Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 36 - Eksekusi



“Dimana ini?”


“Kau sudah bangun? Cepatlah, aku tidak ada waktu untuk mengurusimu,” suara Sigh dari balik jeruji besi.


“Heh? Ohh begitu rupanya ... “ ucap Ruri yang sudah mengingat kejadian tadi siang.


“Dimana kaila?”


“Siapa? Ohh iblis itu? Tenang saja, hari ini dia masih hidup, tapi kalau besok aku tidak bisa menjaminnya. Jadi sampai besok lusa kau akan ditahan di sel ini, agar tidak mengganggu saat eksekusi itu berlangsung,” jelasnya.


“Kapan eksekusi itu dimulai?”


“Besok, saat tengah hari.”


“Heh? Kau ternyata cukup banyak bicara ya ... “


“Tentu saja, karena percuma saja walaupun kau mengetahui itu semua.”


“Sepertinya kau terlalu percaya diri dengan ucapanmu, aku bisa dengan mudah keluar dari sel kecil ini tahu,” ucap Ruri mengarahkan tangannya ke salah satu dinding yang berniat untuk menghancurkan dengan sihir anginnya.


Namun tiba-tiba saja, Mana yang seharusnya keluar dari tubuh Ruri untuk mengubahnya menjadi sihir seketika saja telah lenyap seperti diserap oleh sesuatu.


“A-apa yang terjadi?” ucap Ruri tidak percaya.


“Sepertinya kau baru saja mencobanya, baiklah aku akan berbaik hati menjelaskannya. Sebenarnya sel mu itu adalah sel khusus, disana terdapat 2 buah alat penyerap mana apapun yang ada disekitarnya, sekali terdeteksi, alat itu akan langsung menjalankan tugas sesuai namanya. Meski begitu, alat ini memiliki batas tertentu dalam menyerap mana. Jadi setiap 3 jam sekali, alat itu akan berganti secara automatis dengan yang baru. Jika kau berniat menghancurkan alat itu percuma saja, karena alat itu dirancang dengan protector, jadi tidak akan gunanya kalau kau berniat menghancurkan alat itu,” ucapnya yang dilanjutkan dengan tawanya.


Ruri terkejut, matanya terbelalak, tangannya menggenggam kuat jeruji itu seperti sedang geram terhadap sesuatu.


“Benar. Bagus seperti itu ... Wajah putus asa itulah yang ingin aku lihat,” katanya lagi sambil tertawa.


“Baiklah untuk introgasinya kita lakukan besok pagi saja, jangan tidur malam malam, aku tidak mau menunggu kau bangun seperti tadi, selamat malam,” ucapnya seraya pergi.


Ruri yang masih terdiam geram di balik jeruji besi itu tiba-tiba saja tersenyum lalu tertawa.


“Aku tidak menyangka dia pede sekali berbicara seperti itu. Karena kecerobohannya yang banyak bicara itu, dia seakan memberiku jalan keluar dari penjara ini, saat aku tahu bahwa alat itu memiliki kelemahan itu sudah lebih dari cukup,” ucap Ruri sambil tersenyum.


"Baiklah aku mulai menganalisa dari sekarang saja."


Ruri pun menggunakan seluruh mana yang tersisa untuk memusatkannya ke mata agar ia bisa menganalisa tentang alat itu.


Saat melakukan itu, mana yang keluar terus menerus dengan cepat diserap oleh kedua alat penyerap mana itu, akan tetapi, Ruri tetap melanjutkannya terus menerus menggunakan mana nya sekuat tenaga. Matanya yang terus menerus ditekan dengan mana, setetes demi tetes mata Ruri pun mulai mengeluarkan darah. Dan sampai pada titik terakhir, Ruri pun berhasil menyelesaikan analisa tentang alat itu.


*Hhhahhhh ...


Suara Ruri menarik nafas dengan jumlah banyak.


Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, nafasnya menjadi berat, mungkin itu efek dari penggunaan mana yang berlebihan tadi.


“Tidak ku sangka, melawan kedua alat payah ini saja aku sampai menghabiskan seluruh mana ku. Yaahh ... ini juga pasti karena saat aku pingsan mereka mengambil semua mana ku, cihh ... Dasar pengecut!” ucap Ruri tersenyum kemudian jatuh dan tak sadarkan diri.


