi Kak Ruri juga.”


“Mungkin ini terdengar terlambat, tapi terima kasih banyak ya, berkat kalian Cisa jadi terbebas dari orang-orang itu,” ucap Anita.


“Iya, sudah tak perlu dipikirkan,” ucap Clarissa.


“Kak, apa Kakak membutuhkan sesuatu, setidaknya untuk membalas budi Kakak walaupun tak seberapa.”


“Kalau begitu, izinkan Kak Ruri mencubiti pipimu sampai puas, dari pertama kali melihatmu, aku ingin sekali melakukan ini padamu,” ucap Ruri sambil menarik kembali pipi Cisa lebar lebar.


“Ehh ... Aww ... Sa-swakit ... “


Melihat itu Anita dan Clarissa hanya bisa tersenyum dan tertawa.


"Sudah, ayo makan malam!"