Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 14 - Stealth Crystal



"Naila, apa Ruri baik-baik saja?" tanya Dhafin setelah Naila selesai mengecek keadaan Ruri.


"Sepertinya begitu, apa mungkin dia menggunakan protector sebelum bola hijau itu mengenainya? Karena ditubuhnya tidak ada bekas terkena ledakkan," ucap Naila.


"Jadi maksudmu, dia hanya terkena efek dari ledakannya saja, begitu?" tanya Dhafin.


"Iya, kurang lebih begitu," ucap Naila.


"Ahh sepertinya, efek sihir Ruri juga akan menyebabkan hujan," kata Dhafin sambil menatap langit yang mulai meneteskan air dimana-mana.


"Sepertinya kau benar, Dhafin," kata Vina.


"Lebih baik kita bermalam di gua itu saja," ucap Dhafin.


"Iya kurasa lebih baik begitu, kalau kembali sekarang juga belum memungkinkan, ditambah lagi sekarang sudah gerimis," ucap Naila.


"Baiklah ayo kesana!" ucap Dhafin sambil berganti membawa Ruri pergi ke gua itu bersama Vina dan Naila yang membawa Clarissa.


...****************...


21:18 PM.


"Ahh dimana aku? Api unggun?" ucap Ruri yang mulai membuka matanya dan melirik ke arah pusat cahaya di tempat itu.


"Kita sedang berada di gua yang tadi," ucap seseorang di samping Ruri tengah duduk dan memakan sesuatu.


"Clarissa? Dimana yang lain?" tanya Ruri.


"Mereka diatas, sudah tidur duluan," jawab Clarissa.


"Gua ini ternyata memang sangat besar ya, sampai sampai dindingnya saja bisa untuk tempat tidur," kata Ruri sambil bangun menatap kearah dinding gua itu.


"Ngomong-ngomong, apa yang kamu makan itu, Clarissa?" tanya Ruri.


"Kelinci, kau mau? Itu bagianmu sudah di siapkan," ucap Clarissa sambil menunjuk kearah dekat api unggun itu yang terdapat daging kelinci yang sudah di potong-potong dan di tusuk seperti sate.


"Kelinci? Siapa yang menangkapnya?" tanya Ruri heran.


"Mereka bertiga, saat sebelum mereka datang membantu kita. Aku juga tidak habis fikir kalau mereka yang berhasil menangkapnya," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Jadi begitu," ucap Ruri sambil mengambil satu tusuk.


"Punyaku sepertinya terlalu banyak, memangnya mereka berhasil menangkap berapa? kata Ruri melihat belasan tusuk daging kelinci itu.


"Mereka berhasil menangkap semuanya," ucap Clarissa.


"Hebat mereka ya. Selamat makan," ucap Ruri sambil memakan daging kelinci itu.


"Wahh ini enak sekali, Clarissa apa kamu mau lagi?" tawar Ruri.


"Ahh tidak usah, lagi juga aku sudah makan cukup banyak tadi," tolak Clarissa.


"Kau yakin tidak mau lagi?" tanya Ruri.


Clarissa hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ruri," ucap Clarissa tiba-tiba.


"Hmm?" ucap Ruri.


"Apa benar, setelah aku pingsan, kau mencoba mengalahkan makhluk tadi sendirian lagi?" tanya Clarissa sambil menundukkan kepalanya.


"I-iya. Tapi saat itu, hanya itulah hal yang terbaik untuk dilakukan. Karena andai saja aku gagal menghancurkan kepalanya, makhluk itu akan kembali seperti semula, dan kurasa membiarkan mereka pergi untuk mencari bantuan adalah pilihan yang terbaik," ucap Ruri pelan.


"Apa benar itu adalah yang terbaik? Andaikan kau gagal membunuh makhluk itu, walaupun yang lain dapat kembali ke kota dan meminta bantuan untuk membunuh makhluk itu, saat kami kemari lagi dan kau sudah tiada, apa kami akan kembali tenang seperti sebelum bertemu dengan makhluk itu?" ucap Clarissa.


"Maaf," ucap Ruri pelan.


"Untuk kali ini, aku dan mereka mungkin akan memaafkanmu, tapi suatu saat jika kamu pergi karena tidak memikirkan diri sendiri lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu," ucap Clarissa.


Ruri hanya diam membisu duduk disamping Clarissa.


