
"Bagaimana kalau kita melanjutkan ini di tempat yang lebih layak?" tawar Pak Angga.
"Pak, sebelum itu, mereka ini siapa?" tanya Rian cepat.
"Aku sendiri juga tidak tahu, tapi, merekalah yang membantu kami memadamkan api di rumah kita, dan juga mereka akan membantu kita menangkap pencuri itu," jelas Pak Angga.
"Tapikan kita tidak memerlukan bantuan dari orang asing," ucap Rian.
"Mungkin aku akan berkata begitu jika kamu selalu menjaga desa ini," ucap Pak Angga yang membuat anaknya terdiam.
"Baiklah ayo kita bicarakan ini ditempat lain," ucap Pak Angga kepada Ruri dan kawanannya.
"Ahh sepertinya aku ingin pergi sebentar, jadi duluan saja ya," ucap Rian.
"Kau mau kemana, Rian? Padahal kau baru saja sampai," ucap Ruri yang membuat pemuda bernama Rian terkejut.
"Aku ada sedikit urusan sebentar," ucapnya sambil tersenyum.
"Ruri, biarkan saja, dia memang selalu begitu," ucap Pak Angga.
"Hehe, baiklah aku pergi," kata Rian sambil berlalu pergi.
"Hmmm ... kalau dilihat dari reaksinya menurutku dia tahu sesuatu," gumam Ruri.
Penginapan ...
"Jadi begitu, mereka bilang akan mencuri 2 kali dalam sehari, yang pertama pada malam hari dan yang kedua antara pagi atau siang hari" kata Ruri.
"Huhh ... ada saja yah pencuri yang menjadwalkan pencurian, terlebih lagi mereka memberi tahukan hal itu kepada target desa yang ingin dicurinya," ucap Dhafin sambil tersenyum.
"Iya begitulah, akan tetapi, sampai sekarang, satupun dari mereka belum pernah berhasil tertangkap," ucap Pak Angga.
"Kalau mereka sudah menjadwalkan waktu pencuriannya bukankah akan lebih mudah untuk menjebak mereka?" ucap Clarissa.
"Kami sudah pernah melakukannya, akan tetapi kami yang bukan penyihir tidak bisa melawan para pencuri yang merupakan seorang penyihir," jelas Pak Angga.
"Apa para pencuri itu semuanya seorang penyihir?" tanya Vina.
"Mungkin saja, sampai sekarang kami belum bisa mengetahuinya," kata Pak Angga.
"Pak, apa tidak ada lagi informasi tentang pencuri itu? Misalkan seperti markas mereka atau orang yang mencuri itu," tanya Naila.
"Kalau itu, sepertinya kami belum mengetahuinya," ucap Pak Angga.
"Baiklah malam ini kita akan menangkap mereka, tanpa gagal sedikitpun," ucap Ruri.
"Hah benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Pak Angga cepat.
"Kita akan menggunakan cara yang gagal itu," ucap Ruri.
"Menjebaknya kah? Tapi bukankah itu sudah pernah dilakukan oleh ... " ucap Vina yang tidak meneruskan perkataannya karena sudah paham maksud Ruri.
"Iya, itu gagal karena desa ini tidak mempunyai seorang penyihir, sekalipun ada, mereka hanya mempunyai Rian, itu juga ia selalu pergi entah kemana," kata Ruri.
"Jadi kalian bermaksud melawan para pencuri itu?" tanya Pak Angga tidak percaya.
"Iya kurang lebih seperti itu," jawab Ruri.
"Tapi Ruri, bagaimana caranya kau menjebak mereka?" tanya Clarissa.
"Sebelum itu, aku ingin kembali bertanya kepada Pak Angga," ucap Ruri yang membuat Pak Angga sedikit terkejut.
"Pak Angga jawab aku dengan cepat!"
"I-iya," kata Pak Angga.
"Mereka mencuri 2 kali sehari?
"Iya."
"Apa bapak tahu jumlah pasti dari mereka?"
"Tidak."
"Apakah mereka mencuri barang-barang berharga seperti emas?"
"Tidak, kami tidak mempunyai itu disini."
"Apa yang biasanya mereka curi?"
"Hewan ternak, hasil panen, dan uang."
"Mereka tidak menculik seseorang?"
"Ti-tidak."
"Apa mereka tidak mengambil makanan atau semacamnya?"
"Tidak, mereka hanya mengambil bahan mentah."
"Apa ada kota yang mungkin dekat dengan desa ini?"