...________...


.... . ....


...________...


“Hei manusia? Jawablah!”


*Ukhuuk ... Ukhuuk ...


Suara seorang wanita terbatuk-batuk


“Maaf, aku ketahuan dan tertangkap,” kata wanita itu.


“Dasar payah, memangnya kau tidak melawan?”


“Aku sudah berusaha, tapi ... Aku tidak bisa berbuat banyak karena sudah terkepung,” ucap wanita itu berbohong bahwa ia sama sekali tidak melawan, karena ia tidak mau ada yang terluka karenanya.


Karena kebohongannya itu tiba-tiba saja tubuh wanita itu kembali merasakan hal yang sama, yakni tubuhnya merasakan panas yang sangat menusuk. Akan tetapi, wanita itu hanya menahan perihnya panas itu tanpa bersuara sedikitpun agar kebohongannya tak diketahui oleh seseorang yang sedang berkomunikasi dengannya.


“Begitu rupanya, apa kau mau aku datang ke sana membantumu?” ucapnya menawarkan bantuan.


" .... "


Wanita itu diam karena tidak mendengarnya.


"Hei kau dengar?" kata suara laki-laki itu.


"Ma-maaf aku tidak mendengarnya ... " katanya setelah merasa lebih baik.


"Apa kau mau aku datang ke sana membantumu?" tawarnya lagi.


Seketika wanita itu terkejut lalu berkata.


“Jangan! Biarkan saja aku, karena mungkin saat ini aku sudah tidak berguna lagi, dan anggap saja ini sebagai balasanku telah meremehkan tugasku," kata wanita itu.


“Hmm baiklah, aku mengerti. Kalau beruntung kau akan selamat dan kalau tidak beruntung kau akan mati, begitukan keadaanmu saat ini? Baiklah kalau kau beruntung, lanjutkan saja tugasmu seperti sebelumnya. Sampai jumpa lagi," kata laki-laki itu langsung menutup komunikasinya


“A-apa yang dimaksudkannya 'kalau aku beruntung'? Apa dia merencanakan sesuatu? A-atau jangan jangan ... “ ucapnya yang tiba-tiba teringat akan Ruri.


“Sebentar ... Apa dia mengetahui semua ini? Kalau iya sekalipun kenapa dia menyuruhku melakukan hal sepele seperti mengintai seseorang? Mungkin hanya firasatku saja. Kumohon Ruri, cepatlah kau pergi dari kota ini dan jangan membantuku lagi, aku hanya takut kalau ini sesuai dengan keinginan orang itu,” gumam wanita itu sambil menundukkan kepalanya.


07:33 AM.


“Hey? Apa kau masih tidur?” kata Sigh memecah keheningan di sel tahanan.


“Aku tidak ada waktu untuk tidur,” kata Ruri sambil membuka matanya.


“Terserah saja, baiklah aku akan menanyakan beberapa hal terkait iblis it-“ ucap Sigh terpotong.


“Berhentilah memanggilnya iblis, sebut saja dia Kaila, apa tidak bisa?” kata Ruri pelan.


“Aku tidak peduli dengan nama iblis, hmm baiklah ... Dari pada hal merepotkan datang, lebih baik aku mencegahnya saja.”


“Dia bukan iblis, dia manusia! Adakah iblis sebaiknya yang mau menyerahkan diri hanya untuk keselamatan semua orang?” kata Ruri lagi.


“Iblis tetap iblis, tidak akan ada yang mau mendengar ocehanmu itu walaupun sebaik apapun dia, baiklah hentikan saja ocehan tidak berguna ini dan langsung saja ke intinya.”


“Terserah, tapi aku akan mengatakan ini sekali lagi, kumohon, hentikanlah proses pengeksekusian Kaila, dia sama sekali tidak bersalah,” ucap Ruri pelan.


“Kau bilang hentikan? Tidak mungkin, ini sudah peraturan dunia ini, iblis dan manusia adalah musuh! Tidak ada yang bisa mengganggu akan hal itu.”


“Kau benar, tapi intinya aku sudah memperingatkanmu, membunuhnya sekarang bukanlah hal yang benar untuk saat ini.”


“Sudah hentikan saja ocehan tidak bergunamu itu, apa hubunganmu dengan iblis itu?” Ucap Sigh memulai.


