Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 6 - Iblis?



17:45 PM.


"Ahh dimana ini?" kata Ruri yang mulai bangun dari tidurnya.


"Kau tertidur selama dua hari, dan sekarang kau berada di UKS," ucap seseorang yang baru datang, Pak Nathan.


"A-apa? Dua hari?" ucap Ruri terkejut.


"Iya, memangnya kau lupa dengan apa yang terjadi?"


Ruri pun mencoba mengingat kejadian saat itu.


"Ahh iya, aku berduel dengan Arya kemudian tubuhku ... " ucap Ruri sambil memeriksa tubuhnya yang sudah tidak apa-apa.


"Kok bisa?" kata Ruri kebingungan.


"Payah, kukira kau tahu berbagai macam jenis sihir, karena kau menggunakan 3 jenis sihir saat melawan Arya," kata Pak Nathan yang membuat Ruri terheran-heran.


"Maksud bapak?"


"Alasan tubuhmu yang tertembus pedang bisa kembali seperti semula adalah sihir penyembuhan, yang melakukannya adalah murid dari Middle Class," jelas Pak Nathan.


"Ohh, terus yang bapak maksudkan tadi apa? Tentang menggunakan 3 jenis sihir itu," ucap Ruri penasaran.


"Ahh aku lupa kalau kau murid baru, sekarang aku tanya, kenapa kau bisa menggunakan 2 sihir yang terakhir itu?" tanya Pak Nathan.


"Entahlahh Pak, aku sendiri juga tidak bisa menjelaskannya, karena aku hanya membayangkannya saja," kata Ruri sambil tersenyum.


"Jadi bisa dibilang kau hanya mencoba-coba sihir, akan tetapi, kau sendiri tidak tau jelas bagaimana cara kau melakukannya?" kata Pak Nathan dengan muka datar.


"I-iya kira-kira begitu ... " ucap Ruri tersenyum.


"Pak Nathan," ucap Ruri tiba-tiba.


"Bagaimana dengan orang itu?" tanya Ruri.


"Ahh ... dia. Arya sekarang ini dalam masa skorsing selama sebulan, dan aku tidak menyangka bahwa ... " ucap Pak Nathan yang mulai menceritakan kejadian yang terjadi dua hari yang lalu.


Flashback on.


"Arya, apa kita akan terus berlari di dimensi ini?" kata salah satu dari lima temannya yaitu Soni.


"Aku tidak tahu, kalau kita kembali ke sekolah sekarang, kita tidak akan sempat kabur, jadi kita menunggu-" ucap Arya terpotong, karena terkejut melihat seseorang di hadapannya, hal ini membuat Arya dan kawanannya berhenti.


"Cihh ... Guru di sekolah ini memang hebat," ucap Soni sambil tersenyum.


"Bagaimana bapak bisa tau?" tanya Arya yang mulai panik.


"Sebaiknya kalian kembali ke sekolah sekarang!" ucap Pak Nathan kepada Arya dan kawanannya.


"Setelah itu apa...?!" ucap Arya sambil menembakkan beberapa bola api ke Pak Nathan.


*Duuurrr... Duuurrr... Duuurrr...


"Sudah kuduga," ucap Arya yang melihat Pak Nathan menahan bola apinya dengan tangan kanan menggunakan sihir pelindung.


"Arya, berhubung kita masih disini, bagaimana kalau kita menghabisinya saja?" ucap Soni sambil tersenyum.


"Tapi, kita bisa terbunuh olehnya," ucap Arya.


"Apa kau mau dipermalukan?" ucap Soni dengan senyum jahatnya.


"Cihh ... jadi ternyata, dalang semua ini adalah dia," gumam Pak Nathan sambil melirik tajam Soni.


"TIDAK ... aku tidak mau dipermalukan!" ucap Arya sambil mengeluarkan pedang dari apinya.


"Arya, dan kalian semua, menjauhlah darinya!" ucap Pak Nathan sambil menunjuk ke arah Soni.


"Untuk apa? Apa bapak takut kalau kita bersama-sama akan bekerja sama untuk menghabisimu?" tanya Arya sambil tersenyum.


"Tidak, aku hanya khawatir padamu, karena Soni itu bukan manusia, akan tetapi, dia itu iblis ... " ucap Pak Nathan memberitahu.


Seketika Arya dan kawanannya terkejut mendengar ucapan Pak Nathan.


