Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 24 - Raja iblis?



"Ahh ... iya Pak Nathan aku lupa, kembali dari awal, apa penyebab aku bisa mengalami masa kristis yang kau bilang, bukankah luka milikku tidak separah itu?" ucap Ruri kepada Pak Nathan.


"Sudah kuduga kau akan bertanya. Jadi begini, sebenarnya hal yang membuatmu seperti tadi bukan karena luka yang berada di tubuhmu, melainkan karena Black Curse," jelas Pak Nathan.


"Black Curse? Apa itu?" tanya Ruri karena tidak mengerti.


"Kutukan, atau bisa dibilang sebuah karma yang di derita seseorang karena telah membunuh iblis." jelas Pak Nathan.


"H-hah? Karma?" kata Ruri terkejut.


"Yaa kira-kira seperti itu, biasanya orang yang sudah berhasil mengalahkan iblis akan mati atau hilang dari dunia ini karena kutukan itu, bahkan kau hampir mati karena jiwamu entah pergi kemana, tapi aku terkejut kau bisa kembali tanpa cacat sedikit pun," ucap Pak Nathan.


"Pak, apa kutukan itu berlaku untuk siapa saja?" tanya Naila tiba-tiba.


"Ya begitulah."


"Sepertinya kalau ada iblis, kita tidak boleh sembarang membunuhnya ya," ucap Vina pelan.


"Tidak Vina kau salah, saat iblis muncul, saat itu pula kita harus membunuhnya, jika tidak ... " ucap Ruri sambil menundukkan kepalanya karena mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.


Semuanya terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Aku harus terus bertambah kuat," gumam Ruri sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Baiklah aku pergi dulu, Ruri, lekas sembuh ya, akan ku tunggu kau di kelas minggu depan," ucap Pak Nathan sambil berlalu pergi dan mengangkat tangan kanannya.


"Heh? Minggu depan?" ucap Ruri terkejut.


"Ahh kau baru tahu rupanya, pembangunan sekolah hampir selesai lohh," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Sebentar, berapa hari aku tidak sadarkan diri?" ucap Ruri sambil tersenyum yang berpikiran tentang sudah berapa bulan ia tidak siuman.


"5 hari, mungkin," ucap Naila sambil berpikir.


"H-hah? Terus bagaimana bisa pembangunan sekolah itu begitu cep-" ucap Ruri yang tidak melanjutkan perkataannya.


"Aku lupa kalau di sini bisa menggunakan sihir," gumam Ruri sambil tersenyum kecut.


"Hmm?" kata Dhafin.


"Tidak, sudah lupakan, ohh iya ada yang ingin aku katakan pada kalian," kata Ruri yang membuat semua mata tertuju padanya


"Aku ingin mengatakan sesuatu, yaitu tentang rencanaku selanjutnya setelah aku lulus sekolah ini," kata Ruri.


Ruri pun mulai menjelaskan tentang rencananya.


"Hah? Kamu ingin berkelana?" ucap Naila terkejut.


"Dan juga, tujuanmu berkelana itu ... " ucap Dhafin pelan sambil menundukkan kepalanya lalu mengepalkan tangannya.


"Maafkan aku, mungkin ini terdengar egois, tapi aku hanya ingin menebus semua kesalahanku," ucap Ruri pelan.


Dhafin sedikit mendekat dan dengan suara keras ia berkata.


"Ruri hadapilah kenyataan! Aku tahu kau pasti masih terpikirkan oleh Kakak, tapi tidak begitu juga kau menyimpulkan, kau ingin menghidupkannya kembali? Aku juga menginginkan hal itu, tapi yang seperti itu hanya akan menambah penderitaannya. Sadarkah kau akan hal itu?! Dan juga kau selalu menyalahkan dirimu sendiri, padahal alasan kematian Kakak adalah ... " ucap Dhafin dengan keras yang tidak melanjutkan perkataannya karena air matanya mulai berlinang mengingat penyebab kematian Clarissa adalah karenanya, yaitu, melindunginya dari Horned Wolf.


"Aku hanya tidak ingin Kakak menderita lagi setelah ia kehilangan kedua orang tuanya," sambung Dhafin.


"Maaf ... tapi aku tidak bisa mengurungkan niatku begitu saja," ucap Ruri pelan.


"Ruri, apa yang membuatmu berpikir keras kepala seperti itu? Kau pasti punya alasan lain bukan?" tanya Dhafin.


"Janjiku, dan lagi juga Clarissa sudah berterima kasih walaupun sebelum aku melakukannya," ucap Ruri yang membuat semuanya kebingungan.


"Apa maksudmu Ruri?" tanya Vina.


"Aku bertemu dengan Clarissa. Tidak, lebih tepatnya kalian semua. Setelah membunuh Soni aku terbangun di sebuah dunia dimana kalian semua hidup bahkan Clarissa, saat itu aku menjelaskan rencanaku kepada kalian tentang keinginanku di dunia sana, dan diri kalian yang di sana yakin bahwa kalian yang di sini bisa mengerti," jelas Ruri.