“Teman ... Ahh tidak, mungkin lebih tepatnya sepasang kekasih,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Jangan main main!”


“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” kata Ruri.


“Cihh ... Apa rencana kalian datang kemari? Sampai tuan putri Naila menjadi sandra kalian berdua?”


“Tujuanku mencari seseorang. Dan juga apa maksudmu sandra? Aku hanya kebetulan bertemu Naila di kota ini, itu saja.”


“Tidak mungkin dia ada di kota ini tanpa ada yang jelas, selain menjadi sandra kalian untuk masuk ke kota ini!”


“Hmm? Dia itu pergi kesini karena atas perintah ayahnya sendiri, ternyata kau hanya gelar saja bangsawan, tapi hal semacam ini saja tidak tahu," ejek Ruri.


“Apa kau bilang?!” ucap Sigh kesal.


“Apa? Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya, aku mengatakannya dengan jujur dan itulah kebenarannya,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Ternyata kau memang sudah bosan hidup ya!” ucap Sigh kembali memelankan suaranya namun kemarahannya terus melonjak.


“Bunuh saja kalau kau bisa, palingan kau akan jatuh terkapar seperti waktu itu,” kata Ruri yang masih tersenyum.


“SIALAN?!” Ucap Sigh menarik kerah baju Ruri dari balik jeruji besi.


“Apa? Lepaskan tangan kotormu itu.”


Sigh masih menggenggam kuat kerah baju Ruri, emosinya tak tertahankan, ia yang hendak ingin memukul tiba-tiba saja datang salah seorang teman magicalistnya.


“Apa yang kau lakukan Sigh? Kau masih belum selesai mengintrogasinya? Tunda saja dahulu, Ada serangan siluman dari arah selatan,” katanya.


“Apa ini ada kaitannya dengan iblis itu yang sudah kita tangkap?” tanya Sigh.


“Entahlah ... “


“Pasti! Pasti ulah iblis itu! Seharusnya kita mengeksekusinya lebih cepat saja kemarin, akan kupastikan dia tersiksa terlebih dahulu sebelum kita membunuhnya” ucap Sigh kesal.


“Kau menuduhnya? Dan ingin menyiksanya juga sebelum membunuhnya? Padahal belum tentu dia yang melakukannya,” ucap Ruri pelan dengan nada serius.


“Hah? Kalau bukan iblis itu siapa lagi?!” ucap Sigh agak keras.


“Begitu rupanya ... Dari awal dunia ini memang sudah tak tertolong lagi,” ucap Ruri pelan sambil memukul salah satu jeruji besi itu sampai sedikit bengkok.


“Tentu saja, selagi iblis masih hidup, dunia ini tidak akan tertolong lagi, ingat itu!” ucap Sigh seraya pergi.


“Memang benar ... Tapi Kaila ... Dia tidak seperti itu, jadi aku memperingatkanmu, jangan berani-beraninya kau apa apakan dia!” ucap Ruri agak keras.


Sigh berhenti sebentar, lalu berkata.


“Jika kau memang ingin melindunginya, buktikanlah kalau dia manusia dan bukan iblis!” ucapnya kembali melangkahkan kakinya pergi keluar.


“Buktikan kah? Baiklah jika itu maumu,” gumam Ruri yang mengepalkan tangannya kuat kuat.


4 jam pun berlalu.


Terlihat 5 orang magicalist berjalan pelan membawa seorang gadis yang dirantai di beberapa bagian tubuhnya, orang-orang itu berjalan menuju sebuah tempat yang sudah disediakan sejak awal untuk eksekusi, tepatnya di arena duel yakni tempat mirip sebuah lapangan luas berbentuk lingkaran yang dimiliki oleh salah satu sekolah sihir di kota itu.


Banyak warga setempat sudah menghampiri tempat itu, walaupun eksekusi masih akan dilakukan setengah jam lagi.


Disisi lain Ruri masih sibuk mengumpulkan mana di tubuhnya.


“Tidak, ini masih belum cukup, ayo sedikit lagi! Aku tidak tahu ini sudah pukul berapa, tapi kumohon bertahanlah sebentar lagi,” ucap Ruri pelan yang masih sibuk mengumpulkan mana sebanyak mungkin.


Setelah beberapa saat kemudian Ruri pun berkata.