"Mustahil, KAU PASTI BERCANDA...!!!" kata Arya.


Soni hanya menundukkan kepalanya.


"Terserah, kau mau menganggapku penuduh atau apa, yang jelas aku sudah tau kalau Soni adalah iblis. Ada apa? Kau tidak mau menunjukkan wujudmu yang sebenarnya?" ucap Pak Nathan sambil tersenyum melihat Soni hanya menundukkan kepalanya.


"I-itu tidak benarkan, Soni?" tanya Arya kepada Soni.


"Hahahah...!!!" tawa Soni.


"Tidak, itu benar, aku adalah salah satu iblis yang diutus untuk mencari informasi, memperbanyak siluman dan menghancurkan dunia ini," kata Soni sambil menunjukkan wujudnya yang sebenarnya.


Bertanduk satu dikening serta kedua sayap hitam yang keluar dari punggungnya membuat Arya serta kawanannya terkejut dan menjauh.


"Ini gawat, disini masih ada Arya dan kawannya jadi aku tidak bisa melawannya dengan leluasa," gumam Pak Nathan.


"T-tidak mungkin...!!!" ucap Arya dan kawannya melihat salah satu temannya yang ternyata seorang iblis.


"Kalian, cepat kembali ke sekolah...!!!" ucap Pak Nathan kepada Arya dan kawannya.


Mendengar itu, Arya dan kawannya langsung menekan jamnya dan kembali ke sekolah.


"Ternyata guru di sekolah ini memang hebat," ucap Soni.


"Tidak, aku hanya baru menyadarinya, setelah banyak yang kau lakukan di sekolah ini," ucap Pak Nathan langsung menembakkan bola api hitam mengarah Soni yang mulai melayang di udara.


"White Wind Protector," ucap Soni sambil memantulkan api keatas dan Soni melesat cepat menuju Pak Nathan untuk memukulnya menggunakan tangan kanannya.


Dengan cepat Pak Nathan melompat ke atas dan menyambar menggunakan Lightning Strike kearah Soni yang memukul tanah sampai melubangi daerah sekitar.


Akan tetapi Soni hanya menahannya menggunakan kedua sayapnya dan berkata.


"Sepertinya aku yang sekarang belum cukup cepat untuk menghabisimu, jadi aku pergi dulu," ucap Soni yang dibarengi oleh angin kuat dan menghilang.


"Cihh ... "


Flashback off.


"Jadi, orang yang membuatku jatuh itu Soni dan dia adalah iblis?" ucap Ruri tidak percaya.


"Begitulah ... " ucap Pak Nathan.


"Sepertinya aku harus terus bertambah kuat," ucap Ruri sambil mengepalkan tangannya.


"Hei hei, padahal kau sudah mengalahkan Arya, apa itu belum cukup?" tanya Pak Nathan sambil tersenyum.


"Bukan Pak, itu mungkin hanya keberuntungan semata," ucap Ruri kembali melemaskan tangannya dan ikut tersenyum.


"Lagi juga, aku belum terbiasa dengan pertarungan menggunakan sihir," sambung Ruri.


"Memang kau sebelumnya tidak pernah bertarung menggunakan sihir?" tanya Pak Nathan.


"Hadeh sepertinya aku salah ngomong," gumam Ruri.


"Maksudku, aku sudah lama tidak bertarung dengan seseorang," ucap Ruri.


"Ya sudahlah, lebih baik mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati," ucap Pak Nathan.


"Berhati-hati? Kenapa?" tanya Ruri tidak mengerti.


"Aku hanya khawatir yang diucapkan Soni itu benar, kalau dia iblis yang juga membuat siluman, aku tidak tahu, seberapa banyak yang sudah ia buat selama dia sekolah disini," jelas Pak Nathan sambil melihat keluar jendela.


" .... "


Ruri hanya diam tidak berkata-kata.


Ruri berpikir kalau manusia seperti Arya saja sudah sekuat itu, bahkan Arya hampir mengalahkannya, bagaimana kuatnya makhluk yang bernama iblis itu?


"Ternyata, memang harus dilakukan," ucap Ruri tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" tanya Pak Nathan.


"Jadi intinya, aku hanya perlu banyak berlatih agar terus bertambah kuat, iya kan Pak?" ucap Ruri kembali tersenyum.


"Iya begitulah," ucap Pak Nathan ikut tersenyum.


*Ckreeeek...