"Maaf Ruri mungkin ini terdengar egois, tapi kumohon, jangan melakukan hal gegabah seperti itu lagi," ucap Clarissa sambil menggeser tempat duduknya mendekati Ruri kemudian menyandarkan kepalanya di pundak kiri laki-laki itu.


Ruri terkejut dan berkata.


"I-iya ... baiklah," ucap Ruri.


"Benar tidak ingin diulangi lagi?" tanya Clarissa yang masih meyandarkan kepalanya di pundak Ruri.


"Iya," jawab Ruri.


"Janji?" kata Clarissa sambil memejamkan mata.


"Hmm iya, aku janji," ucap Ruri sambil memejamkan matanya.


06:10 AM.


"Hei hei, kalian berdua, apa yang terjadi semalam saat kami sedang tidur?" ucap Vina sambil senyum-senyum yang membuat Ruri dan Clarissa terbangun.


"Apa maksudmu?" ucap Ruri dan Clarissa berbarengan.


Saat Clarissa dan Ruri menyadari posisi mereka saat tidur, mereka pun saling melirik satu sama lain dan seketika saja muka mereka langsung memerah lalu langsung berpaling kearah Vina sambil berkata.


"Ti-tidak Vina, yang kau lihat itu salah paham," kata Clarissa gugup yang pipinya makin memerah.


"Aku memang bersandar di pundaknya , tapi, aku tidak ingat kalau Ruri mendekapku," gumam Clarissa.


Ruri menganggukkan kepalanya sambil berkata.


"Iya, itu hanya salah paham," ucap Ruri yang pipinya juga memerah.


"Sejak kapan aku mendekap Clarissa? Aku harus mengubah topik, kalau tidak ini bakalan lama," gumam Ruri.


"Tidak ku sangka, Kakak memanfaatkan kesempatan saat kami semua sudah tertidur," ucap Dhafin.


"Sudah ku bilang itu hanya salah paham?!" ucap Clarissa yang pipinya masih memerah.


"Hmm ngomong-ngomong Naila dimana?" ucap Ruri.


"Naila sedang keluar, katanya ada urusan sebentar, paling juga sebentar lagi dia kembali," ucap Vina.


"Jadi begitu," ucap Ruri.


"Hei Ruri kau mau kemana?" tanya Vina yang melihat Ruri berjalan keluar.


"Aku mau lihat keadaan di luar," kata Ruri sambil berlalu pergi.


"Aku juga ikut," ucap Dhafin sambil mengikuti Ruri.


"Hei hei ... jadi, sudah sejauh mana antara kau dan Ruri?" goda Vina sambil tersenyum kepada Clarissa saat Dhafin dan Ruri pergi.


"Sudah kubilang ... kau itu salah paham...!!!" ucap Clarissa.


"Terus yang tadi peluk peluk itu apa?" ucap Vina lagi dengan nada menggoda.


"Ka-kalau itu, a-aku sendiri tidak ingat," ucap Clarissa pelan.


"Hehh?" ucap Vina sambil mendekati wajahnya ke Clarissa.


"Sudah lahh tidak usah dibahas," ucap Clarissa sambil berlalu pergi.


"Dasar Clarissa, kau terlalu mudah ditebak," ucap Vina sambil tersenyum.


"Apa yang akan kau lakukan terhadap mayat makhluk ini, Ruri?" ucap Dhafin sambil menghampiri Ruri yang melihat bangkai makhluk itu.


"Apa lebih baik kita kubur saja?" tanya Ruri.


"Yaa kalau mau, kita bisa menguburnya. Tapi, itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuat lubangnya," kata Dhafin.


"Iya yaa ... pasti kita juga yang akan kerepotan nanti," ucap Ruri sambil berfikir.


"Bagaimana kalau membakarnya saja?" usul Dhafin.


"Yahh sepertinya bukan ide yang buruk," ucap Ruri sambil melompat ke atas makhluk itu menuju bagian kepala yang pecah.


"Susunan tubuh bagian kepalanya sama saja seperti hewan biasa, hanya saja ... " gumam Ruri yang melihat bola putih sebesar bola basket dari dalam sana.


"Hei Ruri apa yang kau lakukan?" tanya Vina yang melihat Ruri masuk kedalam kepala makhluk itu.


"Bola kristal?" gumam Ruri yang mengambil bola putih itu dari celah otak makhluk itu kemudian pergi keluar dan menghampiri teman-temannya.


"Ruri, apa yang kau pegang itu? " tanya Dhafin.


