
“Lihatlah kemari!” ucap Kaila sambil menarik lengan Ruri menuju jendela.
Sambil menggosokkan matanya, perlahan Ruri mulai melihat apa yang terjadi di luar sana.
“Monster? Ogre? Terus kenapa?” tanya Ruri yang matanya masih setengah terbuka.
“Lihat lagi dasar bodoh!” ucap Kaila kesal sambil membuka mata Ruri lebar lebar.
“Heh? A-apa yang terjadi?!”
“Kan sudah kubilang, tak mau dengar ... “ ucap Kaila jengkel.
“Sebentar, sepertinya disana hanya ada monster saja, tak ada siluman satupun ... “ kata Ruri sambil berpikir.
“Lalu kenapa?”
“Sepertinya aku tahu penyebabnya ... “ ucap Ruri sambil menatap Kaila dengan tatapan mata curiga.
“A-apa? Aku tak melakukan apapun ya,” kata Kaila cepat.
“Bukan itu, sepertinya ini ada kaitannya dengan pintu besar yang kau hancurkan kemarin, karena di lubang itu hanya ada monster tidak ada yang lain, bisa saja itu adalah monster dari lubang itu,” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Ta-tapi aku tak salah yaa ... Aku melakukannya agar kita pergi ke kota dengan cepat,” ucap Kaila sambil berpaling.
“Lalu kau tak mau merasa bersalah atau bertanggung jawab, begitu?” tanya Ruri dengan senyumannya.
Mendengar perkataan Ruri, Kaila sedikit geram lalu berkata.
“Baiklah-baiklah aku akan bertanggung jawab?!” ucap Kaila lalu langsung berjalan keluar.
“H-hei Kaila ... Apa kau yakin melawan monster dengan pakaian seperti itu?” tanya Ruri kepada seseorang yang sudah keluar dari pintu.
Namun Kaila yang masih bisa mendengar suara Ruri langsung sadar bahwa dirinya masih berpakaian ...
Kaila melirik kesana kemari banyak orang di penginapan itu yang melihat ke arahnya.
“KENAPA KAU TAK MENGATAKANNYA DARI AWAL?!” teriak Kaila lalu berlari kembali ke kamar, kemudian menendang Ruri keluar dan langsung menutup pintu untuk mengganti pakaiannya.
“Aduduhh ... Dasar Kaila. Tapi, imut sekali ... !!!” ucap Ruri sambil tersenyum.
Luar Kota.
“Untuk semua knight kalian fokus serang para goblin terlebih dahulu!” perintah seorang wanita.
“Untuk kalian semua masing-masing tahan para orge yang sudah mendekat! Dan untuk Mage sebelah sana kalian fokus saja dahulu melawan wyvern dan pheonix, jika Knight dan Magi telah selesai barulah bantu melawan orge!” kata perempuan itu sambil menembakkan bola api ke arah wyvern yang mendekat.
“Baik!” ucap semuanya serempak.
“Bagus, dengan begini bisa tertangani,” gumam wanita itu.
Beberapa menit kemudian hal yang tak terduga pun terjadi. Monster terus berdatangan dari arah timur hal ini menyebabkan semua petualang di kota itu kelelahan.
“Mary, apa yang harus kita lakukan? Semua petualang mulai kelelahan bahkan tidak sedikit pula yang terluka,” kata seorang laki-laki.
“Aku tahu, memangnya guild masih belum merespon akan hal ini?! Kita sangat membutuhkan petualang kelas atas tahu, kalau aku sendirian pasti tidak akan bertahan lama.”
“Sudah, ta-tapi ... Karena para petualang tingkat atas sedang dalam misi lain, dibutuhkan waktu untuk sampai ke sini,” ucap laki-laki itu pelan.
“Berapa lama?”
“Kira-kira 1 sampai 2 jam ... “
“Gawat, kalau begini terus, bisa bisa kota dalam bahaya!” gumam wanita itu.
Tiba-tiba saja dari belakangnya ada seseorang yang memanggilnya.
“Permisi, sepertinya kau yang mengambil alih pimpinan orang-orang ini,” kata Ruri sambil menunjuk para petualang yang masih sibuk bertarung.