Tiba-tiba saja pintu terbuka dan terlihat tiga orang terdiam sebentar kemudian langsung menghampiri Ruri.


"Ruri...!!!" ucap mereka hampir berbarengan.


"Heh? Kalian?"


"Akhirnya kau bangun juga," ucap Clarissa tersenyum.


"Iya Ruri, kau lama sekali bangunnya, padahal aku ingin sekali belajar sihir denganmu," ucap Dhafin.


"Baiklah Ruri, karena aku tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian, aku hanya ingin menyampaikan kata dokter, jika kau sudah siuman, berarti kau sudah boleh kembali beraktivitas seperti yang lainnya," ucap Pak Nathan sambil berlalu pergi.


"Ahh iya Pak, terima kasih," kata Ruri.


"Baiklah selamat berlatih...!!!" ucap Pak Nathan sambil menutup pintu.


"Baiklah, ayo kita ke kantin, sedikit lagi waktunya makan malam," ucap Naila.


"Ahh kau benar Naila, aku sudah lapar sekali," ucap Ruri memegang perut rampingnya.


"Ayo kita pergi!" ucap Dhafin.


"Hmmm."


...****************...


"Ahh kenyang," ucap Ruri setelah makan malam.


"Iya, aku saja sampai kesulitan bergerak," kata Dhafin.


"Ohh iya, setelah ini akan ada kegiatan apa?" tanya Ruri.


"Tidak ada, biasanya murid-murid hanya berlatih, berduel, atau tidur," ucap Clarissa.


"Memangnya berlatih dan berduel apa bedanya?" tanya Ruri tidak mengerti.


"Ahh benar juga, coba kau tekan tombol yang disana itu," kata Dhafin sambil menekan jamnya.


Dan sesaat itu pula munculah seperti sebuah hologram dari jam itu yang memuat data-data pribadi di sekolah itu.


"Aku berada di ranking 6 dari 28 orang di Lower Class 3," ucap Dhafin menunjuk ke arah rank.


"Kalau Clarissa ranking berapa?" tanya Ruri kepada Dhafin.


"Tentu saja aku berada di atas Dhafin," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Hei, kalau saja saat ujian tadi aku menang melawanmu, mungkin rankingku akan naik berada diatasmu kak," kata Dhafin kesal.


"Ayolah ... Itukan kalau kamu menang," ucap Clarissa yang di lanjutkan dengan tawaan mereka semua.


"Sudah jelas lahh kalau Dhafin tidak akan pernah menang melawan Clarissa," ucap perempuan dari meja sebelah yang dari tadi mendengar pembicaraan Ruri dan kawannya.


"Diam kalian...!!! Lihat saja, suatu saat nanti aku akan mengalahkan kakak," ucap Dhafin dengan mimik wajah jengkel.


"Iya, berjuang yaa ... Aku menantikannya," ucap Clarissa.


"Hmmph ... " ucap Dhafin sambil berpaling.


"Ohh iya bagaimana dengan rankingmu Ruri? Bukankah kamu waktu itu menang melawan Arya?" tanya Clarissa.


"Kalau aku ... " ucap Ruri sambil menekan tombol jamnya dan muncul lah datanya yang seperti hologram.


"Apa ini bagus?" tanya Ruri sambil tersenyum.


Mereka pun berdatangan melihat data data Ruri.


...Data murid...


Nama : Ruri Narendra


Kelamin : Laki-laki


Umur : 13 Tahun


Kelas : Lower Class 3


Poin : 3900


Rank : 3 dari 28


Status : Naik


...OK...


"HEEEHHHHH....?!!" ucap mereka semua terkejut.


"Ruri, padahal kau anak baru, tapi dengan sekali berduel, kau bisa secepat itu naik rank?" ucap Dhafin terkejut.


"Ahh aku tidak mengerti, sepertinya itu tidak bagus," ucap Ruri sambil tersenyum.


"TIDAK BAGUS APANYA?!" ucap mereka serempak.


"Tapi tidak heran sihh kalau poinnya bisa sampai sebanyak itu dalam sekali berduel," ucap Clarissa sambil duduk kembali.


"Kenapa?" tanya Ruri.


"Yang kau lawan itu Arya, dia Ranking 1 di Lower Class 1," jelas Clarissa.


"Ohh jadi begitu," ucap Ruri mulai mengerti.


