
“Ayo silahkan dinikmati! Tidak usah sungkan,” kata laki-laki paruhbaya itu yang merupakan raja di negri itu.
“Walaupun bilang begitu juga, kami tetap tidak terbiasa akan hidangan mewah seperti ini, kecuali ... “ kata Ruri tak melanjutkan perkataannya lalu menatap ke arah Naila dan Dhafin yang dengan santainya memakan makanan di meja panjang itu.
“Hmm? Aku sudah terbiasa,” kata Naila.
“Karena aku sering diajak Naila, jadi aku juga mulai terbiasa,” ucap Dhafin.
“Ahh ... Tidak apa, memang sebaiknya begitu agar tidak terlalu canggung, ayo tambah lagi jangan sungkan!”
“I-iya ... “ ucap Ruri pelan sambil tersenyum.
“Apa benar kalian berdua dari kerajaan Zeastic?” ucap sang raja kepada Ruri dan Kaila.
“Kalau aku iya, tapi Kaila ... Kaila sebelumnya kau tinggal dimana?” ucap Ruri sambil menoleh dan bertanya kepada Kaila.
“Ruri kau belum tahu? Bahwa Kaila ad-“ ucap Dhafin terpotong.
“Dhafin!” kata Kaila sambil menggelengkan kepalanya seperti mengisyaratkan sesuatu.
Dhafin terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Ada apa?” tanya Ruri.
“Dhafin sepertinya sudah mengetahui sesuatu,” gumam Ruri.
“Bukan apa-apa, maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu Ruri ataupun baginda raja, aku minta maaf sekali,” ucap Kaila pelan sambil menundukkan kepalanya.
“Aku tidak keberatan tapi ... “ ucap Ruri sambil menoleh kearah laki-laki paruhbaya itu.
“Kalau kau tidak mau, tidak apa, aku tidak suka memaksakan sesuatu. Lalu, apa tujuan kalian? Dari yang kudengar, kalian berdua ingin mencari seseorang, apa itu benar?” Tanyanya lagi.
“Iya benar, bolehkan aku mencari orang itu di kota ini?” jawab Ruri cepat.
“Tentu saja.”
Dhafin yang masih menundukkan kepalanya tiba-tiba saja berkata.
“Ruri biar kuberi tahu!” ucap Dhafin yang membuat Kaila terkejut.
“Kakak ... Dia ... Tidak tinggal di kota ini, aku sudah memeriksanya ... Jadi lanjutkan saja mencarinya di kota lain dan semoga kau berhasil mengetahui kebenarannya disana,” kata Dhafin tanpa menoleh.
Semuanya terdiam tak ada yang berkata-kata.
“Begitukah? Jadi Clarissa tidak tinggal di kota ini? Baiklah aku mengerti, Kaila jika sudah selesai makan, cepat ambil kembali barang-barangmu, kita akan melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya,” kata Ruri yang dijawab oleh Kaila dengan anggukkan kepala.
Saat selesai makan, Raja mememinta Dhafin dan Naila menemani Kaila mengambil barang-barangnya, karena Raja ingin membicarakan sesuatu dengan Ruri berdua saja.
“Jadi, apa yang ingin baginda raja katakan?” ucap Ruri.
“Aku ingin membicarakan tentang wanita setengah iblis itu,” katanya.
“Hmm? Begitu rupanya, sudah kuduga.”
“Kalau begitu ini akan cepat, jadi, kenapa kau melindungi wanita itu? Kau kan tahu sendiri kalau dia itu juga seorang iblis,” tanya sang raja.
“Sederhana, karena aku mencintainya, itu saja,” ucap Ruri dengan yakin.
“Kau menyukai wanita itu? Sungguh hal yang tak pernah terpikirkan olehku, hahah,” kata laki-laki paruhbaya itu yang dilanjutkan dengan tawanya, sedangkan Ruri hanya tersenyum menanggapinya.
“Memangnya ada masalah tentang itu?” tanya Ruri.
“Tidak. Hanya saja kau sangat unik, kekuatan sihirmu luar biasa, tapi kenapa kau bisa bisanya memilih wanita setengah iblis itu? Padahal kau bisa memilih wanita manapun yang engkau mau,” timpal sang raja.
“Tentu saja, karena sejak pertama aku bertemu dengannya dialah satu-satunya wanita yang mau menemaniku di saat susah ataupun senang selama ini.”
“Baiklah aku akui kesetiaan hatimu padanya, jadi aku akan membicarakan tentang sisi lain dari hal itu,” kata sang raja yang kembali serius.
