Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 50 (Tambahan) - Ruri's Story : While Under the Black Curse



“Dimana aku?” kata Ruri yang melihat dimensi sebelumnya hitam dan tergenang merahnya darah kini tempat itu berubah menjadi hitam putih.


“Kau sudah sadar?”


“Apa maksudnya ini?!” tanya Ruri.


“Kau seharusnya sudah tahu,” kata Hoursy yang duduk di salah satu tanah menjulang.


“Ahh ... iya, Black Curse,” gumam Ruri.


“Jadi untuk apa kita disini? Aku tak ada waktu disini, aku akan pergi sekarang! Bagaimana caranya untuk pergi dari sini? Apa dengan bunuh diri aku bisa keluar?” tanya Ruri.


“Lebih baik jangan terburu-buru, jika kau mati disini, maka kau juga akan mati di dunia sana.”


“Lalu apa yang kau inginkan?”


“Kesepakatan.”


Ruri menyeritkan dahinya karena tak paham apa maksud Hoursy Loungjer berkata begitu.


“Apa yang kau bicarakan?”


“Aku akan memberitahumu tentang one, seperti yang kau bilang tadi.”


“Hmm? Apa maksudmu? Bukankah kau tidak bisa mengatakannya?”


“Iya benar, tapi itu tadi saat aku masih hidup. Sekarang aku sudah terbebas dari hukum yang mengikat tentang larangan memberitahu tentang raja iblis lainnya.”


“Apa tujuanmu?” tanya Ruri yang semakin serius.


“Seperti yang kubilang tadi, aku ingin bersepakat denganmu tapi tergantung jawabanmu. Walaupun ada 2 pilihan, tapi kau harus mengikuti alur ini dengan menjawab iya. Kalau tidak kau akan mati untuk selamanya.”


“Apa isi kesepakatannya?” tanya Ruri cepat.


“Baiklah, singkatnya begini, aku akan memberitahumu tentang one dan sebagai balasannya aku ingin kau mengalahkannya.”


“Bukankah kalian sesama iblis saling membantu?”


“Walaupun begitu aku memiliki dendam sendiri dengan tindakannya yang mendidikmu sebagai muridnya.”


“Begitu rupanya, kau tidak ingin mati sendiri rupanya. Sebentar, apa maksudmu tentang aku yang menjadi muridnya?”


“Kau masih belum paham? Nathan lahh raja iblis pertama itu.”


Seketika Ruri terkejut.


“Apa maksudmu?! Jangan bercanda! Semua teman-temanku berada disana kau tahu?! Katakan padaku, apa yang dia rencanakan sekarang ini?!” ucap Ruri yang naik darah.


“Tenanglah ... Dia itu tidak seperti yang kau pikirkan, dimata orang-orang saat ini ia adalah manusia biasa karena ia dapat mengatasi hawa iblisnya secara menyeluruh.”


“Tapi dia tetap raja iblis bukan?!”


“Meski begitu dia tak tertarik dengan dunia ini, ia hanya tertarik padamu, jadi ia takkan macam-macam.”


“Kenapa denganku?”


“Entahlah, mungkin karena kau satu-satunya yang dapat mengalahkannya.”


“Aku tak yakin akan hal itu, tapi entahlah ... “


“Apa kau mau latihan melawannya? Tapi meski ini latihan nyawamu tetap taruhannya sihh ... ”


“Maksudmu?”


“Kau disini akan melawan makhluk buatan yang menyerupai Nathan akan tetapi hanya sebagian dari kekuatannya saja itu juga yang aku ingat.”


“Jadi kau belum tahu kekuatan sebenarnya?”


“Benar, aku hanya tau sebagian dan akan memasukkan kekuatan itu kedalam makhluk buatan yang kubilang. Ohh iya seperti yang kubilang tadi, aku tak bisa menghentikan pertarungan kalian jika sudah dimulai, kalau kau kalah, tamatlah sudah. Bagaimana apa kau bersedia?


“ .... “


Ruri terdiam karena ia membutuhkan waktu memikirkan apa ia sanggup mengalahkan Nathan walaupun hanya dengan setengah kekuatan tapi orang itu memang tak bisa diremehkan.