"Ada."
"Dekat?"
"Tidak, mungkin agak jauh."
"Baiklah, terimakasih atas jawabannya," ucap Ruri sambil tersenyum.
Seketika saja Pak Angga menghela nafas dan kembali tenang.
"Jadi, dari pertanyaan kau tadi, apa yang kau ketahui?" tanya Dhafin.
"Mereka sepertinya mencuri untuk di jual kembali," ucap Ruri.
"Kalau begitu kenapa mereka tidak mencuri di kota saja? Dari pada di desa ini?" tanya Vina.
"Kalau mereka mencuri di kota, kemungkinan mereka dapar tertangkap agak tinggi, jadi mereka lebih suka mencuri di desa desa seperti ini," jelas Ruri.
"Jadi maksudmu, mereka itu bisa dibilang lebih mencari aman walaupun pendapatannya tidak seberapa?" tanya Vina.
"Iya."
"Lalu, bagaimana cara kau menjebak mereka?" tanya Clarissa.
"Aku akan membuat perangkap," jawab Ruri singkat.
"Dimana?" sambung Pak Angga.
"Di tempat kita akan bermalam," jawab Ruri lagi.
"Disini? Lalu bagaimana caranya kau membawanya kesini?" tanya Pak Angga.
"Membawa? Tidak. Lebih tepatnya, aku akan membuat mereka yang datang kesini sendiri tanpa disuruh," ucap Ruri sambil berdiri dan tersenyum lebar melihat kearah hutan dari balik jendela bangunan itu.
"Bagaimana caranya?" ucap mereka semua terheran-heran.
Ruri kembali duduk dan mulai menjelaskan rencananya.
...****************...
12:11 PM.
"Hei apa kalian melihat Ruri?" tanya Clarissa.
"Entahlah dia tidak bilang kalau ingin keluar," jawab Dhafin.
"Heh? Clarissaa, apa kau khawatir?" tanya Vina sambil tersenyum.
"H-hah? Bu-bukan aku hanya ingin tahu saja," jawab Clarissa dengan gugup dan pipinya mulai memerah.
"Hmm ... apa kau yakin?" tanya Vina lagi.
"I-iya, aku hanya ingin bertanya dengannya, itu lohh ... t-tentang rencana nanti malam," ucap Clarissa sambil berpikir.
"Benarkah...?" ucap Vina lagi yang membuat muka Clarissa semakin memerah.
"Sudahlah, percuma aku berbicara denganmu," ucap Clarissa sambil berlalu pergi.
Disisi lain Ruri tengah berkeliling di desa itu.
"Ahh sepertinya aku tersesat," gumam Ruri sambil tersenyum dan menghentikan langkahnya.
Ruri menoleh kesana kemari harap-harap dia mengingat jalan yang baru saja ia lalui, namun ia tetap tidak mengingatnya, akan tetapi sekilas ia melihat sesosok gadis yang sepertinya mungkin pernah ia lihat.
Setelah berpikir mengenai gadis itu, barulah ia ingat dan pergi menghampirinya.
"Hei kamu ... tunggu!" kata Ruri yang membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh kearah seseorang yang menyapanya.
"Hah? Kamu? Sedang apa kau disini?!" ucap gadis itu terkejut melihat Ruri. Iya, gadis itu tidak lain adalah anak dari kepala desa itu, Luna.
"Aku butuh sedikit bantuanmu," kata Ruri.
"Bantuan?" tanya Luna.
"Iya, nampaknya, aku sedikit tersesat, hanya sedikit," ucap Ruri yang dilanjutkan tawa kecilnya.
"Sudah kuduga, padahal ini hanya desa dan juga tidak terlalu besar, meski begitu kau masih tersesat?" kata Luna.
"Yaah ... kalau aku mau, aku bisa terbang untuk kembali. Tapi, berhubung sudah bertemu kau, aku akan ikut denganmu saja," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Y-ya terserah sihh ... tapi, aku masih ada sedikit urusan disini," kata Luna sambil memalingkan pandangannya.
"Iya tidak apa, lagi juga aku ingin mengetahui tentang desa ini," ucap Ruri.
"Mengetahui? Apa jangan jangan ... kau itu mata mata ya?" ucap Luna sambil menjauh sedikit dari Ruri.
"Lalu kau ini apa?" tanya Luna lagi.
