Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 51 - Kembali & Rencana Liburan



“Apa yang kalian berdua lakukan? Kencan?” tanya Ruri kepada Dhafin yang sedang makan siang bersama Naila.


“WAAHH ... Ruri?! Se-sejak kapan kalian disini?” ucap Dhafin terkejut melihat Ruri dan Clarissa tiba-tiba berada di sampingnya.


“Baru saja tiba," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Clarissa, akhirnya ... Selamat datang kembali," kata Naila sambil berdiri dan menghampiri wanita itu.


"Iya ... Maaf yaa membuat kalian cemas."


"Lalu, bagaimana dengan kemanusiaanmu?" tanya Naila.


"Aku kembali jadi manusia, akan tetapi ... "


"Kenapa?"


"Sayap hitam itu masih bisa kukeluarkan," ucap Clarissa yang setengah berbisik agar tidak ada orang lain yang mendengarkan.


"Mungkin itu tidak bisa lepas, bagaimana kalau aku potong saja?" kata Ruri sambil membuat pedang es nya.


"Se-sebaiknya jangan ... " kata Naila sambil tersenyum.


"Cla-Clarissa?" ucap seseorang yang diam terpaku di depan pintu.


Saat Clarissa menoleh, ia pun tersenyum lebar dan berkata.


"Vina ... "


"Clarissa, syukurlah ternyata kau benar-benar masih hidup," ucap Vina sambil berlari kemudian memeluk erat wanita itu.


"Iya, maaf sudah membuatmu khawatir."


"Ohh iya perempuan itu dimana? Siapa namanya ... Itu ... Kaila, iya Kaila." tanya Vina.


"Heh? Memangnya Dhafin belum cerita?"


"Cerita apa?"


"Dasar pasti dia lupa," kata Clarissa saat melihat kearah Dhafin yang pura-pura tak mendengar.


"Vina, sebenarnya aku ini adalah Kaila."


"H-hah?"


"Sudah tak usah dipikirkan, akan rumit menjelaskannya."


"Ohh iya aku baru terpikirkan ini, kok kalian bisa ada di penginapan ini? Bukankah kalian ada di Ibukota?" tanya Ruri kepada Naila dan Dhafin.


"Iya, saat ini aku sedang masa liburan, jadi aku datang kesini dehh. Niatnya aku ingin mengajak Vina dan Dhafin saja. Karena kebetulan kalian sudah datang, bagaimana kalau kalian ikut kami liburan ke pantai?" kata Naila.


"Kapan Nai?" tanya Clarissa cepat.


"Besok."


"Wahh ... Ruri, ayo kita ikut juga!"


"Ba-bagaimana dengan tujuanku ... " kata Ruri sambil tersenyum aneh.


"Udah lakukan itu kapan-kapan saja, ya?"


Ruri menghela nafas dan menjawab dengan pasrah.


"Baiklah ... "


*Fuuuuhhhh ...


"Heh? Perasaan apa ini?Jangan-jangan ... " gumam Ruri terkejut karena tiba-tiba saja merasakan ada sesuatu yang tidak enak.


"Yup sudah dipastikan, kita berlima akan pergi bes-" kata Naila terpotong.


"Tunggu sebentar! Aku juga mau ikut," kata Pak Nathan yang tiba-tiba muncul.


"H-hehh ... ?!" ucap semuanya terkejut.


"Dari mana bapak datang?" tanya Dhafin yang baru menyadari akan kehadiran orang itu.


"Dari pintu," jawab Pak Nathan polos dengan tampang bodohnya.


"Pa-pak Nathan ... " kata Ruri pelan sambil menatap orang itu.


Ruri langsung diam membisu, jantungnya yang berdegup kencang membuat tubuhnya sedikit gemetar akan tetapi dia mencoba menahannya agar teman-temannya tak mengetahui keadaannya sekarang.


Nathan tersenyum melihat reaksi Ruri saat menatapnya dan kemudian ia berbisik.


"Jika kau sudah tau. Tenanglah! Bersikap saja seperti biasa, disini aku tidak akan melakukan apa-apa kok."


Sambil menelan ludah, Ruri pun mengangguk pelan dan mulai mengatur kembali nafasnya untuk mencoba kembali tenang.


"Kenapa bapak pengen ikut juga?" tanya Dhafin.


"Heh? Aku? Tentu saja karena pantai, dan juga aku ingin sesekali berlibur bersama mantan murid-muridku," kata Pak Nathan sambil tersenyum dan menaikkan alisnya.


"Mencurigakan ... " kata semuanya berbarengan.


"Sudah bapak urus saja istri bapak ... " kata Vina.


"Istri? Bapak sudah punya istri?" tanya Ruri yang sudah merasa baikan.


"Iyalah masa nge jomblo mulu kan nggak asik, jadi kalian kapan nikah hah? Hah? Hah?" kata Pak Nathan dengan nada mengejek.


"Kok pengen mukul ya?" ucap Naila sambil tersenyum kecut.


"Ngomong-ngomong, Pak Nathan ini kok jadi begini ya? Dia rusak kah?" tanya Clarissa sambil tersenyum kepada teman-temannya.


"Begitulah ... Sejak dia punya istri kepribadiannya berubah drastis," jelas Dhafin.


"Jadi, bapak diajak kan, Naila?"


"Ok bagus, baiklah. Ruri, jika ada yang ingin kamu bicarakan ikut aku keluar."


"Iya."


Clarissa yang sempat melihat wajah Ruri seketika berubah serius langsung bertanya.


"Ruri, ada apa?"


"Bukan apa-apa kok."