“Ini demi melindungi semuanya, aku harus siap kapanpun!” gumam Ruri membulatkan tekadnya.


Ruri menganggukkan kepalanya kemudian berkata.


“Aku akan melakukannya!”


Hoursy tersenyum dan mengarahkan tangannya ke gumpalan darah hitam itu dan terciptalah makhluk hitam dengan wujud Nathan.


Saat sadar pria itu langsung mengarahkan tangannya ke Ruri dan menembakkan bola api hitam berkali-kali.


*Dumm ... Dumm ... Dum ...


Ruri dengan cepat berlari menghindar dari tembakkan bola api beruntun itu.


*Duaaaaarrr ... Duaaaaarrr ...


“Bola api sekecil itu dapat meledak sebesar ini?!” gumam Ruri.


“Aku tidak akan kalah!” kata Ruri pelan kemudian melesat cepat menuju bagian belakang makhluk hitam itu dan mengayunkan tangannya berniat langsung memukulnya.


Akan tetapi dengan cepat makhluk itu langsung menoleh dan juga mengayunkan tangannya.


Karena Ruri lebih cepat akhirnya pukulan Ruri tepat di wajah makhluk itu dan mulai terhempas jauh.


“Kekuatannya luar biasa, tapi apa dia memang seceroboh ini?” gumam Ruri.


Saat makhluk hitam itu masih terhempas, terlihat ia mengeluarkan sepasang sayap dan menghilang diantara tanah yang menjulang.


“Cihh ... Bukan hanya menghilangkan hawa iblisnya saja, dia juga bisa menghilangkan hawa keberadaannya,” ucap Ruri pelan yang menoleh kesana kemari mencari lawannya itu.


Tiba-tiba saja dari belakang Ruri terdengar suara sesuatu yang bergerak sangat cepat kearahnya.


Ruri menoleh dan menghindarinya.


*Duuuusshh ...


Suara sihir berbentuk bola kecil berwarna hitam pekat yang meleset dari target, lalu mengenai salah satu tanah yang menjulang kemudian seketika itu pula tanah tersebut lenyap tak bersisa.


“Lu-lubang hitam?!” gumam Ruri yang terkejut melihat itu.


“Satu kali saja serangan itu mengenai tubuhku ... Sudah pasti aku akan mati!”


Ruri masih melompat-lompat menghindari lubang hitam yang ditembakkan secara beruntun oleh pria hitam itu. Namun yang menembakkan sihir itu masih tak terlihat karena pergerakannya yang sangat cepat.


Karena kelelahan atau apa, Ruri sempat lengah dan satu lubang hitam itu tepat mengenai tangan kirinya.


“Akhhh ... !!!” Ruri sedikit merintih kesakitan dengan lenyapnya lengan kiri miliknya.


Darah segar mulai berkeluaran dari tempat itu, dan dengan segara


Ruri pun langsung membekukan darahnya yang keluar.


Dunia luar ...


Ruri ... Bangunlah! Kumohon ... “ kata Clarissa kemudian mengecek detak jantung pria itu yang semakin lama kian melemah.


Karena panik Clarissa pun berteriak.


“Siapapun ... Tolonglah ... !!!”


Karena satu serangan itu mengenai Ruri, tiba-tiba saja makhluk itu langsung berada di belakang pria berambut perak itu dan menendang tubuhnya sampai terlempar jauh menembus beberapa tanah yang menjulang.


Saat terhenti, Ruri pun bangkit dan membuat pedang es nya.


“Baiklah ... “ kata Ruri sambil melesat cepat menuju makhluk itu.


Melihat Ruri mulai bergerak kembali, makhluk itu pun ikut melesat cepat sambil membuat pedang api hitamnya.


*Taaaaanng ...


*Taaaaanng ...


*Taaaaanng ...


Keduanya saling mengayunkan pedang mereka dengan gerakan kecepatan suara, tidak ada satupun dari mereka yang terkena serangan. Hanya saja, semakin lama Ruri semakin kesulitan, hal dikarenakan Ruri tak bisa menggunakan lengan kirinya.


