
Ruri pun menoleh ke sumber suara itu.
“Clarissa ... “
Sesosok wanita itu berdiri dan melompat ke bawah.
“Lama tak jumpa ya, Ruri.”
“Clarissa ... kenapa? Apa yang telah terjadi sampai-sampai kau menjadi iblis seperti ini?”
Wanita itu hanya tersenyum.
" .... "
"Jawab aku!"
“Kepolosanmu itu sama sekali tidak berubah ya, Ruri." ucapnya berhenti sebentar kemudian melanjutkan perkataannya.
"Kenapa aku menjadi iblis? Kalau aku katakan itu memang keinginanku, bagaimana?”
“Berhentilah omong kosong! Clarissa tidak akan mempunyai keinginan seperti itu!”
“Memangnya kau tahu apa tentangku? Kau hanya pendatang yang kebetulan kami temukan di hutan.”
“Memang benar, aku tak menyangkal hal itu. Tapi aku sudah tahu segalanya tentangmu, Clarissa. Kau tadi mengatakan kalau semua ini adalah keinginanmu, tapi kau telah membohongi dirimu sendiri, aku ingat dengan apa yang kau katakan kalau kau berniat membinasakan semua iblis, kau membohongi dirimu sendiri karena kau tidak mampu melakukannya bukan?”
“Berhenti berbicara seakan-akan kau tahu semua tentangku?! Aku mengakui itu. Yang kau katakan itu benar, aku tak mampu melakukannya, jadi aku memutuskan untuk menghancurkan dunia ini saja," ucap Clarissa pelan dan terdiam sejenak
“Sudah cukup, kita hentikan saja omong kosong ini. Tujuanmu menemui raja iblis karena kau ingin menyelamatkan wanita itu bukan? Kalau begitu langsung saja, aku sudah memberitahumu sebelumnya, saat kita bertemu lagi, kita akan berjumpa sebagai musuh,” kata Clarissa sambil membuat pedang angin yang dilapisi api merah darah.
“Memang benar tujuanku ingin menyelamatkan Kaila, tapi aku-“ kata Ruri terpotong.
“Kalau begitu, kalahkan aku disini! Jika kau menang aku akan mengembalikannya, kalau kau kalah ... Kau akan mati!” kata Clarissa sambil melesat cepat ke arah Ruri dan mengayunkan pedangnya.
Ruri dengan cepat membuat pedang es nya.
*Taaaaanng ... !!!
“Clarissa hentikan ini! Sadarkah yang kau lakukan ini?” ucap Ruri sambil mendorong pedang es nya kemudian saat ada celah Ruri langsung melompat menjauh.
Wanita itu tersenyum kembali.
“Apa yang kau katakan? Tentu saja, sekarang ini aku dalam keadaan sadar sepenuhnya lohh ... Jadi ayo cepat lawan aku ... JANGAN MENAHAN DIRI!” kata Clarissa sambil mengayunkan pedangnya secara horizontal dan terlihat tebasan angin yang samar samar terlihat bergerak cepat ke arah Ruri.
Melihat itu Ruri langsung melompat menghindari itu.
*Duuuaaarrr !!!
“Di-dia ... tidak main main,” gumam Ruri terkejut melirik ke arah sihir angin Clarissa yang diakhir dengan ledakan itu.
“Apa kau pikir aku hanya main-main? Kalau kau tak ada niatan membunuhku, kau akan mati lohh ... “ kata Clarissa sambil terbang ke langit langit dan mulai menembakkan bola api dengan cepat.
Ruri menundukkan kepalanya, pandangannya mulai kosong, lalu mulai berlari dengan sangat cepat menghindari serangan bola api itu kemudian berlari ke arah Clarissa dan melompat tinggi sambil mengayunkan pedangnya.
*Taaaaanng ... !!!
“Akhirnya kau serius juga.” Ucap Clarissa sambil tersenyum.
“ .... “
Pedang es dan api itu saling bergesekan bukan percikkan api yang tercipta melainkan uap.
Ruri langsung membelokkan pedangnya dan langsung mengerahkan tenaganya.
*Srriiinng ...
Suara pedang api itu yang terlempar dari tangan Clarissa.
Dengan cepat Ruri langsung mengayunkan pedangnya mengarah ke leher wanita di hadapannya. Clarissa dengan sigap menahan pedang Ruri menggunakan sayap hitamnya.
