Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 23 - Black Curse



Dengan pelan Ruri menurunkan tangannya lalu menatap ke arah Clarissa.


"Clarissa, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," kata Ruri sambil menatap Clarissa.


"Hmm?" kata Clarissa yang kebingungan.


"Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kalian semua, kenapa aku bisa terluka seperti ini?" tanya Ruri yang berniat mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa kau lupa? Kau baru saja mengalahkan Soni, mungkin lebih tepatnya iblis," jawab Clarissa.


"Iya, benar apa yang dibilang Kakak. Ruri, apa kepalamu terbentur sesuatu saat pertarungan?" ucap Dhafin heran.


"Sebentar, ini yang dibilang Clarissa benar dan Dhafin juga setuju dengan pernyataan tadi, akan tetapi yang berbeda adalah ... " gumam Ruri sambil melirik ke arah Clarissa.


"Baiklah, Clarissa, bisa kau ceritakan kejadian saat Soni muncul. Ahh ... tidak, lebih tepatnya saat kau ingin terhisap ke dalam Lubang hitam raksasa," kata Ruri kepada Clarissa.


"Nahh dengan berkata begitu, aku akan mengetahui perbedaannya," gumam Ruri.


"Hmm ... saat aku tengah terhisap ke dalam Lubang hitam raksasa, Dhafin menolongku, setelah itu ada Horned Wolf tepat di belakang Dhafin, dengan segera aku melepas tangan Dhafin untuk menyerang Horned Wolf itu menggunakan sihir anginku, akan tetapi ... " kata Clarissa yang berhenti sejenak.


"Tapi apa?" sela Ruri yang tidak sabar.


"Pak Nathan dengan cepat menyelamatkanku dari Lubang hitam raksasa itu, entah menggunakan sihir apa yang dipakainya," jelas Clarissa.


"Hah? Bukankah saat itu Pak Nathan sedang tidak sadarkan diri? Tapi, sepertinya kalau dipikir-pikir lagi itu bisa saja terjadi, karena aku tahu dia adalah orang yang kuat, jadi bisa saja dia hanya berpura-pura melakukannya agar bisa pergi menyelamatkan Clarissa. Iya, itu masuk akal, " gumam Ruri menyimpulkan.


"Hmm jadi begitu rupanya," jawab Ruri singkat.


"Memangnya ada apa Ruri?" tanya Clarissa tidak mengerti.


"Apa mungkin ini adalah kenyataan yang sesungguhnya? Dan yang sebelumnya itu hanya khayalan atau mimpiku belaka? Cihh ... kenapa bisa jadi seperti ini sihh? " pikir Ruri yang mulai kebingungan sendiri.


"Ruri, apa kau masih memikirkan tentang Soni?" ucap Naila yang membuyarkan lamunan Ruri.


"Ahh ... tidak, mungkin aku hanya masih sedikit kelelahan saja," kata Ruri sambil tersenyum.


"Sepertinya, lebih baik aku tidak usah memikirkan hal itu, karena melihat mereka semua baik-baik saja sudah cukup bagiku, terutama ... " gumam Ruri sambil melirik ke arah Clarissa.


"Walaupun begitu, kau hebat ya, Ruri. Kau hanya sedikit terluka dan kehabisan mana padahal yang kau lawan adalah seorang iblis," ucap Vina.


"Iya kau benar Vina, walaupun aku tahu kau itu kuat tapi kalau sampai bisa mengalahkan seorang iblis itu diluar dugaan, dan lagi kau hanya terluka sedikit saja," sambung Clarissa.


Mendengar itu, Ruri yang tidak peduli dengan apa yang terjadi pun kembali berfikir.


"Clarissa memujiku terang terangan? Kukira dia akan ... " pikir Ruri.


"Sudahlah kalian berdua, biarkan dia istirahat," ucap Dhafin.


"Jadi begitu rupanya," ucap Ruri yang membuat semuanya terheran-heran


"Apanya?" ucap Vina.


"Aku mulai mengerti apa yang terjadi di sini walaupun aku tidak tahu apa penyebabnya hal ini bisa terjadi," kata Ruri lagi.


"Ruri, apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Dhafin tidak mengerti.


"Aku akan kembali sekarang!" kata Ruri sambil membuat pedang es nya lalu berniat menusuk tubuhnya sendiri.


"Hei Ruri, apa yang ingin kamu lakukan? Apa kau sudah gila?!" ucap Clarissa sambil menahan tangan Ruri yang berniat bunuh diri.


"Ruri kau kenapa?" ucap Dhafin yang juga terkejut lalu merebut pedang Ruri.


"Aku terpaksa melakukannya," ucap Ruri pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Untuk apa? Apa ada seseorang yang mengancammu untuk melakukannya?" ucap Clarissa.