Ruri yang sudah merasa tangan kanannya sudah diujung batas, ia pun langsung bergerak cepat mendekati Pria hitam itu, lalu saling mengadukan pedang dan menahannya.


*Taaaaanng ...


“Tangan kananku serasa ingin lepas, aku harus segera mengakhirinya! Jika tidak aku bisa tamat disini?!” gumam Ruri yang masih beradu pedang dengan makhluk itu.


Dengan cepat Ruri pun langsung memutar sedikit pedangnya dan menekannya keatas dengan kekuatan penuh.


*Srriiiing ...


Pedang api makhluk itu terlempar keatas.


“Ini kesempatanku!” ucap Ruri melihat makhluk hitam itu fokus melihat pedang apinya yang terlempar.


Ruri pun menedang sedikit tubuh pria itu dan mengayunkan pedangnya ke leher.


Karena menyadarinya, makhluk itu langsung menahan pedang Ruri menggunakan sayapnya.


“Ini belum selesai?!” kata Ruri sambil memutar tubuhnya dan memotong kedua sayap pria hitam itu.


Ruri pun dengan segera menundukkan kepalanya karena pria itu langsung mengayunkan tinjunya yang mengarah langsung ke kepala Ruri, setelah menundukkan kepalanya, Ruri pun kembali memutar tubuhnya dan langsung mengayunkan kembali pedangnya kearah leher makhluk itu.


Namun pria hitam itu melakukan sesuatu ditangannya yang lain, tapi Ruri acuh saja dan fokus memotong leher makhluk itu.


Seketika saja.


*Duuuusshh ...


Pedang es Ruri terbelah dua kemudian melewati leher pria itu.


“A-apa?! Dia bisa memodifikasi lubang hitam menjadi pedang?!” gumam Ruri tidak percaya.


Makhluk hitam itu langsung menendang tubuh Ruri dengan keras menggunakan lututnya, hal ini membuat Ruri terjongkok kesakitan dan pria itu pun mengayunkan pedang hitamnya.


Melihat itu Ruri langsung memulihkan pedangnya yang patah dan mencoba menangkisnya, namun pedang hitam itu menembus pedang es Ruri dan juga lengan kanannya.


"AHHH!” teriak Ruri menahan sakit.


Makhluk jelmaan Nathan itu pun langsung menendang kepala Ruri sampai terlempar sedikit kebelakang dan berjalan mendekatinya.


“Aku lengah ... Padahal ini hanya separuh kekuatannya, apa aku memang belum sebanding dengan Pak Nathan?” kata Ruri pelan menatap langit putih.


Pria hitam itu pun datang dan menginjakkan kakinya di tubuh Ruri.


Makhluk itu langsung mengangkat pedang hitamnya keatas.


“Apa aku benar-benar akan mati?”


“Clarissa ... Maaf, aku pasti membuatmu khawatir lagi ... “


Tiba-tiba saja ...


*Kumohon Ruri ... bernafas lahh ... jangan berakhir seperti ini ... kau kuat bukan?!“ ucap Clarissa lirih.


“I-ini ... Suara Clarissa,” ucap Ruri terkejut.


Dunia luar ...


Sudah berkali-kali Clarissa melakukan hentakkan di dada dan memberikan nafas buatan kepada Ruri, namun masih belum juga ada respon darinya.


Tak lama kemudian ...


*Deeegg ... *Deeegg ... * ....


Clarissa yang merasa ada sesuatu yang aneh, langsung menempelkan telinganya di dada pria itu untuk memeriksa detak jantungnya. Setelah ia sadar bahwa jantung pria itu sudah tidak ada lagi, ia pun terkejut, tubuhnya melemas, wajahnya mulai pucat pasi, ia merasa sangat putus asa dan terdiam di dada bidang pria itu.


“Kenapa Ruri ... ?" kata Clarissa lirih.


"Aku tak pernah menginginkan ini ... “


“Tapi kenapa ... ? Kenapa kau tetap melakukannya?"


"Apa kau tahu, kalau kau melakukan ini akan membuatku sedih?"


"Tapi kenapa ... kenapa kau tetap melakukannya?"


"KENAPA?!” ucap Clarissa dengan nada tinggi.