“Baiklah sudah selesai, pertama aku akan mengurusi alat ini terlebih dahulu,” ucap Ruri sambil mengarahkan kedua tangannya ke kedua alat itu.


Sementara itu para magicalist tadi sudah sampai membawa wanita itu ke tengah tengah arena dan mulai berbicara.


“Baiklah, seperti yang kalian lihat, inilah salah satu iblis yang berhasil kita tangkap," ucap Sigh memulai.


“Apa benar dia iblis?” tanya salah seorang warga.


Wanita yang dirantai itu pun terkejut lalu bergumam.


Dalam hal ini, Sigh memang anak bangsawan, akan tetapi ia kehilangan kepercayaan para warga kota di kerajaan itu karena alasan tertentu, jadi ia berusaha melakukan berbagai cara apapun untuk mengembalikan kepercayaan para penduduk kepadanya.


“Bukti apa yang membuatku berpikir dia adalah iblis? Jawabannya sederhana, dia memiliki sayap hitam seperti iblis pada umumnya,” ucap Sigh sambil menatap Kaila.


“Lalu dimana sayapnya? Jangan bilang kau sudah memotongnya dan asal menuduhnya?”


“Tentu saja tidak, baiklah aku akan menunjukkannya pada kalian,” ucap Sigh kemudian jongkok sebentar, lalu menatap Kaila yang terduduk lemas dan berkata.


“Apa kau dengar itu iblis? Keluarkan lahh sayap mu itu!” ucap Sigh kepada Kaila.


“Aku bukan iblis," ucap Kaila pelan.


“Hah? Percuma saja kau menyembunyikannya, aku bisa merasakan hawa iblis di dalam dirimu, jadi cepatlah keluarkan sayapmu!” ucap Sigh agak keras.


“Walaupun aku setengah iblis, tapi aku juga manusia, dan aku juga aku tidak ada niatan menyakiti kalian semua, kau tahu, lalu untuk apa aku dieksekusi?” ucap Kaila pelan yang tiba-tiba saja mulai meneteskan air mata.


"Apa yang dilakukannya?! Bukankah kemarin ia bilang tidak apa-apa kalau dirinya akan dieksekusi?! Lalu kenapa sekarang dia seakan-akan mencoba menjatuhkanku?!" gumam Sigh kesal


“Hoi hoi apa yang kau lakukan hah? Dia menangis, mana sayap iblis itu yang seperti kau bilang tadi?”


Kekhawatiran Sigh pun mulai timbul, begitu pun dengan emosinya yang ikut melonjak.


“Berhentilah bersandiwara! Cepatlah keluarkan sayapmu dasar iblis keparat!” kata Sigh sambil memukul wajah Kaila.


Kaila yang terkena pukulan itu pun langsung jatuh tersungkur.


“Sepertinya tidak ada gunanya lagi, pikiran mereka pasti juga sama sepertiku dahulu yang sangat membenci iblis, tapi mereka tidak salah, justru akulah yang salah. Keberadaanku yang sudah menjadi setengah iblis saja sudah merupakan kesalahan. Baiklah, mungkin ini memang akhir dariku. Aku sudah tidak berbohong lagi kan raja iblis sialan! Aku sudah melakukan perlawanan meski hanya sedikit,” gumam Kaila sambil kembali duduk dan mengeluarkan sayapnya.


“Bagaimana?” kata Sigh kepada orang-orang di tempat itu.


“Jadi dia benar-benar iblis?”


“Tidak ku sangka.”


“Hoi iblis, mengapa kau menangis? Apa kau berniat ingin menipu kami?! Mati saja kau!”


“Cepat bunuh dia!”


Seketika tempat itu menjadi riuh akan perkataan dari orang-orang yang hadir di tempat itu.


Mendengar itu, Sigh yang berpikir dirinya sudah mendapatkan kembali rasa kepercayaan para warga, ia pun langsung berkata.


“Bagaimana kalau kita menyiksanya dahulu sebelum kita membunuhnya? Karena dia juga telah ikut campur tangan dengan serangan siluman pagi tadi,” ucap Sigh lagi.


Kaila terkejut, karena ia tidak mengerti apa yang dibicarakan orang-orang itu tentang serangan siluman tadi pagi.


“Hah? Jadi kau yang melakukannya? Dasar iblis keparat!”