Karena tertahan, Ruri langsung memutarkan tubuhnya ke atas berniat menendang kepala Clarissa dari atas.
Melihat itu, Clarissa dengan cepat menggunakan kedua sayapnya sebagai pertahanan.
*Duuuumm ...
*Byuuurr ...
Clarissa yang terhempas dan tergeletak di genangan darah itu, samar samar melihat Ruri yang bergerak cepat ke arahnya sambil mengacungkan pedangnya berniat untuk menusuknya dari atas.
Secepat mungkin Clarissa menghindar dengan berguling kesamping.
*Duuuuusshhh ...
Pria yang menancapkan pedangnya di genangan darah itu langsung melirik kesamping dan menendang tubuh wanita yang hendak bangun sampai terlempar jauh.
“Blood Sword Ice”
Kata Ruri langsung meletakkan tangannya di genangan darah itu, kemudian mengangkat sejumlah darah ke udara dan membekukannya.
Clarissa tersenyum melihat Ruri yang tak menahan diri itu.
“Benar begitu Ruri, selanjutnya, pastikan kau menghancurkan jantung atau memenggal leherku ya.”
Ruri hanya diam sambil mengacungkan pedang merah itu mengarah ke jantung wanita yang berada jauh disana.
Clarissa yang tak mau kalah juga kembali membuat pedang apinya.
Mereka berdua terdiam sejenak, tidak ada gerakan apapun dari keduanya.
Hoursy Loungjer yang melihat mereka dari lubang dimensi berukuran kecil langsung berkata.
“Lebih baik aku tak mengganggu pertarungan mereka,” katanya sambil menutup kembali lubang dimensi.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua memejamkan mata sebentar. Entah mereka diam menunggu apa yang jelas mereka seperti waktu yang tepat untuk menyerang.
Saat keduanya kembali membuka mata, seketika itu pula mereka berdua langsung berlari dengan cepat dan masing-masing saling menghunuskan pedangnya kedepan.
“Benar, memang harus kau yang membunuhku, Ruri. Itulah alasan aku mencintaimu. Kau selalu saja menyelamatkanku dalam hal apapun, baik masalah kecil ataupun besar, tapi ... sekarang ini aku tak memerlukan itu lagi. Dengan matinya aku ditanganmu, akhirnya aku bisa terlepas dari belenggu ini. Itu sudah cukup untuk membuatku tenang. Terima kasih, Ruri,” gumam Clarissa yang melihat pedang es Ruri mengarah ke jantungnya. Sedangkan Clarissa hanya mengarahkan pedangnya ke bagian perut.
Seketika saja ...
*Crrruuuukk ...
*Crrruuuukk ...
Masing-masing pedang tertancap di tubuh lawannya. Tak terasa pedang itu mulai meneteskan darah dari kedua orang itu.
Saat pedang itu menancap di tubuh Clarissa, ia pun terkejut dengan apa yang dirasakannya.
“Ke-kenapa ... ? Kenapa kau tidak membunuhku, RURI?!” ucap Clarissa dengan keras karena pedang es Ruri sedikit berbelok ke tengah dari jantung.
“A-aku ... tak bisa melakukannya,” kata Ruri yang dilanjutkan dengan batuk darah.
Clarissa menundukkan kepalanya.
“Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini? Kalau aku mencabut pedangmu ini, aku akan segera beregenerasi kembali dan saat itu pula aku akan segera membunuhmu tahu?" kata Clarissa dengan nada serius.
“Iya aku tahu itu,” kata Ruri sambil mencabut pedang es miliknya dari tubuh Clarissa dan membuangnya.
Perlahan tubuh Clarissa kembali pulih.
“Tapi, sebelum kau membunuhku ... “ kata Ruri sambil membersihkan darah yang ada di mulutnya.
“Ap-“ ucap Clarissa tak melanjutkan perkataannya karena ia terkejut, tiba-tiba saja pria yang dihadapannya itu langsung meraih bibir manis miliknya.
Setelah selesai, Ruri langsung memeluk wanita itu sedapatnya, karena memang di tubuhnya masih tertancap sebilah pedang.
Sedangkan Clarissa masih diam mematung tak bergerak dari tempat ia berdiri.
“Sudah 5 tahun sejak saat itu, akhirnya aku bisa memeluk wujudmu lagi, Clarissa.”
