
"Ruri, kau tadi dari mana dengan Naila?" tanya Dhafin.
"Cuman kejadian tadi doang, bukan masalah yang serius juga kok," jelas Ruri.
"Ahh ... begitukah? Lalu, sekarang ini Naila ada di mana?" tanya Clarissa.
"Dia sudah kembali ke kamarnya, ada apa emangnya?" ucap Ruri kembali bertanya.
"Ahh ... ti-tidak, bukan apa-apa," ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Hmm?"
"Jadi, untuk kedepannya, apa yang akan kita lakukan?" ucap Clarissa sambil merebahkan diri di ranjangnya.
"Entahlah ... "
"Hmm ... ohh iya, aku baru ingat. Nanti setelah selesai makan siang, aku ingin pergi ke sekolah," ucap Ruri.
"Sekolah? Ahh ... iya aku lupa, padahal tadi aku berniat ingin pergi kesana," kata Dhafin sambil menepuk jidat.
"Memangnya kamu mau ngapain ke sekolah?" tanya Clarissa kepada Ruri.
"Aku ingin melihat sekolah itu dibangun ulang. Kata Pak Nathan, setelah jam makan siang nanti, sekolah itu baru akan di hancurkan. Makanya aku penasaran bagaimana cara mereka melakukannya," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Heh ... sepertinya menarik, baiklah aku juga akan ikut kesana," kata Dhafin sambil menoleh kearah Clarissa sambil tersenyum.
Melihat itu Clarissa menghela nafas dan berkata.
"Baiklah-baiklah, aku juga ikut," kata Clarissa.
...****************...
13:08 PM.
"Heh? Ternyata kau benar-benar datang," kata Pak Nathan.
"Tentu saja, aku kesini hanya untuk melihat bagaimana orang-orang di sini menghancurkan bangunan besar ini," kata Ruri sambil tersenyum.
"Hmm? Kukira kau membawa teman-temanmu untuk membantu," kata Pak Nathan sambil tersenyum.
"Kalau boleh, dengan senang hati aku bantu melenyapkan bangunan ini," ucap Ruri sambil tersenyum lalu mengeluarkan bola api kecil berwarna biru di tangannya.
"Se-sebaiknya jangan, aku khawatir dengan kota ini," ucap Vina sambil tersenyum aneh.
"Ngomong-ngomong kenapa sekolah ini ingin dibangun ulang Pak? Padahal sekolah yang sekarang ini sudah sangat bagus?" kata Dhafin bertanya kepada Pak Nathan.
"Kalau soal itu ... aku tidak bisa menjawabnya," kata Pak Nathan.
"Sudah Pak, katakan saja. Lagi juga sekolah ini akan dibangun ulang, dan juga mereka ini teman-temanku yang dapat dipercaya," kata Ruri.
"Ru-Ruri ...?! Kau sudah tahu alasan sekolah ini mau dibangun ulang?" tanya Dhafin terkejut.
"I-iya, hehe, itu kulakukan karena janjiku pada Pak Nathan untuk tidak memberitahu sebelum diizinkan," kata Ruri sambil tersenyum.
"Ahh ... begitu rupanya, jadi, kenapa sekolah ini ingin dibangun ulang Pak?" kata Dhafin lagi.
"Hmm bagaimana menjelaskannya yaa ... " kata Pak Nathan sambil berfikir.
Namun di sela-sela sedang berfikir itu, ada seseorang yang memanggil Pak Nathan.
Dengan cepat Pak Nathan menjawab panggilan itu sebentar lalu berkata.
"Ruri, kuserahkan penjelasannya pada kau saja," ucap Pak Nathan sambil berlalu pergi menghampiri orang yang memanggilnya.
"Hadehh ... ujung-ujungnya aku juga yang menjelaskan," gumam Ruri sambil menghela nafas.
"Jadi, apa sebabnya Ruri?" tanya Dhafin cepat.
"Singkatnya begini ... kalian tahu bencana lubang hitam itu?" tanya Ruri yang dilanjutkan dengan anggukan keempat temannya.
"Nahh ... sekolah inilah penyebab terjadinya bencana itu," kata Ruri.
