
Setelah kejadian itu, waktu terus berjalan tanpa henti, hujan rintik rintik telah berhenti sepenuhnya, namun masih menyisakan hawa dingin yang mengikat.
Malam hari itu, Kaila mulai terbangun dan terduduk sambil menatap daerah sekitar yang banyak kerusakan akibat pertarungan sebelumnya.
“Aku lebih baik membuat api unggun untuk sekedar menghangatkan diri,” katanya sambil pergi mengambil beberapa kayu.
Malam semakin larut, suasana dingin malam hari itu semakin menjadi jadi, hewan-hewan malam yang hanya berkeluaran mencari mangsa pada malam hari pun jarang terlihat akibat hujan yang mengguyur petang hari tadi. Ditengah gelapnya malam, terlihat cahaya oranye kekuningan dari bawah pohon, dan disana terlihat seorang gadis terduduk di depan sebuah api unggun yang baru saja dibuatnya, agak sulit saat membuat apinya, karena seluruh kayu di daerah itu memang semuanya basah akibat terkena hujan.
Gadis itu tak henti hentinya menatap seorang laki-laki yang masih tak sadarkan diri tepat berada di sampingnya.
“Apa aku masih punya keinginan hidup setelah melihat apa yang terjadi padaku dan temanku,” kata gadis itu berbicara sendiri.
“Aku yang berkeinginan membinasakan iblis malah tidak berdaya saat berhadapan langsung dengan iblis, bahkan aku pun sampai diperalat, memalukan sekali diriku ini,” ucapnya sambil tertawa sedikit.
“Walaupun begitu, saat semuanya telah terjadi, seiring berjalannya waktu, akupun mulai menerima diriku yang sekarang, agar bisa tetap hidup untuk melihat kita bersama-sama lagi, akan tetapi ... sekarang ... “ ucapnya terhenti sambil menatap laki-laki itu.
Tiba-tiba saja ...
“Hei manusia ... Manusia ... Jawablah! Kau mendengarku bukan? Bagaimana hasilnya?” Suara seorang laki-laki yang hanya bisa di dengar oleh wanita itu.
“Ada apa? Bukankah sekarang ini belum waktunya untuk melaporkan?” ucapnya acuh.
“Aku hanya ingin memastikan saja ... Dan juga kau selalu memperlakukanku seperti penjahat saja.“
“Kau bukan hanya penjahat, kau itu iblis yang sangat aku benci kau tahu?!” ucap Kaila kesal.
“Hei hei kalau kau seperti itu terus aku tidak bisa menjamin kau akan hidup lebih lama lagi lohh.”
“Aku tidak peduli.”
“Ahh sudahlah ... Jadi, bagaimana dengan tugasmu?”
“Masih kulakukan, sekarang ini orang itu masih tidak sadarkan diri setelah melawan naga. Sudah itu saja, bolehkah aku tenang sekarang?” ucap Kaila dengan nada malas.
“Begitukah? Melawan naga? Apa dia mengalahkannya?”
“I-iya ... begitulah,” ucap Kaila pelan.
“Baiklah, lanjutkan terus tugasmu itu,” ucap iblis itu sambil menghentikan komunikasi dengan Kaila.
“Dasar manusia ... Kau pikir aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan? Yang mengalahkan naga itu bukan orang itu melainkan kau sendiri, tapi meski begitu aku tahu, orang itu pasti bisa mengalahkan naga itu sendiri jika gadis bernama Kaila tidak ada, dan juga aku sudah tahu gadis yang bersamanya itu, yang bernama Kaila adalah omong kosong belaka. Tak apalah, setidaknya kali ini dia sedikit membantu,” ucap iblis itu sambil tersenyum.
“Dasar, aku ternyata memang tidak berguna sampai dimanfaatkan seperti ini,” ucap Kaila sambil tersenyum.
“I-itu tidak benar,” ucap seseorang yang membuat Kaila terkejut bercampur rasa haru.
