
Pagi yang menjelang siang membuat suasana saat itu menjadi panas, ditambah lagi dengan ocehan dari seorang bocah laki-laki yang membuat keadaan saat itu semakin memanas saja.
Tidak ada yang dapat dikhawatirkan sampai sejauh ini, akan tetapi perjalanan mereka menuju rumah Hiro pun masih sangat jauh, dan pada akhirnya mereka pun memutuskan beristirahat di sebuah kedai pinggir jalan.
“Tuan pelayan,” sapa Ruri kepada pelayan Hiro.
“Ahh ... Namaku Alexander panggil saja aku Alex, walaupun penampilanku begini aku tak terlalu suka dengan keformalan.”
“Baiklah, tuan Alex, apa Hiro memang selalu begitu sejak kecilnya?” tanya Ruri sambil menunjuk ke arah seorang anak laki-laki tengah duduk menyendiri di bawah pohon.
“Tidak. Dulu tuan muda adalah orang yang ceria dan manja layaknya seorang anak pada umumnya. Akan tetapi, setelah beberapa tahun kemudian, orang tuanya semakin sibuk akan pekerjaannya dan mulai kehilangan waktu kebersamaan dengan tuan muda, alhasil sifat tuan muda jadi seperti sekarang ini ... “
“Begitu rupanya, terima kasih ya.”
“Iya, memangnya apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku hanya ingin menghiburnya sedikit.”
“H-hah?”
“Ruri apa yang ingin kau lakukan lagi?!” ucap Mary yang hendak mengejar laki-laki itu saat melihat Ruri mendekati Hiro.
Mary terhenti karena Clarissa menahannya.
“Ta-tapi ... “
“Tenang saja, kita lihat saja dulu, kalau memang Ruri tidak bisa mengatasinya, baru kita akan kesana menghentikannya,” kata Clarissa.
“Kalau sudah seperti itu, bu-bukannya sudah terlambat ya?”
“Hehe.”
Mary hanya menghela nafas dan kembali duduk sambil menatap kedua orang itu.
Saat Ruri sudah berada di hadapannya anak itu membuang muka sambil berkata.
“Apa yang kau inginkan? Aku tak ada urusan denganmu ... “
“Langsung dicuekin?!” ucap Clarissa dan Mary berbarengan.
“Kau bilang namamu Hiro bukan?” tanya Ruri.
“Iya, mau apa kau? Cepat sana beristirahat, jika ada penjahat dan kau tak bisa melawan mereka aku akan memenjarakanmu!”
“Baiklah tuan pelayan, izinkan saya membunuh anak itu,” kata Clarissa sambil tersenyum kemudian membuat pedang apinya dan langsung berdiri.
“Heh?”
“Clarissa tunggu ... Kenapa malah kau yang emosi ... “ ucap Mary sambil memegang wanita itu erat-erat.
Roy dan Freed hanya diam dan tersenyum.
“Hiro ... “
“Apa? Sudah kubilang untuk ... “ ucap Hiro terpotong.
“Apa cita-citamu?”
“Apa? Bukan urusanmu juga.”
“Jawab saja ... “
“Menjadi Magicalist untuk melindungi negri dan tempat tinggalku.”
“Dengan kata lain kau mau jadi pahlawan?”
“Y-ya ... “
“Sihir apa yang sudah kau bisa?”
“Sihir api.”
“Coba kau perlihatkan padaku!”
“Untuk apa?”
“Aku, orang lemah seperti yang kau bilang ingin mengetesnya.”
Mendengar itu Hiro merasa diremehkan, karena kesal ia pun langsung bangun kemudian membuat bola api di tangannya sebesar bola kasti.
“Waahh ... “ ucap Hiro terkejut dan terpukau melihat sihir apinya sendiri.
“Ada apa?” tanya Ruri.
“Baru pertama kalinya aku membuat yang sebesar ini ... “
“Kau sudah puas?”
“Iya.”
Ruri pun langsung menyentil dahi anak itu hingga membuat kepala anak itu mendongak ke atas dan api di tangannya pun lenyap.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Kau mau menjadi pahlawan, kenapa kau hanya puas dengan yang seperti itu?”
“A-aku ... “
“Kalau aku bagimu lemah, berarti kau lebih rendah dari kata lemah ... “
Mendengar perkataan Ruri tiba-tiba saja anak itu terdiam dan menunduk. Walaupun kesal Hiro tetap diam karena hal yang dibilang laki-laki berambut perak itu benar mengingat kekuatan yang dimiliki para pahlawan kebanggaannya.
“Apa kau mau melihat kemampuan dari si lemah ini?”
“Tunjukan padaku! Paling-paling tidak jauh dari punyaku.”
“Baiklah ayo ikut aku kesana,” kata Ruri sambil menunjuk ke arah daerah yang cukup luas kemudian berlalu pergi.
“Kenapa kita pindah tempat?” tanya Hiro sambil mengikuti Ruri dari belakang.
“ .... “
“Hei, jawab aku!”