“A-apa yang kau bicarakan? Dan juga, ke-kenapa kau menciumku?” kata Clarissa terbata-bata.
“Hmm? Kau masih belum mengerti? Memangnya salah kalau aku mencium kekasihku sendiri sebelum aku mati?”
Clarissa terkejut dan terdiam.
“Baiklah, aku sudah mengatakan semuanya, kau boleh membunuhku sekarang ... “ ucap Ruri pelan yang masih memeluk erat tubuh wanita di hadapannya.
“Kau sudah mengetahuinya? Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal! Kenapa kau berpura-pura tidak tahu?! Kalau begini ... kalau begini malah aku yang terlihat menyedihkan,“ kata Clarissa lirih yang matanya mulai berkaca-kaca dan air matanya pun mulai berjatuhan.
“Maaf jika yang kulakukan salah, tapi inilah satu satunya jalan,” kata Ruri pelan.
“Dasar bodoh ... Akulah yang harusnya meminta maaf ... " ucap Clarissa yang seketika pecahlah tangisannya.
Ruri hanya diam dan membiarkan wanita itu memukul-mukul pelan bahunya. Setelah beberapa saat kemudian Ruri berkata sambil memegang kedua pundak wanita itu.
“Sudahlah Clarissa, kau tidaklah salah,” kata Ruri sambil menyerka air mata Clarissa.
“Ta-tapi ... “
“Iya aku paham, kau cemburu bukan? Walaupun begitu tetap saja aneh ... cemburu kok ama diri sendiri,” ucap Ruri yang mencibir sambil tersenyum.
“Ihh RURI?!” kata Clarissa jengkel.
“Iya iya maaf. Seperti yang kukatakan tadi, kau tidaklah salah, pasti saat itu kesadaran penuhmu sedikit dikendalikan oleh sesuatu bukan? Makanya kau melakukan ini semua.”
Clarissa yang terkejut karena Ruri mengetahui semuanya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Kenapa kau bisa tahu?”
“Sejak awal aku sudah tahu, pasti selama ini iblis itu membiarkan kita untuk mencapai tujuannya ini.”
“A-aku tak pernah mengetahui sampai sejauh itu,” ucap Clarissa pelan yang baru tersadar, bahwa kebebasan yang dirasakannya saat itu sudah dalam rencana Hoursy.
Ruri tersenyum kemudian kembali terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah.
“Ahh Ruri lukamu!”
“Tenang saja, aku bisa mengatasinya, bisakah kau membantuku menariknya?”
“Tentu saja aku akan membantu- A-ahhh ... !!!“ kata Clarissa terpotong karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa membakar karena segel itu aktif saat melanggar perintah Hoursy.
“Ada apa Clarissa?” tanya Ruri kepada wanita itu yang masih menahan rasa sakit.
“Tu-tubuhku ... Bereaksi kembali saat melanggar perintah orang itu,” kata Clarissa yang sudah merasa baikan.
“Apa perintahnya?”
“Membunuhmu ... “ kata Clarissa pelan sambil berpaling.
“Kalau begitu kau coba tarik pedangmu, tapi dengan niat membunuh bukan menolongku, apa kau mengerti?”
Wanita itu menganggukkan kepalanya dan mulai berdiri kemudian menarik pedang api miliknya.
“Berhasil!” kata Clarissa setelah selesai melepas pedang itu.
Sedangkan Ruri langsung menutup lukanya dengan membekukannya.
“Ruri ... A-apa kau baik-baik saja? Luka itu mungkin dari luar terlihat kering, tapi di dalamnya ... “ kata Clarissa khawatir.
“Tenang saja, aku baik-baik saja, tapi dengan keadaanku yang sekarang, aku tidak bisa bergerak bebas seperti sebelumnya, jadi aku memerlukan bantuanmu untuk melawan Hoursy Loungjer.”
“Ta-tapi bagaimana? Aku bisa hangus terbakar jika membantumu.”
“Perlihatkan segel itu padaku!” kata Ruri sambil mendekati Clarissa.
Clarissa tanpa ragu langsung membuka sedikit bajunya dan memperlihatkan perutnya yang terdapat sebuah simbol.
Ruri pun berjongkok dan memerhatikan simbol itu.