“Kalau iya memangnya kenapa?” timpal wanita itu.
“Aku hanya memberitahu, kalau kau terus bertarung dengan cara seperti itu, kalian bisa mati lohh ... “
Wanita itu terkejut kemudian berkata.
“Lalu aku harus melakukan apa?!”
“Seharusnya kau membagi para petualang itu sesuai dengan timnya masing-masing, dengan begitu akan lebih terjaga kerja sama dan kekuatannya, kalau kau membaginya sesuai job mereka, aku sudah bisa memperkirakannya, kalian semua akan terbunuh sekitar ... satu jam ...? Ahh tidak, mungkin setengah jam lagi,” jelas Ruri sambil tersenyum.
“Memang benar, jika aku membagi sesuai timnya masing-masing, mungkin bisa bertahan lebih lama. Aku terlalu fokus dengan kelas para petualang sampai-sampai tidak memikirkan kekuatan dari mereka,” gumam wanita itu.
“Walaupun kau mengubahnya dari sekarang tak akan mengubah apapun, jadi kusarankan untuk mundur saja,” ucap Ruri sambil tersenyum.
“H-hah?! Mundur katamu?! Kalau kami mundur sekarang, seluruh kota bisa hancur tahu!”
“Tidak akan, karena kami berdua yang akan menggantikan kalian semua,” ucap Ruri sambil berjalan kedepan bersama Kaila.
"H-hah?! A-apa maksudmu?"
“Semuanya mundur! Bantuan telah tiba!” ucap Ruri dengan suara lantang.
Seketika semua petualang yang mendengar itu langsung mundur, tak peduli siapa yang mengucapkannya.
“H-hei apa maksudmu?!” ucap wanita itu kesal karena Ruri berbuat seenaknya.
“Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya, meski begitu aku juga butuh bantuan kalian nanti,” ucap Ruri sambil berlari bersama Kaila menuju kawanan monster itu.
“Kaila urus yang di atas,” kata Ruri kepada Kaila.
“Tidak mau.”
“Monsternya lebih banyak yang di bawah dari pada yang di atas, kau bilang aku disuruh bertanggung jawab,” ucap Kaila sambil mengalihkan pandangannya.
“Dasar, jangan terlalu serius ya, aku takut jika orang lain curiga,” kata Ruri dengan senyumannya.
“Aku tahu ... “
Ruri pun mulai terbang dan hanya menembakkan air bertekanan tinggi seperti sebuah pistol ke arah Pheonix dan wyvern yang terbang mendekat. Setelah tertembus 3 sampai 4 peluru air itu, barulah para monster terbang itu mulai berjatuhan.
“Ahhh ... !!! Membosankan?! Kenapa aku jadi seperti bermain game tembak-tembakan burung begini?!” gerutu Ruri.
Sedangkan Kaila masih berlari ke arah ogre yang berada di paling depan kemudian memukulnya kuat-kuat.
*Duuuuggg ...
Ogre yang bertubuh besar itu terhempas jauh kebelakang mengenai monster lain.
“He-hebat ... “ kata wanita itu tidak percaya melihat kedua orang itu melawan monster itu sendiri.
“Kaila, apa aku boleh membantu?” tanya Ruri yang masih melayang tidak karuan karena memang ia tidak ada kerjaan setelah membunuh semua monster terbang itu.
“Aku akan terbantu sekali jika kau mau mengalahkan Minotaur yang sedang menuju kesini itu,” kata Kaila yang masih sibuk memenggal leher monster lain.
“Minotaur? Ahh itu ... “ ucap Ruri melihat dari kejauhan seekor makhluk kepala banteng bertubuh besar yang membawa kayu cukup besar tengah berlari.
“H-hei ... Jangan bilang kau mau melawan Minotaur itu sendiri,” ucap wanita tadi kepada Ruri.
“Hmm? Tenang saja, aku bisa kok,” ucap Ruri sambil membuat pedang es nya.
“Tu-tunggu ... “ ucapnya tak melanjutkan perkataannya karena Ruri sudah terbang menuju Minotaur itu.
Terlihat Minotaur itu menyadari Ruri terbang ke arahnya dan langsung mengayunkan kayu besar itu.