“Gara-gara kau anakku menjadi terluka kau tahu?!”


Sigh tersenyum lalu melanjutkan perkataannya.


“Kalian boleh menembakkan sihir apapun terhadap iblis ini, luapkan lahh segalanya. Tenang saja, dia tidak akan mati dengan mudah kalau kepalanya belum terlepas atau jantungnya telah hancur sepenuhnya.”


Seketika seluruh orang disitu langsung berseru dan mulai menembakkan bermacam-macam sihir ke arah Kaila.


Kaila diam tidak melawan dan menerima semua serangan itu.


"Aahhhhh ... !!!"


Berkali-kali kulit Kaila terbakar, tergores, akan tetapi tak lama kemudian ia pulih kembali, namun tetap saja Kaila terus menerus merasakan sakit walaupun dapat beregenerasi kembali.


Saat seluruh serangan terhenti sepenuhnya, Sigh kembali maju dan berkata.


“Lihat? Dia terluka cuman sebentar saja, dan sekarang luka itu sudah hilang sepenuhnya, bagaimana benarkan apa kataku? Apa kita mau langsung membunuhnya saja?” kata Sigh.


“YAA LAKUKAN LAH!”


“Tapi meski begitu, apakah ada yang mau melakukannya? Karena setiap orang yang membunuh iblis akan mendapatkan karma berupa Black Curse yang tak dapat diketahui ataupun dideteksi selain orang yang merasakannya sendiri, dengan begitu biasanya orang yang terkena karma ini akan mati. Jadi, adakah dari kalian yang berkenan membunuhnya? Anggap saja ini sebagai pengorbanan untuk membunuh seorang iblis. Kukatakan sekali lagi, adakah yang berkenan membunuh iblis ini?”


Awalnya semua orang terdiam karena ragu untuk mengajukkan diri.


“Baiklah jika tidak ada yang mau, biar aku saja yang akan membunuhnya,” ucap Sigh sambil menghunuskan pedangnya ke atas.


Semua orang terkejut ketika seorang bangsawan itu langsung menawarkan dirinya untuk berkorban.


“Tapi, sebelum itu. Jika aku sudah mati saat terkena karma itu, aku ingin kalian menjaga kota ini baik-baik, aku ingin kalian menjaga kota baik-baik atas pengorbananku ini, bagaimana bersediakah kalian?” kata Sigh dengan suara lantang.


“Jangan kau korbankan dirimu sendiri wahai tuan muda, kekuatanmu untuk melindungi negri ini sangatlah dibutuhkan, jadi biarlah aku saja yang membunuh iblis itu, meski aku harus mati sekalipun,” ucap salah seorang.


“Dia benar, jadi biar aku saja!”


“Tidak aku saja!”


“Aku saja!”


Puluhan bahkan ratusan orang pun mulai menawarkan diri.


Dhafin dan Naila yang menyaksikan itu hanya bisa terpaku di tempat.


“Sepertinya kita sudah tidak bisa membantu Kaila,” ucap Naila kepada Dhafin.


“Aku semalaman selalu memikirkan ini, apa dia itu Kakak?” ucap Dhafin sambil menundukkan kepalanya.


“Ternyata bukan hanya aku yang berpikir bahwa Kaila itu adalah Clarissa ya?” ucap Naila tersenyum.


“Tapi ... Kenapa? Kenapa Kakak menjadi seorang iblis?”


“Entahlah, aku juga tidak mengerti, tapi belum ada jaminan kalau dia itu benar-benar Clarissa,” kata Naila.


“Aku tahu, tapi apa kau ingat apa yang dikatakan petapa kehidupan itu? Kakak masih hidup walaupun entah berada dimana,” kata Dhafin.


“Iya aku tahu itu.”


“Kalau benar itu Kakak, akulah yang akan membunuhnya, aku tidak mau Kakak terus menerus disiksa seperti tadi,” ucap Dhafin sambil bangun dari tempat duduknya.


“H-hah? Tapi kau bisa mati tahu!” ucap Naila sambil menggenggam tangan kanan Dhafin yang hendak mengajukkan diri untuk membunuh iblis itu.


“Aku tahu, akan aku anggap itu sebagai balasan apa yang telah kulakukan kepada Kakak, aku hanya ingin menghentikan penderitaan Kakak, itu saja yang ingin kulakukan, jadi lepaskan tanganku,” ucap Dhafin sambil melepaskan diri dari genggaman tangan Naila.