"Karena ini untuk menyelamatkan kau, Clarissa," ucap Ruri.


"Menyelamatkanku? Aku tidak mengerti, aku berada di sini, dan juga kau ingin menyelamatkanku dari apa?" ucap Clarissa lagi.


"Dari kematian."


"H-hah? Aku juga sehat sehat saj-" ucap Clarissa terpotong.


"KAU SUDAH MATI, CLARISSA!" ucap Ruri agak keras lalu kembali menundukkan kepalanya.


Tidak terasa air mata Ruri mulai berjatuhan.


"Rurr ... " ucap Vina kepada Ruri namun tangan Clarissa mengisyaratkan untuk tidak berbicara sejenak.


"Maaf Ruri, aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi aku tahu kau itu tidak pernah berbohong pada kami," ucap Clarissa.


"Jadi coba kau jelaskanlah pada kami apa yang telah terjadi," kata Clarissa melanjutkan perkataannya.


Ruri menatap semua teman-temannya lalu mulai menjelaskan apa yang telah ia alami sebenarnya.


"Jadi aku telah mati karena terhisap lubang hitam raksasa itu, karena dalam kehidupanmu Pak Nathan saat itu sedang tidak sadarkan diri," ucap Clarissa yang mulai mengerti.


"Aku bisa membayangkannya jika aku jadi kau Ruri," ucap Dhafin sambil menundukkan kepalanya.


"Ruri," kata Clarissa pelan.


Ruri hanya mengangkat wajahnya.


"Jika kau tidak ingin hal itu terjadi, kau tidak perlu kembali ke dunia mu itu," kata Clarissa.


"Aku inginnya begitu. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan Dhafin sendirian," ucap Ruri sambil berdiri.


"Jadi, kau tetap akan pergi?" ucap Clarissa.


"Iya," ucap Ruri sambil menganggukkan kepalanya dan menyerka air matanya.


Ruri menutup matanya lalu memusatkan mana di kedua telapak tangannya


"Aku Ruri Narendra telah mengetahui kebenarannya, dengan ini aku menyatakan bahwa dunia ini adalah ... Kebohongan! Jadi Bangunlah!" kata Ruri sambil menepuk wajahnya kuat-kuat.


Seketika saja, seluruh tubuh Ruri bercahaya dan mengelupas sedikit demi sedikit.


"Ru-Ruri, hati-hati yaa," ucap Naila.


"Iya, terima kasih Naila," kata Ruri sambil tersenyum.


"Ruri, sampaikan salamku pada diriku yang lain," kata Vina.


"Ada ada saja permintaanmu itu, baiklah akan ku sampaikan walaupun itu akan membuatnya kebingungan," kata Ruri.


"Ruri, jika kau ingin menghidupkan Kakak kembali mungkin sekarang ini masih dibilang mustahil. Tapi, apa kau ingin tetap mencari jawaban yang sesuai keinginanmu?" ucap Dhafin.


"Iya tentu saja," jawab Ruri dengan yakin.


"Baiklah, kudoakan semoga kau berhasil dan bisa bertemu dengannya lagi," kata Dhafin sambil tersenyum.


"Hmm terima kasih Dhafin," kata Ruri sambil tersenyum.


"Aduhh ... sepertinya aku kehabisan kata-kata," ucap Clarissa yang dilanjutkan tertawanya keempat orang itu.


"Ruri, walaupun belum kau lakukan, tapi aku akan mewakilkan Clarissa yang berada di dunia sana," kata Clarissa sambil berjalan mendekati Ruri.


"Terima kasih Ruri," ucap Clarissa sambil memeluk Ruri.


"Cla-Clarissa?" kata Ruri yang pipinya mulai memerah.


"Walaupun kau menganggapku sebagai teman, rekan atau semacamnya, tapi kau mau mengorbankan segalanya demi diriku, aku tidak tahu seberapa banyak aku harus berterimakasih," kata Clarissa yang masih mendekap Ruri.


"Kau tidak perlu berterimakasih, karena itu adalah keinginanku," balas Ruri.


"Dasar kau ini, selalu saja begitu."


"Ohh iya dan satu hal lagi, aku tidak tahu ini penting atau tidak, tapi entah kenapa aku ingin mengatakan ini ... " kata Clarissa berhenti sejenak.


"Walaupun ada puluhan, ratusan bahkan ribuan Clarissa di luar sana, aku yakin mereka semua itu menyukaimu," ucap Clarissa sambil melepas pelukannya lalu mundur sedikit.


Seketika Ruri langsung kembali tersipu, pipinya bertambah merah karena mendengar tuturan kata Clarissa.


"Hati-hati ya, Ruri," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Hmm iya, terima kasih ... Clarissa," ucap Ruri.