"Tapi, bukankah itu hanya mimpi?" kata Vina.


"Kau ingat apa yang dibilang Pak Nathan? Pak Nathan berkata bahwa jiwaku hilang entah kemana, dengan kata lain diriku dipindahkan ke dimensi lain, karena kutukan itu," kata Ruri.


"Yahh walaupun sepertinya aku tidak paham tapi mungkin aku tau garis besarnya," ucap Vina.


"Jadi kau akan pergi setelah setelah selesai?" tanya Naila.


"Yahh ... apa boleh buat, jika diriku yang lain saja memperbolehkanmu, masa aku yang tinggal di duniamu tidak," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Jadi, kau memperbolehkanku?"


"Yahh ... anggap saja seperti itu."


"Tapi untuk saat ini, kau fokus saja dulu memulihkan dirimu sendiri Ruri," ucap Vina.


"Hmm aku tau ... " kata Ruri sambil tersenyum.


"Aku harus terus berlatih agar bisa terus bertambah kuat," gumam Ruri sambil membulatkan tekadnya.


...****************...


"Hmm? Dimana ini?" ucap gadis itu sambil beranjak bangun.


"I-ini ... darah?" ucap gadis itu terkejut bahwa air yang berada di bawahnya adalah darah yang tergenang entah sampai sejauh mana.


"Lalu, dimana aku ini?" ucapnya mulai kepanikan ketika melihat daerah sekitarnya yang tidak ada seorang pun, di bawahnya tergenang darah, ada beberapa tanah menjulang di atas genangan darah itu bagaikan daratan dan lautan, langit langit berwarna hitam, meski begitu tempat itu terlihat cukup jelas walaupun tanpa adanya cahaya.


Tidak lama kemudian muncul sebuah lubang putih di udara yang semakin lama kian membesar, gadis itu hanya diam menatap lubang itu.


"Apa itu?" katanya.


Setelah lubang itu sudah agak besar, muncul seseorang dari lubang itu.


Perlahan orang itu melihat gadis itu, lalu mendekatinya, sementara gadis itu dengan wajah ketakutan sambil berjalan mundur secara perlahan.


"Percuma kau mau lari kemana juga, di tempat ini tidak ada jalan keluarnya," kata orang itu yang melihat gadis itu berlari menjauh.


Gadis itu pun berhenti melangkahkan kakinya dan kembali menatap orang itu sambil berkata.


"Lalu bagaimana kau bisa masuk?"


"Heh? Bukankah kau melihatku saat aku kesini? Yaa begitulah aku masuk, jadi bagaimana denganmu, bagaimana kau bisa masuk kesini? Ini adalah tempatku," ucapnya sambil tersenyum.


"A-aku tidak tahu," kata gadis itu sambil berpaling sambil memikirkan kejadian yang ia alami saat itu.


"Sebentar, apa maksudmu ini adalah tempatmu?" ucap gadis itu lagi.


"Seperti yang aku bilang, ini adalah tempatku, mungkin bisa di bilang aku yang menciptakan dimensi ini," ucapnya sambil tersenyum.


"Menciptakan di-dimensi? Siapa kau sebenarnya?"


Orang itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan gadis itu, lalu ia kembali mendekati gadis itu.


Karena gadis itu hendak berlari kembali, tiba-tiba saja air merah yang diinjaknya mengikat kakinya sehingga ia tidak bisa bergerak dari situ.


Gadis itu memberontak agar bisa lepas dari air yang mengikat kakinya itu, namun usahanya sia-sia.


"Apa yang kau inginkan?! Jika kau memang pemilik tempat ini, tolong keluarkan aku dari sini!" ucap gadis itu kepada seseorang tadi yang sekarang sudah berada di hadapannya.


"Kau ingin keluar? Maaf, sayangnya hal itu tidak bisa kulakukan, karena aku akan melakukan sesuatu padamu."


"APA YANG INGIN KAU LAKUKAN?!"


"Tenang saja, aku tidak melakukan hal aneh-aneh pada manusia, aku hanya ingin kau menjaga tempat ini, jadi aku ingin memberimu sedikit hadiah," ucapnya sambil meletakkan tangannya di perut gadis itu.


Seketika saja gadis itu menjerit kesakitan, sekujur tubuhnya terasa membakar dirinya sendiri.


"Baiklah sudah selesai," ucapnya sambil melepas semua yang mengikat gadis itu.


Gadis itu jatuh tersungkur, ia tidak bisa melakukan apa-apa bahkan mengangkat ujung jarinya saja ia tak mampu karena ia merasa tubuhnya seperti dimasuki sesuatu.


"Ohh iya sebelum aku pergi, aku ingin memberitahu, tugasmu hanya 1, yaitu membunuh semua makhluk apapun yang memasuki ruang ini," ucapnya sambil menghilang secara perlahan.


Gadis itu tidak bergerak sedikit pun lalu memejamkan matanya.


"Ruri."


Bersambung ...