“KENAPA KAU SELALU MEMERHATIKAN ORANG LAIN?! APA KAU TAK PERNAH MEMERHATIKAN DIRIMU SENDIRI?!”


“KALAU BEGINI MALAH AKU YANG TIDAK AKAN PERNAH TENANG! APA KAU SENANG MEMBUAT ORANG LAIN KHAWATIR?!” Teriak Clarissa kepada pria yang tak sadarkan diri itu kemudian berhenti sejenak.


“Ruri bangunlah ... “


“Jika kau tak bangun juga, mungkin lebih baik aku mati saja ... “ kata Clarissa lirih.


“Tidak Clarissa!!!” teriak Ruri sambil berguling menghindari pedang hitam makhluk itu.


“Tolong ... Jangan katakan itu, aku melakukan ini agar kau terus hidup ... Tapi kenapa kau bisa-bisanya mengatakan mati dengan begitu mudahnya? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, dengan arti lain aku hanya perlu menang untuk mencegah hal itu terjadi ... “ kata Ruri pelan sambil bangun secara perlahan.


Pria hitam itu kembali bergerak dan mengayunkan pedangnya secara vertikal.


Ruri hanya menghindar dengan memutar sedikit badannya dan menyiapkan lengan kirinya.


“Water sources ... Elemental ice mode God Hand's!” seketika terciptalah tangan kiri baru yang terbuat dari es kemudian memukul wajah makhluk itu sampai terhempas sedikit.


“Walaupun tanpa lengan, selagi aku masih mempunyai tekad, aku takkan berhenti sampai seluruh tubuhku hancur!” kata Ruri sambil membuat lengan kanannya dengan es pula.


“Majulah!” kata Ruri sambil mengacungkan kedua tinju es nya.


Makhluk itu pun menghilangkan pedang hitam itu dan angsung menembakkan beberapa bola api ke arah Ruri.


“Hmm? Apa dia memiliki batasan atau semacamnya?" gumam Ruri tak mengerti.


Ruri pun kembali berlari menghindari bola api itu dan sesekali menangkis menggunakan tangannya.


Saat sudah dekat Ruri pun mengangkat tangan kanannya keatas membuat puluhan pedang es di udara dan mulai menembakkannya ke arah pria itu, berharap ada satu yang dapat menembus jantung atau menembus lehernya.


Akan tetapi pria itu mulai terbang kesana kemari menghindari semua pedang itu menggunakan sayapnya yang sudah beregenerasi kembali.


“Kalau sudah begini ... Speed up movement active, strengthens endurance active.“ ucap Ruri yang seketika aura biru menyelimutinya.


Ruri pun meletakkan tangan es nya ke genangan hitam di kakinya dan langsung mengangkat tangannya.


Seketika genangan itu langsung menjulang ke atas mengikat kaki pria itu.


Ruri pun kembali menurunkan lengannya hal ini bersamaan dengan makhluk itu yang ikut terhempas kebawah dan mulai mengikatnya.


“Dengan begini akan langsung aku akhiri! Ice shadow!” kata Ruri sambil membuat pedang es nya dan berlari cepat menuju kearah makhluk itu.


Pria yang terikat itu langsung membuat lubang hitam itu kembali dan mengubahnya menjadi pedang.


*Duuuusshh ... Duuuusshh ...


Makhluk itu memotong semua yang mengikat dirinya dan menoleh ke seorang pria berambut perak itu.


Pria hitam itu pun langsung mengayunkan pedang hitamnya.


Begitu pun dengan Ruri, ia juga mengayunkan pedang es nya mengarah ke pedang hitam itu.


*Duuuusshh ...


Pedang es Ruri hancur dan Ruri langsung melepasnya.


“Pedang itu hanya alihan saja,” gumam Ruri sambil menundukkan kepalanya menghindari pedang hitam itu.


“Hand mode sword ice!” kata Ruri yang mengubah lengan kanannya seperti pedang dan mulai berbalik mengincar punggung kiri pria itu berniat menusuk jantung makhluk itu dari belakang.


Karena ia menyadari Ruri mengincar jantungnya, ia pun memutar tubuhnya dan memotong tangan kanan Ruri menggunakan pedangnya.