Dhafin pun langsung melompat ke tengah tengah arena.


“Biar aku yang akan membunuhnya,” ucap Dhafin kepada Sigh.


“Heh? Baiklah, apa kau yakin?” tanya Sigh.


“Tentu saja.”


“Kemungkinan besar kau bisa mati lohh ... “ ucap Sigh lagi.


“Untuk itulah aku melompat ke bawah sini, jadi bisakah kau menjauh sedikit? Aku ingin berbicara sebentar dengannya,” ucap Dhafin sambil membuat pedang dari elemen api miliknya.


“Baiklah baiklah.”


“Dhafin? Syukurlah kalau kau yang akan membunuhku,” ucap Kaila.


“Kenapa? Kenapa kau terdengar begitu senang ingin dibunuh olehku?” tanya Dhafin yang menundukkan kepalanya.


“Karena aku mengenalmu walaupun belum lama ini, jadi aku tidak akan menyesalinya karena yang membunuhku adalah seseorang yang mau berteman dengan setengah iblis sepertiku ini,” katanya sambil tersenyum.


“Apa hanya itu?”


“Benar, aneh sekali bukan?” ucapnya sambil tertawa sedikit.


“Siapa kau sebenarnya?” ucap Dhafin tiba-tiba.


“Tentu saja Kaila Felicia, seorang wanita setengah iblis,” ucapnya sambil tersenyum.


“Bukankah kau adalah Kakak?! Berhentilah mengatakan omong kosong?! Maaf, mungkin ini terdengar aneh dan egois, karena aku langsung menuduh sesuatu yang belum ada buktinya, tapi aku sangat berharap kalau kau benar-benar Kakak, jadi, tolong katakanlah yang sebenarnya?!” ucap Dhafin agak keras.


“Kakak? Apa maksudmu? Aku Kaila Felicia kok,” ucap Kaila yang masih tersenyum dan tiba-tiba saja cairan bening kembali membasahi pipinya.


“Kalau kau bukan Kakak, Lalu mengapa kau menangis?! HAH?!" ucap Dhafin kesal tapi air matanya juga ikut mengalir.


"Hei hei kenapa iblis dan orang itu menangis? Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka berteman? Tapi dia memang ingin berniat membunuhnya kan? Kurasa begitu," ucap orang-orang tidak mengerti.


Kaila tidak menjawab pertanyaan Dhafin akan tetapi ia hanya tersenyum melihat orang dihadapannya itu.


“Kenapa ... ? Kenapa Kakak tidak mengatakannya dari awal?” tanya Dhafin.


“ .... “


"Kakak?"


" .... "


“JAWAB AKU!” ucap Dhafin lagi.


Kaila yang masih tersenyum melihat Dhafin, menggelengkan kepalanya lalu berkata.


“Aku tidak bisa mengatakannya, karena kalau aku lakukan itu, aku bisa langsung mati lohh ... “ ucap Kaila yang masih tersenyum.


“Ta-tapi meski begitu ... “ ucap Dhafin sambil menundukkan kepalanya.


“Dhafin sudahlah, semuanya telah terjadi, jadi sekarang lakukanlah tugasmu,” ucap Kaila sambil tersenyum.


“A-aku tidak bisa melakukannya, sebelum Kakak menjelaskan semuanya dengan jelas!” ucap Dhafin dengan banyak deraian air mata.


“Sejak kapan kau jadi cengeng begitu? Ayolah cepat bunuh aku, Dhafin,” ucap Kaila sambil tersenyum.


“ .... “


Dhafin tak berkata-kata lagi, ia sangat tak menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi pada dirinya, tangannya terus gemetaran tapi ia tetap menyiapkan mentalnya dan berusaha melakukan apa yang Kaila perintah.


"Maaf ... Maafkan aku ... " Ucap Dhafin yang mulai menangis terisak.


"Kau tak perlu meminta maaf."


“Selamat tinggal ... Kakak ... “


“Iya, selamat tinggal ... Dhafin,” ucap Kaila sambil tersenyum.


Dengan tangan gemetar Dhafin pun mulai mengayunkan pedangnya menuju bagian leher Kaila.


*Taaaaanng ...