"Entah bagaimana caramu berfikir tentang orang lain, kau tahu sendiri, aku ini manusia sama sepertimu, ayolah cepat selesaikan urusanmu disini!" ucap Ruri sambil berjalan.
"Hei t-tunggu ... kau mau lari ya?!" ucap Luna.
Beberapa menit kemudian Luna selesai dengan urusannya dan membawa Ruri kembali ke penginapan.
"Hadehh ... kukira ada urusan penting apa, ternyata hanya belanja bahan makanan, dan juga kenapa aku yang membawanya?" ucap Ruri pelan melihat dua buah kantung berisi bahan makanan di kedua tangannya.
"Hei ini juga penting tahu! Jadi jangan mengeluh," kata Luna.
"Baiklah baiklah terserah kau saja," ucap Ruri sambil menghentikan langkah kakinya karena melihat sebuah cafe.
"Tulisannya cafe ... tapi aku tidak yakin dengan tempat ini, apa benar tempat ini adalah sebuah cafe?" gumam Ruri melihat sebuah bagunan yang didepannya bertuliskan cafe.
"Mau minum sebentar?" tanya Luna.
"Ahh ... ti-tidak, karena aku juga tidak mempunyai uang," kata Ruri pelan sambil tersenyum.
"Kalau ingin, ayo kita masuk saja dulu," ucap Luna sambil berlalu pergi masuk kedalam tempat itu.
"Heh? Tu-tunggu ... "
Cafe ...
"Jadi, kau mau apa?" tanya Luna setelah melihat Ruri duduk di hadapannya.
"Kan sudah kubilang, aku tidak punya uang," ucap Ruri pelan.
"Sudah tenang saja, kau ini tamu ayah, lagi juga kau kesini untuk membantu desa ini, anggap saja sebagai bayarannya," ucap Luna sambil tersenyum.
"Hmm ... ternyata kau orangnya baik yaa, kukira kau orangnya seperti apa yang aku bayangkan sejak aku pertama kali bertemu denganmu," ucap Ruri yang membuat Luna tersipu.
"Sudahlah cepat kau ingin pesan apa?!" ucap Luna yang pipinya masih memerah.
"Ahh I-iya baiklah, es kopi saja," kata Ruri sambil tersenyum.
Mendengar itu Luna langsung bangkit dan memesan kepada pemilik kedai lalu kembali duduk lagi.
"Jadi, apa rencanamu untuk menangkap para pencuri itu?" tanya Luna.
"Aku belum bisa mengatakan kepadamu sekarang," jawab Ruri.
"Heh? Kenapa?" tanya Luna.
"Karena aku masih ingin merahasiakannya agar informasi ini tidak sampai terdengar oleh salah seorang dari mereka," ucap Ruri.
"Jadi maksudmu dari semua pencuri itu, setidaknya salah satu dari mereka tinggal di desa ini?" ucap Luna tidak percaya.
"Wahh pemahamanmu mengagumkan yah," ucap Ruri dengan senyumnya.
"Ti-tidak, hanya kebetulan saja," ucap Luna sambil membuang muka.
"Tapi kalau mengatakannya kepadamu sepertinya tidak apa-apa," ucap Ruri.
"Hmm? Coba kau jelaskan rencanamu!" pinta Luna.
Ruri pun mulai menjelaskan kepada Luna tentang rencananya. Setelah mendengar itu, Luna menundukkan kepalanya.
"Saat dia menjelaskan rencananya itu, sepertinya ia tidak berbohong kepadaku, tapi kenapa?" gumam Luna.
"Kenapa?" ucap Luna tiba-tiba yang membuat Ruri menatap gadis itu.
"Kenapa kau mengatakannya padaku? Bukankah hal ini seharusnya tidak boleh sampai terdengar kepada siapapun?" kata Luna melanjutkan perkataannya.
Ruri kembali tersenyum lalu berkata.
"Memangnya kenapa? Kan sudah kubilang kalau kau yang mendengarnya tidak akan apa-apa," ucap Ruri.
"Apa kamu tidak curiga padaku sedikit pun? Bisa saja kalau mata-mata yang kau bilang itu menanyakannya kepadaku dan tanpaku sadari aku memberi tahu tentang rencanamu itu," ucapnya sambil menatap Ruri.
"Aku tidak akan mencurigaimu, walaupun sifatmu awalnya memang membuat orang lain kesal, tapi aku yakin kau adalah orang baik," ucap Ruri.
"Kenapa kau bisa seyakin itu?" tanya Luna
"Karena aku percaya padamu."