Seketika pertanyaan teman-temannya pun membanjiri Ruri.
"Apa maksudmu Ruri? Ada apa dengan sekolah ini?"
"Akan sulit menjelaskan rinciannya, jadi intinya, kalau sekolah ini tidak dilenyapkan atau dibangun ulang, maka bencana lubang hitam raksasa akan terus berlangsung di kota ini, bahkan bisa menyebar ke seluruh dunia," jelas Ruri.
"Aku tidak paham, kenapa sebuah bangunan bisa menyebabkan bencana sedahsyat itu?" kata Dhafin sambil menepuk jidat.
"Kan sudah kubilang, rinciannya akan sulit jika dijelaskan."
"Hmm? Ruri, jadi maksudmu, kalau kita melenyapkan sekolah ini, bencana itu akan hilang?" ucap Naila menarik kesimpulan.
"Yah tepat seperti itu, Naila aja mudah paham, masa Dhafin tidak paham sedikit pun?" kata Ruri sambil mencibirkan mulutnya.
"H-hei ... itu karena kau tidak menjelaskan rinciannya!" elak Dhafin.
"Sudahlah Dhafin, kau memang bodoh, dari awal kan Ruri sudah bilang, ia hanya menjelaskan intinya, yaitu sebab dan akibat," kata Clarissa sambil tersenyum.
"Iya, padahal kau yang sangat ingin mengetahui hal ini, tapi malah paling lambat dalam pemahaman," kata Ruri sambil tersenyum.
"Bu-bukan begitu," ucap Dhafin sambil memalingkan pandangannya.
Dan seketika keempat orang itu tertawa.
"Hei kalian, segeralah pergi dari sini, kalau tidak, berdirilah di dekat gerbang sekolah," kata Pak Nathan yang kembali datang.
"Emangnya kenapa?" tanya Dhafin.
"Kau tahu sendiri, penghancuran akan segera dilakukan, dan juga sebelum itu sekolah ini akan ditutupi oleh protector," jelas Pak Nathan.
"Ahh begitu rupanya, baiklah ayo kita menunggu di sana saja," ucap Dhafin sambil menunjuk ke arah sebuah tempat teduh.
Mereka berlima pun pergi menuju daerah luar sekolah.
"Heh? Sudah mau dimulai kah? Tapi, kenapa bagian atasnya bolong?" kata Ruri yang melihat bagian sisi atas protector itu tidak tertutup.
"Mungkin mengurangi tekanan ledakan, itu kalau memakai sihir ledakan sihh," tebak Naila.
"Atau untuk ... " ucap Ruri yang tidak melanjutkan perkataannya karena melihat Pak Nathan mengangkat kedua tangannya dan dilanjutkan dengan munculnya sebuah bola hitam kecil tepat di atas bangunan yang dikelilingi oleh protector.
"Kira-kira sihir jenis apa itu yang digunakan Pak Nathan ya?" kata Dhafin yang masih menatap bola hitam kecil itu yang kian membesar.
Semakin lama, bola hitam itu semakin membesar dan setelah berhenti membesar bola hitam itu bergerak perlahan ke bawah.
"Naila, sepertinya yang kau bilang benar, Pak Nathan menggunakan sihir ledakan, tapi menurutku bola itu bukan sihir ledakan," kata Clarissa.
"Iya, itu adalah sihir ciptaan Pak Nathan sendiri," kata Ruri.
"Jadi yang bisa melakukan sihir itu hanya Pak Nathan saja?" tanya Dhafin.
"Tidak, kalau aku bertanya 'itu apa' kepada Pak Nathan dan aku mengetahuinya, aku juga bisa, bahkan kalian juga bisa menggunakan sihir itu," kata Ruri sambil tersenyum.
"Kau lupa denganku?" sela Vina.
"Ahh ... i-iya aku lupa," ucap Ruri yang senyum senyum sendiri.
Bola hitam itu terus bergerak perlahan ke bawah.
Namun tiba-tiba saja ...
Sesuatu yang berwarna hitam bergerak cepat menembus sihir bola hitam milik Pak Nathan dan dilanjutkan dengan ledakan sihir bola hitam besar itu.