“Se-sejak kapan kau bangun? Dan juga ... Kau masih hidup?” ucap Kaila yang awalnya panik karena terkejut, lalu ia pun mulai tersenyum.
“Te-tentu saja aku masih hidup, aku baru saja bangun kok, dan juga kenapa kau menangis?” ucap Ruri pelan yang melihat Kaila berderaian air mata.
“Bodoh ... Dasar bodoh ... “ ucap Kaila sambil mendekap Ruri yang masih berbaring, Kaila masih tersenyum, namun cairan bening tak henti hentinya menetes dari kedua kelopak matanya.
“Kaila...?”
“Tolong, biarkan aku seperti ini untuk sementara waktu,” ucap Kaila yang masih mendekap Ruri.
Ruri tak berkata-kata lagi dan membiarkannya untuk sementara.
“Maaf, aku terbawa suasana,” ucap Kaila kembali duduk.
“Tak apa, ohh iya bagaimana dengan naganya?” tanya Ruri setelah Kaila sudah merasa baikkan.
“Hei, apa kau sudah baik-baik saja? Kau baru saja siuman lohh ... “ ucap Kaila khawatir melihat Ruri mencoba duduk.
“Aku sudah baik-baik saja, lalu, bagaimana dengan naganya?” ucap Ruri mengulangi pertanyaannya.
“ .... “
Kaila terdiam sebentar sambil mengalihkan pandangannya ke api unggun yang ada di sebelahnya.
“Naga itu ... Sudah mati,” ucap Kaila pelan.
“Hah? Siapa yang mengalahkan naganya?”
“A-aku ... “ ucap Kaila pelan.
“Ayolah Kaila jangan bercanda,” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Apa aku terlihat sedang bergurau?” ucap Kaila yang masih menatap api unggun itu.
“Kau mengalahkannya sendiri? Bagaimana caranya?”
“Sepertinya memang harus kujelaskan semuanya,” ucap Kaila pelan sambil berdiri dan menatap Ruri.
“Ruri ... “
“Iya?”
“Alasan aku bisa mengalahkan naga itu sendiri, karena aku ... “ ucap Kaila sambil menunjukkan kedua sayap hitamnya.
“Hmm? Karena kau kelelawar?” tebak Ruri sambil memiringkan kepalanya karena tidak mengerti.
“IHH BUKAN...!!! Aku ini setengah iblis! Dasar bodoh?!” ucap Kaila jengkel sambil berpaling.
“I-iblis?” ucap Ruri terkejut.
“Maaf ... “ sambung Kaila lagi setelah beberapa saat.
“Untuk apa kau meminta maaf?” tanya Ruri kepada wanita bersayap hitam yang ada di hadapannya.
“Karena aku tidak berani menunjukkan wujud asliku, dan karena itu pula aku membuatmu terluka,” ucap Kaila sambil melirik ke arah luka bakar di tangan kiri Ruri.
“Tidak usah khawatir, aku tidak apa kok,” ucap Ruri dengan senyumannya.
“Ta-tapi karena aku, kau hampir saja mati tahu!” ucap Kaila mencoba mengakui kesalahannya.
“Yang sudah terjadi biarlah berlalu,” ucap Ruri singkat.
“Meski begitu, aku tetap tidak enak padamu, kalau kau berkenan kau boleh melakukan apapun padaku sebagai penebus kesalahanku, termasuk kau berhak untuk membunuhku,” ucap Kaila tiba-tiba.
“Hmm? Baiklah, tapi aku tidak ingin membunuhmu, jadi aku hanya akan bertanya satu hal, apa boleh?” ucap Ruri.
“Tentang apa?” ucap Kaila tidak mengerti.
“Tentang tadi ... “
“Tadi?” ucap Kaila tidak mengerti.
“Aku takut memberitahumu karena aku takut kalau kau akan membenciku karena ..., bisa kau sambungkan perkataan itu?” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Heh? Ka-kau mendengarnya?” ucap Kaila terkejut.
“Tentu saja, meskipun aku tak mampu membuka mata, tapi saat itu aku masih bisa mendengar walaupun samar samar sihh ... “ kata Ruri.