“Pertama, walaupun aku sudah mengatakannya tadi, tapi akan kuulangi, wanita itu walaupun dia manusia akan tetapi dia juga iblis lohh ... “
“Aku tahu itu,” ucap Ruri cepat.
“Kedua. Ruri, mungkin sekarang adalah kesempatan bagus untuk berubah pikiran dan membunuhnya, karena kita tidak tahu apa yang dipikirkan sisi iblisnya, bisa saja dia diluar kendali dan menyerangmu.”
“Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tetap memilihnya, karena aku sudah berjanji kepadanya bahwa aku akan menghentikannya apapun yang terjadi nanti,” kata Ruri tenang.
“Begitukah?”
“Iya.”
“Baiklah ini yang terakhir, bagaimana kalau dia itu mata-mata iblis atau semacamnya? Kemudian merencanakan sesuatu dibelakangmu. Contohnya seperti tadi, dia bertingkah aneh dan dia tidak mau mengatakan dari mana ia berasal. Dan bisa saja dia merencanakan sesuatu.”
“Kalau soal itu, tenang saja, walaupun dia menyembunyikan sesuatu dariku, aku yakin dia memiliki alasan tertentu yang tak bisa dijelaskan secara langsung. Meski begitu, dia tetaplah Kaila Felicia, rekan sekaligus kekasihku, jadi aku mempercayainya. Seandainya dia melakukan sesuatu diluar kehendaknya seperti yang baginda raja katakan tadi, aku bisa kok menghentikannya, jadi jangan khawatir, akan kupastikan Kaila tidak menyakiti orang lain selagi aku masih berada di sampingnya.”
“Jawaban yang bagus, baiklah aku percayakan wanita itu padamu. Tapi, jika wanita itu menyerang orang-orang dan kau melindunginya, kami tidak akan segan melawanmu langsung lohh ... “ ucap sang raja sambil tersenyum.
“Hmm baiklah tidak apa, karena hal itu tak akan terjadi kok,” ucap Ruri yang ikut tersenyum.
...****************...
“Baiklah kami akan pergi lagi, Dhafin, Naila.”
“Hmm,” ucap Dhafin dan Naila sambil menganggukan kepala.
“Dan kalian cepat cepatlah kembali jangan mengikutiku seperti ini lagi,” ucap Ruri sambil menatap Naila.
“Jangan kepedean ya, aku hanya sekedar menjalankan tugas dari ayahku,” kata Naila.
“Iya menjalankan tugasnya sehari, lalu 3 hari yang dibilang Dhafin untuk apa?!” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Hehe.”
“Ruri, tolong jaga Kaila ya,” ucap Dhafin sambil menjulurkan tangannya.
“Iya, tentu saja,” kata Ruri sambil menjabat tangan rekannya itu.
“Kau pikir aku tidak bisa menjaga diri begitu?” ucap Kaila sambil menatap tajam Dhafin.
“Bu-bukan begitu ... Dan juga hentikkanlah omong kosong ini dan cobalah katakan yang sebenar- Ahhh...!!!“ ucap Dhafin terpotong karena Kaila menginjak kakinya kuat kuat.
“Tidak bisa, karena sebuah alasan tertentu, kau paham?” ucap Kaila sambil tersenyum.
“Ahh ba-baiklah ... Dan lepaskan kakiku!” ucap Dhafin yang masih kesakitan.
“Baiklah.”
“Sejak kapan kalian jadi akrab begitu? Apa ada sesuatu terjadi?” tanya Ruri.
“Ruri cepatlah sadar! Kaila ini ... dia adala-“ ucap Dhafin terpotong lagi karena Kaila memukul Dhafin sampai terhempas jauh.
“Dha-Dhafin? Apa kau baik-baik saja?” tanya Ruri kepada seseorang yang berada jauh di sana.
Terlihat Dhafin mengacungkan ibu jarinya untuk menjawab pertanyaan Ruri dan kemudian langsung tak sadarkan diri.
“Tenang saja dia tidak apa-apa, orang bodoh sepertinya pantas mendapatkannya, ayo pergi Ruri!” ucap Kaila sambil berlalu pergi.
“Tu-tunggu ... Naila kami pergi duluan ya,” ucap Ruri sambil berlalu.
“Iyaa ... “
“Dasar, perilakunya tetap tidak berubah yaahh ... Dan mau sampai kapan kau menyembunyikan wujud aslimu ... Clarissa. Kasihan Ruri selalu mengkhawatirkanmu,” kata Naila sambil menggeret Dhafin yang tak sadarkan diri.