Ledakan yang dilanjutkan dengan angin kencang itu efeknya tidak terlalu terasa sampai ke tanah, karena letak bola hitam itu yang masih tinggi.
"A-apa yang barusan tadi?" kata Dhafin setelah efek ledakan bola itu menghilang.
"Seseorang ada yang menyerang!" kata Ruri sambil menoleh ke arah langit yang berada di belakangnya.
"Cihh siapa yang berani-beraninya melakukan hal ini?" ucap Pak Nathan sambil menoleh.
Seketika ia terkejut lalu tersenyum.
"Sepertinya aku ketahuan kalau aku telah berkhianat," gumam Pak Nathan sambil tersenyum melihat sesosok yang melayang di langit.
"Bu kepsek," ucap Pak Nathan kepada Bu kepsek lalu menganggukkan kepalanya.
Bu kepsek juga menganggukkan kepalanya lalu berseru kepada semua orang.
"Semuanya, ini darurat! Suruh semua orang di kota mengungsi dengan segera!" ucap Bu kepsek dengan lantang.
"Hei kalian berlima cepat pergi dari sini!" ucap Pak Nathan kepada Ruri dan kawanannya.
"Aku tahu, tapi maaf, aku juga ingin bertarung," ucap Ruri.
"Heh? Sekarang ini kita tidak lagi bermain-main ya," ucap Pak Nathan.
"Aku tahu, tapi, mungkin inilah tugasku di dunia ini," ucap Ruri sambil mengaktifkan sihir miliknya dan seketika saja aura berwarna biru berkeluaran dari seluruh tubuhnya.
"Huuhh ... sudah kuduga, baiklah yang lain segeralah pergi mengungsi!" ucap Pak Nathan.
"Apa maksudnya? Aku tidak paham, kenapa Ruri boleh bertarung sedangkan kami tidak?" ucap Clarissa.
"Jangan tergesa-gesa, aku punya beberapa alasan yang tidak bisa disebutkan, dan juga, yang kita hadapi ini bukanlah manusia," jelas Pak Nathan.
"Bu-bukan manusia? La-lalu apa?" kata Vina terkejut.
"Dia adalah Soni, dan dia adalah iblis."
"Soni? Teman Arya itu?" tanya Dhafin tidak percaya lalu menatap ke arah langit.
"Ahh iya benar, itu Soni!"
"Iya, dia selama ini menyamar sebagai manusia, jadi kalian cepat pergi dari sini sebelum ... " kata Pak Nathan belum sempat menghabiskan perkataannya karena iblis itu mulai menembakkan sihir ke arahnya.
Dengan cepat Pak Nathan membuat protector untuk menahan serangannya namun makhluk itu langsung melesat cepat ke arah bagian belakang Pak Nathan dan hendak memukulnya.
"Kau lengah" katanya.
"Ini gawat! " gumam Pak Nathan yang terkejut sambil menoleh.
Makhluk itu mengayunkan tangannya sekuat tenaga, namun dengan cepat Ruri yang berada di sampingnya melompat berniat menendang bagian kepala makhluk itu.
Akan tetapi makhluk itu dengan sigap mengeluarkan sayapnya lalu menahan kaki Ruri.
"ORANG ITU BERSAYAP?!" ucap Vina terkejut.
"Pak Nathan!" kata Ruri yang dilanjutkan dengan tembakan sihir angin tepat mengenai tubuh makhluk itu.
Namun, hal itu hanya membuatnya terdorong sedikit ke belakang.
"Kalian cepatlah pergi dari sini!" Seru Pak Nathan.
"Ta-tapi ... " kata Clarissa terpotong karena Ruri menoleh dan berkata.
"Tenang saja, serahkan yang di sini padaku dan Pak Nathan, percayalah! aku akan menyusul setelah selesai," kata Ruri sambil tersenyum.
"Berjanjilah!"
Ruri sedikit terkejut lalu kembali tersenyum.
"Iya aku janji!"
"Baiklah, semuanya ayo kita pergi!" kata Clarissa yang dilanjutkan perginya keempat orang itu dari sana.
"Semoga kau selamat, Ruri," gumam Clarissa yang masih berlari menuju tempat semua orang mengungsi.