"Bagaimana kalau kita berkeliling? Lagi pula Ruri belum tahu persis tempat ini," ucap Dhafin.


"Ahh iya kau benar, aku baru hanya melihat beberapa saja di sekolah ini," ucap Ruri.


"Yaudah ayo!" ajak Clarissa.


"Tunggu sebentar, sepertinya tadi ada pertanyaanku yang belum kuketahui jawabannya," kata Ruri tiba-tiba.


"Ahh iya, tentang perbedaan duel dan berlatih, perbedaannya kalau kau berlatih biasa itu tidak akan menambah poinmu, sedangkan kalau duel, pemenang akan mendapatkan sejumlah poin tergantung siapa dan bagaimana kau bertarung, kalau kau kalah, poinmu akan berkurang 100," jelas Clarissa.


"Walaupun aku kalah seperti apa juga, apakah poinku hanya akan berkurang 100?" tanya Ruri lagi.


"Iya," ucap Clarissa singkat.


"Sepertinya aku mulai sedikit mengerti, bisa kau jelaskan lebih detail lagi?" pinta Ruri.


"Bagaimana kalau kujelaskan dijalan saja?" tawar Clarissa.


"Baiklah."


"Ayo kita pergi!" ucap Clarissa.


"Hmmm," ucap mereka bertiga.


...****************...


"Baiklah, ini adalah tempat yang biasanya digunakan murid-murid untuk berlatih," kata Clarissa setelah sampai disebuah tempat mirip seperti sebuah lapangan.


"Ahh kalau ini aku tau, Ibu Kepsek mengajakku kesini untuk mengujiku," ucap Ruri.


"Benarkah? Sihir apa yang kamu gunakan?" tanya Dhafin heran.


"Angin, seperti yang diajarkan Clarissa," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Hah? Clarissa mengajarkan Ruri?" ucap Naila tidak percaya dan langsung menatap tajam Clarissa.


"Hmm hmm ... Itu benar," ucap Ruri menganggukkan kepala.


"Hei Clarissa, tolong ajarkan aku juga, agar aku bisa seperti Ruri," ucap Naila sambil tersenyum.


"Ahh ti-tidak, sepertinya kau salah paham," ucap Clarissa sambil melirik kearah Ruri yang sudah berpaling seperti tidak terjadi apa-apa.


"Dasar Ruri?!" gumam Clarissa sambil tersenyum kecut.


"Hmm sepertinya disini agak sepi," ucap Ruri sambil melihat sekitar yang hanya terdapat beberapa orang saja yang tengah berlatih di ruangan luas itu.


"Iya, mungkin sekarang banyak yang berduel atau berlatih di dimensi lain," kata Dhafin.


"Dimensi lain?" tanya Ruri.


"Masa kamu lupa? tempatmu bertarung dengan Arya," jelas Dhafin.


"Ohh di sana rupanya," ucap Ruri.


"Kalau disana juga buat latihan, lantas untuk apa tempat ini dibuat? " pikir Ruri sambil tersenyum aneh.


"Baiklah, apa kita kembali ke kamar saja?" tanya Clarissa kepada Dhafin dan Ruri setelah menjelaskan panjang lebar kepada Naila.


"Ahh iya, aku sudah ingin tidur," ucap Dhafin.


"Iya aku juga masih agak lemas sihh," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Baiklah, ayo!" ajak Clarissa.


Mereka pun berjalan menuju kamar yakni tempat mereka bertiga.


"Kau yakin ini sekolahan?" ucap Ruri setelah melihat ruangan luas yang dibilang sebuah kamar.


"Memangnya kenapa?" tanya Dhafin.


"Ahh tidak apa-apa, ngomong-ngomong ini kasur memang sudah sejak awal ada 4?" tanya Ruri.


"Yaa memang sejak awal setiap kamar dibangun untuk 4 orang," ucap Dhafin sambil berbaring di ranjangnya.


"Hmm jadi begitu, lantas kenapa disini sebelumnya hanya ada kalian bertiga?" tanya Ruri lagi.


"Ada dua sebab," ucap Dhafin kembali bangun dan duduk diatas ranjangnya dan mengacungkan dua jarinya.


"Pertama, sebelum kau sekolah disini, murid Lower Class 3 hanya berjumlah 27, jadi, salah satu tim harus ada yang 3 orang. Kedua, karena dari awal juga ... " ucap Dhafin berhenti menjelaskan.