"Entah, makanya aku ambil dan ingin ku tanyakan kepada kalian," ucap Ruri.


"Ruri ... Ruri ... coba kulihat sebentar," pinta Vina.


Ruri pun memberikan bola putih itu ke Vina.


"Hei Clarissa, bukankah bola besar ini adalah itu?!" ucap Vina kegirangan kepada Clarissa.


Clarissa berfikir sebentar lalu berucap.


"Wahh iya kamu benar Vin," ucap Clarissa yang ikut senang.


"Memangnya bola apa itu?" tanya Ruri.


"HAH...?! Bola besar itu stealth crystal?!" ucap Dhafin terkejut.


"Iya aku yakin sekali," ucap Vina yang senyumnya masih mengembang dibibir manisnya.


"Memangnya ada apa dengan bola itu?" tanya Ruri yang tidak mengerti.


"Ruri, singkatnya begini. Bola itu biasanya hanya sebesar ini," kata Dhafin sambil melengkungkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk lingkaran kecil.


"Sebesar ... buah anggur?" tebak Ruri.


"Iya, dan bola sekecil buah anggur itu bisa ditukar dengan uang," kata Dhafin.


"Seberapa banyak?" tanya Ruri.


"Entahlah, aku tidak tahu, karena selama ini belum pernah berhasil membunuh siluman, bagaimana dengan kalian berdua? Apa kalian pernah menukar stealth crystal menjadi uang?" ucap Dhafin kepada Vina dan Clarissa, namun mereka hanya menggelengkan kepalanya.


"Coba tanyakan hal itu pada Naila nanti, aku yakin dia tahu sesuatu," ucap Vina.


"Naila? Iya yaa ... Naila sampai sekarang belum kemb-" ucap Ruri terpotong karena melihat seseorang dari kejauhan membawa gerobak.


"Itu dia, baru saja di bicarakan," ucap Vina sambil tersenyum.


"Tapi, kenapa dia bawa gerobak kita kesini?" ucap Dhafin.


"Entahlah," kata Ruri.


"Naila, kenapa kau membawa gerobak itu kesini?" tanya Dhafin kepada Naila.


"Tadinya sihh aku cuman berniat mencari buah-buahan dihutan, karena terlalu asik mencari buah, tanpa sadar aku sudah sampai di hutan dekat kota, jadi sekalian saja aku bawa gerobaknya untuk meletakkan buah-buahan itu," jelas Naila sambil tersenyum.


"Hmm begitu rupanya, ngomong-ngomong hewan yang kita dapat kemarin ada dimana?" tanya Dhafin yang melihat isi gerobak itu hanya terdapat buah dan seekor rusa.


"Ahh soal itu aku tidak tahu, saat aku sampai disana yang tersisa hanya tulang belulang saja, hehe," ucap Naila sambil tertawa kecil.


"Sudah kuduga," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Naila, apa kamu tahu tentang bola itu?" tanya Ruri sambil menunjuk kearah bola yang dipegang Vina.


Naila menoleh dan seketika saja ia terkejut.


"I-itu ... bukankah itu stealth crystal?" ucap Naila terkejut.


"Iya benar," jawab Vina.


"Dari mana kalian mendapatkan itu?" tanya Naila.


"Ruri menemukannya di makhluk itu," ucap Dhafin.


"Ahh iya aku baru ingat, kalau monster itu adalah siluman," ucap Naila sambil menepuk jidat.


"Bukan hanya kau, kami juga sampai tidak kepikiran kalau makhluk itu adalah siluman," ucap Clarissa.


"Naila, kalau stealth crystal yang biasanya kalau di jual bisa dapat berapa?" tanya Dhafin.


"Tergantung jenisnya, kalau tidak salah yang paling murah biasanya dihargai 4 koin tembaga besar," jawab Naila sambil berfikir.


"Wahh lumayan itu," ucap Clarissa.


"Lumayan apanya, aku disini tidak mengetahui 4 koin tembaga itu seberapa banyak," gumam Ruri sambil tersenyum.


"Iya kau benar Kak, aku bisa membayangkan berapa harga stealth crystal yang sebesar ini," ucap Dhafin sambil menatap bola putih itu.


"Kalau menurutku, stealth crystal sebesar ini, mungkin bisa mencapai 5 koin perak besar keatas," ucap Naila.


"5 koin perak besar keatas?!" ucap Clarissa, Dhafin dan Vina berbarengan.


Naila hanya menganggukkan kepalanya.