“Kau akan mengetahuinya,” ucap Ruri sambil berhenti dan berbalik.
Ruri pun mengangkat tangan kanannya ke atas.
Seketika saja, bola api berukuran raksasa entah sampai sebesar apa membuat anak itu terkejut dan terbelalak melihatnya.
“I-ini ... “
“Ada apa? Ini tidak jauh beda punyamu kok,” kata Ruri sambil tersenyum kemudian tak lama kemudian langsung memadamkannya.
Hiro langsung terdiam dan menunduk kembali.
“Aku ulangi pertanyaanku, apa kau sudah puas dengan hasil seperti tadi?”
“Be-belum ... “ ucap Hiro pelan.
“Apa? Aku tak mendengar suaramu?”
“Belum.”
“Dimana suaramu? Apa kau benar-benar laki-laki?”
Mendengar itu Hiro kesal dan menatap Ruri.
“Belum! Aku masih belum puas!”
“Bagus ... Setelah kau bisa melampaui kemampuanku tadi, aku si lemah ini akan mengakuimu sebagai pahlawan, mengerti?”
“Iya ... “
“Baiklah, aku mau lanjut makan dulu ya.”
“Tu-tunggu kak.”
“Hmm?”
“Siapa namamu?”
“Ruri Narendra.”
“Kak Ruri, mau kah Kakak mengajarkanku?”
“Tidak mau.”
“Kenapa? Kalau karena sikapku tadi ... A-aku minta maaf. Aku hanya ... ”
“Aku tau, tapi bukan itu alasanku tak bisa mengajarimu. Aku saat ini sedang melakukan perjalanan jauh ke barat sana.”
“Begitu rupanya ... “
“Tenang saja, Alex pasti bisa mengajarimu, dia juga pasti bisa membuat yang sebesar tadi.”
“Be-benarkah?”
“Tentu, tapi pertama-tama rubah dulu sikapmu itu, sikapmu tidak mirip dengan pahlawan sama sekali.”
“Be-berisik dehh ... “
“Jika sikapmu masih seperti itu, sebesar apapun kekuatanmu nantinya aku masih belum bisa mengakuimu, mengerti?”
“Iya iya ... “
“Sudah ayo makan, kau belum makan kan?”
“Hmm!”
“Ternyata Ruri memang bisa membuat anak itu tersenyum lagi,” kata Mary melihat Hiro tersenyum saat Ruri mengelus kepalanya.
“Iya, sudah lama sekali tuan muda tak tersenyum seperti itu lagi,” ucap pelayan itu.
Saat Ruri dan Hiro kembali bergabung dengan yang lainnya. Anak itu pun langsung berkata.
“Heh? Ohh bisa mungkin, tapi tak sebesar itu,” katanya sambil tertawa kecil.
“Tolong ajari aku!”
“Baiklah sesampainya di rumah aku akan mengajarkan tuan muda.”
“Benar ya?”
“Iya, sudah ayo makan dulu, biar cepat sampai di rumah.”
“Iya!”
Mereka berdua pun masuk kedalam kedai untuk memesan makanan.
“Hebat kau Ruri, tidak hanya kekuatanmu saja, kemampuanmu menghadapi anak-anak juga tak diragukan lagi,” ucap Freed.
“Kau berlebihan.”
“Tapi benar lohh ... Sampai saat ini baru kamu saja yang bisa berbicara dengan anak itu bahkan bisa membuatnya berubah,” kata Mary.
“Iya benar itu,” sambung Roy.
“Sudah ... Sudah ... Aku jadi tidak enak sendiri.”
“Ayo lanjut makan!”
...****************...
Sesampainya di kediaman keluarga Hiro, para petualang itu pun disambut hangat oleh keluarga Hiro. Dan Alex mulai melaporkan tentang semua yang terjadi saat di perjalanan.
Mendengar laporan itu, ayahnya Hiro pun tersenyum lebar.
“Benarkah itu?”
“Benar tuan.”
Saat melihat Hiro datang mendekat laki-laki itu pun berkata dengan suara pelan.”
“Hiro ... “
“Ayah, lama tak berjumpa ... “ ucap Alex.
“Hi-Hiro ... Maaf ya kalau ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan di ibukota.”
Hiro menggeleng pelan.
“Aku tak bisa menyalahkan ayah, itu pekerjaan ayah, tapi tidak usah khawatir lagi, mulai sekarang aku akan belajar mandiri selagi ayah dan ibu di ibukota ... “
“Be-benarkah?”
“I-iya ... Sudah aku mau pergi ke luar sebentar ... “ kata Hiro yang menahan rasa malunya saat mengatakan hal itu dan langsung menarik laki-laki paruh baya di sebelahnya.
“Ayo Alex ajari aku dari sekarang ... “
“Tu-tunggu tuan muda.”
“Ternyata memang benar, dia sudah berubah, bahkan terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.”
“Jadi, bagaimana cara kalian melakukannya?” tanya Pria itu kepada para petualang.