Ruri tersenyum dan memegang lengan kanan pria hitam itu menggunakan tangan kirinya dan mulai memulihkan kembali lengan es kanannya.


Namun, tiba-tiba saja lengan kiri pria itu langsung membuat lubang hitam dan merubahnya menjadi pedang hitam kemudian menusukkan pedang itu ke tubuh Ruri.


*Duuuusshh ...


“Heh?” kata Ruri terkejut melihat tubuhnya tertembus dan berlubang besar


“Sepertinya kau kalah, Ruri,” kata pria itu yang mulai berbicara.


“Jangan terlalu cepat menyimpulkan,” ucap seseorang dari belakang pria hitam itu.


*Crrruuuukk ...


Lengan es yang menembus jantung makhluk itu dari belakang.


“Yang kau kalahkan itu bukan aku, itu hanyalah tubuh pengganti,” Kata Ruri sambil melepaskan lengannya dari tubuh makhluk itu.


“Selesai sudah.”


"Aku belajar banyak, terima kasih Hoursy ... " kata Ruri yang mulai terjatuh dan tak sadarkan diri.


Dunia luar ...


“Cla-rissa ... dimana kau?” kata Ruri pelan akan tetapi matanya masih tertutup.


Semuanya terkejut melihat Ruri yang dapat selamat dari kutukan itu.


Clarissa dengan cepat menggenggam tangan pria itu.


“Aku disini. Aku baik-baik saja, kau tak perlu mengkhawatirkanku, justru dirimu lah yang harus kau khawatirkan dasar bodoh,” kata Clarissa sambil tersenyum.


“Ma-af ... Aku membuatmu menangis lagi ... Aku benar-benar pria yang buruk,” kata Ruri yang sudah membuka matanya.


Clarissa menggelengkan kepalanya sebentar.


“Kalau kau bicara lagi akan kupukul kau,” kata Clarissa yang masih tersenyum.


Ruri tersenyum kecil kemudian kembali memejamkan matanya.


“Syukurlah ... Clarissa baik-baik saja,” gumam Ruri sambil tersenyum kecil


...****************...


“Ada apa Ruri?” tanya Clarissa melihat Ruri melamun.


“Tidak, bukan apa-apa, aku hanya memikirkan sesuatu.”


“Tentang apa?”


“Mulai sekarang aku tidak akan menahan diri lagi, akan aku tunjukkan kekuatanku yang sesungguhnya karena aku tidak ingin melihatmu menderita lagi.”


“Jadi selama ini kau menahan diri? Berarti sekuat apa dirimu itu?” tanya Clarissa curiga.


“Entahlah, mungkin setara dengan raja iblis,” kata Ruri asal dengan senyumannya.


“Heh? Mengerikan ... Jadi saat kau melawanku, kau dari awal memang tak pernah serius?“


“I-iyaa ... “


“Hadehh ... Sepertinya aku memang tak bisa menang darimu jika melakukan duel.”


“Kalau itu memang benar, hehe.”


“Ruri jahat! Setidaknya mengalah kek walaupun sekali.”


“Iya iya dehh ... Tapi mau duel bagaimana? Sekolah sudah lulus lohh ... “


“I-iya sihh ... Aku terlalu lama pergi,” kata Clarissa sambil menundukkan kepalanya.


“Sudah sudah, mau bertemu mereka lagi?” tanya Ruri.


“Siapa?”


“Tentu saja Dhafin dan Naila.”


“Tapi bagaimana dengan tujuanmu ini? Aku juga tidak mau menunggu terlalu lama ... “ kata Clarissa pelan.


“Sabarlah sedikit, justru aku ingin kembali ke kota untuk menjalankan tujuan kita itu.”


“Maksudmu menikah?” tanya Clarissa bersemangat.


“Bu-bukan yang itu ... Maksudku tujuan pertama kita,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Hmmph ... Kukira yang itu,” ucap Clarissa mencibir.


“Tenang saja, bukankah kita sudah berjanji?”


“Ta-tapi lama.”


“Makanya kubilang sabar sedikit, baiklah ayo kembali ke kota!”


“Baiklah ... “ kata Clarissa pelan.