Mendengar itu Luna terkejut lalu kembali menundukkan kepalanya.
"K-kau bodoh yah? Mempercayai seseorang yang baru saja kau temui," kata Luna sambil tidak menatap seseorang dihadapannya.
"Yahh mungkin saja, ahh ... akhirnya sudah sampai," ucap Ruri.
"Maaf telah membuat anda menunggu," ucap penjaga kedai itu sambil menaruh 2 buah gelas di meja lalu pergi.
"Ada apa, Luna?" ucap Ruri melihat seorang gadis disebrangnya termenung.
"Ahh ... ti-tidak," ucap Luna sambil kembali mengangkat kepalanya lalu tersenyum sebentar dan meminum minuman miliknya.
"Terima kasih yah, Ruri," ucap Luna tiba-tiba.
"Untuk apa?" ucap Ruri tidak mengerti.
"Karena kau telah menolongku tadi, dan tadi aku belum sempat berterima kasih," katanya.
"Iya tidak apa-apa."
Disisi lain di tengah hutan yang lebat ...
"Kenapa kalian sampai membakar rumahku?"
"Aku terpaksa, untuk melarikan diri."
"Tapi kau janji untuk tidak menyakiti keluargaku."
"Hmm? Memangnya ada yang terluka?"
"Ti-tidak sihh ... tapi jika saja orang itu tidak ada dan Luna kenapa kenapa, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
"Heh? Benarkah? Coba kau ingat ingat lagi, memangnya mereka itu benar-benar keluargamu?"
"T-tentu saja"
"Tidak, kau salah, laki-laki itu hanya memungutmu, lalu memanfaatkanmu setelah selesai mereka akan membuangmu."
"Ti-tidak kau salah, Pak Angga tidak seperti orang tuaku yang membuangku begitu saja."
"Memangnya kau tahu apa tentang orang tuamu? Kalau kau ingin kebenaran maka dengar lah ini," ucap orang itu yang mulai menceritakan sesuatu.
"Ti-tidak mungkin, kau ... kau ... adalah kakak kandungku, d-dan orang tuaku dibunuh oleh ... "
"Setelah kau tahu itu, maka buanglah perasaanmu itu untuk bertahan hidup!"
Kamar penginapan ...
17:02 PM.
"Ruri apa kau sudah mendapatkan bukti itu bahwa dia adalah salah satu dari pencuri itu?" tanya Dhafin.
"Belum."
"Jadi kita akan tetap melakukannya walaupun orang itu bukan salah satu dari pencuri itu?" tanya Dhafin lagi.
"Iya begitulah," jawab Ruri singkat.
"Ternyata cukup rumit yah," kata Vina.
*Tok... Tok... Tok...!!!
Suara pintu yang diketuk seseorang.
"Permisi," ucap Pak Angga sambil membuka pintu.
"Pak Angga, ada apa?" tanya Ruri.
"Apa kalian ingin pergi ke pemandian air panas?" ucapnya.
"Ahh maaf Pak, kami tidak bis-" ucap Clarissa terpotong.
"AYO...!!!" ucap Ruri dan Dhafin dengan bersemangat.
"Heh? Apa yang ingin kalian lakukan? Kita kesini bukan untuk wisata yah, bukankah kalian tahu itu?!" ucap Clarissa.
"Ayolah Kak, kita bersantai sebentar saja, lagi juga pencuri itu datangnya nanti malam," ucap Dhafin.
"Tapi kan kau sendiri yang bilang, urusan disini harus cepat cepat kita selesaikan supaya bisa lekas pulang. Kenapa kau malah ikut keasikan bersama Ruri?!" ucap Clarissa kepada Dhafin.
"Sudahlah Clarissa, lebih baik kita ikut juga," ucap Naila kepada Clarissa.
"Iya benar apa kata Naila, lagi juga di kota kita, tidak ada pemandian air panas," ucap Vina.
"Ayolahh Clarissa, tidak apa, apa jangan jangan ... kau memang tidak suka mandi?" ucap Ruri dengan nada mengejek dan disambungkan senyumannya
"Ihh tidak! B-bukan begitu, ahh ... iya iyaa ... aku juga ikut?!" ucap Clarissa dengan mukanya yang mulai memerah.
Mendengar itu mereka semua tertawa.
"Baiklah ayo pergi," kata Pak Angga.
"Hmm."
Mereka semua pun pergi mengikuti Pak Angga menuju tempat pemandian air panas.