"Kenapa?" ucap Ruri.


"Dhafin tidak pandai berbicara untuk mengajak seseorang," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Hei, tapi setidaknya aku berhasil mengajak Naila," ucapnya sambil menunjuk Naila yang sudah duduk di ranjangnya.


"Naila mau karena dia satu penginapan dengan kita," ucap Clarissa pelan dengan nada mengejek.


"Ahh sudah-sudah kalian jangan berdebat malam malam begini," ucap Ruri tersenyum melihat tingkah mereka berdua.


"Hei Dhafin yang kau maksud dengan tim itu apa? Teman sekamar ini?" kata Ruri lagi.


"Iya sekarang kita sudah menjadi teman setim," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Syukurlah," ucap Ruri.


"Ohh iya Ruri, mumpung kita berada di kamar, aku ingin menanyakan sesuatu," kata Clarissa.


"Tanya apa?" ucap Ruri ikutan duduk di ranjang barunya.


"Bagaimana kau bisa masuk Lower Class 3? kupikir dengan kekuatanmu saat itu mungkin kau bisa masuk Lower Class 1 bahkan Middle Class," ucap Clarissa.


"Iya, aku juga heran kau bisa masuk Lower Class 3," sambung Dhafin.


"Ahh itu, sebenarnya ... " ucap Ruri mulai menjelaskan dari kejadian malam itu sebelum sekolah sampai alasan ia bisa sekelas dengan mereka.


"Heeehhhhh...?!!" ucap mereka karena terkejut.


"Jadi kau yang menyebabkan pepohonan tumbang di bagian luar kota?" tanya Dhafin dengan muka datar.


"I-iya, jadi mohon dirahasiakan, aku melakukan ini karena untuk belajar menahan sihirnya agar dapat terlihat seperti milik Clarissa," ucap Ruri.


"Wind Slash maksudmu?" tanya Clarissa.


"Iya,"


"Lalu, pohon yang berlubang itu kenapa?" tanya Dhafin lagi.


"Ahh itu, aku itu sedang belajar membuat jarum es dan setelah berhasil, aku berniat mencoba menancapkannya ke pohon akan tetapi ... hahahah," kata Ruri tidak melanjutkan ucapannya melainkan dilanjutkan dengan tawa kecil.


"Malah menembus pohonnya?" ucap Dhafin dengan raut wajah datar.


"Ma-maaf aku tidak sengaja," ucap Ruri kembali tersenyum.


"Jadi kau menipu Bu Kepsek dengan Wind Slash hasil latihanmu itu?" tanya Clarissa.


"Iya benar, aku pikir jika menggunakan sihir yang sama sepertimu dengan kekuatan yang sama, aku akan ditempatkan di kelas yang sama, tapi syukurlah itu benar-benar terjadi," ucap Ruri kepada Clarissa.


"Hadehh ... Pemikiranmu ternyata luas ya," ucap Clarissa sambil menghela nafas dan menggelengkan kepala.


"Hmm ngomong-ngomong, Naila kenapa kau hanya diam saja dari tadi? Apa kau orangnya memang pemalu?" tanya Ruri kepada Naila yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan.


"Iya ya, padahal sebelumnya kau itu banyak bicara sepertiku," ucap Clarissa.


"Ahh ti-tidak aku hanya tidak tahu apa yang ingin kukatakan," ucap Naila pelan.


"Apa kau sakit?" tanya Ruri.


"Ti-tidak, aku sehat sehat aja kok," ucapnya sambil tersenyum dengan pipinya yang memerah.


"Hmm yaudah, aku mau keluar sebentar," ucap Naila lagi dan segera keluar kamar.


"Heh?" ucap mereka bertiga kebingungan.


"Yaudah aku mau tidur," ucap Dhafin kembali merebahkan dirinya ke kasur.


"Iya aku juga," ucap Clarissa.


"I-iya selamat malam," ucap Ruri ikut berbaring dan memejamkan mata.


"Selamat malam."


...****************...


"Benarkah?" ucapnya sambil tersenyum.


"Begitulah tuan."


"Baiklah, kau boleh menghancurkan kota itu, dan aku akan mengawasinya untuk melihat bagaimana perkembangan para manusia itu," ucapnya pelan.


"Baiklah, akan kulaksanakan sesegera mungkin," ucap makhluk bertanduk satu dan bersayap hitam itu, Soni.