Ruri dengan mudah menghindar dan berniat langsung menebas leher Minotaur itu. Akan tetapi karena kulit keras Minotaur itu diluar dugaan, Ruri hanya dapat menebasnya sedikit.
“Woaahh ... Keras juga yaa ... Jadi seperti ini tekstur Minotaur, berbeda sekali dengan yang kutahu,” ucap Ruri berkata sendiri.
“Baiklah, ayo kita lanjutkan pertarungan kita, tapi sebelum itu ... “ ucap Ruri sambil mengarahkan kedua tangannya ke samping lalu menggunakan sihir anginnya.
*Fuuussshh ...
Seketika area sekeliling Ruri bersih dari monster monster kecuali Minotaur dihadapannya.
“Ayo lanjutkan!” kata Ruri sambil mengacungkan pedang es nya.
*Aaaarrghhhh ...
Raungan Minotaur itu kemudian memukul Ruri dengan tangan kirinya.
Ruri hanya melompat untuk menghindarinya akan tetapi Minotaur itu kembali melancarkan serangan menggunakan kayu besar di tangan kanannya.
Dengan cepat Ruri menangkisnya dan sedikit terhempas kebelakang, kemudian berlari kembali mendekati Minotaur itu.
Melihat Ruri mendekat lagi, Minotaur itu kembali mengayunkan kayunya berniat untuk melenyapkan Ruri dengan memukul dari atas kepala.
*Duuuuummm ...
Suara pukulan keras dari monster itu yang tak mengenai apa-apa karena Ruri hanya menghindar dengan melompat keatas, kemudian berlari di tangan besar monster itu menuju ke atas dan menusuk tenguk leher Minotaur itu.
Cairan merah segar mulai bermuncratan dari monster besar itu. Monster itu meronta-ronta sebentar dan akhirnya diam tak berkutik.
“Tenaga yang besar, jadinya aku terlalu bersemangat, tapi tak kusangka akan secepat ini, dan sepertinya Kaila juga mau langsung menyelesaikan semuanya,” kata Ruri melihat ke arah Kaila yang mengangkat tangan kanannya dan dengan segera Ruri kembali terbang ke udara.
Kaila pun langsung menggunakan sihir angin wind slash dengan jangkauan luas, seketika saja seluruh monster itu terpotong semua.
“Mereka berdua mengalahkan se-semuanya?” kata wanita itu terkejut melihat semua monster itu sudah terbaring di tanah.
“Mary, para petualang kelas atas sudah sampai lebih cepat dari dugaan karena mereka menggunakan sihir percepatan,” kata salah seorang melaporkan dari belakang wanita itu.
“Hei Mary kau sudah mengalahkan semuanya? Hebat sekali!” ucap seorang laki-laki dari belakang orang yang melapor tadi.
“Bukan aku yang menghabisi para monster itu, tapi mereka ... lohh kok, dimana mereka?” ucap Mary sambil melirik kearah Ruri dan Kaila namun mereka sudah tidak ada ditempat.
...****************...
“Apa ini cukup?” tanya Kaila setelah menutup beberapa pintu di dalam lubang besar itu menggunakan batu dengan ukuran agak besar.
“Kurasa begitu ... “
“Akhirnya selesai juga,” kata Kaila sambil menghela nafas.
“Kerja bagus, Kaila.”
“Itu melelahkan tahu! Hmmph ... ” ucap Kaila sambil berpaling.
“Tapi itu kan karena kesalahanmu sendiri, ada apa? Mau menyalahkanku?” kata Ruri sambil tersenyum.
“Baiklah-baiklah lain kali aku tidak akan menghancurkan apapun di tempat aneh lagi, karena itu akan merepotkan,” gerutu Kaila.
“Yaudah ... Ayo kita pergi, aku sudah lapar ... “
“Bukannya terlalu pagi untuk sarapan?”
“Iya sihh tapi sepertinya semakin cepat semakin bagus, Clarissa juga mungkin tidak ingin terlalu lama menungguku,” ucap Ruri kembali tersenyum.
“Ba-baiklah kalau kau yang berkata begitu ... “ ucap Kaila pelan sambil berpaling.