“Jadi apa lanjutannya?” sambung Ruri.
Kaila pun kembali duduk dekat Ruri.
“Bagaimana ini ... Kalau aku berkata yang sebenarnya, apa aku akan mati di tempat? Dan jika itu benar terjadi, aku takut Ruri tidak akan diam dan langsung bertindak mencari raja iblis yang membuatku seperti ini,” gumam Kaila sambil berpikir keras.
“Kaila?”
“Sepertinya terpaksa aku akan berbohong lagi, walaupun jawaban yang akan kuberikan bukanlah sesuatu kebohongan,” gumam Kaila sambil mempersiapkan diri.
“Sebenarnya ... Aku takut kau akan membeciku, jika kalau aku mengatakan ... Aku sebenarnya ... me-me-menyukaimu! Maukah kau menjadi pa-pacarku?” ucap Kaila dengan gugup.
“H-heh?” ucap Ruri terkejut.
“Be-benarkan ... Aneh sekali perkataan dari manusia setengah iblis sepertiku ini. Tenang saja, dari awal aku sudah tahu jawabanmu, jadi aku sudah siap menerimanya, karena ini terdengar memalukan jadi tolong lupakan saja, hahah ... ” ucapnya sambil tertawa kecil.
Ruri mengalihkan pandangannya sambil berkata.
“Aku bahkan belum menjawabnya, dasar,” kata Ruri pelan sambil tersenyum.
“H-hah? A-apa maksudmu? Bu-bukankah jawabannya sudah jelas ... “ ucap Kaila yang juga mengalihkan pandangannya karena salah tingkah akan perkataan Ruri.
“Apa kau punya sihir melihat masa depan? Sampai sampai kau berkata begitu?” ucap Ruri sambil tersenyum sambil menatap Kaila.
“Ti-tidak sihh ... “ ucap Kaila mencibir.
“Seandainya sihir itu ada ... Tidak. Seandainya kau mempunyai sihir itu, mungkin kau akan tersenyum bahagia sekarang ini,” ucap Ruri yang membuat Kaila terkejut dan mulai tersipu.
“Ma-maksudmu?” ucap Kaila semakin gugup.
“Tentu saja aku tidak akan menolak seseorang yang mau menemaniku,” ucap Ruri sambil merangkul pundak Kaila dan bersandar di pundaknya.
“Ta-tapi ... Aku menemanimu hanya karena sebuah misi dari atasanku saja,” kata Kaila.
“Tidak apa.”
“Aku ini setengah iblis lohh ... “ ucap Kaila pelan.
“Tidak apa-apa,” ucap Ruri yang masih bersandar di pundak Kaila.
“Aku khawatir, kalau misi berikutnya adalah untuk membunuhmu.”
“Jika kau yang membunuhku, aku tak keberatan,” ucap Ruri dengan tenang.
“Tapi aku tidak mau itu, kalau kau menerima untuk dibunuh begitu saja!” ucap Kaila agak keras.
“Kalau begitu, aku berjanji akan menghentikanmu, dan menghentikan seseorang yang mengendalikanmu.”
“Dasar bodoh, kau bisa mati tahu,” ucap Kaila tersenyum dan kembali menitikkan air mata.
“Hei jangan menangis, aku tidak bisa tidur jika air matamu terus mengalir seperti itu.”
“Kau pikir ini salah siapa?” ucap Kaila tersenyum dan menyerka air matanya.
“ .... “
Mereka pun terdiam beberapa saat, suasana menjadi hening kembali.
“Ruri?” ucap Kaila setelah beberapa saat.
“ .... “
“Ahh sudah tidur rupanya, ternyata kau memang masih kelelahan. Sebenarnya aku ingin mengatakan seeuatu, tapi tak apalah, aku hanya ingin mengatakan ... Jika seandainya aku diluar kendali, aku mohon ... bunuh saja aku. Aku sudah cukup bahagia kok,” kata Kaila sambil menatap langit yang tampak jutaan bintang sedang menghiasi malam itu.