“Kami tak melakukan apapun, hanya dia sendiri yang melakukannya,” kata Mary sambil mendorong sedikit laki-laki berambut putih keperakan.
“Aku tak melakukan hal banyak, aku hanya mengira Hiro sebenarnya anak yang baik karena pikirku pasti ada faktor tertentu yang menyebabkan jadi seperti itu, jadi aku bertanya pada Alex tentang permasalahannya," jelas Ruri terhenti sebentar kemudian melanjutkan perkataannya.
“Maaf ya aku jadi ikut campur dalam keluarga ini.”
“Tidak apa-apa, justru aku sangat berterima kasih, mungkin terima kasih saja tidaklah cukup, jadi aku akan menambahkan sedikit hadiahnya.”
“Ti-tidak usah sampai seperti itu.”
“Jika aku tidak melakukannya, aku sudah benar-benar gagal menjadi seorang ayah, jadi diterima ya ... “
Ruri pun menoleh ke arah teman-temannya yang mengangguk pelan.
“Baiklah, saya terima ya pak?”
“Iya. Kalian akan bermalam disini kan?”
“Ahh lebih baik kami langsung pulang saja, saya masih ada keperluan lain," kata Ruri.
“Tapi sekarang kan sudah senja, sebentar lagi malam.”
“Aku tahu, tapi kami harus pergi sekarang.”
“Kalau begitu, biar aku antar setidaknya sampai pertengahan jalan.”
“Ti-tidak usah ... Bagaimana menjelaskannya ya ... “ ucap Ruri sambil tersenyum.
Ruri dan teman-temannya pun langsung keluar.
“Memangnya apa yang ingin kau lakukan Ruri?” tanya Freed.
“Dari pada menjelaskannya lebih baik aku menunjukkannya langsung,” ucap Ruri mengarahkan tangannya kedepan dan membuka lubang dimensi.
“A-apa itu?”
“Singkatnya lubang ini mengarah langsung ke guild.”
“Me-mengejutkan ya ... “ ucap Freed sambil tersenyum.
“Y-ya ... “
“Sudah cepatlah bertanya nanti saja, aku tak bisa membuka dimensi ini terus menerus soalnya ini memakan mana ku,”
“Ahh ... I-iya ... Kami pulang dulu ya.”
“I-iya ... “
Hiro yang melihat dari halaman pun langsung berlari menghampiri.
“Kak Ruri ... “
“Aku duluan ya,” ucap Clarissa kemudian pergi bersama Mary dan yang lainnya.
“Iya.”
“Kakak mau langsung pergi? Bukankah Kakak akan menginap?”
“Kan sudah kubilang aku harus melanjutkan perjalanan.”
“Tapi bukankah sudah hampir malam?”
“Sudahlah Hiro, Kak Ruri juga punya urusannya," ucap ayahnya.
“Jika kau mencariku untuk menunjukkannya, datang saja ke kota Zeastic, mungkin sekitar satu sampai dua tahun kedepan aku tidak ada, tapi mungkin kau tak akan bisa secepat itu. Baiklah aku pergi ya,” kata Ruri sambil berlalu pergi.
“Iya, terima kasih.”
...****************...
“Ehh? Kita benar-benar sampai?” ucap Freed terkejut.
“Yahh sepertinya aku mulai terbiasa dengan hal hal yang diluar nalar seperti ini,” ucap Mary sambil tersenyum.
“Sudah ayo kita pergi untuk mencairkan uangnya,” kata Roy.
“Ayo!”
“Tunggu, sepertinya aku hanya bisa menemani kalian sampai sini saja,” ucap Ruri.
“Tapi bagaimana dengan uangnya?”
“Ambil kalian saja, uangku juga masih banyak yang hasil dari melawan burung besar itu,” kata Ruri sambil tersenyum.
“Kalau begitu kami jadi tidak enak denganmu,” ucap Mary sambil merogoh kantung dan melempar sebuah koin.
“Koin emas besar? Bukankah ini terlalu banyak?”
“Yaa permintaan ini juga tadinya seharga segitu, karena perbuatanmu jadinya sekarang seharga 2 koin. Kami hanya mengambil bagian kami saja, terima saja itu.”
“Baiklah aku terima. Sampaikan salam kami pada ketua ya ... “
“Baiklah. Hati-hati ya ... “
“Iya, sampai jumpa.”
Ruri dan Clarissa pun langsung terbang cepat ke arah matahari terbenam di barat sana.
“Ayo! Saatnya kita pesta malam ini!” ucap Mary bersemangat.
“Aku setuju!”
...****************...
“Kenapa kau terlihat buru-buru Ruri?”
“Entahlah, aku hanya kepikiran sesuatu.”
“Tentang apa?”
“Tidak, bukan apa-apa.”
“Kau merahasiakan sesuatu dariku?”
“H-heh? Bukan begitu ... “
“Hmmph ... “ Clarissa berpaling dan terbang lebih cepat meninggalkan Ruri di belakang.
Ruri tersenyum kemudian menoleh ke belakang.
“Semoga saja itu bukan hal yang gawat.”