"Kau yakin? Apa ini tentang tujuan itu?"


" .... "


"Maaf Clarissa untuk sekarang aku akan merahasiakan tentang siapa Pak Nathan yang sebenarnya," gumam Ruri.


"Ruri?"


"Tenang saja, aku hanya akan berbicara sebentar dengan Pak Nathan. Jadi kamu disini saja ya bersama Naila dan yang lainnya."


"Kalau begitu, baiklah ... "


Ruri pun meninggalkan mereka dan mengikuti Pak Nathan dari belakang.


"Jadi, sejauh mana hubungan kau dan Clarissa? Pelukan? Ciuman? Atau ... Berhubungan badan?" tanya Pak Nathan saat di jalan.


"H-hah? Ngg-nggak ... Belum sampe sana ... Ihh Bapak bicara apaan sihh?!"


"Hahahah ... Bercanda bercanda, lagian kau tegang begitu, bagaimana bisa kau berbicara dengan keadaan seperti itu. Kan sudah kubilang ... Tenang saja, Bapak nggak akan berbuat macam-macam kok."


"Nggak bakalan ada manusia yang bisa tenang jika tahu di sampingnya ada raja iblis terkuat," kata Ruri pelan.


"Hahah ... Kau berlebihan, kekuatanku nggak sehebat itu."


Saat memasuki sebuah gang, Pak Nathan pun membuat lubang dimensi yang mengarah langsung ke luar kota tepatnya di depan hutan.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"


"Ini tentang dirimu, kau sebenarnya berada dipihak siapa?"


Pak Nathan tersenyum kemudian berkata.


"Untuk saat ini aku tidak dipihak siapa siapa, manusia ataupun iblis," kata Pak Nathan berhenti sebentar lalu melanjutkan perkataannya.


"Aku akan berpihak jika seseorang meminta bantuanku."


“Contohnya saja saat kau mengalahkan Five, mungkin jika iblis itu menginginkan bantuanku, mungkin kau tidak akan bisa berdiri disini bersamaku.”


“Aku ingin memastikan, mendengar dari penjelasan bapak itu, apa bapak dulu hidup sebagai seorang pembunuh bayaran?”


“Heh ... Sepertinya otakmu pintar juga ya, walaupun tidak sepenuhnya benar.”


“Iya aku dulu memang dikenal sebagai pembunuh bayaran, akan tetapi aku tidak sembarang menerima begitu saja. Akan tetapi, aku menerima permintaan seseorang berdasarkan siapa yang akan kubunuh ... “


“Apa yang kau maksudkan? Rumit banget ... Ujung-ujungnya pembunuh bayaran juga kan?" ucap Ruri dengan wajah datar.


“Iya, singkatnya aku menerima permintaan dari orang baik saja, tapi kali ini aku harus menerima takdirku yang sekarang walaupun aku tak menyukainya ... Aku sangat kesal, tapi aku tak bisa berbuat apa apa-apa dihadapan dia.”


“Dia? Siapa?”


“Suatu hari kau juga akan bertemu dengannya saat kau mengalahkanku.”


“H-hah? Aku tidak mengerti apa yang bapak katakan.”


“Sudah tak usah dipikirkan, ayo lebih baik kita pergi ke pasar untuk membeli baju renang!” kata Pak Nathan sambil tersenyum kemudian mulai berjalan kembali ke kota.


Ruri yang masih terdiam karena tak mengerti ucapan pria itu hanya terus mematung kemudian menatap langit.


“Apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia ini?”


Ruri yang memutuskan untuk tidak berpikir lebih jauh, ia pun kembali ke tempat teman-temannya bersama pria itu.


“Akhirnya kalian kembali juga, dari mana saja kalian berdua?” tanya Naila.


“Cuman jalan-jalan sebentar sambil mendengar cerita Ruri,” kata Pak Nathan sambil tersenyum.


“Ya sudah, kalian berdua cepat bersiap, kita akan langsung pergi besok pagi karena tempatnya agak jauh.”


“Baiklah ... “


“Ohh iya Pak, maksudnya kita akan pergi ke pantai apa yang akan kita lakukan disana? Bukankah di dunia ini mungkin saja belum ada ... “ bisik Ruri yang belum selesai karena Pak Nathan langsung menjawab.


“Tenang saja, sesampainya disana kau akan merasa nostalgia terhadap dunia lamamu,” bisik Pak Nathan sambil tersenyum.


“Jangan bilang ... Ini kerjaanmu juga?” ucap Ruri sambil tersenyum aneh.


“Tentu saja, habisnya nggak asik kalau pantai nggak ada perempuan dan bikininya.”


“Seperti biasa kau seenaknya saja Pak tua?! Tapi, dari dalam lubuk hatiku, aku sebagai sesama laki-laki sangat berterima kasih, kerja bagus wahai iblis durjana,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Benarkan ... ? Pujilah terus diriku yang jenius ini.”


“Kalian kalau masih bisik-bisik begitu aku tidak jadi mengajak kalian berdua ya?” kata Naila sambil tersenyum.


“Ahh iya iya aku akan segera bersiap!” kata Pak Nathan sambil berlari pergi dari sana.


“Kak, kau duluan saja ke kamar bersama Ruri, selesai makan aku akan langsung kesana bersama Naila,” kata Dhafin.


“Hehh ... Jadi kau mengusirku dan Ruri untuk berduaan dengan Naila begitu?” bisik Clarissa kepada Dhafin.


“Bu-bukan begitu ... “


“Baiklah aku paham, ayo Ruri kita keatas! Aku sudah kangen banget ama tempat ini.”


“Ahh iya.”