Setelah berkata-kata seperti itu Ruri pun sepenuhnya lenyap dari sana.


Dan tiba-tiba saja.


Ruri mulai membuka matanya.


"Apa ini?" kata Ruri yang merasakan nafasnya terasa dingin dan terdapat selang yang mencolok hidungnya.


"Ahh ... ternyata aku berada di rumah sakit rupanya," kata Ruri sambil melepas sesuatu yang dari tadi menempel di hidungnya.


"Ru-Ruri, syukurlah kau akhirnya sadar," ucap seseorang dari arah pintu.


"Ahh ... ternyata kau Naila, diman- " ucap Ruri tidak melanjutkan perkataannya karena terkejut melihat Naila meneteskan air matanya.


"Naila, ada apa?" ucap Ruri yang hendak ingin bangun, namun karena tubuhnya masih lemas, ia pun hampir terjatuh.


"Ahh ... kau jangan bergerak dulu, tubuhmu mungkin masih dalam proses penyembuhan, dan juga aku tidak apa-apa, maaf membuatmu cemas," katanya sambil membantu Ruri berbaring kembali.


"Bukankah kata-kata itu harusnya aku yang bilang?" ucap Ruri sambil tersenyum.


"Hmm iya juga ya," ucap Naila sambil tertawa kecil.


"Naila kenapa kamu menangis?" tanya Ruri yang menatap gadis itu masih menyerka air matanya.


"Mungkin aku hanya sedikit terharu," jawabannya singkat.


"Terharu kenapa?"


"Karena melihat kau bisa bangun kembali," kata gadis itu yang membuat Ruri sedikit terkejut dan kebingungan.


"Bukankah aku hanya pingsan? Tapi kenapa Naila sekhawatir ini?" gumam Ruri yang mulai kebingungan.


"Ohh iya aku sampai lupa. Ruri, aku keluar sebentar ya, untuk memberitahukan yang lain bahwa kau sudah siuman," pinta Naila kepada Ruri.


"Hmm iya."


Saat Naila keluar, tidak lama kemudian ada suara seseorang dari balik pintu.


"Ruri, boleh aku masuk?" ucap orang itu.


"Masuk saja, tidak dilarang kok," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Tidak ku sangka kau berhasil kembali, kukira kau akan pergi untuk selamanya," ucap Pak Nathan yang membuat Ruri terkejut.


"Maksud Bapak?"


"Apa kau bertarung? Mencari sesuatu? Atau semacamnya?" tanya Pak Nathan sekaligus.


"Bapak tahu apa yang saya rasakan saat pingsan?" ucap Ruri kembali bertanya.


"Aku tidak tahu apa yang kau rasakan, makanya aku bertanya, dan juga kata pingsan bukanlah hal yang tepat," kata Pak Nathan.


"H-hah? Jadi?"


"Iya, kamu baru saja bangun dari koma selama seminggu, kemudian kau juga telah melewati masa masa kritis, dan tadi pagi jantungmu juga sempat berhenti berdetak selama 1 jam, awalnya aku juga sudah pasrah, dan menyatakan bahwa kau sudah mati " kata Pak Nathan.


Seketika saja Ruri terkejut dan langsung berkata.


"Lalu, kenapa aku masih bisa dibiarkan disini?" tanya Ruri lagi.


"Itu semua berkat teman-temanmu yang bersikeras mempercayaimu, mereka yakin kau pasti akan bangun walaupun aku sudah berkata bahwa hal itu masih meragukan, tapi tetap saja teman-temanmu keras kepala dan berkata supaya menunda pemakaman sampai matahari terbenam."


Mendengar itu Ruri langsung terharu


"Beruntung sekali kau memiliki teman seperti mereka," kata Pak Nathan.


"Iya, aku sangat bersyukur bisa dihidupkan kembali dan dikarunia memiliki teman seperti mereka," ucap Ruri sambil menyerka air matanya.


Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka dan terlihat 3 orang memasuki ruangan itu.


"Syukurlah kau bisa bangun kembali, Ruri," ucap Dhafin.


"Iya aku juga sempat terkejut setelah Pak Nathan bilang hanya sedikit kemungkinan bahwa kau akan kembali bangun," ucap Vina.


"Iya, maaf membuat kalian cemas, aku sudah tidak apa-apa kok," ucap Ruri sambil mengembangkan senyum di wajahnya.


"Ahh ... iya Pak Nathan aku lupa, kembali dari awal, apa penyebab aku bisa mengalami masa kristis yang kau bilang, bukankah luka milikku tidak separah itu?" ucap Ruri kepada Pak Nathan.


"Sudah kuduga kau akan bertanya. Jadi begini, sebenarnya hal yang membuatmu seperti itu bukan karena luka yang berada di tubuhmu, melainkan karena Black Curse," jelas Pak Nathan.