"Wahh aku jadi tidak sabar untuk menukar benda ini," ucap Dhafin.


"Kau benar Dhafin," ucap Clarissa.


"Yaudah lebih baik kita sarapan dulu," ucap Naila.


"Ahh iya kau benar, setelah itu kita harus cepat cepat kembali ke kota," ucap Dhafin bersemangat.


"Baiklah aku, Vina dan Naila akan memanggang rusanya, kalian berdua tolong carikan kayu bakar dan ambilkan air!" ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Curang, itu tidak adil," protes Dhafin.


"Sudahlah Dhafin tidak apa, ayo!" ajak Ruri.


"Baiklah," ucap Dhafin dengan nada malas.


Ruri dan Dhafin pun pergi ke hutan mencari kayu bakar dan mengambil air di sungai.


"Hei Dhafin bisa kamu beritahu aku tentang macam macam uang disini," kata Ruri saat mengambil ranting pohon.


"Kau belum tahu?" tanya Dhafin.


"Iya," jawab Ruri.


Dhafin pun mulai menyenjelaskan semua macam macam uang dengan membandingkan barang apa yang didapatkan dengan uang itu, seperti yang dipinta Ruri. Ruri meminta menjelaskan dengan cara itu, agar ia sendiri lebih cepat dan mudah untuk memahaminya jika dengan cara seperti itu.


"Baiklah aku sudah mengerti, terimakasih Dhafin, hal ini sangat membantu untukku," ucap Ruri.


"Ahh itu bukan apa-apa," ucap Dhafin.


"Jadi aku bisa menyimpulkan bahwa ... " gumam Ruri.


1 koin tembaga kecil \= Rp 1.000


1 koin tembaga besar \= Rp 5.000


1 koin perak kecil \= Rp 10.000


1 koin perak besar \= Rp 100.000


1 koin emas kecil \= Rp 1.000.000


1 koin emas besar \= Rp 5.000.000


"Ruri, sepertinya ini sudah cukup," kata Dhafin.


"Iya, mungkin kau benar, yaudah aku akan ambil air dulu, lalu setelah itu baru kita kembali," ucap Dhafin.


"Baiklah, aku akan menunggumu disini," kata Dhafin.


Ruri mengangguk lalu pergi mencari sungai.


"Ternyata sungai didunia ini memang jernih yah, padahal di dunia sebelumnya sungai seperti ini jarang bahkan di daerahku hampir dibilang tidak ada," ucap Ruri.


"Yosh, sepertinya segini sudah cukup," ucap Ruri yang ingin beranjak namun perhatiannya teralihkan oleh sesuatu.


"Heh? Disana ada desa?" gumam Ruri.


"Ahh sepertinya aku terlalu membuang-buang waktu, baiklah aku harus segera kembali," kata Ruri sambil pergi.


...****************...


"Kenyangnya ... " ucap Dhafin.


"Kau makannya terlalu berlebihan," ucap Vina.


"Tentu saja, karena aku ini orang yang aktif, jadi harus banyak makan," ucap Dhafin dengan percaya diri.


"Aktif apanya, padahal kamu itu kerjanya hanya tidur saja," ucap Clarissa sambil tersenyum yang disambung dengan senyum mereka semua.


"Tapi setidaknya kalau disuruh apa-apa aku selalu bisa di andalkan," elak Dhafin.


"Bisa diandalkan kau bilang? Apa kamu ingat ketika membakar panah terakhirku?" ucap Vina.


Seketika saja, mereka semua yang mendengar itu ucapan Vina mulai tertawa.


"I-itu kan kau yang minta tolong," ucap Dhafin pelan sambil memalingkan pandangannya.


"Sudah-sudah jangan ganggu Dhafin terus," ucap Ruri yang masih sedikit tertawa.


"Iya, aku jadi kasihan sendiri," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Hmmmph..." kata Dhafin sambil membuang muka.


"Hei semuanya, coba lihat itu!" ucap Naila tiba-tiba.


Seketika saja semua terkejut melihat sesuatu yang di tunjukkan oleh Naila.


"Asap?" ucap Clarissa.


"Iya, dan juga tebal sekali," sambung Vina.


"Apa mungkin ada sesuatu yang terbakar?" ucap Dhafin.


"I-itukan ... kalau tidak salah, dari arah desa tadi." gumam Ruri tercengang melihat asap tebal itu, karena sumber asap itu sama persis arahnya dengan desa yang ia lihat tadi.