“A-ahhh ... A-apa yang kau lakukan?” kata Clarissa yang terangsang karena tangan Ruri menyentuh perutnya.
"Berhentilah bersuara aneh ... " kata Ruri.
"Kau pikir itu salah siapa?!"
“Sudah lupakan itu. Clarissa, aku akan menghancurkan segel ini, mungkin ini akan sedikit menyakitkan, apa kau bisa menahannya sebentar?”
Wanita itu menganggukkan kepalanya pelan.
"Tapi apa kau tahu caranya?" tanya Clarissa memastikan.
"Aku tahu, Pak Nathan mengajarkanku itu. Tapi anehnya dia hanya memberitahuku, tidak kepada murid-murid yang lain ... Dan dia menyuruhku untuk merahasiakan cara menghancurkan segel ini kepada semua orang."
"Begitu rupanya, baiklah."
"Hmm ayo kita langsung pergi kesana," kata Ruri sambil menunjuk ke salah satu tanah yang menjulang ke atas.
Saat sudah disana, Ruri pun membaringkan Clarissa.
"Kau siap?"
"I-iyaa ... lakukanlah!"
“Baiklah aku mulai ... “ kata Ruri langsung menempatkan kelima jarinya yang di aliri sihir api, angin, petir ke titik titik simbol itu.
Clarissa langsung bereaksi dengan efek panas yang kembali membakar tubuhnya. Sebisa mungkin wanita itu menahannya dan mencoba agar tak bergerak sedikit pun.
Segel bagian luar itu tak lama kemudian bersinar merah terang lalu semakin lama semakin memudar dan akhirnya menghilang.
“Tahap pertama berhasil. Clarissa, untuk yang kedua ini, kumohon tahan sekali lagi, mungkin ini akan lebih menyakitkan, jadi bersabarlah sedikit lagi, kalau kau mau kau boleh menggenggam tangan kiriku untuk menahannya,” ucap Ruri yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala wanita itu.
Ruri langsung meletakkan 3 jarinya tepat di atas pusar seperti ingin mengambil sesuatu.
“Aku mulai!” kata Ruri sambil menembuskan ketiga jarinya masuk kedalam perut Clarissa dan mencari sesuatu.
Clarissa terus meremas tangan kiri Ruri sebagai penahan rasa sakitnya.
Pria itu masih sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tubuh wanita itu.
"Ruri cepatlah ... " kata Clarissa lirih.
"Iya sebentar lagi ... " kata Ruri ketika ia merasakan dirinya sudah menemukan sesuatu yang dicarinya.
“Dapat!” ucap Ruri langsung menarik sesuatu keluar dari tubuh wanita itu dan langsung menutup lukanya dengan membekukannya.
“Jadi, karena benda ini Clarissa menderita! Terkutuklah kalian para iblis!” ucap Ruri geram kemudian menghancurkan stealth crystal berwarna merah di tangannya dengan sekali genggaman.
“Clarissa? Kau baik-baik saja?” kata Ruri sambil mengangkat kepala Clarissa sedikit.
“Ru-Ruri ... kepalaku pusing, a-aku ... tidak kuat lagi untuk menahannya ... ” ucap Clarissa yang kemudian mulai tak sadarkan diri.
“Beristirahatlah Clarissa, kau sudah berjuang. Sebenarnya aku sudah tahu kalau menghilangkan segel ini akan berefek sesuatu, karena dari awal aku memang berniat untuk melawan Hoursy Loungjer sendirian,” ucap Ruri pelan.
“Maaf aku berbohong padamu, sebenarnya aku bisa melawan iblis itu seorang diri, kenapa aku mengatakan kalau aku butuh bantuanmu? Kalau aku langsung menyuruhmu memberitahukan dimana segel itu, pasti kau akan ragu memberitahukannya dan itu akan membutuhkan banyak waktu, sedangkan Hoursy pasti akan segera muncul kembali untuk memeriksa keadaan,” kata Ruri sambil melirik ke arah lubang putih yang membesar di udara.
“Dan satu hal lagi, sebenarnya aku juga berhasil membohongi iblis bodoh itu, sebenarnya ... tadi itu aku hanya berpura-pura mengalah saja, kalau tidak kulakukan itu, aku tak mungkin bertemu dengan Clarissa sekarang ini,” gumam Ruri lagi sambil tersenyum ke arah lubang itu yang kian membesar.